Share

Bab 5. Bodyguard

Jam makan siang hampir saja selesai, kantin yang seharusnya ramai dengan para pegawai nampak sepi dengan beberapa pegawai yang masih tersisa.

Terlihat Agam, duduk tenang menikmati suap demi suap nasi beserta lauk yang telah di pesannya.

Duduk berhadapan dengan Inez yang terlihat lahap menghabiskan cepat nasi dan lauk yang ada di piring mengacuhkannya.

"Sudah berapa hari kamu nggak makan?" sindir Agam, setelah menelan makanan yang ada di mulutnya, menegakkan kepala Inez menatapnya.

"Empat hari," jawab Inez Asal, kembali memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.

Tak ada gengsi, tak ada rasa jaim meskipun makan bersama dengan laki-laki tampan yang baru di kenalnya, jauh berbeda dengan kebanyakan gadis lain di luar sana.

Yang akan makan dengan perlahan, sesuap demi sesuap, hanya untuk menjaga Imagenya sebagai seorang perempuan yang anggun dan cantik.

Hingga rela berbohong dengan kalimat kenyang, tak menghabiskan sisa nasi yang ada di piring demi untuk menjaga penampilan di depan laki-laki tampan yang baru di kenalnya.

"Miskin sekali kamu ya..., sampai empat hari nggak bisa makan," ejek Agam, segera menenggak jus jeruknya, mengalihkan kembali pandangan Inez menatapnya.

"Semiskin-miskinnya aku, aku masih bisa traktir kamu!" jawab Inez mencebikkan bibir Agam, kembali menikmati makanan tak menatapnya.

"Ngomong-ngomong masalah tadi, aku minta maaf, aku benar-benar nggak sengaja," lanjut Inez.

"Hemm,"

"Aku sudah selesai," ucap Inez, meletakkan sendok di piringnya, sebelum menenggak air meneral yang ada di dekatnya.

Seraya beradu pandang dengan Agam yang terdiam menatapnya.

"Kenapa?" tanya Inez.

"Rakus!" jawab Agam, mengangkat sudut bibirnya ke atas membuang pandangannya.

Memancing kembali rasa kesal di diri Inez, dengan deretan gigi putihnya yang saling mengerat, segera mengambil sendok yang ada di atas piringnya, sebelum...

"Apa kamu gila?" sentak Agam, karena kelakuan Inez yang tiba-tiba, ikut menyendok makanan yang ada di piringnya.

Beradu pandang dengan tatapan sinis Inez, seolah mengejek kemarahannya, dengan mulut  yang terus saja mengunyah makanan menatapnya.

"Astaga... perempuan macam apa ini yang kamu jadikan teman Ndien...," gumam Agam, meletakkan sendok yang di pakainya dengan kasar, segera menenggak habis sisa jus jeruknya, berusaha menetralkan tekanan darahnya yang terus meninggi.

Sebelum bangun dari duduknya, mengancingkan kembali jas kerjanya yang terbuka, tak membuang lirikannya dari Inez.

"Dia yang makan lambat aku yang di bilang rakus!" gumam Inez, berbarengan dengan langkah Agam yang pergi meninggalkannya, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya yang bergetar di atas meja.

"Halo Kak," jawab Inez, setelah menggeser layar ponselnya menerima panggilan dari kakaknya.

Abian Atmaja, Kakak laki-laki yang selalu menemaninya sebagai teman, kakak laki-laki yang menyayangi dan melindunginya, kiblat penampilannya karena rasa kagum dan sayangnya kepada Abian.

"Dimana kamu?" tanya Abian, dengan suara beratnya menunggu jawaban dari adik perempuannya.

"Lagi di perusahaan property Kak, untuk penelitian skripsi," jawab Inez

"Sudah selesai belum?" tanya Abian.

"Belum sih, ini baru selesai makan siang, kenapa?"

"Di cari sama Andre kamu," jawab Abian.

"Biarin lah Kak.., dari tadi dia telepon tapi nggak aku angkat."

"Jangan gitu, kamu harus ingat statusmu!" ucap Abian, masih dengan suara beratnya mengingatkan adiknya.

Mencebikkan bibir Inez, segera meraup wajah cantiknya pelan dengan pandangannya lurus ke depan.

"Status apa Kak? aku nggak menginginkan status itu!" jawab Inez.

"Kenapa nggak kamu aja sih? kenapa juga harus aku? kuliah aja belum tuntas!" sewot Inez menciptakan kekehan kecil di bibir kakaknya.

"Om Bram nggak punya anak perempuan Nez! masak iya aku yang di jodohkan sama si Andre? cucok dong kakakmu ini?" goda Abian, menciptakan tawa kecil di bibir Inez.

"Sudah lah Kak, biarin aja! lagian aku juga nggak suka sama si Andre! aku tutup dulu ya? aku mau lanjutin penelitiannku!" ucap Inez, segera memutus panggilan teleponnya tak menunggu jawaban dari kakaknya.

