Share

BAB 4

Author: Riichan
last update publish date: 2026-04-13 16:40:02

“Apa... apa yang kau lakukan?” tanya Maris ketakutan.

Wajah mereka begitu dekat hingga napas pria itu menyapu kulitnya. Hangat, asing, dan membuat tubuh Maris menegang tanpa ia mengerti alasannya. Ia refleks menahan napas.

“Ja-jangan…” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar.

Manusia serigala itu tidak menjawab. Matanya yang berwarna emas hanya menatap lurus ke arahnya, tajam dan dalam seolah menembus.

Maris mencoba mengalihkan pandangan, namun gagal. Tatapan itu seperti menahannya di tempat.

“Apa…?” bisiknya pelan, nyaris tak bersuara.

Mata hitamnya dipenuhi ketakutan. Rambut basah menempel di pipinya, dengan butiran pasir yang masih tersisa di kulit pucatnya. Bibirnya bergetar pelan.

“Kenapa kau… melihatku seperti itu…?” suaranya semakin kecil.

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengamati tanpa berkedip, dadanya naik turun perlahan. Seolah sedang memastikan sesuatu.

Dan wajah itu—Cantik. Kata itu muncul begitu saja di benaknya.

“Cantik…” gumamnya pelan.

Maris sedikit mengernyit. Ia tidak benar-benar mendengar, hanya merasa ada sesuatu yang aneh di udara.

“Hm…?” gumamnya bingung.

Pria itu langsung mengalihkan pandangan sejenak, seolah terganggu oleh pikirannya sendiri. Rahangnya mengeras sebelum akhirnya kembali menatap datar.

“Aku menggendongmu untuk membantumu mendekati air lebih cepat,” ucapnya dingin. “Seharusnya kau berterima kasih.”

Maris terdiam. Tubuhnya masih kaku dalam gendongan itu, jari-jarinya sedikit mencengkeram tanpa sadar pada lengan pria itu. Ia menelan ludah.

“Apa… dia benar-benar tidak akan menyakitiku…?” pikirnya ragu.

Langkah pria itu mulai bergerak. Perlahan namun pasti, menuju suara ombak yang semakin jelas di telinga Maris.

Kaki pria itu menekan pasir dengan suara pelan.

Ranting kecil patah di bawah pijakannya, membuat Maris sedikit tersentak.

“Ah—” napasnya tercekat.

Hangat dari tubuh pria itu terasa semakin jelas. Terlalu dekat, terlalu asing, membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Ia mencoba bergerak sedikit.

“Jangan banyak bergerak,” ucap pria itu rendah.

Maris langsung diam. Tubuhnya kembali menegang, napasnya tertahan tanpa sadar.

“Ba-baik…” jawabnya pelan.

Jarinya yang sempat mencengkeram lengan pria itu perlahan melepasnya.

Tak lama, ujung ekornya menyentuh air. Sensasi dingin langsung menjalar, membuat tubuhnya sedikit tersentak.

Matanya terbuka lebar.

“Air…” bisiknya pelan.

Pria itu berhenti. Ia perlahan menurunkan tubuh Maris.

“Masuk,” katanya singkat.

Begitu tubuhnya menyentuh laut, sesuatu dalam diri Maris runtuh. Tangisnya pecah tanpa bisa ia tahan. Ia terisak, napasnya terputus-putus.

“Aku… bisa…” suaranya bergetar.

Air laut menyelimuti tubuhnya. Sensasi dingin itu langsung menjalar, membuat tubuh Maris sedikit gemetar. Napasnya tercekat.

“Akhirnya…”

Rasa familiar itu kembali. Hangat—namun berbeda dari daratan, lebih dalam, lebih menenangkan.

“Rumah…”

Ia menggerakkan ekornya perlahan. Sedikit goyah di awal, membuatnya menahan napas.

“Ayo…” gumamnya lirih.

Lalu—lebih kuat. Kali ini bergerak.

Dengan satu dorongan, tubuhnya meluncur ke dalam air. Sensasi ringan dan bebas langsung memenuhi dirinya.

“Aku… bisa…” suaranya bergetar.

Ia berenang menjauh. Lebih cepat. Dan lebih dalam.

