ANMELDEN
“Lihat, si rambut hitam lewat,” cibir salah satu duyung dalam gerombolan yang berpapasan dengan Maris.
“Jangan dekat-dekat, nanti kita bisa sial,” timpal yang lain dengan nada jijik.
Maris hanya diam, meski hatinya mencelos. Panggilan ‘si rambut hitam’ atau ‘pembawa sial’ sudah menjadi teman akrabnya selama seribu tahun—usia yang tergolong remaja bagi bangsa duyung yang bisa hidup hingga lima ribu tahun.
“Aku hanya ingin menghilang saja,” gumamnya sambil memacu ekornya, menjauh dari tatapan-tatapan tajam itu.
Biasanya Maris mengabaikan tatapan jijik dan takut yang Maris rasakan setiap bertemu duyung lain. Tapi entah kenapa hari itu ia merasa sangat kesal.
Maris berenang menuju terumbu karang yang sepi. Di sepanjang perjalanan, telinganya menangkap sayup-sayup Nyanyian Laut Kuno yang sakral yang bisa menenangkannya sejak ia masih kecil.
“Anak arus dan buih pertama, lahir dari garam dan napas samudra. Dengarlah... laut memanggil namamu, dalam bisikan kedalaman yang tak pernah reda. Arus akan menuntunmu pulang, dalam pelukan laut yang menjaga jiwamu.”
Sesampainya di ujung terumbu karang, Maris berhenti. Di sana, hamparan rumput laut bergoyang mengikuti arus, dan sebuah pemandangan langka menarik perhatiannya. Seberkas sinar matahari menembus air, membentuk pilar-pilar cahaya yang berkilauan.
“Hati yang terlalu lama di dunia atas akan perlahan menghilang, dan laut akan menagihnya.” Terdengar bisikan suara Penjaga Laut yang terngiang di telinganya
Ia mendongak. Di atas sana, terlihat dunia terlarang didatangi. Maris yang nyaris tak pernah melihat permukaan, kini merasa sangat penasaran.
Duyung lain pasti sudah melihatnya sekali, walaupun dengan tidak sengaja terseret arus sampai ke permukaan.
“Kau sedikit berbeda, Maris. Jadi dengarkan ibu. Jangan pernah sekali pun kau naik ke permukaan,” Ucapan ibunya itu, tiba-tiba melintas di ingatannya.
Alasan Maris dianggap berbeda, itu karena warna rambut dan sisik ekornya tak secerah seperti duyung pada umumnya. dianggap kutukan oleh kaumnya. Rasa lelah karena terus-menerus dikucilkan memicu pemberontakan kecil di hatinya.
“Jika aku sudah dianggap sial, apa bedanya jika aku melanggar aturan sekali saja?” pikirnya.
Maris menggigit pelan bibir bawahnya sambil mengamati sekelilingnya. Tak ada siapapun, dan itu membuat rasa penasaran akan permukaan semakin besar. Perlahan ia mencoba berenang ke atas.
Rasa takut, senang dan penasaran bercampur satu, memberikan sensasi yang membuatnya ingin mundur dan terus maju dalam waktu bersamaan.
“Tak kusangka arusnya sekuat ini,” bisiknya.
Ekornya terus bergoyang membawanya melawan arus agar semakin dekat dengan permukaan. Samar-samar dari bawah permukaan air, akhirnya ia bisa melihat langsung matahari.
Dengan jantung berdebar, Maris mulai berenang ke atas. Semakin tinggi, air laut yang dingin berubah hangat. Cahaya semakin terang, menyilaukan mata yang terbiasa dengan remang kedalaman.
Byur!
Kepala Maris menyembul. Angin pertama menerpa wajahnya. Dingin, segar, dan asing.
“Apa ini yang mereka sebut angin?” bisiknya takjub. “Menyegarkan sekali.”
Ada rasa hangat yang dirasakan Maris di atas kepalanya, membuatnya mendongak melihat langsung matahari yang begitu terang hingga membuatnya harus menyipitkan matanya.
