LOGINSementara itu WR Company, di sebuah ruang meeting seorang wanita mengamati satu persatu staf yang sudah duduk di kursi masing-masing. Pandanganya terhenti pada sosok wanita yang tampak asing.
“Kamu staf baru?” tanya Ina—direktur utama perusahaan.
“Iya, Bu, saya baru bergabung dua minggu ini,” jawab Agnes dengan rasa percaya diri. “Nama saya Agnes.”
“Oke, Agnes. Semoga kamu bisa bekerja dengan baik dengan tim operasional,” sahut Ina, lalu tatapannya mengedar seakan mencari seseorang.
“Di mana Luna? Kenapa dia belum hadir?” tanya wanita itu lagi.
“Bu Luna sudah resign, Bu. Agnes yang menggantikan,” jawab salah satu staf.
Seketika Ina terkejut. “Luna resign? Kenapa HRD tidak memberitahuku?”
Semua tertunduk, tidak berani membalas tatapan Ina yang kini terlihat kecewa. Ada kilatan amarah di wajahnya yang tidak lagi muda.
Mereka semua tahu bahwa Luna adalah staf terbaik yang sangat dibanggakan oleh sang direktur utama. Wajar saja wanita itu terkejut dengan berita pengunduran diri Luna.
Agnes hanya diam mengamati ketegangan yang melingkupi mereka. Benaknya sibuk berpikir. Sebegitu pentingnya kah posisi Luna di kantor ini?
Agnes mengepalkan tangannya dengan erat. Tidak, ia tidak akan kalah. Bagaimana pun, Luna sudah berhasil disingkirkan.
“Ya sudah, kita lanjutkan meeting ini.”
Sekitar dua jam kemudian, meeting akhirnya selesai.
Agnes diam-diam mendatangi ruangan manajer keuangan saat semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
“Agnes?” Imran tampak terkejut melihat wanita itu. “Ada apa?”
Wajah Agnes tampak murung, bibirnya cemberut. Ia berjalan menghampiri Imran yang duduk di meja kerjanya, lalu duduk di pangkuan pria itu.
“Aku kesal, Mas,” katanya manja.
Imran langsung mendekapnya mesra. “Kenapa, hm?”
“Aku tidak suka Bu Direktur tampaknya sangat mengandalkan istrimu,” adunya.
Imran terkekeh. “Kamu cemburu?”
Agnes mencebik kesal. “Enak saja!” serunya tidak terima. “Dia tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku.”
Imran mencium bibir Agnes. “Memang benar,” katanya. “Buktinya dia sudah tidak bekerja di sini ‘kan?”
Agnes mengangguk. Ia menggerakkan tubuhnya hingga semakin merapat dengan tubuh Imran yang berada di bawahnya.
Tangan Imran tidak tinggal diam. Ia menjelajahi tubuh sintal wanita itu dengan sentuhan-sentuhan sensual yang membuat Agnes menggeliat di atasnya, tampak menikmati keintiman itu.
Ceklek!
Tiba-tiba, pintu terbuka dari luar, mengejutkan Agnes dan Imran yang sedang dilanda gairah.
“Astaga! Apa yang kalian lakukan?!”
Agnes buru-buru bangkit dari pengakuan Imran dan merapikan pakaiannya yang berantakan.
“Pak Iwan, ketuklah pintu sebelum masuk,” ujar Imran kesal. Ia berdiri dan ikut merapikan penampilannya, lalu menatap Agnes. “Nes, kamu keluar dulu,” pintanya.
Agnes mengangguk, lalu keluar sambil merapikan blousenya.
Pria berkepala plontos itu tampak tidak habis pikir. “Jadi ini alasan kamu menyuruhku untuk menekan Luna keluar dari kantor dan merekomendasikan Agnes?”
Imran menghela napas, tampak enggan mengakui. Tapi tak ada gunanya mengelak. “Iya, aku harap Pak Iwan menjaga rahasia ini,” pintanya.