Air membelah di sekitarnya, membawa kembali sesuatu yang hampir hilang dari dirinya. Namun—Ia melambat.

“Kenapa…” bisiknya pelan.

Seolah ada yang menahannya. Perlahan, Maris berhenti. Tubuhnya mengambang sesaat sebelum akhirnya ia menoleh ke belakang—Pada sosok yang masih berdiri diam di sana.

"Terima kasih…!" teriak Maris, suaranya bergetar namun jelas. “Terima kasih banyak atas bantuan besarmu ini, tuan manusia serigala!”

Dadanya terasa sesak. Namun kali ini—bukan karena takut.

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, tatapannya mengikuti Maris yang perlahan menjauh. Garis rahangnya sedikit mengeras.

“Hah…” napasnya keluar pelan, hampir tak terdengar.

Di kejauhan, Maris tersenyum kecil. Ia mengangguk sebelum akhirnya menyelam lebih dalam. Tubuhnya menghilang di balik gelapnya laut malam.

Pria itu tidak bergerak. Matanya tetap terpaku pada permukaan laut, seolah menunggu sesuatu muncul kembali.

“Pergi…”

Suara ombak kembali mendominasi. Angin malam menggerakkan rambut gelapnya perlahan. Namun ia masih di sana dan tidak berpaling.

“Kenapa aku…” gumamnya pelan.

Alisnya berkerut. Dadanya terasa aneh yang tidak nyaman, tapi juga tidak bisa diabaikan. Seolah ada sesuatu yang tertinggal.

Tangannya sedikit mengepal. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.

“Hanya makhluk laut…” bisiknya lirih.

Namun kata-katanya sendiri terasa hampa. Tatapannya kembali mengarah ke laut yang kini telah tenang. Dan tanpa sadar—

Air laut menyentuh kakinya. Dingin itu menjalar perlahan hingga pergelangan. Ia sedikit menunduk melihat air.

“Dingin…” bisiknya pelan.

Namun alisnya justru berkerut.

“Kenapa…” suaranya menggantung.

Tidak terasa asing. Ia terdiam sesaat, lalu mengangkat pandangannya kembali ke arah kejauhan laut. Gelap, dalam, dan sunyi.

“Seharusnya aku mundur…”

Namun tubuhnya tidak bergerak. Dadanya berdenyut. Pelan.

Lalu semakin kuat. Ia mengangkat tangannya, menyentuh dadanya sendiri. Napasnya berubah, sedikit lebih berat dari sebelumnya.

“Ini… apa?” gumamnya.

Detak itu semakin jelas. Bukan sekadar jantung—Seolah ada sesuatu yang memanggil.

“Tidak…”

Rahangnya mengeras.

“Ini tidak benar.”

Ia melangkah. Air langsung naik hingga pergelangan kakinya, dingin merambat tanpa ampun. Lalu ke betisnya, membungkus kulitnya perlahan.

“Berhenti…” bisiknya pelan.

Namun tubuhnya tidak patuh. Rahangnya mengeras.

“Mundur.”

Ia mencoba menahan, tapi kakinya justru bergerak lagi. Satu langkah—tanpa izin. Air kini mencapai lututnya.

Lalu lebih tinggi, menyapu naik dengan tenang—terlalu tenang untuk sesuatu yang seharusnya berbahaya. Setiap langkah terasa terlalu ringan.

“Apa…” napasnya terputus sejenak. “Apa yang terjadi padaku…”

Dadanya semakin sesak. Namun bukan karena takut. Ia menggeleng pelan.

“Ini salah.”

Air telah mencapai pinggangnya. Ia berhenti sejenak, napasnya berat, matanya menyipit ke arah kegelapan di depan.

“Di sana…” bisiknya pelan.

Dan untuk sesaat—Ia melihat sesuatu bergerak di bawah permukaan. Samar. Mengintai dan menunggu. 

Langkahnya terhenti. Napasnya tertahan, dadanya naik turun perlahan.

“Apa itu…” bisiknya nyaris tak terdengar.

Permukaan air bergetar pelan. Bayangan itu seolah mendekat—atau mungkin hanya perasaannya. Namun tubuhnya kembali condong ke depan.

“Tidak…”

Satu langkah lagi. Air hampir mencapai dadanya. Dan tepat saat itu—

“Lycander!”

