Share

Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung
Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung
Author: Ray Ghafari

Bab 1

Author: Ray Ghafari
"Duh, kepalaku sakit banget!"

Rakael Adyatma memegangi kepalanya dan perlahan duduk dari ranjang besar yang empuk. Kepalanya terasa sangat berat, seolah-olah baru saja dihantam palu besar. Wajahnya juga basah, bahkan samar-samar tercium bau amis darah.

Rakael secara refleks menyeka wajahnya. Saat dia baru hendak turun dari tempat tidur untuk mencari air minum demi meredakan sakit kepala yang menyiksa ini, tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang licin. Seketika, kesadarannya yang semula kabur langsung kembali setengahnya.

Rakael mendadak menoleh ke samping. Sekilas pandang itu saja sudah cukup membuat matanya terbelalak.

Di sampingnya, ternyata terbaring seorang wanita dewasa yang cantik, sedang menatapnya dengan senyuman penuh arti. Di sekeliling mereka berserakan potongan pakaian wanita yang tercabik-cabik dan tisu.

Mata mereka langsung bertemu.

"Tante Ranti?!" Pupil mata Rakael langsung membesar. Dia berteriak kaget.

Detik berikutnya, seolah-olah tersiram air panas, dia langsung memeluk selimut dan berguling dari atas ranjang.

"Tante Ranti, maaf, aku ... aku semalam minum ...." Ucapan Rakael kacau balau, suaranya dipenuhi kepanikan dan kebingungan.

Kemarin, Rakael tanpa sengaja melihat foto di atas meja dan baru tahu bahwa kliennya, Ranti, adalah ibu kandung Marten, teman kuliahnya dulu! Celaka! Dia malah tidur dengan ibu kandung teman kuliahnya!

Ranti melirik Rakael dengan manja, lalu berkata, "Kenapa masih manggil aku Tante sih ...."

Jantung Rakael langsung berdegup keras. Masalahnya, dia benar-benar tidak ingat soal semalam! Apa kata-kata itu benar-benar keluar dari mulutnya tadi malam?

"Tante Ranti, aku benaran nggak sengaja. Aku ...."

Melihat wajah Rakael yang tegang, Ranti justru merasa geli. "Semalam kamu bukan seperti ini. Kenapa sekarang takut? Kamu pikir aku bakal memakanmu?"

Pikiran Rakael benar-benar kacau. Dalam hati, dia mengutuk dirinya sendiri. Semua ini gara-gara minum berlebihan!

"Tante Ranti, semalam aku ... aku benar-benar ...."

Alis Ranti yang indah sedikit terangkat, lalu dia menggoda, "Kenapa? Takut aku minta kamu tanggung jawab?"

Pikiran Rakael benar-benar berantakan. Wajahnya penuh rasa canggung. "Tante Ranti, jangan bercanda begitu. Semalam aku ...."

Ranti manyun dan melotot manja ke arah Rakael. "Panggil aku Kak Ranti!"

Rakael tahu dirinya bersalah, jadi dia langsung menurut. "Kak Ranti ...."

Ranti mengenakan piama sutra tipis yang seksi. Ujung jarinya yang putih bersih menekan ringan dada Rakael saat berujar, "Meskipun belum puas, kita juga nggak bisa lanjut. Suamiku sebentar lagi pulang."

Begitu mendengar suami Ranti akan kembali, kepala Rakael seolah-olah meledak. Dia langsung panik, buru-buru menoleh ke sana sini untuk mencari pakaiannya, siap kabur.

"Celanaku di mana?!" teriaknya dengan panik.

Melihat kepanikan Rakael, Ranti tertawa sampai dadanya berguncang. "Sudah, jangan panik. Aku cuma bercanda. Kami sudah lama cerai. Dia pulang cuma ambil barang. Ketemu juga nggak apa-apa."

Baru saja Rakael menyentuh celana dalamnya, tubuhnya langsung membeku di tempat. Wajahnya dipenuhi rasa malu.

"Kak Ranti, candaan seperti itu sama sekali nggak lucu." Rakael menepuk dadanya, masih diliputi rasa takut.

Tadi itu, dia benar-benar ketakutan. Kalau sampai tertangkap basah oleh suami orang di ranjang, bukankah dia bisa dipukuli sampai mati?