Hanya saja teriknya matahari, dinginnya air, dan semilir angin memicu sensasi geli yang aneh di hidungnya.
“Hachuu!”
Ia bersin untuk pertama kalinya seumur hidup. Maris terbelalak, bingung dengan reaksi tubuhnya sendiri.
“Apa yang baru saja kulakukan?” tanyanya heran.
Di tengah kebingungan karena bersin untuk pertama kali sambil melihat sekitar yang terasa luas tanpa batas.
Tiba-tiba terdengar suara yang membuatnya tersentak dan refleks untuk kembali menyelam. Ia melihat sekelompok makhluk yang terbang rendah di dekat permukaan air. Di bawah permukaan air, ia menatap burung-burung yang terbang itu.
“Makhluk itu tidak berenang!” seru Maris dengan takjub.
Perlahan Maris kembali memunculkan kepalanya di permukaan air. Tiba-tiba seekor burung hinggap di atas kepalanya. Sontak membuat Maris menahan napasnya.
“Argh..” Erangnya pelan karena ujung cakar burung itu cukup membuat dia tak nyaman. Lalu Maris perlahan kembali menyelam, burung itu langsung terbang lagi.
“Ternyata ada bagian tubuhnya yang tajam,” gerutunya sambil mengusap kepalanya yang terkena ujung cakar burung tadi, namun akhirnya membuatnya tersenyum.
Di sini, tidak ada yang menatapnya dengan jijik. Di sini, ia hanya merasa menjadi bagian dari alam.
Tapi kedamaian itu hanya berlangsung sesaat. Langit yang semula biru cerah mendadak berubah legam. Awan hitam bergulung menelan matahari, dan gemuruh guntur mulai menggetarkan permukaan air. Angin meniup kencang
“Apa... apa ini?” Maris panik.
Badai!
“Tidak... tidak tidak—” Maris langsung menyelam.
Maris segera mencoba menyelam, tapi permukaan laut tak lagi bersahabat. Arus permukaan yang liar justru menghempasnya kembali ke atas.
Bugh!
Ombak besar menghantam wajahnya. Air asin masuk ke mulut dan hidungnya, membuatnya tersedak hebat. Matanya perih karena hantaman air yang keras.
“Ayolah, Maris! Cepat!” ia memacu ekornya sekuat tenaga.
Ia hampir berhasil mencapai kedalaman yang tenang ketika ombak kedua, yang jauh lebih besar, menyambarnya. Tubuhnya terlempar seperti daun kering. Hujan mulai turun, terasa seperti ribuan jarum dingin yang menusuk kulitnya.
“Ibu, ayah! Tolong aku!” teriaknya, namun suaranya tenggelam oleh raungan angin.
Maris kembali mengerahkan tenaga terakhirnya. Ekornya terasa kaku dan nyeri akibat hantaman arus.
“Ayolah Maris, berjuang lebih kuat!”
Ia menyemangati diri dengan berenang lebih kuat dan lebih dalam. Laut yang selama ini ia sebut rumah kini terasa seperti penjara yang bergejolak. Ombak raksasa menariknya semakin jauh dari arah rumahnya.
“Kumohon... kumohon...”
Air mata Maris mengalir deras. Pandangannya yang mulai kabur, bayangan wajah ibunya muncul. ‘Berjanjilah pada Ibu, jangan pernah ke permukaan, Maris...’
“Maafkan aku, Ibu.. aku… aku tidak mendengarkan ibu,” ucapnya dengan lirih.
Sampai sebuah dinding air raksasa runtuh tepat di atasnya. Membawanya ke kegelapan yang pekat, dan kesadaran Maris pun hilang ditelan suara gemuruh samudra yang marah.
Bersambung...
