Home / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Kemampuan Baru (part 3)

Share

Kemampuan Baru (part 3)

Author: BoardMarker
last update publish date: 2026-09-08 14:38:05

Wandi memejamkan mata. Dia mengatur napas, menarik dan menghembus perlahan. Dia mencoba mengingat perasaan semalam ketika dia menghilang, perasaan ketiadaan, perasaan lepas, perasaan tidak terikat.

"Aku tidak ada. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya bayangan."

Dia membuka mata.

Tidak ada yang berubah. Dia masih terlihat. Bayangannya masih ada di tanah.

"Tidak bisa, Rin," ucap Wandi.

"Coba lagi, Wan. Sabar."

Wandi memejamkan mata lagi. Kali ini, dia mencoba memvisualisasikan dirinya sebagai udara,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kurir Pemilik Sistem   Kemampuan Baru (part 3)

    Wandi memejamkan mata. Dia mengatur napas, menarik dan menghembus perlahan. Dia mencoba mengingat perasaan semalam ketika dia menghilang, perasaan ketiadaan, perasaan lepas, perasaan tidak terikat."Aku tidak ada. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya bayangan."Dia membuka mata.Tidak ada yang berubah. Dia masih terlihat. Bayangannya masih ada di tanah."Tidak bisa, Rin," ucap Wandi."Coba lagi, Wan. Sabar."Wandi memejamkan mata lagi. Kali ini, dia mencoba memvisualisasikan dirinya sebagai udara, sebagai angin, sebagai cahaya. Dia membayangkan tubuhnya memudar, menjadi transparan, lalu menghilang.Dia membuka mata.Masih tidak ada perubahan."Pa, kok belum menghilang?" tanya Noval."Belum bisa, Nak. Papa masih belajar.""Noval bisa, Pa. Noval bisa menghilang." Noval menutup matanya dengan kedua tangan. "Noval hilang!"Wandi dan Arini tertawa."Noval pintar," ucap Arini.Noval membuka tangan. "Noval muncul lagi!"Mereka bertiga tertawa.Wandi mengambil keris dari dalam lemari. Keris itu m

  • Kurir Pemilik Sistem   Kemampuan Baru (part 2)

    Macan tidak menunggu. Dia berbalik, berlari ke pintu, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam.Wandi berdiri di ruang tamu, masih memegang pentungan. Tubuhnya masih utuh, tidak terluka. Baju nya robek sedikit di bagian lengan, tetapi tidak parah.Dia berjalan ke pintu, menutupnya, lalu menguncinya. Kayu pintu retak di bagian engsel, tetapi masih bisa ditutup.Dia berjalan ke sofa, duduk, dan menghela napas panjang."Aku bisa menghilang. Aku bisa menjadi tidak terlihat. Ini... ini kemampuan baru."Wandi menatap tangannya. Tangan itu terlihat normal. Tidak ada yang aneh."Apa ini efek dari keris? Atau efek dari laser alien? Atau efek dari latihan fisik yang aku lakukan?"Dia tidak tahu. Yang dia tahu, kemampuan ini menyelamatkan nyawanya."Tapi aku tidak bisa menyerang dalam keadaan tidak terlihat. Atau aku belum bisa mengontrolnya."Wandi berdiri, berjalan ke kamar tidur. Arini masih tertidur, tidak terbangun oleh keributan tadi. Noval juga masih tertidur.Wandi merebahkan diri di sam

  • Kurir Pemilik Sistem   Kemampuan Baru ( part 1)

    Pisau besar di tangan Macan melesat ke arah leher Wandi dengan kecepatan yang luar biasa. Bukan kecepatan manusia biasa. Ini kecepatan seorang pembunuh bayaran profesional yang sudah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia kegelapan, yang sudah puluhan nyawa melayang di tangannya. Pisau itu berkilauan di bawah cahaya bulan yang redup, memantulkan bayangan-bayangan mengerikan di dinding ruang tamu yang gelap.Wandi melihat pisau itu mendekat. Bukan dengan mata biasa. Tapi dengan kemampuan yang sudah dia miliki sejak kecelakaan dulu, kemampuan memperlambat waktu. Gerakan pisau yang tadinya begitu cepat, tiba-tiba menjadi lambat. Sangat lambat. Seperti gerakan dalam mimpi yang tidak pernah sampai. Seperti tetesan air yang jatuh dari kran, yang bisa dia lihat setiap tetesnya.Dia bisa melihat setiap detail pisau itu. Bilahnya yang tajam dengan goresan-goresan halus di permukaan. Gagangnya yang dibalut kulit hitam, sedikit robek di bagian ujung. Bahkan tetesan keringat yang menetes dari da