Segera berdiri dari duduknya, mengayunkan langkahnya cepat, setengah berlari menuju ruangan Agam, hendak melanjutkan penelitiannya kepada file-file perusahaan Agam.

****

"Bisa nggak kalau masuk itu ketuk pintu dulu?" protes Agam, sudah duduk di kursi kebesarannya, bersitatap dengan Inez yang terdiam, berdiri tegak di depan pintu ruangan yang baru di buka beradu pandang.

Tak membuat Inez bersuara, hanya menghela nafasnya panjang, kembali keluar dari ruangan, untuk mengetuk pintu ruangan setelah menutupnya kembali.

"Jangan menghela nafas seperti itu!" protes Agam, karena helaan nafas Inez yang mengingatkannya kepada Cintia.

Menghentikan langkah Inez, masih memegang gagang pintu di tangannya,  menolehkan kepalanya spontan, untuk melihat Agam yang terlihat sibuk dengan berkas tak menatapnya.

"Ya Tuhan... bolehkan aku menendang laki-laki ini??!" gumam Inez, dengan perasaan geramnya, mengeratkan genggaman tangannya di gagang pintu.

Mengalihkan pandangan Agam yang mendengar kalimatnya menatapnya, sebelum...

BRAKKKKKK

Inez pun menutup pintu, dengan kasar dan sekali banting, mengejutkan Agam, hingga membuatnya terpejam, sebelum membuka matanya kembali, berbarengan dengan tangan kanannya yang mengepal menahan rasa geram di hatinya.

"Astaga...," gumamnya kesal, melonggarkan dasi yang dipakainya karena rasa frustasinya kepada Inez.

Sebelum terdiam, menatap tajam pintu ruangannya yang terketuk pelan, tak ingin bersuara, meskipun hanya untuk mengucap kata masuk.

Segera membuang pandangannya ke bawah, ingin melanjutkan pekerjaannya dengan beberapa berkas yang harus disiapkannya sendiri tanpa bantuan Sekretarisnya Fahmi.

"Ya Tuhan... aku cekik ya lama-lama gadis ini!" ucap Agam, dengan deru nafasnya yang memburu, mengalihkan kembali pandangannya ke arah pintu ruangannya yang diketuk secara brutal.

"Masuk!!!" teriak Agam Akhirnya.

Mencoba mengontrol emosinya yang membara, beradu pandang dengan Inez yang tersenyum tak berdosa, setelah membuka pintu ruangan menatapnya.

"Permisi... saya izin masuk ya...," ucap Inez, hendak mengayunkan langkahnya masuk ke dalam ruangan, sebelum terdiam karena kalimat Agam.

"Mau kemana kamu?" tanya Agam, mengalihkan pandangan Inez menatapnya.

"Duduk, nglanjutin penelitian," jawab Inez, menunjuk sofa dengan beberapa outner di atasnya.

"Pulang saja!" ucap Agam, mengerutkan kening Inez, dengan sorot mata bingung menatapnya.

"Kenapa? aku belum selesai,"

"Aku ada meeting di luar,"  jawab Agam, merubah kerutan di wajah Inez menjadi senyum yang sempurna, dengan wajah yang semringah mengayunkan langkahnya cepat mendekati Agam.

"Ngapain kamu?" protes Agam, masih duduk di tempatnya beradu pandang.

"Aku ikut ya?"

"Nggak!" tolak Agam cepat, mengalihkan kembali pandangannya ke arah berkas.

"Izinin aku ikut ya? demi skripsiku...," pinta Inez, mengalihkan kembali pandangan Agam menatapnya.

"Bukan urusanku! sudah cukup ya bantuanku sama kamu!" jawab Agam, mengedikkan dagunya ke arah outner yang ada di atas sofanya.

"Aku nggak ingin stroke hanya karena terus bersama kamu!" sewot Agam, menciptakan kekehan kecil di bibir ranum Inez menatapnya.

"Aku akan bersikap baik!" bujuk Inez, mengangkat jari telunjuk dan tengahnya di depan Agam, ingin membujuk laki-laki yang ada di depannya demi untuk skripsi yang harus di buatnya.

"Pak Fahmi lagi izin kan? Aku bisa jadi Sekretaris sementara kamu, aku akan membantu kamu mencatat semua hasil meeting dengan sangat cepat dan akurat! bantu aku sekali ini saja, aku ingin mengikuti meeting kamu untuk menyempurnakan  penelitianku," tambah Inez, mencoba membujuk Agam yang acuh, membuang pandangan ke arah berkas tak lagi menatapnya.

"Aku nggak perlu catatanmu! otakku sudah terlalu cerdas untuk mengingat semua hasil meetingnya," jawab Agam, tak mengalihkan pandangannya, hanya fokus dengan berkas yang harus di siapkannya, untuk di masukkannya kedalam tas kerjanya.

