LOGIN“Apa... apa yang kau lakukan?” tanya Maris ketakutan.
Wajah mereka begitu dekat hingga napas pria itu menyapu kulitnya. Hangat, asing, dan membuat tubuh Maris menegang tanpa ia mengerti alasannya. Ia refleks menahan napas.
“Ja-jangan…” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar.
Manusia serigala itu tidak menjawab. Matanya yang berwarna emas hanya menatap lurus ke arahnya, tajam dan dalam seolah menembus.
Maris mencoba mengalihkan pandangan, namun gagal. Tatapan itu seperti menahannya di tempat.
“Apa…?” bisiknya pelan, nyaris tak bersuara.
Mata hitamnya dipenuhi ketakutan. Rambut basah menempel di pipinya, dengan butiran pasir yang masih tersisa di kulit pucatnya. Bibirnya bergetar pelan.
“Kenapa kau… melihatku seperti itu…?” suaranya semakin kecil.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengamati tanpa berkedip, dadanya naik turun perlahan. Seolah sedang memastikan sesuatu.
Dan wajah itu—Cantik. Kata itu muncul begitu saja di benaknya.
“Cantik…” gumamnya pelan.
Maris sedikit mengernyit. Ia tidak benar-benar mendengar, hanya merasa ada sesuatu yang aneh di udara.
“Hm…?” gumamnya bingung.
Pria itu langsung mengalihkan pandangan sejenak, seolah terganggu oleh pikirannya sendiri. Rahangnya mengeras sebelum akhirnya kembali menatap datar.
“Aku menggendongmu untuk membantumu mendekati air lebih cepat,” ucapnya dingin. “Seharusnya kau berterima kasih.”
Maris terdiam. Tubuhnya masih kaku dalam gendongan itu, jari-jarinya sedikit mencengkeram tanpa sadar pada lengan pria itu. Ia menelan ludah.
“Apa… dia benar-benar tidak akan menyakitiku…?” pikirnya ragu.
Langkah pria itu mulai bergerak. Perlahan namun pasti, menuju suara ombak yang semakin jelas di telinga Maris.
Kaki pria itu menekan pasir dengan suara pelan.
Ranting kecil patah di bawah pijakannya, membuat Maris sedikit tersentak.
“Ah—” napasnya tercekat.
Hangat dari tubuh pria itu terasa semakin jelas. Terlalu dekat, terlalu asing, membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Ia mencoba bergerak sedikit.
“Jangan banyak bergerak,” ucap pria itu rendah.
Maris langsung diam. Tubuhnya kembali menegang, napasnya tertahan tanpa sadar.
“Ba-baik…” jawabnya pelan.
Jarinya yang sempat mencengkeram lengan pria itu perlahan melepasnya.
Tak lama, ujung ekornya menyentuh air. Sensasi dingin langsung menjalar, membuat tubuhnya sedikit tersentak.
Matanya terbuka lebar.
“Air…” bisiknya pelan.
Pria itu berhenti. Ia perlahan menurunkan tubuh Maris.
“Masuk,” katanya singkat.
Begitu tubuhnya menyentuh laut, sesuatu dalam diri Maris runtuh. Tangisnya pecah tanpa bisa ia tahan. Ia terisak, napasnya terputus-putus.
“Aku… bisa…” suaranya bergetar.
Air laut menyelimuti tubuhnya. Sensasi dingin itu langsung menjalar, membuat tubuh Maris sedikit gemetar. Napasnya tercekat.
“Akhirnya…”
Rasa familiar itu kembali. Hangat—namun berbeda dari daratan, lebih dalam, lebih menenangkan.
“Rumah…”
Ia menggerakkan ekornya perlahan. Sedikit goyah di awal, membuatnya menahan napas.
“Ayo…” gumamnya lirih.
Lalu—lebih kuat. Kali ini bergerak.
Dengan satu dorongan, tubuhnya meluncur ke dalam air. Sensasi ringan dan bebas langsung memenuhi dirinya.
“Aku… bisa…” suaranya bergetar.
Ia berenang menjauh. Lebih cepat. Dan lebih dalam.
Air membelah di sekitarnya, membawa kembali sesuatu yang hampir hilang dari dirinya. Namun—Ia melambat.