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 168

    Pagi kembali datang diiringi cahaya matahari yang menembus sela-sela pepohonan. Seperti biasa, Lycander bersiap meninggalkan rumah setelah memastikan semuanya telah tersimpan rapi.Robert sudah berada di dalam rumah sejak pagi. Ia duduk di bangku panjang dekat pintu sambil memperhatikan Lycander yang sedang memeriksa makanan yang akan dibawanya untuk Maris. "Kau tidak perlu menatapku seperti itu,” gumam Lycander. Robert mengangkat wajahnya dari buku catatan. "Aku hanya menjalankan perintah."Lycander mendengus kecil. "Perintah dua puluh empat jam itu?""Ya,” jawab Robert singkat. "Kalau begitu, tatapanmu memang akan menjadi bagian dari hidupku mulai sekarang,” sahut Lycander. Robert menutup bukunya. "Setidaknya kau sudah mulai terbiasa."Lycander hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.Mereka kemudian meninggalkan rumah dan berjalan menuju pesisir. Hari itu tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bahkan Robert sempat merasa gejala yang terjadi kemarin mungkin hanya muncul sekali

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 167

    Lycander berjalan masuk ke dalam hutan. Ia memetik beri liar yang cukup berbuah lebat di semak-semak belukar. Robert berkeliling di area sekitar dan menemukan sarang lebah di celah pohon yang tak terlalu tinggi.“Hey, kau pasti suka ini,” ucap Robert saat kembali menghampiri Lycander. Keranjang kecil di salah satu tangan Lycander yang diisi beri liar hampir penuh. “Suka apa?”"Aku menemukan sarang lebah,” jawab Robert. Lycander hanya melirik sekilas, “untuk apa?"Robert menunjuk keranjang berisi beri, “kurasa madu akan cocok dimakan dengan itu." Lycander terdiam sesaat, lalu baru menyadari maksud Robert.Ia akhirnya bergegas meminta Robert untuk menunjukkan jalan. Setelah sampai di lokasi sarang lebah, Robert membuat api, dan membakar ranting yang lebih besar.“Aku akan mengasapinya, kau ambil sarangnya,” usul Robert. Lycander mengangguk setuju. Akhirnya semua berjalan lancar sesuai rencana. Mereka berjalan kembali ke rumah Lycander. Memeras madu itu hingga memenuhi dua toples kaca.

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 166

    Sudah lewat tengah malam ketika Robert meninggalkan rumah Lycander. Langkahnya mantap menyusuri jalan setapak yang membelah hutan menuju kediaman Alpha kawanan.Suara jangkrik dan desir angin malam menjadi satu-satunya teman di sepanjang perjalanan. Cahaya bulan sesekali menembus sela-sela dedaunan, menerangi jalan yang telah begitu dikenalnya.Tak lama kemudian, sebuah rumah kayu berukuran jauh lebih besar mulai terlihat di balik pepohonan. Beberapa penjaga yang berjaga di depan hanya mengangguk singkat sebelum mempersilahkannya masuk.Robert berhenti di depan pintu. "Alpha.""Masuk." Suara berat dari dalam segera terdengar.Robert membuka pintu perlahan. Ruangan itu sederhana, namun tertata rapi. Di tengah ruangan, Alpha tengah memeriksa beberapa gulungan peta wilayah kawanan sebelum akhirnya mengangkat pandangan."Bagaimana Lycander?”Robert mengangguk. "Selama beberapa bulan terakhir, kondisi Lycander stabil." Ia men

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 165

    Langit mulai berubah jingga ketika Lycander masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tetap tertuju ke arah kabut yang menyelimuti mulut Teluk Mati, memastikan Maris benar-benar telah menghilang dari pandangannya.Kabut perlahan menelan sosok Maris. Lycander tetap berdiri di tempat hingga bayangannya benar-benar menghilang. Barulah ia mengangkat kembali tandu kayu itu ke pundaknya dan berjalan meninggalkan pantai.Di belakangnya, Robert mengikuti dalam diam.Tatapannya sesekali tertuju pada tandu kayu yang dipikul Lycander. Ia tidak mengatakan apa pun. Namun jauh di dalam hatinya, muncul harapan sederhana.Semoga… hari-hari seperti ini dapat berlangsung sedikit lebih lama.Setelah cukup lama berjalan, akhirnya rumah sederhana milik Lycander mulai terlihat di balik pepohonan. Begitu sampai, Lycander langsung menyandarkan tandu kayu itu di depan rumah. Ia mengambil selembar kain, lalu mulai mengelap air laut yang masih membasahi batang kayu dan anyaman talinya.Robert bersandar di kusen pi

