Share

BAB 5

Author: Riichan
last update publish date: 2026-04-13 16:44:32

“Lycander!” teriak Robert.

Suara itu memecah sesuatu di dalam dirinya. Lycander tersentak. Napasnya terasa berat, seolah baru saja terbangun dari sesuatu yang dalam dan asing.

Air laut telah mencapai hampir dadanya, dingin meresap hingga ke tulang. Namun anehnya, ia tak mengingat kapan melangkah sejauh ini.

“Lycander!” teriak Robert lagi.

Ia menoleh ke belakang. Tatapannya sempat kosong sesaat sebelum akhirnya fokus. Dari tepian pantai, Robert berdiri dengan wajah kesal bercampur cemas.

“...Robert?” gumamnya pelan, suaranya serak.

Air masih membungkus tubuhnya hingga dada. Dingin itu kini terasa berbeda. Lebih nyata, lebih menusuk.

“Apa yang sedang kau lakukan di sana? Cepat kembali!” kali ini Robert berteriak lebih keras lagi.

Untuk sesaat, Lycander terdiam. Tatapannya kembali meluncur ke arah laut di hadapannya. Gelap serta sunyi.

Namun entah kenapa… terasa seperti sedang menatap balik. Denyut aneh itu masih ada di dadanya. Pelan tetapi nyata.

“Apa… duyung itu kembali?” Gumamnya.

Ia menarik napas panjang, lalu memaksa tubuhnya berbalik. Air terbelah saat ia melangkah kembali ke daratan, meninggalkan rasa asing yang masih tertinggal di kulitnya. Lycander berjalan menuju tepian pantai.

Setiap langkah terasa sedikit… berat. Seolah ada bagian dari dirinya yang tertinggal di belakang. Sesampainya di darat, ia menoleh sekali lagi ke arah laut—sekilas saja.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Robert begitu Lycander mendekat.

Lycander berhenti beberapa langkah darinya. Air menetes dari celananya, membasahi pasir di bawah kakinya.

“Aku… berpatroli,” jawab Lycander.

Terlalu cepat dan hampir tanpa jeda. Seolah jawaban itu sudah ia siapkan atau justru ingin segera menutup sesuatu. Dan membuat Robert mendengus keras.

“Berpatroli kepalamu! Jelas-jelas kau hanya ingin menyelam. Sialan! Membuatku khawatir saja.”

Lycander tertawa kecil, berusaha terdengar santai.

“Hei… tenanglah, Rob! Tak terjadi apapun padaku.”

Ia melangkah mendekat, lalu merangkul pundak Robert dengan santai. Air di tubuhnya masih menetes, membasahi baju Robert. Rangkulan itu langsung ditepis.

“Jauhkan tubuh basahmu dari pakaianku,” kata Robert kesal sambil mundur setengah langkah.

“Hahaha… baiklah,” Lycander melepaskan tangannya, masih dengan senyum tipis yang terlalu ringan untuk suasana malam itu.

Robert memperhatikannya sejenak sambil menyipitkan mata. Dia merasa ada yang aneh pada Lycander. Ia tak mengatakan apa-apa, tapi jelas terlihat dari caranya memandang—mengamati setiap detail.

Air yang terlalu banyak. Napas yang sedikit tidak teratur. Dan sesuatu yang… sulit dijelaskan.

“Ngomong-ngomong,” ujar Robert kemudian dengan sedikit lebih tenang meskipun alisnya masih berkerut, “di mana pakaianmu? Kenapa kau hanya memakai celana saja?”

Tatapannya turun sekilas, menilai kondisi Lycander dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lycander tidak langsung menjawab. Ia mengusap bagian belakang lehernya sebentar, lalu mengangkat bahu ringan.

“Tadi aku bertransformasi dan membuatnya robek untuk mengejar seekor rusa,” jawabnya,“sepertinya sangat enak memakan daging malam ini.”