“Kenapa…” bisiknya pelan.
Seolah ada yang menahannya. Perlahan, Maris berhenti. Tubuhnya mengambang sesaat sebelum akhirnya ia menoleh ke belakang—Pada sosok yang masih berdiri diam di sana.
"Terima kasih…!" teriak Maris, suaranya bergetar namun jelas. “Terima kasih banyak atas bantuan besarmu ini, tuan manusia serigala!”
Dadanya terasa sesak. Namun kali ini—bukan karena takut.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, tatapannya mengikuti Maris yang perlahan menjauh. Garis rahangnya sedikit mengeras.
“Hah…” napasnya keluar pelan, hampir tak terdengar.
Di kejauhan, Maris tersenyum kecil. Ia mengangguk sebelum akhirnya menyelam lebih dalam. Tubuhnya menghilang di balik gelapnya laut malam.
Pria itu tidak bergerak. Matanya tetap terpaku pada permukaan laut, seolah menunggu sesuatu muncul kembali.
“Pergi…”
Suara ombak kembali mendominasi. Angin malam menggerakkan rambut gelapnya perlahan. Namun ia masih di sana dan tidak berpaling.
“Kenapa aku…” gumamnya pelan.
Alisnya berkerut. Dadanya terasa aneh yang tidak nyaman, tapi juga tidak bisa diabaikan. Seolah ada sesuatu yang tertinggal.
Tangannya sedikit mengepal. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Hanya makhluk laut…” bisiknya lirih.
Namun kata-katanya sendiri terasa hampa. Tatapannya kembali mengarah ke laut yang kini telah tenang. Dan tanpa sadar—
Air laut menyentuh kakinya. Dingin itu menjalar perlahan hingga pergelangan. Ia sedikit menunduk melihat air.
“Dingin…” bisiknya pelan.
Namun alisnya justru berkerut.
“Kenapa…” suaranya menggantung.
Tidak terasa asing. Ia terdiam sesaat, lalu mengangkat pandangannya kembali ke arah kejauhan laut. Gelap, dalam, dan sunyi.
“Seharusnya aku mundur…”
Namun tubuhnya tidak bergerak. Dadanya berdenyut. Pelan.
Lalu semakin kuat. Ia mengangkat tangannya, menyentuh dadanya sendiri. Napasnya berubah, sedikit lebih berat dari sebelumnya.
“Ini… apa?” gumamnya.
Detak itu semakin jelas. Bukan sekadar jantung—Seolah ada sesuatu yang memanggil.
“Tidak…”
Rahangnya mengeras.
“Ini tidak benar.”
Ia melangkah. Air langsung naik hingga pergelangan kakinya, dingin merambat tanpa ampun. Lalu ke betisnya, membungkus kulitnya perlahan.
“Berhenti…” bisiknya pelan.
Namun tubuhnya tidak patuh. Rahangnya mengeras.
“Mundur.”
Ia mencoba menahan, tapi kakinya justru bergerak lagi. Satu langkah—tanpa izin. Air kini mencapai lututnya.
Lalu lebih tinggi, menyapu naik dengan tenang—terlalu tenang untuk sesuatu yang seharusnya berbahaya. Setiap langkah terasa terlalu ringan.
“Apa…” napasnya terputus sejenak. “Apa yang terjadi padaku…”
Dadanya semakin sesak. Namun bukan karena takut. Ia menggeleng pelan.
“Ini salah.”
Air telah mencapai pinggangnya. Ia berhenti sejenak, napasnya berat, matanya menyipit ke arah kegelapan di depan.
“Di sana…” bisiknya pelan.
Dan untuk sesaat—Ia melihat sesuatu bergerak di bawah permukaan. Samar. Mengintai dan menunggu.
Langkahnya terhenti. Napasnya tertahan, dadanya naik turun perlahan.
“Apa itu…” bisiknya nyaris tak terdengar.
Permukaan air bergetar pelan. Bayangan itu seolah mendekat—atau mungkin hanya perasaannya. Namun tubuhnya kembali condong ke depan.
“Tidak…”
Satu langkah lagi. Air hampir mencapai dadanya. Dan tepat saat itu—
“Lycander!”
