Home / Romansa / LANGIT penuh MELODY / 07. CALON SUAMI

Share

07. CALON SUAMI

Author: Ryanty_tian
last update Last Updated: 2025-11-18 16:05:05

Di sebuah pesta di hotel Sheraton.

Melody selalu datang di acara seperti ini untuk mewakili keluarga Mahaprana, itu karena Ivander dan Nada sedang berada di luar kota dan Brandon sedang malas untuk datang ke pesta-pesta seperti ini.

Terkadang Melody kesal pada sang adik, padahal kelak Brandon akan selalu mendatangi acara seperti ini ketika sudah sah menjadi pewaris bisnis keluarga Mahaprana.

Seperti biasa, Melody selalu tampak sempurna memakai gaun apa pun dan dalam keadaan apa pun. Malam ini Melody tampak cantik dengan balutan dress berwarna silver memanjang. Rambut dengan style tergerai indah bergelombang, dan tentu beberapa aksesoris menghiasi tubuhnya.

Melody selalu menjadi pusat perhatian setiap datang ke pesta, tentu siapa yang tidak kenal dengan putri pengusaha sukses Ivander Mahaprana. Dan Melody sendiri sudah terbiasa untuk datang ke pesta seperti ini, dan meski terasa membosankan untuk sekarang.

Mungkin karena dulu Melody selalu datang bersama Alfred, tapi sekarang wanita itu lebih memilih untuk datang seorang diri. Lagi pula dia tidak akan lama, hanya sekedar menghadiri dan berbincang sebentar lalu pergi begitu saja.

"Selamat malam nona Melody," sapa Edmund menemui Melody yang duduk sendiri menikmati minuman.

"Selamat malam," jawab Melody yang tentu tahu siapa Edmund, lelaki itu tertarik dengannya tapi selalu diacuhkan oleh Melody selama ini.

"Kalau kamu datang seorang diri, seharusnya aku mengajakmu tadi," kata Edmund yang merupakan putra tunggal perusahaan Hamilton.

"Tidak perlu, aku tidak akan lama di sini," jawab Melody yang bersikap formal jika berada di acara seperti ini.

"Apa kamu tidak ingin memikirkan lagi tawaranku untuk menjadi kekasihku?" tanya Edmund.

"Maaf, aku tidak tertarik memiliki hubungan denganmu," jawab Melody bangkit dan meninggalkan Edmund yang sudah ditolak beberapa kali oleh Melody.

Langkah Melody terhenti ketika melihat Alfred dan Nesya berjalan dengan mesra memasuki gedung acara, tentu hal itu membuat Melody cemburu dan marah. Mereka terlihat begitu mesra satu sama lainnya, terlebih pancaran kebahagiaan dari senyuman Alfred.

Seharusnya Melody yang berada di sana bersama Alfred, harusnya dirinya yang bersama lelaki itu dan bukan Nesya.

Melody kembali duduk dan menatap kesal keduanya, dan lagi Nesya mulai menunjukkan wujud aslinya setelah sekian lama memakai topeng palsunya. Tampak Alfred meninggalkan Nesya karena harus berbicara dengan seseorang, niatnya Melody tidak ingin mencari perkara tapi Nesya dengan percaya diri datang menghampirinya.

"Masih belum menyerah juga?" tanya Nesya melipat kedua tangannya di depan, menatap remeh Melody, "apa kurang jelas kebahagiaan yang Alfred rasakan ketika bersamaku? Apa kamu tetap akan egois menghancurkan hubungan kami?" lanjut Nesya semakin memberitahu Melody bagaimana cinta Alfred begitu besar pada Nesya.

"Sepandai-pandainya kamu menyembunyikan bangkai, suatu saat pasti akan tercium juga," sindir Melody tidak takut pada Nesya, "lagi pula jika Alfred tahu, jelas dia akan meninggalkanmu," tawa Melody begitu bahagia.