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 164

    Pagi kembali datang bersama kabut yang menggantung di sekitar Teluk Mati. Seperti hari-hari sebelumnya, Maris berenang keluar dari gua tempat tinggalnya. Ombak kecil mengantarnya menuju batu karang di luar teluk, tempat seseorang selalu menunggunya.Hari itu, Maris kembali datang lebih dulu. Ia duduk di atas batu karang sambil memainkan ujung rambut hitamnya yang masih basah. Tatapannya sesekali mengarah ke tepi hutan.Tak lama kemudian, sosok berambut perak muncul dari balik pepohonan."Selamat pagi, Maris.""Selamat pagi, Lycander."Lycander menghampiri batu karang tempat Maris berada. Namun kali ini, kedua tangannya tidak membawa kantong kain seperti biasanya. Sebaliknya, ia memikul sesuatu yang cukup panjang di pundaknya dan ditutupi kain.Maris memiringkan kepala. "Apa yang kau bawa?"Lycander tersenyum tipis dan menjawab, “nanti juga kau tahu."Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Maris semakin besar. "Kau mulai pandai membuat kejutan rupanya.""Aku sedang belajar,” jawab L

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 163

    Kabut tipis masih menggantung di atas permukaan laut ketika Maris tiba di batu karang tempat mereka biasa bertemu. Ia mengusap rambutnya yang masih basah, lalu memandang ke arah hutan di tepian pantai dengan tenang.Belum ada siapa pun."..."Maris tidak merasa kecewa. Ia hanya duduk sambil memandangi ombak yang datang silih berganti. Entah sejak kapan, menunggu beberapa saat sebelum Lycander datang justru terasa menyenangkan baginya.Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang begitu dikenalnya terdengar dari kejauhan."Lycander."Pria itu mengangkat sebelah tangannya sambil tersenyum kecil."Selamat pagi,” sapa Lycander. "Selamat pagi,” jawab Maris. Lycander duduk di batu karang di dekatnya. Seperti biasa, ia membawa kantong kain berisi makanan."Hari ini apa?" tanya Maris penasaran."Ikan panggang."Maris langsung menatapnya penuh harap."Benarkah?"Lycander mengangguk."Kali ini tidak gosong."Maris terkekeh."Berarti percobaan keempat berhasil?" tanyanya. "Setelah mengorbankan

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   Bab 3

    “Si...siapa di sana?!” teriaknya parau, suaranya pecah di tengah rasa takut yang menyesakkan dada.Suara ranting patah terdengar semakin jelas.Sosok itu perlahan berjalan keluar dari kegelapan di antara pepohonan dan semak-semak, mendekat ke arah Maris. Setiap langkahnya terdengar berat dan teruku

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 2

    Ada rasa sesak yang menghimpit dada Maris, saat ia mencoba menarik napas. Ada sensasi terbakar yang menusuk di paru-parunya. Ia terbatuk hebat, meludahkan butiran-butiran kasar yang terasa tajam di lidahnya—Pasir.Perlahan Ia membuka mata. Segalanya gelap, tapi telinganya masih menangkap suara yang

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 6

    Sementara itu, Maris yang berhasil kembali ke perairan, menyelam dengan sekuat tenaga menuju kedalaman laut. Air menyambutnya.Dingin—namun menenangkan. Gelap—namun terasa seperti pelukan yang telah lama ia rindukan. Ia berenang cepat, tubuhnya bergerak lincah membelah arus, seolah sedang dikejar s

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 5

    “Lycander!” teriak Robert.Suara itu memecah sesuatu di dalam dirinya. Lycander tersentak. Napasnya terasa berat, seolah baru saja terbangun dari sesuatu yang dalam dan asing.Air laut telah mencapai hampir dadanya, dingin meresap hingga ke tulang. Namun anehnya, ia tak mengingat kapan melangkah se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status