MasukPagi kembali datang diiringi cahaya matahari yang menembus sela-sela pepohonan. Seperti biasa, Lycander bersiap meninggalkan rumah setelah memastikan semuanya telah tersimpan rapi.Robert sudah berada di dalam rumah sejak pagi. Ia duduk di bangku panjang dekat pintu sambil memperhatikan Lycander yang sedang memeriksa makanan yang akan dibawanya untuk Maris. "Kau tidak perlu menatapku seperti itu,” gumam Lycander. Robert mengangkat wajahnya dari buku catatan. "Aku hanya menjalankan perintah."Lycander mendengus kecil. "Perintah dua puluh empat jam itu?""Ya,” jawab Robert singkat. "Kalau begitu, tatapanmu memang akan menjadi bagian dari hidupku mulai sekarang,” sahut Lycander. Robert menutup bukunya. "Setidaknya kau sudah mulai terbiasa."Lycander hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.Mereka kemudian meninggalkan rumah dan berjalan menuju pesisir. Hari itu tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bahkan Robert sempat merasa gejala yang terjadi kemarin mungkin hanya muncul sekali
Lycander berjalan masuk ke dalam hutan. Ia memetik beri liar yang cukup berbuah lebat di semak-semak belukar. Robert berkeliling di area sekitar dan menemukan sarang lebah di celah pohon yang tak terlalu tinggi.“Hey, kau pasti suka ini,” ucap Robert saat kembali menghampiri Lycander. Keranjang kecil di salah satu tangan Lycander yang diisi beri liar hampir penuh. “Suka apa?”"Aku menemukan sarang lebah,” jawab Robert. Lycander hanya melirik sekilas, “untuk apa?"Robert menunjuk keranjang berisi beri, “kurasa madu akan cocok dimakan dengan itu." Lycander terdiam sesaat, lalu baru menyadari maksud Robert.Ia akhirnya bergegas meminta Robert untuk menunjukkan jalan. Setelah sampai di lokasi sarang lebah, Robert membuat api, dan membakar ranting yang lebih besar.“Aku akan mengasapinya, kau ambil sarangnya,” usul Robert. Lycander mengangguk setuju. Akhirnya semua berjalan lancar sesuai rencana. Mereka berjalan kembali ke rumah Lycander. Memeras madu itu hingga memenuhi dua toples kaca.
Sudah lewat tengah malam ketika Robert meninggalkan rumah Lycander. Langkahnya mantap menyusuri jalan setapak yang membelah hutan menuju kediaman Alpha kawanan.Suara jangkrik dan desir angin malam menjadi satu-satunya teman di sepanjang perjalanan. Cahaya bulan sesekali menembus sela-sela dedaunan, menerangi jalan yang telah begitu dikenalnya.Tak lama kemudian, sebuah rumah kayu berukuran jauh lebih besar mulai terlihat di balik pepohonan. Beberapa penjaga yang berjaga di depan hanya mengangguk singkat sebelum mempersilahkannya masuk.Robert berhenti di depan pintu. "Alpha.""Masuk." Suara berat dari dalam segera terdengar.Robert membuka pintu perlahan. Ruangan itu sederhana, namun tertata rapi. Di tengah ruangan, Alpha tengah memeriksa beberapa gulungan peta wilayah kawanan sebelum akhirnya mengangkat pandangan."Bagaimana Lycander?”Robert mengangguk. "Selama beberapa bulan terakhir, kondisi Lycander stabil." Ia men
Langit mulai berubah jingga ketika Lycander masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tetap tertuju ke arah kabut yang menyelimuti mulut Teluk Mati, memastikan Maris benar-benar telah menghilang dari pandangannya.Kabut perlahan menelan sosok Maris. Lycander tetap berdiri di tempat hingga bayangannya benar-benar menghilang. Barulah ia mengangkat kembali tandu kayu itu ke pundaknya dan berjalan meninggalkan pantai.Di belakangnya, Robert mengikuti dalam diam.Tatapannya sesekali tertuju pada tandu kayu yang dipikul Lycander. Ia tidak mengatakan apa pun. Namun jauh di dalam hatinya, muncul harapan sederhana.Semoga… hari-hari seperti ini dapat berlangsung sedikit lebih lama.Setelah cukup lama berjalan, akhirnya rumah sederhana milik Lycander mulai terlihat di balik pepohonan. Begitu sampai, Lycander langsung menyandarkan tandu kayu itu di depan rumah. Ia mengambil selembar kain, lalu mulai mengelap air laut yang masih membasahi batang kayu dan anyaman talinya.Robert bersandar di kusen pi