Nesya mengepalkan kedua tangannya, Melody sudah mulai mengungkit masa lalu. Tapi Nesya harus berani, karena dia memang benar. "Aku yakin kamu nggak akan memberitahu Alfred, karena kamu tahu Alfred nggak akan mempercayai perkataanmu," tegas Nesya menyunggingkan senyum sinisnya.

"Alfred lebih mempercayaiku, dan kamu sendiri udah mendapatkan jawabannya dulu bagaimana Alfred telah mengakui semuanya," kata Nesya yang merasa menang karena dulu pernah menekan Melody.

Melody mencoba mengontrol emosinya saat ini, dia akui kalau dia memang bodoh di masa lalu. Dan ada sedikit rasa takut dalam diri Melody jika mengingat reaksi Alfred dulu, tentu hanya akan membuat harga dirinya semakin di injak-injak tak tersisa.

"Sekali sampah, mau berubah seperti apa pun tetaplah akan kembali ke asalnya. SAMPAH," ucap Melody dengan sarkas dan tajam.

Nesya langsung menampar Melody, tak terima jika dirinya oleh wanita itu. Kesabaran dan juga kesetiaannya selama ini tidak boleh hilang karena tindakan Melody yang begitu nekat, sedangkan Melody hanya tertawa meski pipinya terasa panas akibat tamparan keras dari Nesya.

Melody tentu tidak terima, jangan kira dirinya seperti dulu. Lemah dan bodoh, dan hanya menjadi wanita penakut demi Alfred. Tangan Melody mulai mengepal kuat, menatap Nesya dan siap melayangkan tangannya untuk menampar wanita di depannya.

Tapi tangan Melody tertahan karena Alfred lebih dulu menahannya, lelaki itu terlihat begitu murka apalagi melihat wajah Nesya yang begitu memelas dan ketakutan.

"Melody," hardik Alfred melepas kasar tangan Melody, "sikap kamu semakin keterlaluan," geram Alfred menatap Melody dengan tajam menghunus.

"Nesya yang lebih dulu menamparku, dan aku hanya ingin membalasnya," jawab Melody begitu sedih jika Alfred malah membela Nesya dibandingkan dengan dirinya.

"Nesya nggak mungkin melakukan hal itu, pasti kamu yang memprovokasi dia. Kalau kamu nggak keterlaluan, Nesya nggak mungkin bersikap lebih padamu," ucap Alfred malah menyalahkan Melody.

Nesya menatap Melody dengan puas, seolah membenarkan apa yang dia katakan kalau Alfred tentu akan lebih mempercayai Nesya dibandingkan dengan Melody.

"Jadi, kamu lebih mempercayai Nesya dibandingkan denganku?" tanya Melody menatap Alfred dengan sendu, hatinya tak dapat memungkiri kalau sakit jika tak mendapatkan kepercayaan dari Alfred.

Mereka sejak kecil bersama, saling mengenal. Lalu kenapa Alfred tidak bisa mempercayai dirinya? Melody yang lebih lama mengenal Alfred dibandingkan dengan Nesya, tapi lelaki itu lebih mempercayai sang kekasih.

"Iya, aku lebih mempercayai Nesya," seru Alfred dengan lantang.

Hati Melody kembali diremas kuat, tapi dia tidak boleh menunjukkan kelemahannya saat ini. Tentu hal itu akan membuat Nesya senang bukan main melihatnya terjatuh, dan Melody harus tetap kuat menghadapi ini semua.

Melody begitu terkejut ketika sebuah tangan besar menarik pinggang rampingnya, membuat wanita itu berada dalam dekapan dada bidang seorang lelaki. Melody mendongak dan melihat Langit yang dengan tersenyum dengan indah menatap dirinya, entah Melody ingin marah atau bersyukur karena Langit seolah menyelamatkan dirinya.

"Maaf, bersikaplah baik pada Melody," suara serak Langit begitu tegas, menatap Alfred dan Nesya secara bergantian.

"Jangan ikut campur!" tegas Alfred.