Pagi kembali menyelimuti hutan dengan cahaya lembut yang menembus sela-sela pepohonan. Lycander sudah bersiap sejak matahari mulai naik, sementara Robert duduk di bangku panjang dekat pintu sambil memperhatikan setiap gerakannya. Beberapa hari terakhir, pengawasan itu terasa semakin sunyi karena Lycander hampir tidak pernah membicarakan apa pun mengenai perubahan yang mulai terjadi pada tubuhnya.Lycander mengambil keranjang kecil yang sudah disiapkannya di atas meja. Ia memasukkan beberapa buah liar dan roti yang dibelinya dari kedai saat kembali dari patroli semalam. Lalu memastikan tutup keranjang terpasang dengan baik."Kita berangkat?" Robert menutup buku catatannya. "...Seperti biasa."Lycander mengangguk. Mereka pun meninggalkan rumah dan menyusuri jalan setapak menuju pesisir seperti yang mereka lakukan setiap pagi.Hari itu sebenarnya tampak biasa. Burung-burung berkicau di antara pepohonan, angin laut berhembus pelan, dan suara ombak semakin jelas ketika mereka mendekati pan
Pagi kembali datang diiringi cahaya matahari yang menembus sela-sela pepohonan. Seperti biasa, Lycander bersiap meninggalkan rumah setelah memastikan semuanya telah tersimpan rapi.Robert sudah berada di dalam rumah sejak pagi. Ia duduk di bangku panjang dekat pintu sambil memperhatikan Lycander yang sedang memeriksa makanan yang akan dibawanya untuk Maris. "Kau tidak perlu menatapku seperti itu,” gumam Lycander. Robert mengangkat wajahnya dari buku catatan. "Aku hanya menjalankan perintah."Lycander mendengus kecil. "Perintah dua puluh empat jam itu?""Ya,” jawab Robert singkat. "Kalau begitu, tatapanmu memang akan menjadi bagian dari hidupku mulai sekarang,” sahut Lycander. Robert menutup bukunya. "Setidaknya kau sudah mulai terbiasa."Lycander hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.Mereka kemudian meninggalkan rumah dan berjalan menuju pesisir. Hari itu tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bahkan Robert sempat merasa gejala yang terjadi kemarin mungkin hanya muncul sekali
Lycander berjalan masuk ke dalam hutan. Ia memetik beri liar yang cukup berbuah lebat di semak-semak belukar. Robert berkeliling di area sekitar dan menemukan sarang lebah di celah pohon yang tak terlalu tinggi.“Hey, kau pasti suka ini,” ucap Robert saat kembali menghampiri Lycander. Keranjang kecil di salah satu tangan Lycander yang diisi beri liar hampir penuh. “Suka apa?”"Aku menemukan sarang lebah,” jawab Robert. Lycander hanya melirik sekilas, “untuk apa?"Robert menunjuk keranjang berisi beri, “kurasa madu akan cocok dimakan dengan itu." Lycander terdiam sesaat, lalu baru menyadari maksud Robert.Ia akhirnya bergegas meminta Robert untuk menunjukkan jalan. Setelah sampai di lokasi sarang lebah, Robert membuat api, dan membakar ranting yang lebih besar.“Aku akan mengasapinya, kau ambil sarangnya,” usul Robert. Lycander mengangguk setuju. Akhirnya semua berjalan lancar sesuai rencana. Mereka berjalan kembali ke rumah Lycander. Memeras madu itu hingga memenuhi dua toples kaca.
