Share

3. Serangan Fisik

Alagar melepas baju kerja kotor dipakai seharian dibiarkan teronggok di lantai kamar bergegas membasuh diri di bawah pancuran air hangat. Saat Amirah mengangkat pakaian meletakkan ke tempat cucian kotor, lagi-lagi ditemukan noda lipstik merah persis dipakai Renata tadi siang saat menghardik memintanya bercerai dari Alagar.

Pria itu memang tak pernah berubah membawa ke kediaman ini kembali hanya untuk disakiti berulang kali. Pelakor bernama Renata telah bercerita membuat suami marah bukan kepalang ketika tak lagi menemukan anak istrinya berada di rumah.

Menit-menit berlalu. 

Percakapan Melani terngiang terus di benak Amirah Lashira. Hatinya masih ragu mengambil keputusan besar di dalam hidupnya. Tak lama pintu kamar mandi terbuka lebar sosok Alagar muncul mengalihkan pikiran istri. 

Bulir-bulir air menetes dari rambut suami jatuh ke dadanya yang berotot. Pria tampan idaman semua wanita. Suami dari Amirah Lashira tapi tak pernah dia dapat memiliki cintanya.

"Tadi siang Renata bertemu denganmu?" tanya Alagar berbasa basi.

"Ya, Mas memang benar, kau juga menemui dirinya lalu bercinta di atas ranjangnya, ya 'kan?!"

Brukk! Sebuah handuk basah dilempar Alagar ke lantai sangat tak menyukai bila istrinya curiga. "Kau tak perlu cemburu, wanita itu tak ada hubungan apa-apa kami hanya bekerja sama demi perusahaan karena ayahnya Renata itu investor besar!"

Amirah tak peduli alasan suami sangat pandai berdalih. "Tapi gadis itu mengandung anakmu, dan keputusan menceraikan aku yang terbaik bagi kalian berdua!"

“Itu bukan anakku!” kilah Alagar tak ingin disalahkan. "Jalang itu pintar berbohong, berapa banyak pria yang dikencani selain diriku!" 

Dasar pria pengecut! Desis Amirah saat melangkah keluar kamar namun malah dicegat suami.

“Kau tidur bersamaku, kita suami istri bukan orang lain!” 

Amirah membalas tajam, "Kau berselingkuh bersama Renata tidurlah dengannya dan anggaplah aku orang lain bukan istrimu!"

Plak-k! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Amirah Lashira. Terasa pedih sakit luar biasa. Kesadarannya hampir menghilang bertahan sebisa mungkin mengembalikan semangat hidup lagi. Bagaskara membutuhkan dirinya bukan papanya. 

Pertama kali Alagar melakukan hal kejam secara fisik. Cacian, makian kasar biasanya menghujam digantikan sebuah pukulan keras menyerang istri.

"Oh sayang, maafkan tak sengaja, maafkan aku 'Ra!" serunya berkali-kali meraih lengan kecil mendekap erat memohon ampunan. Tapi semua sudah terlambat. Amirah bergidik mundur menepis kuat tangannya. 

“Suruh pengacaramu besok pagi membuat surat perceraian agar aku tanda tangani secepatnya, Bagaskara tinggal bersamaku cuma itu satu-satunya aku inginkan darimu bukan hartamu!” Ultimatum terakhir keluar dari Amirah sambil memegang pipi.

"Apa kau pikir aku mau menceraikanmu?" tampik Alagar sengit menatap wajahnya lekat. "Tak akan pernah kulakukan bila perlu kau mati membusuk bersamaku!"

Hah! Ibu kandung dari Bagaskara terperangah. “Dasar pria gila, tak ada guna lagi mempertahankan semua yang sudah hancur seperti ini, kau bebas bercinta dengan wanita manapun tanpa harus menikahi aku lagi!”

Giliran istrinya bersikap lebih berani dari jalang dikencani suami. Ikatan pernikahan mereka makin pudar tak ada masa depan dan kebahagiaan yang diharapkan.

Mama-a! Mama-a! Rengekan Bagaskara terdengar keras dari radio monitor terpasang di kamar orang tuanya. Amirah pun melesat pergi sendirian meninggalkan suami yang bengis. Putranya merasakan perseteruan batin sejak kembali ke rumah, dia harus merencanakan pelarian lagi sampai surat perceraian berada di tangannya.

Keselamatan anak lebih utama dari harga dirinya. Status sebagai janda tak lagi dipikirkan Amirah lebih baik tidak punya suami daripada mati membusuk bersamanya.