Lagi-lagi Lycander menjawab dengan cepat. Mendengar jawaban yang dilontarkan Lycander. Robert menyipitkan mata.

“Lalu dimana rusanya?” tanya Robert sambil mengernyitkan dahinya.

Suaranya lebih datar, tapi justru menekan. Lycander terdiam sepersekian detik. Hanya sesaat.

“Lolos.” Jawab Lycander singkat. 

Keheningan langsung menggantung diantara mereka. Hanya suara ombak yang terdengar, memecah jeda yang terasa panjang.

“Mustahil!” gerutu Robert.

Robert menatap tajam, jelas tidak puas dengan jawaban itu. Lycander hanya mengangkat bahunya, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan 

“Aku teralihkan pada—sudahlah. Kita lanjut patroli,” jawaban yang menggantung.

Dan itu justru membuat Robert semakin tidak puas. Rahangnya mengeras, menahan sesuatu yang ingin ia katakan. Namun pada akhirnya, ia menghela napas pelan dan memilih mundur.

“Dasar ceroboh,” ucapnya pelan.

Mereka mulai berjalan menyusuri garis pantai menuju ke arah pepohonan dan semak-semak untuk kembali ke dalam kegelapan hutan. Langkah kaki mereka berpadu dengan suara pasir dan angin malam yang berembus pelan.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Tetapi suasana tidak benar-benar tenang, Lycander berjalan di depan serta tatapannya lurus ke depan. Namun pikirannya tidak di sana.

“Apa… dia akan kembali?” gumamnya dalam hati dan tanpa sadar, dengan sekilas ia melirik ke arah laut di sampingnya. 

Kemudian lagi denyut itu kembali muncul dan kali ini lebih halus. Namun cukup untuk membuat langkahnya melambat, seolah ada sesuatu yang memanggilnya kembali di dalam diam—gelap. Lycander menghela napas pelan, mencoba mengabaikannya.

Namun bayangan itu kembali terlintas di benaknya. Mata hitam yang dipenuhi ketakutan dan rambut basah yang menempel di wajah.

Dan suara itu terngiang di benaknya— “Saya juga sangat ingin kembali pulang…”

Langkah kaki Lycander terhenti sesaat, hanya sepersekian detik.

“Kenapa berhenti?” tanya Robert dari belakang.

Suaranya tidak keras, tapi cukup tajam untuk memanggil kesadaran. Lycander langsung melangkah lagi.

“Tidak apa-apa,” jawabnya singkat. 

Robert tak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menatap punggung Lycander, keningnya berkerut pelan.

“Aneh,” gumamnya pelan.

Namun Lycander tidak mendengar. Atau mungkin ia memilih untuk tidak mendengar. Angin kembali berembus.

Membawa aroma laut yang samar. Dan entah kenapa—kali ini terasa… lebih dekat.

“Apa yang salah denganku?” bisiknya dalam hati.

Mereka berjalan menjauh dari pantai. Namun tanpa Lycander sadari langkahnya melambat. Sesuatu di dadanya kembali berdenyut.

Pelan, namun semakin jelas. Ia menoleh kembali ke arah laut yang gelap. Dan untuk sesaat ia yakin…panggilan itu bukan datang dari laut, melainkan dari seseorang di dalamnya.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 185

    Beberapa tahun telah berlalu sejak malam ketika dua kehidupan berakhir di dekat Teluk Mati.Hutan tempat Lycander pernah tinggal masih sama. Pohon-pohon tinggi masih berdiri mengelilingi wilayah itu, sungai kecil masih mengalir di antara bebatuan, dan angin malam masih membawa aroma tanah basah yang sama seperti dahulu.Namun bagi Robert, tidak ada satu pun yang benar-benar terasa sama. Ia berdiri di depan sebuah cermin kecil di dalam rumahnya. Di lehernya tergantung sebuah kalung sederhana dengan satu Mutiara Merah di tengahnya.Robert menyentuh mutiara itu perlahan. Benda tersebut masih terlihat sama seperti ketika pertama kali ia memungutnya dari tanah. Merah pekat, halus, dan memantulkan cahaya dengan cara yang aneh ketika terkena sinar bulan."Sudah lama sekali..." Robert tersenyum tipis. "Seharusnya aku sudah terbiasa."Namun ia tahu dirinya berbohong. Ia masih mengingat hari ketika pertama kali membuat kalung itu. Tangannya gemetar ketika memasukkan Mutiara Merah ke dalam tali,