Sudah lewat tengah malam ketika Robert meninggalkan rumah Lycander. Langkahnya mantap menyusuri jalan setapak yang membelah hutan menuju kediaman Alpha kawanan.Suara jangkrik dan desir angin malam menjadi satu-satunya teman di sepanjang perjalanan. Cahaya bulan sesekali menembus sela-sela dedaunan, menerangi jalan yang telah begitu dikenalnya.Tak lama kemudian, sebuah rumah kayu berukuran jauh lebih besar mulai terlihat di balik pepohonan. Beberapa penjaga yang berjaga di depan hanya mengangguk singkat sebelum mempersilahkannya masuk.Robert berhenti di depan pintu. "Alpha.""Masuk." Suara berat dari dalam segera terdengar.Robert membuka pintu perlahan. Ruangan itu sederhana, namun tertata rapi. Di tengah ruangan, Alpha tengah memeriksa beberapa gulungan peta wilayah kawanan sebelum akhirnya mengangkat pandangan."Bagaimana Lycander?”Robert mengangguk. "Selama beberapa bulan terakhir, kondisi Lycander stabil." Ia men
Langit mulai berubah jingga ketika Lycander masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tetap tertuju ke arah kabut yang menyelimuti mulut Teluk Mati, memastikan Maris benar-benar telah menghilang dari pandangannya.Kabut perlahan menelan sosok Maris. Lycander tetap berdiri di tempat hingga bayangannya benar-benar menghilang. Barulah ia mengangkat kembali tandu kayu itu ke pundaknya dan berjalan meninggalkan pantai.Di belakangnya, Robert mengikuti dalam diam.Tatapannya sesekali tertuju pada tandu kayu yang dipikul Lycander. Ia tidak mengatakan apa pun. Namun jauh di dalam hatinya, muncul harapan sederhana.Semoga… hari-hari seperti ini dapat berlangsung sedikit lebih lama.Setelah cukup lama berjalan, akhirnya rumah sederhana milik Lycander mulai terlihat di balik pepohonan. Begitu sampai, Lycander langsung menyandarkan tandu kayu itu di depan rumah. Ia mengambil selembar kain, lalu mulai mengelap air laut yang masih membasahi batang kayu dan anyaman talinya.Robert bersandar di kusen pi
Pagi kembali datang bersama kabut yang menggantung di sekitar Teluk Mati. Seperti hari-hari sebelumnya, Maris berenang keluar dari gua tempat tinggalnya. Ombak kecil mengantarnya menuju batu karang di luar teluk, tempat seseorang selalu menunggunya.Hari itu, Maris kembali datang lebih dulu. Ia duduk di atas batu karang sambil memainkan ujung rambut hitamnya yang masih basah. Tatapannya sesekali mengarah ke tepi hutan.Tak lama kemudian, sosok berambut perak muncul dari balik pepohonan."Selamat pagi, Maris.""Selamat pagi, Lycander."Lycander menghampiri batu karang tempat Maris berada. Namun kali ini, kedua tangannya tidak membawa kantong kain seperti biasanya. Sebaliknya, ia memikul sesuatu yang cukup panjang di pundaknya dan ditutupi kain.Maris memiringkan kepala. "Apa yang kau bawa?"Lycander tersenyum tipis dan menjawab, “nanti juga kau tahu."Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Maris semakin besar. "Kau mulai pandai membuat kejutan rupanya.""Aku sedang belajar,” jawab L
Pagi itu datang dengan tenang. Tidak ada perubahan besar yang terlihat di dalam rumah, tidak ada percakapan aneh, dan tidak ada tatapan yang terlalu mencurigakan. Namun sejak membuka mata, Maris sudah merasakan sesuatu yang berbeda—bukan pada sekitarnya, melainkan pada dirinya sendiri.
Saat Maris sudah masuk ke dalam rumah, suasana di dalam rumah tetap tenang dan sunyi. Tidak ada yang tampak berbeda dari luar. Ia kembali ke kamarnya dengan gerakan yang sudah semakin terbiasa. “…tidak ada yang tahu,” bisiknya pelan.Maris menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungny
Maris mendorong pintu rumahnya pelan. Ia masuk tanpa menoleh ke belakang.“Ibu… aku pulang.”Suara itu keluar pelan. Hampir seperti bisikan. Ibunya yang berada tak jauh dari pintu langsung menoleh.“Maris…” Ibunya berenang mendekat.“Ibu kira kau masi
Setelah ayahnya pergi, suasana kamar Maris kembali sepi. Ia menghela napas panjang. Dan dia menatap kosong ke arah celah dinding, tempat cahaya masuk samar dari luar.“Membosankan,” gumamnya dalam hati.Ekornya bergerak pelan, menyapu pasir halus di dasar ruangan tanpa tujuan. Ia tak tahan lebih la