Bersambung...
Kesadaran Lycander kembali perlahan. Tubuhnya terasa berat dan nyeri di berbagai bagian. Bau darah yang samar masih tertinggal di indera penciumannya.Saat membuka mata, ia mendapati dirinya berada di sebuah pondok kecil di wilayah kawanan. Cahaya sore masuk melalui jendela dan membuat ruangan itu tampak sunyi.“Kau akhirnya bangun.”Suara Robert terdengar dari sudut ruangan. Lycander menoleh dan melihat sahabatnya sedang duduk sambil menyilangkan tangan.“Apa kau yang membawaku kesini?” tanyanya. “Pertanyaan konyol macam apa itu? Siapa lagi yang membawamu kesini selain aku?” jawab Robert sarkas. “Ya kau benar. Lalu berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Lycander lagi.“Tidak terlalu lama.”Robert terdiam sesaat.“Tapi cukup lama untuk membuatku memikirkan banyak hal.”Lycander menghela napas pelan. Ia sudah bisa menebak apa yang ingin dibicarakan Robert.Keheningan turun selama beberapa saat sebelum Robert akhirnya kembali berbicara.“Kau mengalahkan lima beruang hitam sendiri
“Kenapa kau menjaga jarak, Lycander?” tanya salah satu rekannya. Beberapa rekan lain menoleh ke arah Lycander dan ikut mengangguk. Lycander masih terdiam, ia tetap kepikiran dengan mimpinya semalam. Perasaan tak nyaman atau lebih tepatnya bersalah masih membekas dalam dirinya. “Padahal hanya mimpi, tapi rasa bersalahku terasa sangat nyata,” batinnya. Robert yang juga berada di sana sesekali menatap ke arah Lycander. Memastikan tak ada perubahan pada dirinya. “Hey, Rob! Akhir-akhir ini kenapa kau selalu meminta dipasangkan dengan Lycander setiap kali mendapatkan giliran patroli?” tanya salah seorang rekan. Lycander mendengar obrolan itu, ia juga penasaran alibi apa yang akan dilontarkan oleh Robert pada rekan-rekan lain. Mengingat Robert masih diam-diam mengawasinya. “Lycander, satu-satunya rekan yang tak berisik seperti kalian,” jawab Robert. Jawaban Robert itu justru membuat Lycander sedikit tergelitik, sebab Robert pun juga seberisik rekan-rekan yang lainnya. “Konyol sekal
Malam itu langit tampak cerah hingga bintang-bintang terlihat sangat jelas. Maris menikmati momen itu bersama dengan Lycander yang duduk di sampingnya.“Kau beruntung, Lycander!” ucap Maris. Lycander mengangkat alisnya sedikit terkejut mendengar pernyataan Maris itu. Melihat ekspresi Lycander yang seperti itu membuat Maris tersenyum sambil menatap langsung ke arah mata emas Lycander yang sedang menatapnya. “Ya, kau beruntung. Kau bisa menatap langit malam ini semaumu dan dari mana pun selama di daratan. Sedangkan aku…” sebelum Maris menyelesaikan ucapannya itu, Lycander memotong.“Shhhhhh,” bisiknya.Jari telunjuk Lycander tepat di depan bibir Maris seolah ingin menghentikan Maris bicara.“Kau lebih beruntung,” ucapnya akhirnya. Mata Maris sedikit membesar karena terkejut sekaligus penasaran dengan apa yg didengarnya itu.“Bagaimana aku lebih beruntung?” tanyanya.Pandangan Lycander beralih ke arah langit dan tersenyum lalu senyum itu sedikit menghilang saat ia memandang air laut y
"Aku harus melakukan sesuatu."Kalimat itu terus terngiang di dalam benak Seraphine selama beberapa hari berikutnya. Bahkan ketika ia sedang sendirian atau ketika ia berusaha mengalihkan pikirannya pada hal-hal lain.Namun semakin ia mengingat pertemuan beberapa hari lalu, semakin sulit baginya untuk melupakan tatapan Nerion. Tatapan yang berubah semakin serius saat melihat kegugupan kecil Maris. Dan hal itu membuat hati Seraphine tidak tenang."..."Karena yang ia inginkan justru sebaliknya. Ia ingin Nerion berhenti melihat Maris.Selama ini, Seraphine selalu percaya bahwa jika Maris berubah, semuanya akan berubah pula. Ia mengira Nerion pada akhirnya akan berhenti memperhatikannya. Ternyata yang terjadi justru kebalikannya.Semakin ada sesuatu yang salah pada Maris… semakin Nerion terlihat memperhatikannya. Hal itu membuat dadanya terasa sesak."Kenapa?" pikirnya."Kenapa kau selalu melihatnya, Nerion?" gumamnya sendiri. Beberapa hari berikutnya, Seraphine kembali fokus memperhatik