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 184

    Pintu ruangan Alpha terbuka menjelang dini hari, Robert masuk dengan langkah berat. Alpha yang masih berada di dalam ruangan langsung mengangkat wajah. Ia hanya perlu melihat ekspresi Robert untuk mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi.“Robert.”Robert berhenti beberapa langkah di hadapannya. Alpha menatapnya cukup lama. “Kau tak melapor tadi malam, apa terjadi sesuatu?”Robert tidak langsung menjawab. Keheningan itu sudah cukup memberi jawaban. Alpha perlahan berdiri.“Jawab aku.”Robert menundukkan kepala. “Lycander telah tiada.”Ruangan mendadak terasa sunyi. Alpha tidak bergerak. Tatapannya tetap tertuju kepada Robert, tetapi untuk beberapa detik seolah-olah ia tidak benar-benar mendengar kalimat tersebut.“...Bagaimana?”“Anak panah menembus jantungnya.” Robert menarik napas. “Dia sempat kembali sadar sebelum meninggal.”Mata Alpha sedikit berubah. “Dia kembali?”Robert mengangguk. “Untuk beberapa saat.”Alpha menundukkan pandangan. “Apakah dia mengatakan sesuatu?”Robert terdia

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 183

    Malam semakin sunyi setelah napas Maris benar-benar berhenti. Robert masih berlutut di samping tubuhnya dan Lycander, sementara beberapa mutiara merah berserakan di atas pasir di antara mereka. Ia menatap mutiara yang masih berada di telapak tangannya. Benda itu terasa hangat, seolah baru saja terlepas dari tubuh Maris beberapa saat lalu. “Ini bukan mutiara biasa...” Robert perlahan mengangkatnya mendekati cahaya bulan. Permukaannya memantulkan cahaya kemerahan yang lembut, begitu berbeda dari mutiara hitam yang pernah ia lihat sebelumnya. Ia kembali teringat pada cerita tentang air mata duyung yang dapat berubah menjadi mutiara hitam ketika lahir dari kebahagiaan murni. Namun yang ada di hadapannya sekarang berwarna merah. “Air mata kebahagiaan menghasilkan mutiara hitam...” gumam Robert. “Lalu apa yang menghasilkan warna ini?” Tidak ada jawaban. Robert menatap Maris. Wajah duyung itu masih terlihat tenang meski beberapa saat sebelumnya tubuhnya dipenuhi rasa sakit. Bahkan sete

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 182

    Teriakan Maris masih menggema di sepanjang pantai. Tubuh Lycander tetap berada dalam pelukannya, tidak lagi memberikan respons apa pun meski Maris terus memanggil namanya.“Lycander!”Maris mengguncang tubuhnya perlahan, seolah berharap pria itu hanya sedang tertidur. Namun tidak ada gerakan sedikit pun, bahkan napas yang tadi masih tersisa kini benar-benar telah berhenti.“Bangun...”Suaranya pecah. “Aku tahu kau masih bisa mendengarku.”Maris menundukkan wajahnya ke dada Lycander. Ia tidak peduli bahwa tidak ada lagi detak jantung yang bisa dirasakan di sana.“Kau tak boleh pergi.”Robert berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia ingin menghampiri Maris, tetapi kakinya terasa berat, seolah dirinya sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah melihat Lycander menghembuskan napas terakhir.“Maris...”Maris tidak menjawab. Ia justru memeluk Lycander semakin erat.“Aku sudah bilang...” bisi