Pria paruh baya itu menggelengkan kepala. “Ahh... punya istri secerdas Luna ternyata belum membuatmu puas. Kamu benar-benar keterlaluan kamu,” katanya.
“Ada apa Pak Iwan menemuiku?” tanya Imran mengalihkan pembicaraan.
“Bu Ina kecewa atas pengunduran diri istrimu. Beliau meragukan kemampuan Agnes. Aku khawatir jika Agnes tak dapat melakukan pekerjaanya, Bu Ina akan merekrut kembali Luna,” jelas kepala HRD itu.
“Jangan khawatir, Luna memiliki harga diri yang tinggi. Ia tidak akan kembali pada perusahaan yang telah membuangnya. Aku tahu karakter Luna,” sahut Imran santai.
“Jika kamu sudah tahu karakter istrimu, kenapa kamu bermain api? Bagaimana jika Luna tahu perselingkuhanmu dengan Agnes dan meminta cerai?”
Imran tertawa pelan. “Aku sudah siap menceraikan Luna, tapi tidak untuk saat ini, jadi aku harap Pak Iwan tutup mulut.”
“Apa yang kamu rencanakan Imran?” tanya Iwan penasaran sekaligus terheran-heran.
“Saat perceraian nanti, aku ingin Mora bersamaku dan rumah yang kami tinggali itu menjadi milikku juga,” jawab Imran.
Iwan lagi-lagi menggelengkan kepala. “Wah… kamu akan membuat Luna menangis darah, Imran.”
Imran hanya tersenyum sinis, lalu kembali menatap laptop. “Kalau Pak Iwan sudah selesai, aku ingin kembali bekerja.”
Pria paruh baya itu menatap pria rupawan di hadapannya, tampak takjub sekaligus ngeri.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Iwan pergi meninggalkan ruangan Imran.
**
Malam itu hujan turun, hawa dingin seakan sampai menembus tulang.
Imran turun dari mobilnya ketika roda empat itu sudah berhenti di base apartemen. Langkah kakinya menuju lift yang membawanya ke lantai 10. Ia berhenti di depan sebuah unit. Ia menekan sandi dan masuk ke dalam begitu pintu terbuka.
Di balik dinding yang tak jauh dari unit itu, sepasang mata memperhatikan.
‘Nomor 101… siapa yang Mas Imran temui di apartemen ini?’
Tatapannya lantas mengarah pada dua minuman dan dua porsi steak dan juga camilan di tangannya.
Pemuda yang mengenakan seragam resto dan masker yang menutupi sebagian wajahnya itu kembali menatap layar ponsel, memastikan jika pemesan sudah sesuai.
Ia menekan bel dengan ragu. Tak lama, pintu terbuka dan terlihat seorang wanita dengan mengenakan pakaian minim bahan tersenyum.
“Ini pesanan anda,” ucap kurir resto.
“Terima kasih,” Agnes meraih paper bag lalu menatap kertas tagihan dan ia mengambil dompetnya, mengambil dua lembar uang merah.
“Kembaliannya untukmu,” ucap Agnes menyerahkan dua lembar uang pada sang kurir. Setelah itu menutup pintu kembali.
Kurir muda itu tersenyum getir, lalu terdengar ponselnya berdering.
Ia menatap layar. Rahangnya mengeras saat melihat nama yang terpampang di sana.
“Halo, Mbak Luna, ada apa?”
“Alif, aku diberi tahu ibu kalau kamu sekarang bekerja di resto sebagai kurir. Apa benar?”
“Itu ‘kan yang mbak Luna harapkan?” sahut Alif dengan nada ketus, meski ia tidak ingin bersikap seperti itu. Namun, apa yang dilihatnya barusan benar-benar membuat darahnya mendidih.
“Maafkan Mbakmu ya, Lif. Besok datanglah ke rumah, aku ingin menjual perhiasan untuk membayar kuliahmu,” suara Luna terdengar di seberang ponsel.