Belum lagi soal Marten. Hubungannya dengan Marten juga tidak baik. Waktu kuliah dulu, Marten adalah tipikal anak orang kaya dan pernah mengejar pacarnya, Arumi.

Mereka bisa dibilang adalah rival cinta. Sampai sekarang pun Marten masih belum menyerah pada Arumi, bahkan beberapa kali mendatangi perusahaan tempat Arumi bekerja.

"Dasar penakut. Kemarin kamu masih seperti keledai liar, sekarang sudah takut begini." Ranti melirik Rakael dengan manja, lalu berbalik, mengambil sebuah kontrak dari laci meja samping ranjang, dan melemparkannya pelan ke depan Rakael.

Rakael tampak bingung. Setelah terdiam cukup lama, barulah dia bertanya, "Kak Ranti, ini ... maksudnya apa?"

Sudut bibir Ranti terangkat, menampilkan senyuman tipis. "Kontrak asuransi. Aku sudah tanda tangan. Anggap saja ini hadiah untukmu."

Wajah Rakael langsung memancarkan kegembiraan yang sulit disembunyikan. Sudah tiga bulan dia bekerja di bidang asuransi dan akhirnya dia berhasil mendapatkan nasabah pertamanya.

"Kak Ranti, terima kasih banyak!"

Ranti tersenyum dengan tatapan penuh godaan. "Kalau mau berterima kasih, jangan cuma pakai mulut .... Tapi untuk kali ini, kita catat saja dulu. Dia hampir sampai. Kamu cepat pergi."

....

Setelah saling menambahkan kontak, Rakael segera menaiki motor listrik kecilnya dan buru-buru meninggalkan The Axton.

Di perjalanan pulang, pikirannya melayang. Meskipun dia berhasil mendapatkan kontrak, bahkan kontrak besar, dia sama sekali tidak merasa senang.

Rakael merasa dirinya telah mengkhianati Arumi, pacarnya. Dia dan Arumi mulai berpacaran sejak kuliah. Bisa dibilang cinta pada pandangan pertama. Awalnya, dia punya kesempatan untuk belajar ke luar negeri, tetapi demi bersama Arumi, dia memilih bertahan di tanah air.

Rakael sudah berusaha keras untuk tidak mengingat kejadian semalam. Namun, setiap kali dia berkedip, bayangan penuh gairah dari kejadian semalam selalu muncul di benaknya. Dalam keadaan linglung, dia pun kembali ke kantor.

Saat tiba di bawah gedung kantor, waktu sudah menunjukkan lewat pukul 10 pagi.

"Rakael, selamat atas kontrakmu!" Di dalam ruang kantor direktur, Dyah tersenyum lebar. Bahkan soal Rakael yang datang terlambat tanpa absen pun tidak disinggung sama sekali.

Rakael merasa agak sungkan dipuji begitu. "Hanya kebetulan."

"Ini bukan kebetulan. Bukan cuma kamu yang pernah pergi ke The Axton. Sayangnya, tak satu pun dari mereka berhasil mendapat kontrak!" Dyah menatap wajah Rakael yang tampan. Sepasang matanya berkilau.

Tentang The Axton, Rakael juga pernah mendengarnya. Itu sebabnya, dia merasa dirinya hanya beruntung ....

Dyah meletakkan kontrak di tangannya, lalu secara pribadi menyeduhkan secangkir kopi untuk Rakael dan meletakkannya di hadapannya. "Kamu tahu berapa jumlah rumah di The Axton?"

Rakael menerima kopi itu, berpikir sejenak, lalu menjawab, "Tiga ratus dua belas rumah."

"Benar!" Senyuman Dyah semakin lebar. "Kalau begitu, kamu tahu siapa saja yang tinggal di sana?"

"Kurang tahu." Rakael menggeleng.

Dia datang ke The Axton hanya dengan niat mencoba peruntungan. Di dalam kota, mendapat kontrak terlalu sulit karena ada terlalu banyak orang yang berebut sedikit peluang. Itulah sebabnya dia mengalihkan target ke kawasan vila terbesar di luar kota itu.

Memang sulit ditembus, tetapi kalau berhasil mendapat satu kontrak saja, cukup untuk biaya hidup tiga bulan.