"Tentu saya harus ikut campur," balas Langit tak kalah tegas menatap Alfred yang tampak penasaran dengannya.

"Perkenalkan saya adalah CALON SUAMI Melody," seru Langit begitu tegas, berwibawa dan khas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • LANGIT penuh MELODY   125. DUNIA PENUH CINTA TANPA BATAS (ENDING)

    Dalam perjalanan, air ketuban Melody sudah pecah dan Langit menghubungi dokter Miranda untuk segera memberikan penanganan ketika Melody sampai di rumah sakit.Setelah menjalani pemeriksaan, hari ini juga Melody harus melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan bayi mereka. Langit sudah menghubungi orangtua Melody dan orangtuanya sendiri, tentu Langit sudah sangat cemas karena melihat Melody begitu kesakitan tadi.“Tenanglah, ada aku di sini,” kata Langit mencium tangan Melody cukup lama, dan menemaninya selama proses persalinan.“Aku takut terjadi sesuatu dengan bayi kita,” jawab Melody sedih.“Tidak, mereka dan kamu akan baik-baik saja. Yakinlah, bayi kita pasti kuat,” kata Langit begitu menenangkan.“I love you,” bisik Langit yang terus menguatkan Melody.“love you too,” balas Melody.Selama proses persalinan berlangsung, tiada henti Langit dan Melody berdoa supaya operasinya berjalan dengan lancar tanpa ada halangan suatu apa pun.Tangis bayi pertama terdengar, dan itu memb

  • LANGIT penuh MELODY   124. ISTRI CEMBURU

    Nada mencium pipi Melody dan meninggalkan Langit yang sudah menghampiri istrinya, lelaki itu membawa sebuket bunga mawar.“Untukmu,” kata Langit tersenyum.“Siapa yang memintamu kemari?” tanya Melody menerima bunga tersebut.“Aku sendiri,” jawabnya, “aku saaaaaangat merindukan istriku.”Rayuan Langit mulai keluar, dan sepertinya lelaki itu sudah kembali lagi. Tidak marah dan melarangnya, dan itu sedikit membuat Melody tersenyum.“Maaf,” kata Langit menggenggam tangan Melody, dia tahu kalau terlalu berlebihan dan membuat kesal.“Aku juga minta maaf,” jawab Melody yang tidak memahami jika berada di posisi Langit.Melody memeluk Langit, berbaikan memang membuat bahagia. Dan mereka memutuskan untuk jalan-jalan sebentar.“Aku pengen itu,” tunjuk Melody mainan motor bergambar boneka.“Kamu mau naik?” tanya Langit.“Nggak,” geleng Melody.“Lalu?”“Aku mau kamu yang naikin dan keliling di sekitar sini,” minta Melody menatap Langit.Langit tersenyum. “Kita naik berdua, ya,” bujuk

  • LANGIT penuh MELODY   123. TIDUR DI LUAR

    Melody tentu tidak ingin mengalah dalam hal ini, dia juga ingin bebas melakukan apa pun dan dia juga tahu batasan seperti apa yang harus dia lakukan. Baik Melody dan Langit saling tatap, menunjukkan betapa kerasnya keinginan mereka. Sampai akhirnya Langit memilih untuk mengalah lebih dulu.“Cepat selesaikan dan aku tunggu di sini,” ujar Langit berdiri layaknya satpam penjaga.“Terserah, dan jangan ganggu aku,” balas Melody dengan sengit.Melody kembali melakukan rutinitasnya untuk mencoba resep baru yang dia buat secara dadakan, karena yang dadakan biasanya jauh lebih enak rasanya.Langit tampak mengeraskan wajahnya, tak ada raut wajah keramahan maupun senyuman. Hal itu karena Melody masih sibuk saja sejak tadi, mondar mandir ke sana kemari tanpa lelah.“Satu jam kita pulang,” tegas Langit tak terbantahkan.“Sudah aku bilang jangan menganggukku,” balas Melody kembali kesal.“Aku sudah mengizinkanku, dan saat ini pulanglah. Sudah dua jam kamu tidak duduk dan istirahat, ingatla