Pagi kembali datang bersama kabut yang menggantung di sekitar Teluk Mati. Seperti hari-hari sebelumnya, Maris berenang keluar dari gua tempat tinggalnya. Ombak kecil mengantarnya menuju batu karang di luar teluk, tempat seseorang selalu menunggunya.Hari itu, Maris kembali datang lebih dulu. Ia duduk di atas batu karang sambil memainkan ujung rambut hitamnya yang masih basah. Tatapannya sesekali mengarah ke tepi hutan.Tak lama kemudian, sosok berambut perak muncul dari balik pepohonan."Selamat pagi, Maris.""Selamat pagi, Lycander."Lycander menghampiri batu karang tempat Maris berada. Namun kali ini, kedua tangannya tidak membawa kantong kain seperti biasanya. Sebaliknya, ia memikul sesuatu yang cukup panjang di pundaknya dan ditutupi kain.Maris memiringkan kepala. "Apa yang kau bawa?"Lycander tersenyum tipis dan menjawab, “nanti juga kau tahu."Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Maris semakin besar. "Kau mulai pandai membuat kejutan rupanya.""Aku sedang belajar,” jawab L
Kabut tipis masih menggantung di atas permukaan laut ketika Maris tiba di batu karang tempat mereka biasa bertemu. Ia mengusap rambutnya yang masih basah, lalu memandang ke arah hutan di tepian pantai dengan tenang.Belum ada siapa pun."..."Maris tidak merasa kecewa. Ia hanya duduk sambil memandangi ombak yang datang silih berganti. Entah sejak kapan, menunggu beberapa saat sebelum Lycander datang justru terasa menyenangkan baginya.Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang begitu dikenalnya terdengar dari kejauhan."Lycander."Pria itu mengangkat sebelah tangannya sambil tersenyum kecil."Selamat pagi,” sapa Lycander. "Selamat pagi,” jawab Maris. Lycander duduk di batu karang di dekatnya. Seperti biasa, ia membawa kantong kain berisi makanan."Hari ini apa?" tanya Maris penasaran."Ikan panggang."Maris langsung menatapnya penuh harap."Benarkah?"Lycander mengangguk."Kali ini tidak gosong."Maris terkekeh."Berarti percobaan keempat berhasil?" tanyanya. "Setelah mengorbankan
Saat Maris sudah masuk ke dalam rumah, suasana di dalam rumah tetap tenang dan sunyi. Tidak ada yang tampak berbeda dari luar. Ia kembali ke kamarnya dengan gerakan yang sudah semakin terbiasa. “…tidak ada yang tahu,” bisiknya pelan.Maris menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungny
Maris mendorong pintu rumahnya pelan. Ia masuk tanpa menoleh ke belakang.“Ibu… aku pulang.”Suara itu keluar pelan. Hampir seperti bisikan. Ibunya yang berada tak jauh dari pintu langsung menoleh.“Maris…” Ibunya berenang mendekat.“Ibu kira kau masi
Pagi itu datang dengan tenang. Tidak ada perubahan besar yang terlihat di dalam rumah, tidak ada percakapan aneh, dan tidak ada tatapan yang terlalu mencurigakan. Namun sejak membuka mata, Maris sudah merasakan sesuatu yang berbeda—bukan pada sekitarnya, melainkan pada dirinya sendiri.
“Lihat, si rambut hitam lewat,” cibir salah satu duyung dalam gerombolan yang berpapasan dengan Maris.“Jangan dekat-dekat, nanti kita bisa sial,” timpal yang lain dengan nada jijik.Maris hanya diam, meski hatinya mencelos. Panggilan ‘si rambut hitam’ atau ‘pembawa sial’ sudah menjadi teman akrabn







