Share

Bab 99

Penulis: Ray Ghafari
"Mirip sekali denganmu ya?" Loreta mengusap foto itu perlahan. Matanya tampak sedikit berkaca-kaca.

Rakael mengangguk serius. "Ya, memang mirip. Hanya saja dia jauh lebih tua dariku. Kalau masih muda, mungkin akan terlihat lebih mirip."

Loreta mengangguk, lalu menatap foto itu dengan pandangan sedikit kosong.

"Sebenarnya, aku sudah menebaknya." Di mata Loreta tampak semburat kesedihan. "Pasti dia mengalami sesuatu, makanya nggak bisa pulang."

Sebagai seorang ibu, mana mungkin dia tidak memahami
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 100

    Rakael tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya diam-diam membantu Loreta merapikan tempat tidur.Sebelum keluar, Rakael tak tahan untuk menoleh dan bertanya, "Apa Nenek masih akan kembali?"Loreta tersenyum, lalu melambaikan tangannya ke arah Rakael.Pintu pun ditutup. Rakael berdiri di koridor dengan pikiran melayang. Perasaannya terasa kurang nyaman. Karena dia tahu, mungkin perpisahan ini ....Ke depannya, kemungkinan besar dia tidak akan punya kesempatan lagi untuk bertemu Loreta.Menjelang pukul 2 siang, ketika Rakael pergi membantu membereskan kamar Loreta, kamar itu sudah kosong melompong dan semua barangnya telah dibawa pergi.Baru saat itulah Rakael mengetahui dari perawat lain bahwa Loreta sudah dijemput oleh seseorang.Setelah sedikit menata kembali perasaannya, Rakael pun berganti pakaian dan meninggalkan panti jompo.Sekarang masih cukup awal. Masih ada waktu sebelum pukul 6 sore. Rakael lalu mengemudikan mobilnya menuju pasar barang antik.Pasar barang antik masih tetap rama

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 99

    "Mirip sekali denganmu ya?" Loreta mengusap foto itu perlahan. Matanya tampak sedikit berkaca-kaca.Rakael mengangguk serius. "Ya, memang mirip. Hanya saja dia jauh lebih tua dariku. Kalau masih muda, mungkin akan terlihat lebih mirip."Loreta mengangguk, lalu menatap foto itu dengan pandangan sedikit kosong."Sebenarnya, aku sudah menebaknya." Di mata Loreta tampak semburat kesedihan. "Pasti dia mengalami sesuatu, makanya nggak bisa pulang."Sebagai seorang ibu, mana mungkin dia tidak memahami anaknya sendiri?Tiga tahun lamanya, tidak ada satu pun telepon. Tidak pernah pulang menjenguk, bahkan pesan pun tidak ada. Bahkan kunjungan menantunya pun semakin jarang.Kalau dipikir-pikir, sudah lebih dari setengah tahun sejak terakhir kali menantunya datang menjenguk. Mungkin menantunya takut dia mengetahui kebenaran, jadi sengaja menyembunyikannya.Namun, hal seperti ini, sampai kapan bisa disembunyikan darinya? Loreta memeluk foto itu. Air mata terus mengalir."Nenek Loreta, jangan nangis

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 98

    Rentetan pertanyaan itu dilemparkan seperti rentetan peluru meriam. Almira benar-benar terlalu terkejut. Wanita ini adalah Hanna!Dia menaruh perasaan pada seorang pria yang baru dikenalnya kemarin? Ini sungguh keterlaluan!Hanna sampai merasa pusing digoyang-goyang oleh Almira. Dia perlahan melepaskan tangan Almira. Rona merah di wajahnya semakin pekat. "Cuma orang yang sangat biasa. Kenalnya ... kenalnya di sebuah situasi tak terduga."Dia berbicara samar-samar, tidak ingin menceritakan kejadian memalukan yang terjadi semalam di jalan barang antik."Biasa?" Almira jelas tidak percaya. Dia mendekat dengan ekspresi licik. "Mana mungkin orang yang bisa bikin wanita cantik sepertimu tertarik itu orang biasa! Jangan-jangan tampangnya super ganteng? Atau super kaya? Atau ... super jago merayu?"Ditanya seperti itu, Hanna jadi tidak tahu harus tertawa atau merasa kesal. Dia melirik Almira dengan sebal, "Ngawur kamu. Aku cuma punya kesan baik ke dia."Meskipun begitu, di dalam hatinya tanpa