Bagaimanapun, dia sudah terlalu sering ditolak, sampai hampir mati rasa. Berhasil tentu membahagiakan, tetapi gagal pun sudah biasa.

"Perempuan. Semuanya perempuan." Dyah berbalik, mengambil sebuah berkas dari laci, lalu melemparkannya ke atas meja. "Yang tinggal di The Axton adalah para elite bisnis dari berbagai perusahaan besar, para wanita karier, bahkan beberapa selebritas papan atas!"

Rakael membolak-balikkan berkas itu sekilas. Matanya memancarkan keterkejutan.

Pantas saja kawasan vila itu sangat sepi di siang hari, tetapi bersih dan rapi. Ternyata seluruh penghuninya adalah perempuan.

"Kalau kamu bisa membuka pasar ini, penghasilan puluhan miliar setahun bukan hal mustahil." Dyah melangkah mendekat, merapikan dasi Rakael sambil menggoda, "Mungkin suatu hari nanti, posisiku juga bisa jadi milikmu."

Mencium aroma wangi dari tubuh Dyah, tubuh Rakael tanpa sadar menegang. "Bu, jangan bercanda ...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 50

    "Nak, kamu yang namanya Rakael?" Harun menggaruk rambut putih di kepalanya, lalu pandangannya tertuju ke tubuh Chelsea. "Wah, kamu lumayan beruntung juga. Segede itu, pasti enak banget."Chelsea ketakutan sampai wajahnya pucat. Setengah badannya bersembunyi di belakang Rakael dan dia tidak berani mengangkat kepala.Rakael mengerutkan keningnya sedikit. Orang-orang ini sepertinya bukan anak buah Arlan. Arlan sudah pernah dirugikan sekali. Kalau benar-benar ingin berurusan dengannya, tidak mungkin hanya mengirim beberapa orang seperti ini.Kalau bukan Arlan, berarti tinggal satu orang lagi."Marten yang suruh kalian ke sini?" Kilatan dingin melintas di mata Rakael. Dia tiba-tiba menyesal. Menyesal karena waktu itu menghukumnya terlalu ringan.Harun mengorek telinganya dan berlagak pura-pura bodoh. "Marten siapa? Nggak pernah dengar."Rakael makin yakin dengan dugaannya. Dia melindungi Chelsea di belakangnya. "Mau apa kalian sebenarnya?"Harun menatap Chelsea di belakang Rakael, lalu ters

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 49

    "Kak Rakael." Melihat Rakael sudah selesai bekerja, Chelsea berlari kecil mendekat dengan wajah agak malu. Chelsea adalah rekan kerja wanita yang mengantarkan sarapan untuk Rakael tadi pagi.Rakael memang sudah beberapa kali berinteraksi dengannya, tetapi semuanya hanya urusan pekerjaan. Mereka punya kontak satu sama lain, tetapi isi percakapan yang ada juga sebatas hal-hal terkait kerja.Rakael sedang merapikan barang-barangnya dan bersiap meninggalkan kantor. Melihat Chelsea berdiri di depannya, dia meletakkan berkas di tangannya lalu bertanya, "Ada apa, Chelsea?""Kak Rakael, aku ... hari ini ulang tahunku. Bolehkah aku mengajakmu makan bersama?" Setelah berkata demikian, Chelsea tampak tidak berani menatap Rakael.Kedua tangannya terus mengusap-usap ujung kemejanya karena gugup. Sebenarnya, selain tubuhnya yang agak berisi, fitur wajah Chelsea tergolong cantik.Seperti yang pernah dikatakan Jevin, kalau Chelsea bisa turun belasan kilo lagi, dia pasti akan menjadi gadis cantik yang