  • Kurir Pemilik Sistem   Ini Hanya Bisnis (part 4)

    Tapi keris itu tidak mungkin berbohong.Wandi menutup aplikasi. Dia berdiri, berjalan ke ruang tamu. Di sana, dia mengambil tas ransel hitam yang berisi perlengkapan darurat, senter, pisau lipat, korek api, dan perban. Dia juga mengambil pentungan besi yang dia beli beberapa hari lalu di toko besi.Dia kembali ke kamar, duduk di kursi di samping kasur, dan menunggu."Jika mereka datang, aku siap."Wandi membuka aplikasi pesan, mengetik cepat. [Rin, jika kamu bangun dan aku tidak ada di sampingmu, jangan panik. Aku di ruang tamu. Ada sesuatu yang harus aku jaga.]Dia tidak ingin membuat Arini khawatir. Tapi dia juga tidak ingin Arini kaget jika bangun dan tidak melihatnya di samping.Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Balasan dari Arini.[Wan, kenapa? Ada apa?][Tidak tahu pasti. Tapi keris memberi sinyal bahaya. Aku harus waspada.][Aku turun.][Jangan. Kamu jaga Noval. Aku yang jaga di bawah.][Baik. Hati-hati, Wan.]"Iya, Rin."Wandi meletakkan ponsel di atas meja. Dia men

  • Kurir Pemilik Sistem   Ini Hanya Bisnis (part 3)

    Malam itu, Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Langit di atas Cipinang gelap gulita, tidak ada bintang, tidak ada bulan. Awan tebal menutupi hampir seluruh langit, menciptakan kegelapan yang pekat seperti beludru hitam yang membungkus bumi. Lampu-lampu jalan di gang depan rumah Wandi hanya tinggal dua yang masih menyala, itupun redup dan berkedip-kedip tidak karuan, seperti mata yang mengantuk dan hampir tertutup. Rumah-rumah tetangga sudah gelap, pemiliknya sudah terlelap, hanya sesekali suara ayam jantan yang berkokok di tengah malam, mungkin ada yang tidak beres dengan jam biologisnya.Wandi terbangun. Bukan karena suara. Bukan karena mimpi buruk. Tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.Dia membuka matanya. Ruangan gelap. Lampu tidur di samping kasurnya sudah mati, mungkin karena listrik padam sebentar, atau karena bohlamnya putus. Di samping kanannya, Arini masih tertidur pulas, wajahnya tenang, rambutnya terurai di atas bantal. Di samping kirin

  • Kurir Pemilik Sistem   Ini Hanya Bisnis (part 2)

    Pintu ruang kerja diketuk pelan. Andre segera memasukkan pisau ke dalam laci, merapikan rambutnya, dan memasang senyum ramah di wajahnya."Masuk."Tina masuk dengan langkah pelan. Dia memakai daster panjang berwarna krem, rambutnya terurai, wajahnya segar. Di tangannya, dia membawa secangkir teh hangat untuk Andre."And, kamu masih bekerja? Sudah malam."Andre tersenyum. "Iya, Sayang. Ada laporan yang harus aku selesaikan."Tina meletakkan teh di atas meja. "Minum dulu. Nanti kamu sakit.""Terima kasih, Sayang."Tina duduk di kursi kecil di samping meja. Matanya menatap Andre dengan penuh kasih."And, akhir-akhir ini kamu sibuk sekali. Aku khawatir.""Jangan khawatir, Sayang. Ini hanya proyek besar. Nanti setelah selesai, kita liburan.""Janji?""Janji."Tina tersenyum. Dia meraih tangan Andre, menggenggamnya erat. "Aku sayang kamu, And."Andre membalas genggaman itu. "Aku juga sayang kamu, Tin. Sayang banget."Di dalam hati Andre, dia berbisik, "Maafkan aku, Tin. Aku tidak sebaik yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status