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 97

    Di sisi lain, setelah Rakael memasukkan semua berkas ke tas ranselnya, dia memanggul tas itu dan meninggalkan perusahaan.Baru saja duduk di dalam mobil, ponsel Rakael langsung berdering.[ Almira: Malam ini aku janjian makan dengan sahabatku, kamu ikut ya! ]Di belakang pesan itu bahkan ada gambar dengan ekspresi galak, penuh peringatan.Rakael terkekeh-kekeh dan segera membalas.[ Rakael: Acara kencan buta? ][ Almira: Cari mati ya? Ini jamuan jebakan! ][ Rakael: Kirim lokasi dan waktu. ][ Almira: Jam 6 sore, lokasi menyusul! ][ Rakael: Oke. ]Dengan santai, dia melempar ponselnya ke kursi penumpang depan, lalu mengemudi menuju panti jompo.Pada saat yang sama, Almira sedang berbelanja bersama Hanna. Melihat balasan dari Rakael, Almira mencebik. Bocah ini benar-benar ingin kencan buta?"Mira, aku nggak ingin pergi." Hanna mengatupkan bibirnya. Meskipun ini diatur oleh kakeknya, dia tidak menyukai perasaan dipaksa dijodohkan seperti ini.Kalaupun dia benar-benar ingin mencari pasan

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 96

    "Aku ngerti!" jawab Rakael dengan penuh keyakinan.Bahkan tanpa pesan dari Dyah, benda sepenting dan seprivat ini tidak mungkin dia perlihatkan kepada orang lain."Hmm." Dyah mengangguk, lalu perlahan menggosok lehernya.Melihat itu, Rakael menutup map berkas. Saat melihat Dyah mengernyit, dia bertanya, "Lehermu sakit?""Sedikit, mungkin karena akhir-akhir ini terlalu lelah." Dyah tersenyum. Tulang belakangnya memang agak menyempit sehingga bahu dan punggungnya sering terasa nyeri.Kalau minum obat, rasa sakitnya agak mereda. Namun, begitu berhenti minum obat, setiap dua atau tiga hari sekali pasti kambuh. Kadang butuh tiga sampai lima hari untuk benar-benar pulih, paling cepat pun satu atau dua hari ....Untungnya rasa sakit itu masih bisa ditahan dan dia sudah lama terbiasa."Kalau begitu, aku pijatkan sedikit, mau?""Kamu?"Rakael setengah bercanda. "Ya, ini teknik pijat turun-temurun keluargaku!"Dyah berkedip, lalu tertawa kecil. "Kamu ini, jangan-jangan mau ambil keuntungan darik

  • Kutukan Warisan Kultivasi: Godaan Wanita Tak Berujung   Bab 95

    Rakael tiba-tiba terpikir, andai Ranti ada di sini, pasti lebih menyenangkan.Hanya wanita itu yang mampu menanggung energinya saat ini. Sejak menjadi seorang kultivator, Rakael jelas merasakan bahwa energinya terlalu berlimpah."Untuk sementara tahan dulu, nanti malam baru kuajak kamu makan enak." Rakael menyeringai, mengenakan pakaian, lalu keluar dari kamar.Malika sudah bangun pagi-pagi dan menyiapkan sarapan. Setelah makan seadanya, Rakael langsung pergi dengan tergesa-gesa, menuju perusahaannya.Semalam Dyah mengirim pesan kepadanya, memintanya datang ke perusahaan hari ini karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Rakael sendiri baru melihat pesan itu setelah selesai berlatih pagi tadi.Sesampainya di perusahaan, Rakael langsung menuju kantor Dyah."Masuk."Rakael masuk ke ruangan. "Kak Dyah mencariku?""Duduklah." Dyah melihat Rakael, menutup laptop di depannya, lalu berdiri. "Aku dengar dari Jevin, akhir-akhir ini kamu berencana mengembangkan pasar panti jompo Gunung Beria?"

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status