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 48

    "Baik." Loreta tersenyum tipis dan mengangguk setuju.Namun, sepasang matanya terus tertuju pada wajah Rakael, tidak bergeser sedikit pun. Bahkan Sarah juga merasa ada yang aneh.Rakael bukanlah perawat pertama Loreta, tetapi ini pertama kalinya dia melihat Loreta menatap seseorang begitu lama dan sedemikian serius."Bekerjalah dengan baik. Kalau kamu merasa nggak sanggup, kamu bisa langsung datang mencariku," kata Sarah. Setelah memberi beberapa pesan tambahan, dia pun berbalik dan pergi.Rakael tiba-tiba jadi sedikit memahami Jevin.Demi mendapat sebuah transaksi, perjuangan orang-orang di industri mereka ini mungkin tidak kalah berat dibanding kurir makanan. Untuk tenaga penjual pria, kondisinya masih lebih baik. Sementara tenaga penjual wanita yang cantik, benar-benar harus mengerahkan segala cara demi menarik klien. Menemani makan dan minum sudah jadi hal biasa.Kalau bertemu klien besar yang sesungguhnya, sesama pria pasti paham maksudnya."Anak muda, duduklah," Loreta akhirnya m

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 47

    Sambil berjalan, Sarah menjelaskan, "Panti Jompo Beria dibagi menjadi halaman depan, halaman tengah, dan halaman belakang.""Halaman depan adalah area utama untuk aktivitas harian para lansia, ada taman, gazebo, ruang catur, dan pusat kebugaran. Halaman tengah adalah area hunian, setiap lansia memiliki satu unit suite pribadi dengan fasilitas lengkap. Sedangkan halaman belakang adalah area kantor dan logistik kami, termasuk ruang medis, kantin, dan gudang."Rakael berjalan di belakangnya sambil mendengarkan dengan serius, meski matanya tidak bisa menahan diri untuk mengamati sekeliling.Panti jompo ini ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar. Di setiap sudutnya terasa sangat terawat dan elegan. Selain aroma cendana dan wangi pepohonan, seolah juga samar-samar tercium bau obat di udara."Tugas utamamu adalah membantu perawat utama dalam merawat para lansia di area yang ditugaskan. Termasuk mengantarkan makanan untuk lansia yang kesulitan bergerak, membantu mereka berj

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 46

    "Langsung ke halaman belakang, cari Bu Sarah. Dia yang bertanggung jawab merekrut orang."Rakael menghela napas lega dan segera mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Pak."Saat mendorong pintu kayu yang tebal itu, aroma dupa cendana bercampur wangi rumput dan pepohonan langsung menyambutnya. Di dalamnya terdapat taman yang tertata rapi, dengan jalan setapak dari batu yang berkelok-kelok.Di kedua sisi jalan tumbuh berbagai bunga dan pepohonan bernilai tinggi. Beberapa lansia berpakaian rapi dan bersih sedang duduk di gazebo, bermain catur sambil mengobrol. Wajah mereka tampak santai dan menikmati hidup.Rakael berjalan menuju halaman belakang sesuai petunjuk. Saat melewati sebuah taman kecil, dia melihat seorang nenek mengenakan gaun bermotif bunga sedang berusaha dengan susah payah mengambil layang-layang yang jatuh ke tanah. Rakael refleks hendak melangkah maju untuk membantu, tetapi kakinya tiba-tiba berhenti.Mengingat pengalaman Jevin, dia pun diam-diam menarik kembali langkahn

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 45

    Dulu, setiap melihat ada lansia menyeberang jalan, dia pasti akan maju membantu menopang mereka. Namun, sekarang ... hehe. Tidak menendang mereka saja sudah termasuk bermurah hati."Itu memang menyedihkan."Rakael menepuk bahu Jevin dengan penuh simpati. Serangan mendadak memang paling fatal. Setelah dikeroyok, dia bahkan tidak tahu alasannya mengapa dia dipukuli. Namun bagaimanapun juga, dengan adanya Jevin sebagai contoh nyata, Rakael jelas tidak bisa menempuh jalan yang sama.Rakael lalu menanyakan nama para lansia itu serta gambaran fisik mereka. Setelah memiliki sedikit pemahaman, barulah dia berdiri dan bersiap pergi melihatnya sendiri."Tunggu, aku sudah cerita sebanyak itu, tapi kamu masih mau pergi juga?" Jevin menatap Rakael seolah sedang melihat orang bodoh. Orang-orang di panti jompo itu bukan sekadar sulit ditangani, melainkan benar-benar tidak bisa didekati sama sekali.Rakael menyeringai. "Aku cuma mau lihat-lihat. Punya target jelas lebih baik daripada keliling kota car

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status