MasukThe rules of the fallen are simple . Ten days. Ten days, you live without sin and you will be accepted back into heaven. It's just ten days, it shouldn't be that hard. Until the rules became applicable to fragile, innocent Azaliah who after an ambush, was thrown out of heaven by mistake and began her transition into a human. With her newly found emotions all over the place, the human family she lived with, a low ranked angel who swore to protect her, a mark on her shoulder that is a beacon for the darkness that ruled the earth and her romantic feelings for the mysterious demon who helped her stay alive in exchange for his freedom, ten days suddenly felt like ten years. And with that came an epic battle for her soul as two ancient spirits came after her when the celestial world finds out that she is the weapon that can kill man and spirit's greatest enemy, Lucifer.
Lihat lebih banyak“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”
Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya. Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain? “Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.” Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung. “Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!” Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana. “Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.” Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih. Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu. “Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?” Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!” Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.” Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.” Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek. Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya. Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka. Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami. Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya. “Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.” Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka. Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini. Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal. Djiwa menghembuskan napas pelan. “Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa. Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan. “Ya Tuhan!” Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur. Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya. Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan. Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna. Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan. Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan. Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar. “Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh. Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya. “Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin. Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami. Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan. “Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.” Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan. Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya. Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak. Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni. Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda. Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit. Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu. “Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa. Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun. Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.” “Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas. “Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan. Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi. Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar. Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar. Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar. Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah. Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya. Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya. Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya. Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar. BRAK! Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk. “Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!” “Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya. “Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.” Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga? “Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.” Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus. “Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”Ezra was beyond intrigued. When Abaddon opened his mouth to give him a report, he had not expected what he heard.The angel that had attacked his servant had a bodyguard and they were staying with a poor human family. Ezra could never grasp what the angels did on earth, none of the demons could but this one was the trickiest of them all. He was sure of one thing however, that the female angel was important and now he wanted to meet her himself.Abaddon had been cured by his master and he was now touching his hornless head with a frown on his face but that was all he did. He couldn’t open his mouth to complain, Ezra would turn him into a crisp if he dared. He was lucky to be alive.“This human family”. His master started. “How many are they?”“I only saw one human, a woman. But she looked old enough to have children”.Ezra nodded his head. For him to check things out himself, he needed an excuse. The last thing he w
Aleph immediately used his hands to shield Azaliah and Hagne while he glared hard at Abaddon. He was terrified, this was the first time he was fighting a demon alone, and a high ranked demon for that matter. But he was Azaliah’s protector and his duty was to keep her safe even if he died. He didn’t want to die.Abaddon cocked his head to the side in a teasing manner. He had scanned the angel who had taken a defensive stance against him and he fought the urge to laugh. He expected the fight to be extremely tough but just like the female angel, her guardian was as weak as a leaf.“I’m waiting for you to strike the first blow”. He said tauntingly. Aleph’s frown deepened, the demon was toying with him.Abaddon wanted to know the strength of his powers before he did anything. If there was one thing he learned from his master Ezra, it was that power should not be wasted on the weak.Aleph still didn’t move. Partially be
The same scenario that happened in the morning was taking place again. Hagne and her children were staring wide eyed at the green eyed man that was currently in their home and he stared at them with the same expression. Azaliah however was amused by their constant surprise even if she knew it was expected.“How…how many of you are planning to come here?” Hagne finally asked, her eyes shifted from Azaliah to Aleph.Both angels looked at each other and shrugged simultaenously.“Just us…we hope”.“You hope?” Hagne asked with wide eyes. Azaliah walked up to her and placed a hand on her shoulder, she gasped at the contact.“There’s nothing for you to worry about, you’re safe”. She looked at the three children beside her. “All of you”.“Actually…They are not”. Aleph butted in. “And neither are you”.Azaliah turned slowly to h
“I’m going to kill her! But I need to find her first”. Abaddon crawled on the rough stairs with a loud groan. His body was injured and one part of his horn was missing, he looked more horrible than he already was.“I am going to kill her!”. He repeated, as if that would alleviate his suffering. Abaddon knew his suffering had just begun and it probably won’t end anytime soon. He knew he was extremely stupid crawling back here like he had not failed an important mission, he had a lot of guts. A lot of guts to die.“I’m…going to kill her…” He said again, his voice extremely low this time. He had arrived at his own judgement place and he probably would not be scared.A black, high throne was at the centre of the huge pillar that his master once stood on, with demons surrounding it. The more he came closer, the more they snarled like they could read he was now a failure. The throne, luckily for
The cheers of the crowd ushered the angels into the tournament. They had five tasks to complete and none of the angels knew what the tasks will be as they changed every year thanks to Lucifer. The first task was to forge a weapon from blue flames, the weapons had to be good and sharp. It would ha
Lucifer's legs landed softly at the front door of the mansion his loyal servant walked into, his wings flapping for a few seconds before retracting into his back. From the entrance, he spotted four angels apart from the female angel. A smile stretched out on his lips.The angels in the roo
"Swing with precision". A calm voice rang in the ears of Michael. He mirrored the command he received from his instructor, clanging his sword against his opponent's meticulously. His instructor's lip was graced with a small smile and he gave a nod, a form of approval.Michael's heart
PLEASE DO NOT SKIP Hi. Welcome. I hope I can give you the best book experience and I hope you guys will love the characters and the story just like I loved writing about it. I will write down below the ranks of angels that will be mentioned in this book and it is important to know them be
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasanLebih banyak