  • LANGIT penuh MELODY   122. PERTENGKARAN PERTAMA

    Melody cemberut, dia terlalu bosan karena tidak melakukan apa pun. Ingin ini tidak boleh, ingin itu juga sama. Semuanya tidak boleh. Melody duduk di sofa, melipat kedua tangan di depan dan mengerucutkan bibirnya beberapa senti. Membosankan sekali jika setiap hari harus seperti ini, belum lagi dia tidak boleh menyetir sendiri. “Sayang,” panggil Nada yang mengunjungi Melody. Nada dan Ivander datang, itu karena mereka mendapatkan kabar kalau Melody sudah mengandung. Nada memeluk Melody karena bahagia sebentar lagi dia akan menimang cucu. “Bunda bawain beberapa buah dan makanan kesukaan kamu,” kata Nada menunjuk paperbag besar. “Kamu kenapa cemberut? Tidak dapat jatah semalam?” cetus Ivander asal, dan mendapatkan tatapan tajam dari Melody. “Dasar ayah menyebalkan,” keluh Melody membuang muka, tak ingin menatap Ivander. “Ayah kamu hanya bercanda, makan sini,” bujuk Nada dan menatap Ivander dengan mengerutu pelan, sedangkan sang suami hanya menaikan kedua bahunya. Mel

  • LANGIT penuh MELODY   121. KEJUTAN DI PAGI HARI

    Melody tidak menyangka akan diberikan kepercayaan untuk memiliki bayi, padahal baru sebulanan dia menikah dan sudah positif hamil. Dia sampai menutup mulutnya, tidak percaya dengan hasil yang dia dapatkan. Dua garis merah.Hasil test pack tersebut terlihat jelas, dan ini akan menjadi berita bahagia sekaligus kejutan untuk Langit pagi ini. Melody mengusap air mata, tanda kebahagiaan yang dia rasakan saat ini.Tampak Langit masih terlelap tidur, Melody sengaja tidak membangunkan suaminya karena hari ini libur. Biarlah Langit istirahat setelah pekerjaan padat yang selalu dia kerjakan selama ini.Melody turun lebih dulu, membuatkan sarapan sandwich dan susu hangat. Dia sudah mulai biasa melayani segala kebutuhan Langit, mulai dari berangkat kerja, sarapan dan masih banyak lagi yang ingin Melody berikan pada Langit sebagai wujud rasa cintanya.“Biar aku aja,” kata Melody menyiapkan sendiri.“Baik, Nona,” jawab pelayan bernama Nela.Nela hanya membantu Melody menyiapkan bahan-bahan

  • LANGIT penuh MELODY   120. DURIAN

    Selama perjalanan, Melody menggenggam tangan Langit supaya lelaki itu lebih tenang lagi. Tadi Awan memberitahu kalau Darel mengalami kecelakaan dan dilarikan ke Rumah sakit, dan belum diketahui kondisi selanjutnya bagaimana. Langit sendiri tak tenang, cemas dan tentu tak ingin terlambat datang. Dia tidak ingin seperti wanita yang baru saja dia temui, dia tidak ingin menyesal.“Kita berdoa supaya Papa baik-baik saja,” ujar Melody memeluk Langit untuk membuat lelaki itu sedikit tenang.“Aku hanya takut,” bisik Langit.“Yakinlah kalau Papa nggak apa-apa,” kata Melody juga khawatir pada Langit.Begitu sampai, Langit dan Melody langsung menuju rumah sakit di mana Darel dirawat. Terlihat Galaxy berada di depan ruangan dan sedang berbicara dengan seseorang lewat ponsel, dan Langit buru-buru menghampirinya.“Papa di mana?” tanya Langit.“Dia ada di ...,”Langit langsung masuk ketika Galaxy menunjukkan kamarnya, tidak peduli perkataan lelaki itu yang belum selesai. Diikuti Galaxy dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status