Beberapa hari setelah mimpi yang bahkan tidak dapat diingatnya, Maris kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia masih bertemu Seraphine hampir setiap hari, dan seperti biasa pula, Nerion yang baru kembali dari penyelidikannya tanpa sengaja bertemu dengan keduanya."Hai, apa kabar?" sapanya. Suara tenang itu membuat keduanya langsung menoleh. Seraphine tersenyum kecil. "Nerion!" seru Seraphine."Kau akhirnya kembali," lanjutnya. Nerion mengangguk pelan."Ya, aku kembali."Namun setelah mengatakan itu, tatapannya justru berhenti pada Maris."..."Perasaan aneh itu muncul lagi. Perasaan yang sama yang telah beberapa kali mengganggunya akhir-akhir ini. Dan entah kenapa, Nerion merasa ia tidak bisa terus mengabaikannya.Selama beberapa hari terakhir, ia terus meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah kebetulan. Anomali arus dan perasaan aneh yang muncul setiap kali melihat Maris tidak memiliki hubungan apa pun.Namun semakin lama, semakin sulit baginya untuk berpura-pura tidak
Sudah beberapa hari berlalu sejak malam itu, ketika Maris menyadari bahwa ia tidak dapat mengingat salah satu kenangan masa kecilnya sendiri. Meskipun terus berusaha menganggap semuanya sebagai hal yang sepele, perasaan tidak nyaman itu belum juga menghilang.Ia beberapa kali mencoba meyakinkan dirinya sendiri."Mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir."Dan seperti biasa, Maris memilih untuk mempercayai penjelasan itu. Karena ia tidak tahu harus mempercayai apa lagi.Malam itu, laut terasa tenang seperti biasanya. Cahaya tumbuhan laut menerangi rumah mereka dengan lembut, sementara suara nyanyian laut kuno masih terdengar seperti biasa.Setelah diam-diam kembali dari menghabiskan waktu bersama Lycander di permukaan, Maris akhirnya kembali ke kamarnya dengan aman. Tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya."..."Ia berbaring sambil memandangi langit-langit rumahnya. Perasaan aneh itu masih tertinggal di dalam hatinya. Tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk membuatnya sesekali terdiam.N
Malam datang perlahan di atas permukaan laut. Cahaya bulan jatuh lembut di atas ombak yang bergerak tenang, memantulkan kilauan perak yang membentang hingga ke kejauhan. Angin malam berembus pelan, membawa aroma asin laut yang begitu familiar.Maris muncul ke permukaan lebih awal dari biasanya. Ia
Laut malam itu terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya saat Maris berenang sendirian setelah bertemu dengan Lycander. Cahaya tumbuhan laut memantul samar di antara arus yang bergerak pelan, sementara suara kehidupan dari kejauhan perlahan mulai menghilang satu per satu. Biasanya, ketenangan sepe
Langit malam terlihat tenang di atas wilayah hutan yang mengelilingi pemukiman manusia serigala. Angin bergerak pelan di antara pepohonan, membawa aroma tanah dan dedaunan yang lembab setelah hujan beberapa hari lalu.Robert berdiri diam di salah satu cabang pohon yang tinggi. Tatapannya mengarah k
Wilayah taman laut siang itu terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya. Seraphine berenang pelan melewati taman itu sambil memperhatikan sekelilingnya. Banyak duyung yang berlalu lalang atau sekedar mengobrol ringan di area itu, beberapa menyapa Seraphine saat ia berenang melewati mereka.







