登入Klekkk.Maris menutup pelan jendela kamarnya setelah masuk ke dalam melalui jendela itu. Ia berenang menuju tempat tidurnya dan berbaring dengan pelan di atasnya. ***Beberapa hari kemudian, suasana pemukiman bawah laut berubah jauh lebih ramai dari biasanya. Hampir di setiap sudut terlihat para duyung sibuk mempersiapkan berbagai keperluan untuk sebuah perayaan atau biasa disebut dengan ritual yang hanya diadakan sekali dalam setahun. Perayaan itu menjadi penanda kedewasaan para duyung muda sekaligus saat laut memilih penjaga arus laut yang baru."Akhirnya tiba juga," gumam salah seorang duyung sambil membawa hiasan dari rangkaian bunga laut.Beberapa duyung anak-anak tampak berenang ke sana kemari dengan wajah penuh antusias. Bahkan para tetua pun mulai mempersiapkan keberangkatan menuju wilayah suci tempat perayaan akan berlangsung."..."Lokasi perayaan berada cukup jauh dari pemukiman. Karena itu, seluruh
"Tidak ada lagi," ucap Maris pelan.Tatapannya menyapu sekelilingnya sebelum akhirnya berhenti pada hutan di hadapannya. Tempat itu tetap sunyi, sama seperti beberapa malam sebelumnya. Tak ada langkah kaki yang ia kenal, tak ada sosok yang selama ini selalu datang menemuinya."..."Maris menghembuskan napas panjang. Ia bahkan mulai lupa sudah malam keberapa dirinya kembali ke tempat ini. Yang ia ingat hanyalah setiap malam selalu berakhir dengan penantian yang sia-sia."Apa kau sedang sibuk, Lycander?" gumamnya lirih.Tak ada jawaban, hanya desir angin yang menggoyangkan dedaunan di sepanjang tepi hutan.Maris menundukkan pandangannya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Lycander pasti sedang menjalankan tugas patroli atau sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Bukankah selama ini Lycander memang sering bercerita tentang tugasnya sebagai bagian dari kawanan?"Aku akan menunggu sedikit lebih lama."Maris kembali duduk di atas batu besar, kali ini ia duduk menghadap ke arah hutan. Tempat
Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan terakhir mereka. Nerion kembali menjalankan tugasnya menyelidiki anomali arus, namun pikirannya sesekali masih kembali pada satu hal yang samaㅡMaris.Keganjilan yang ia rasakan saat bertemu dengannya belum benar-benar hilang. Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin sering perasaan itu muncul kembali."..."Suatu sore, Nerion melihat Seraphine sedang sendirian di depan rumahnya. Duyung itu tampak fokus sedang merangkai bunga laut seperti biasanya."Seraphine."Seraphine menoleh dan tersenyum."Nerion."Nerion berenang mendekat dan ikut duduk tidak jauh darinya. Untuk beberapa saat, mereka hanya berbicara tentang hal-hal biasa. Tentang pemukiman, arus laut, dan beberapa kabar terbaru."Kau terlihat lelah,” ucap Seraphine yang akhirnya berhenti merangkai bunga."Apa separah itu?" tanya Nerion. "Lumayan."Seraphine tertawa kecil."Kalau begitu, aku harus mulai lebih sering beristirahat,” ucap Nerion sambil mengangguk pelan.Namun setelah itu
Kesadaran Lycander kembali perlahan. Tubuhnya terasa berat dan nyeri di berbagai bagian. Bau darah yang samar masih tertinggal di indera penciumannya.Saat membuka mata, ia mendapati dirinya berada di sebuah pondok kecil di wilayah kawanan. Cahaya sore masuk melalui jendela dan membuat ruangan itu tampak sunyi.“Kau akhirnya bangun.”Suara Robert terdengar dari sudut ruangan. Lycander menoleh dan melihat sahabatnya sedang duduk sambil menyilangkan tangan.“Apa kau yang membawaku kesini?” tanyanya. “Pertanyaan konyol macam apa itu? Siapa lagi yang membawamu kesini selain aku?” jawab Robert sarkas. “Ya kau benar. Lalu berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Lycander lagi.“Tidak terlalu lama.”Robert terdiam sesaat.“Tapi cukup lama untuk membuatku memikirkan banyak hal.”Lycander menghela napas pelan. Ia sudah bisa menebak apa yang ingin dibicarakan Robert.Keheningan turun selama beberapa saat sebelum Robert akhirnya kembali berbicara.“Kau mengalahkan lima beruang hitam sendiri