“Apa Mas Imran tidak bersedia membiayai kuliahku, Mbak?” tanya Alif dengan suara dingin.
“Itu memang bukan tanggung jawab Mas Imran ‘kan? Jadi jangan libatkan Mas Imran, aku akan berusaha membantumu,” jawab Luna.
Ekspresi Alif semakin keruh mendengarnya. “Besok aku akan ke rumah Mbak. Ada hal yang penting yang mau aku bicarakan.”
Dargo dan Omar menghabiskan waktu bersama seakan meluapkan rindu yang tak pernah terucap.“Aku sudah tua Omar, bahkan dokter menvonis usiaku tak lama lagi, aku menyesali perbuatanku pada ibumu, Aku hanya ingin berpesan padamu, perlakukan dengan baik wanita yang telah mau menerima kekuranganmu, apalagi jika dia melahirkan anakmu,” ucap Dargo dengan sangat bijaksana.Omar tersenyum hangat menatap sang ayah, ia berjanji dalam hatinya tidak akan menyia-nyiakan waktu dalam hidupnya, kini ia memilkii keluarga yang sempurna bersama Luna, di tambah kehadiran sang putri.Sementara itu Luna sedang berbincang dengan Rina, gadis itu tampak lega dan bahagia, karena usahanya menyelamatkan Dargo berhasil.“Rin, kamu harus melanjutan sekolahmu, kami akan membiayai semua pendidikanmu, sampai universitas,” ucap Luna.“Apa tidak berlebihan, Anda membiarkan Aku bekerja di perkebunan ini saya sudah sangat berterima kasih,” jawab Rina.“Tidak Rina, kamu gadis yang cerdas, sayang jika tidak diimbangi deng
Rina mengirim pesan pada Omar melalu sebuah chat menceritakan rencana Agnes dan Iwan malam ini.Omar yang saat itu membaca chat dari Rina, menunjukkan wajah serius dan tampak berpikir keras.“Apa apa Mas?” tanya Luna sembari duduk di sebelah Omar.“Rina mengirim pesan jika Agnes dan Iwan serta Tuan Dargo, akan mengadakan pertemuan mereka juga akan pesta miras juga, dan Agnes akan melaksanakan rencana busuknya malam ini,” jelas Omar.“Kita harus bergerak cepat , jangan sampai terjadi sesuatu dengan Rina dan Tuan Dargo, kejahatan Agnes harus di gagalkan malam ini,” jawab Luna.Omar dan Luna terdiam sesaat mereka sedang memikirkan suatu rencana.“Luna, apa kamu membawa obat tidurku?” tanya Omar.“Iya Mas..Aku membawanya, karena kamu sering mengeluh tak bisa tidur dan gelisah, jadi aku membawa obat itu,” jawab Luna.“Kita akan pakai obat itu malam ini, Aku akan mengirim pesan pada Rina,” jawab Omar.Jari-jemari Omar dengan cepat menyentuh layar ponsel dan menulis pesan untuk Rina.{Rin
Agnes menatap Rina, lalu tersenyum hangat. “Kamu harus setuju dengan kesepakatan ini. Jika tidak, lebih baik kamu keluar dari rumah Tuan Dargo,“ ancam Agnes masih menatap lekat gadis di depannya.“Katakan Andini, Aku harus apa biar Aku bisa kaya, Aku janji akan menuruti semua perkataanmu,” sahut Rina.“Aku akan membuat skenario jika Tuan Dargo melecehkanmu, lalu kamu tuntut dia. Selama proses persidangan, Aku akan berusaha mendapatkan surat kuasa, dari Tuan Dargo, dengan begitu, semua usaha dan keuangannya akan di bawah kendaliku,” jelas Agnes pelan.Rina tampak berpikir lalu kembali menatap Agnes. “Apa Aku harus benar-benar tidur dengan Tuan Dargo, Aku tidak mau,” jawab Rina.“Tidak Rin, kita hanya membuat seakan-akan Tuan Dargo melecehkanmu nanti Aku akan atur semuanya, kamu tinggal melakukan instruksiku!” perintah Agnes.“Apakah ini benar-benar aman?”“Tentu saja, saat kasusnya mencuat, Tuan Dargo tak punya pilihan lain kecuali menyerahkan semuanya padaku dan memberikan Aku surat k