“Bagas haus ya, sayang." Usapan hangat ibunya di punggung kecil membuat putranya terdiam. ”Biar Mama buatkan susu hangat untukmu dulu, ya." Kecupan lembut di kening menenangkan hati Amirah Lashira. 

Pria kecil dalam pelukan paling berharga tersisa dari pernikahan mereka. Maafkan Mama sayang, tak bisa memberi seorang Papa yang baik untukmu! Sesalnya penuh kesedihan.

----------------

Hari-hari berikutnya berubah kaku di antara mereka. Amirah semakin membuat jarak walau tetap melayani kebutuhan setiap pagi namun bukan tidur setiap malam di ranjang yang sama. Berbeda sikap Alagar ingin bertambah dekat setelah kejadian penyerangan fisik terus saja berusaha mendapatkan maaf darinya.

"Sayang, aku pulang lebih cepat hari ini, mungkin kita dapat pergi makan malam di luar menikmati suasana baru setelah sekian lama tak pernah keluar bersama?"

“Mas Alagar tidak perlu repot-repot, kasihan Bagas harus dibawa malam-malam ke luar hanya untuk makan.” Amirah menolak kebersamaan palsu mereka hanya sebuah makan malam saja tidak pernah bisa mengubah perilaku buruknya. 

Empat tahun pernikahan yang sia-sia baru disadari saat ini juga.

“Kau ‘ga suka kalau kita jalan berdua saja, Bagas ’kan bisa dititipkan ke pengasuh Lina ada Bi Inah, Nurdin dan Harjo mengawasi putra kita jika kau takut sesuatu terjadi padanya!”

Alagar bersikeras mengajak namun Amirah Lashira enggan berdekatan sejak malam itu. Tuntutan perceraian istrinya diabaikan. Dia belum mau melepaskan sampai kapan pun juga.

“Ajak saja Renata, Lenny atau siapapun pantas bersanding dirimu di luar sana, sekretaris Jessica pasti mau bukankah kalian sering melakukan hal pribadi di kantor setiap makan siang ataupun malam!” Amirah sempat memergoki saat mengunjungi kantor suami usai berbelanja.

Meja sekretaris kosong melompong, selasar di lantai khusus kantor pimpinan sepi sunyi. Kecurigaan memang benar. Suara desahan dan lenguhan panjang terdengar di dalam kantor melabrak mereka habis-habisan. Blus dan rok pendek Jessica berantakan tak lagi di tempatnya.

Noda lipstik sekretaris tampak jelas di kerah kemeja suami. Sebuah bukti tak dapat dipungkiri pria tampan yang dinikahi Amirah berulang kali berselingkuh di depan maupun di belakangnya.

"Mengapa kau tak pernah berhenti membicarakan hal itu, tak maukah kau percaya bila mulai hari ini aku akan berubah untuk menyelamatkan pernikahan kita?" ujar Alagar sedikit menyesal.

“Cukup sudah Mas, pergilah bekerja kasihan klienmu menunggu jangan pedulikan aku dan Bagas, kami telah terbiasa bila kau terlambat pulang atau tidak sama sekali.” Tangan lembut Amirah selesai memasangkan dasi dengan rapih. Tugasnya setiap pagi menyiapkan semua sebelum ke kantor dilaksanakan sepenuh hati.

"Ayolah Amirah, surgamu ada di suamimu ini!" bentak suaminya kesal.

Istrinya menatap sinis sebelum beranjak keluar kamar, lalu berkata pelan. "Surga apa yang pernah kau pernah berikan ke anak istrimu, kau lebih senang memadu kasih ke wanita jalang daripada istri sahmu sendiri!"

Deg! Tersinggung kata-katanya yang tepat dan akurat, Alagar langsung menyambar tas kerja di atas meja. Ucapan wanita yang dinikahi mengusik kesadaran. Kesalahan demi kesalahan diperbuat tiada lagi termaafkan.

Rumah bagai neraka membuat alasan dirinya berpaling ke wanita lain. Amirah enggan dipeluk belakangan ini. Hubungan mereka tak pernah romantis hanya tegur sapa sekedarnya. Pernikahannya di ujung tanduk semua bersikeras tiada yang mau mengalah. 

"Kau sengaja memusuhiku agar segera menceraikan dirimu, bukan? Bermimpilah Amirah!" cetus Alagar ketika melewatinya di depan pintu kamar. Melesat pergi tanpa menoleh ke belakang meninggalkan luka menganga untuk istri tak pernah dicintai.

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status