“Kenapa kau menjaga jarak, Lycander?” tanya salah satu rekannya. Beberapa rekan lain menoleh ke arah Lycander dan ikut mengangguk. Lycander masih terdiam, ia tetap kepikiran dengan mimpinya semalam. Perasaan tak nyaman atau lebih tepatnya bersalah masih membekas dalam dirinya. “Padahal hanya mimpi, tapi rasa bersalahku terasa sangat nyata,” batinnya. Robert yang juga berada di sana sesekali menatap ke arah Lycander. Memastikan tak ada perubahan pada dirinya. “Hey, Rob! Akhir-akhir ini kenapa kau selalu meminta dipasangkan dengan Lycander setiap kali mendapatkan giliran patroli?” tanya salah seorang rekan. Lycander mendengar obrolan itu, ia juga penasaran alibi apa yang akan dilontarkan oleh Robert pada rekan-rekan lain. Mengingat Robert masih diam-diam mengawasinya. “Lycander, satu-satunya rekan yang tak berisik seperti kalian,” jawab Robert. Jawaban Robert itu justru membuat Lycander sedikit tergelitik, sebab Robert pun juga seberisik rekan-rekan yang lainnya. “Konyol sekal
Malam itu langit tampak cerah hingga bintang-bintang terlihat sangat jelas. Maris menikmati momen itu bersama dengan Lycander yang duduk di sampingnya.“Kau beruntung, Lycander!” ucap Maris. Lycander mengangkat alisnya sedikit terkejut mendengar pernyataan Maris itu. Melihat ekspresi Lycander yang seperti itu membuat Maris tersenyum sambil menatap langsung ke arah mata emas Lycander yang sedang menatapnya. “Ya, kau beruntung. Kau bisa menatap langit malam ini semaumu dan dari mana pun selama di daratan. Sedangkan aku…” sebelum Maris menyelesaikan ucapannya itu, Lycander memotong.“Shhhhhh,” bisiknya.Jari telunjuk Lycander tepat di depan bibir Maris seolah ingin menghentikan Maris bicara.“Kau lebih beruntung,” ucapnya akhirnya. Mata Maris sedikit membesar karena terkejut sekaligus penasaran dengan apa yg didengarnya itu.“Bagaimana aku lebih beruntung?” tanyanya.Pandangan Lycander beralih ke arah langit dan tersenyum lalu senyum itu sedikit menghilang saat ia memandang air laut y
Malam itu laut terasa jauh lebih tenang dibanding biasanya. Ombak kecil bergerak pelan di sekitar pesisir, memantulkan cahaya bulan yang samar di permukaan air.Maris muncul perlahan dari bawah laut. Tatapannya langsung menemukan Lycander yang sudah duduk santai di atas batu besar seperti biasa. “
Malam selanjutnya datang lebih tenang dibanding biasanya. Permukaan laut memantulkan cahaya bulan dengan samar, sementara angin malam bergerak perlahan di antara batu-batu pesisir yang mulai terasa terlalu familiar bagi Maris. Bahkan sebelum benar-benar muncul ke permukaan, ia sudah tah
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara selain arus laut yang bergerak pelan di luar rumah dan detak jantung Maris sendiri yang terdengar terlalu jelas di telinganya.“…aku mulai membencinya,” gumamnya pelan.Beberapa hari terakhir terasa semakin berat untuk
Pagi itu datang dengan tenang. Tidak ada perubahan besar yang terlihat di dalam rumah, tidak ada percakapan aneh, dan tidak ada tatapan yang terlalu mencurigakan. Namun sejak membuka mata, Maris sudah merasakan sesuatu yang berbeda—bukan pada sekitarnya, melainkan pada dirinya sendiri.