Luna menatap lekat gadis muda dihadapannya, tampak sekali jika gadis itu sedikit cemas.“Jika begitu, Aku akan menghubungi Mas Omar, tampaknya masalah penting,” jawab Luna, lalu meraih ponsel dan tampak berbicara.Setelah pembicaraannya di ponsel selesai, Luna kembali duduk di sofa, ia memberikan minuman pada Rina.“Tunggulah sekitar tiga puluh menit, suamiku akan datang,” ujar Luna.“Baik Bu..”Luna dan Rina berbincang, mengenai tempat tinggal Rina sembari menunggu Omar. Sekitar tiga puluh menit Omar pun datang, pria itu langsung menatap Rina penuh penasaran.“Duduklah Mas..ini Rina, ia akan menyampaikan informasi, mengenai orang di duga ayah kandungmu,” ujar Luna.Omar duduk, lalu Rina dan Omar saling berjabat tangan .“Beberapa minggu yang lalu Aku mendapatkan surel dari seseorang yang mengaku jika orang tuaku mencariku, tapi setelah Aku menghubungi ponselnya tidak
Iwan dan Agnes meninggalkan ruang kerja Dargo, setelah keluar dari ruangan mereka saling tatap dan tersenyum sinis.“Kita hampir berhasil, Agnes,” bisik Iwan.“Kita harus bergerak cepat,” sahut Agnes.Agnes dan Iwan berjalan menuju halamaan, waktu tiba di pintu depan mereka terkejut, karena Rina sudah ada di depan pintu utama, baru saja mau membunyikan bel.“Rina…ada perlu apa kamu kesini?” tanya Agnes.“Andini…bisakah kita bicara sebentar,” balas Rina.“Bisa..kita ke halaman samping saja,” ajak Agnes.Rina mengangguk dan melangkah mengikuti Agnes, sementara Iwan hanya tersenyum pada Rina lalu berlalu keluar rumah Dargo.Rina masih mengikuti langkah Agnes, mereka menuju ke halaman samping dan duduk di gazebo.“Ada perlu apa, waktu terakhir kita ketemu, kamu tidak mau Aku traktir dan terkesan menjauh dariku,” Agnes menatap dalam ke arah Rina.Rina menerbitkan senyum hangat. ”Maaf..Aku hanya minder saja, kamu sekarang sudah menjadi atasanku, tapi setelah Aku pikir, ada baiknya ‘kan be
Agnes terlihat mengamati perkebunan dan membayangkan bisa menguasai perkebunan yang lumayan luas itu.“Jangan sampai Omar tahu jika ia memiliki orang tua setajir ini, hidup Luna akan semakin bahagia, jika suaminya mewarisi perkebunan ini,” gumam Agnes pelan.Wanita yang sudah berpikiran licik itu memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan surat kuasa dari Dargo.Agnes berjalan layaknya pemilik perkebunan, banyak yang menatapnya dengan tatapan kagum, belum ada satu tahun menjadi pekerja perkebunan ia sudah di percaya Tuan Dargo.“Andini,“ sapa mondor perkebunan.“Pak mandor, ada apa?”“Selamat ya Aku dengar sekarang kamu mengelola keuangan perkebunan,” jawab mandor sambil nyengir.“Benar, Tuan Dargo memberi jabatan itu.”“Bisalah kamu mengusulkan kenaikan untuk gajiku?”“Heummm…Bisa tapi Pak Mandor harus giat bekerja,” balas Agnes sambil tertawa kecil.“Aku sudah giat bekerja, Andini,” sahut Mandor.“Lebih giat lagi,” Andini tersenyum, sambil berjalan meninggalkan mandor.Mandor per