"Aku bisa bantu kamu membawa tas kerja kamu..., aku bisa jadi bodyguard kamu! atau supir kamu!" lanjut Inez tak mau menyerah, sebelum beradu pandang dengan Agam yang sudah menyelesaikan persiapan berkas menatapnya.

"Please...," mohon Inez, beradu pandang dengan Agam yang terdiam menatapnya.

"Apa ke ahlianmu? tanya Agam, menciptakan senyum semringah di bibir Inez.

"Taekwondo, sabuk hitam, aku bisa menjaga keselamatan hidupmu..." jawab Inez, dengan binar di matanya penuh harap.

Tak membuat Agam bersuara, hanya terdiam, untuk beradu pandang dengan binar mata Inez yang lagi-lagi mengingatkannya kepada Cintia.

"Gimana?" tanya Inez, menyadarkan lamunan Agam, segera membuang pandangannya ke sembarang arah.

Berdehem sejenak, segera berdiri dari dari duduknya, sambil mengancingkan jas kerjanya menatap Inez.

"Bawa tasnya," ucap Agam, mengedikkan dagunya ke arah tas kerjanya yang ada di atas meja, beradu pandang dengan Inez yang semringah menatapnya.

"Yes..!" seru Inez, segera mengayunkan langkahnya, hendak mengambil tas kerja Agam, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Agam yang melangkahkan kaki meninggalkannya.

"Tunggu!" ucap Inez, menghentikan langkah Agam.

"Apa lagi?" sewot Agam, membalikkan badannya malas, sebelum mengerutkan keningnya, karena langkah cepat Inez yang mendekatinya.

"Ngapain kamu?"

"Dasi kamu berantakan," jawab Inez sudah berdiri di depan Agam beradu pandang.

"Biar aku bantu, anggap saja sebagai tugas pertamaku sebagai Sekretaris sementara kamu, oh bukan bodyguard kamu!" lanjut Inez terkekeh, merapikan dasi Agam.

Semakin membuat Agam terdiam, tak mampu menggerakkan tangannya untuk menepis tangan Inez, hanya menatap lekat, dengan lidahnya yang terasa kelu, tak mampu memprotes tindakan Inez.

"Okkee... sudah rapi sekarang," ucap Inez, mengulaskan kembali senyum di bibirnya, sebelum mengalihkan pandangannya, menatap Agam yang terdiam memandangnya.

"Sudah!" Inez mengulangi, menyentakkan hati Agam yang tersadar, segera membuang pandangannya ke sembarang arah.

"Ayo," ucap Agam, segera mengayunkan langkahnya keluar dari ruangan.

Meninggalkan Inez yang tergesa, melangkahkan kakinya cepat untuk menyambar tas kerja Agam di atas meja, sebelum ikut mengayunkan langkahnya cepat menyusul Agam.

Sementara itu di dalam ruangan yang cukup besar, di perusahaan Atmaja Group, Abian Atmaja 31 tahun, sedang duduk di kursi kebesarannya.

Menjabat sebagai wakil direktur di perusahaan Papanya, Abian tampak sibuk dengan layar laptopnya yang menyala, di temani dengan beberapa berkas yang terbuka di atas mejanya.

"Masuk," ucapnya, tak mengalihkan pandangannya ke arah pintu ruangannya yang diketuk.

"Sibuk ya Kak?" tanya Andre, mengayunkan langkahnya masuk ke dalam ruangan mendekati Abian.

Menegakkan kepala Abian, sebelum beradu pandang dengan calon adik iparnya, Aditya Andre, 28 tahun.

Calon suami Inez, hasil dari perjodohan bisnis papanya, yang tak pernah di setujui adik perempuannya.

"Lumayan, ayo duduk," jawab Abian, yang di sambut dengan anggukan pelan kepala Andre, segera duduk di kursi kosong di seberangnya.

"Darimana?" tanya Abian.

"Dari kantor, gimana Inez? "

"Inez? dia lagi penelitian untuk skripsinya," jawab Abian.

Menciptakan helaan nafas kasar di bibir Andre, sebelum mengusap dahinya yang nggak gatal, membuang pandangannya.

"Mikirin apa?" tanya Abian, mengalihkan pandangan Andre menatapnya.

"Mikirin hubunganku sama Inez," jawab Andre.

"Aku hanya bingung sama sikap Inez Kak, sudah hampir dua tahun dia mengetahui perjodohan ini bukan? setelah sekian banyak usahaku untuk menunjukkan perasaanku kepadanya, kenapa susah sekali untuk Inez bisa menerima dan menyukaiku ya Kak?"

"Kamu putus asa? ingin mundur?" ucap Abian yang di jawab dengan gelengan pelan kepala Andre.

Bersambung.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status