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 181

    Tubuh Lycander terhuyung setelah anak panah menembus dadanya. Bulu-bulu yang menutupi tubuhnya perlahan menghilang, cakar di ujung jarinya memendek, dan taring yang memenuhi mulutnya kembali menjadi gigi manusia.Dalam beberapa detik, sosok makhluk buas itu benar-benar lenyap, yang tersisa hanyalah Lycander. Tubuhnya akhirnya roboh ke atas pasir. Anak panah masih tertancap di dadanya, darah perlahan merembes dari luka yang berada tepat di atas jantungnya.“Lycander!”Maris berusaha keluar dari air secepat yang ia mampu. Begitu tubuh bagian atasnya mencapai pasir, ia langsung meraih permukaan pasir dengan kedua tangannya dan menarik tubuhnya maju.Ekor duyungnya terseret berat di atas pasir, sementara setiap gerakan membuat tubuhnya semakin kehilangan tenaga. Namun Maris tidak berhenti, ia terus merangkak hanya dengan mengandalkan kedua lengannya menuju tubuh Lycander yang tergeletak beberapa langkah di depannya.“Lycander...”Sua

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 180

    Lycander bergerak perlahan ke arah Maris. Setiap langkahnya meninggalkan jejak dalam pasir, sementara tubuhnya yang telah sepenuhnya berubah menjadi makhluk buas peemanen membuat sosoknya nyaris tidak lagi menyerupai Lycander yang selama ini dikenal Maris.Maris masih berada di tempatnya. Ia melihat makhluk itu mendekat, tetapi bukannya mundur, justru tatapannya tetap tertuju pada mata Lycander yang dipenuhi keganasan.“Maris! Menjauh!”Suara Robert terdengar keras dari belakang.Maris tidak bergeming.“Maris!” Robert kembali berteriak. “Jangan dekati dia!”Maris menggigit bibirnya. Tubuhnya memang gemetar, tetapi ia tetap berada di tempat yang sama.Maris mengenal tatapan itu. Tatapan yang pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan Lycander yang sedang berusaha melawan sesuatu di dalam dirinya.“Lycander...”Makhluk buas itu berhenti, hanya sesaat. Kepalanya terangkat sedikit ketika mendengar nama tersebut. Namun beberapa detik kemudian, geraman rendah kembali keluar dari tenggorokannya.Ma

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 41

    Saat Maris sudah masuk ke dalam rumah, suasana di dalam rumah tetap tenang dan sunyi. Tidak ada yang tampak berbeda dari luar. Ia kembali ke kamarnya dengan gerakan yang sudah semakin terbiasa. “…tidak ada yang tahu,” bisiknya pelan.Maris menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungny

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 7

    Setelah ayahnya pergi, suasana kamar Maris kembali sepi. Ia menghela napas panjang. Dan dia menatap kosong ke arah celah dinding, tempat cahaya masuk samar dari luar.“Membosankan,” gumamnya dalam hati.Ekornya bergerak pelan, menyapu pasir halus di dasar ruangan tanpa tujuan. Ia tak tahan lebih la

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 6

    Sementara itu, Maris yang berhasil kembali ke perairan, menyelam dengan sekuat tenaga menuju kedalaman laut. Air menyambutnya.Dingin—namun menenangkan. Gelap—namun terasa seperti pelukan yang telah lama ia rindukan. Ia berenang cepat, tubuhnya bergerak lincah membelah arus, seolah sedang dikejar s

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 4

    “Apa... apa yang kau lakukan?” tanya Maris ketakutan.Wajah mereka begitu dekat hingga napas pria itu menyapu kulitnya. Hangat, asing, dan membuat tubuh Maris menegang tanpa ia mengerti alasannya. Ia refleks menahan napas.“Ja-jangan…” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar.Manusia serigala itu ti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status