Share

Chapter 2

Author: Rara Radika
last update publish date: 2026-05-30 02:49:35

Ximena Valerie Yoxavos. Siapa yang tidak mengenal wanita cantik satu ini. Wanita cantik berdarah asli Eropa. Tinggal dan dibesarkan di ibukota Italia, Roma. Putri satu-satunya dari pasangan Alba dan Latina dari keluarga Yoxavos, keluarga terpandang pun terkaya di Italia.

Semua orang mengenalnya, mengagumi, dan memuja. Wanita cantik yang sudah terjun di dunia modeling semenjak usia remaja. Nama besarnya-Yoxavos-yang tak ia ikut andilkan dalam karirnya, membuat Valerie menjadi model murni yang diakui dengan keterampilan pun kecantikannya di dalam bidang tersebut.

Namanya yang terkenal, tersohor, pun terpandang sedari dulu. Memenangkan banyak nominasi awards. Dirinya menjadi model Italia yang tak tertandingi.

Dirinya-Ximena Valerie Yoxavos-tidak akan kalah dari siapapun. Terlebih lagi dari rumor tanpa bukti yang keluar dari mulut orang-orang kotor.

Valerie melenggang masuk pada Mega mansion di kawasan elite tersebut. Kedatangannya disambut oleh beberapa pelayan berseragam serta bodyguard berbadan tegap besar yang langsung menunduk hormat padanya. Pada ujung tangga menuju lantai dua, sudah berdiri pria serta wanita paruh baya yang menatapnya hangat.

"Kau mendengarku? Dia pasti kembali." Pria bertubuh tegap nan tampan dengan jambang tipis yang dicukur rapih ini berbisik pada wanita di sampingnya.

"Dia memiliki banyak masalah." Latina menyiku perut suaminya pelan, sebelum akhirnya ia melangkah gontai menuju putri semata wayangnya tersebut. "Baby, semuanya berjalan baik?"

Valerie tersenyum singkat lantas memeluk Latina ringan, memeluk hangat ibunya yang cantik nan tetap modis pada usianya yang tidak lagi muda. "Hari ini sangat melelahkan," keluhnya mendayu.

Di sana Alba berdeham, menatap Valerie dengan pandangannya yang menurun. "Beristirahatlah dengan baik, tidak perlu memikirkan hal-hal tidak penting di luar sana. Aku tahu kau bisa mengatasinya."

Valerie menghela nafas dalam, melepaskan pelukan pada Latina lalu beralih memeluk Alba, menghamburkan dirinya ke dalam pelukan hangat pria yang paling ia cintai di muka bumi ini. Alba adalah seorang ayah yang amat sangat Valerie cintai, kagumi, dan begitu ia bangga-banggakan. Alba Yoxavos adalah pria impiannya. Valerie selalu berharap jika dirinya menikah kelak, ia akan menemukan pria seperti ayahnya, penuh kasih dan cinta, pun yang terpenting tidak gila wanita.

"Alangkah bagusnya jika semua pria diciptakan sama sepertimu, Ayah," cicit Valerie, merendah nada suara wanita ini. Hendak ia pecahkan keluh kesahnya di dalam pelukan sang ayah, namun rasa gengsi menghalanginya. Terpaksa ia tahan.

Alba memeluk putrinya hangat, mengelus punggung Valerie lembut lalu mengecup puncak kepala putrinya. "Kau akan merasa benar-benar mencintai ketika kau tersakiti," papar Alba lembut, namun nada suaranya tetap khas dengan ketegasan yang dominan.

Valerie diam. Dia meratapi pun menyesali kenapa hatinya bisa jatuh pada pria bajingan seperti Nolan. Yang lebih membuat kesal ialah, pria itu merupakan cinta pertamanya.

"Kau akan mendapatkan pria lebih baik dari dia," sambung Alba. Lantas Valerie menarik tubuhnya ke belakang, sedikit mendongak untuk menatap wajah ayahnya. Ia mengeryitkan alis.

"Lebih baik dari keluarga Hugo? Siapa?"

Tidak ada yang bisa menandingi kehebatan keluarga Hugo, terlebih lagi sikap cekatan pria-pria keturunan klan tersebut. Juga Nolan, meskipun dirinya memutuskan untuk mengejar cita-cita sebagai seorang aktor, namanya tetap tersohor karena menyandang nama Hugo di belakangnya. Sebab itulah Valerie berani menjatuhkan hatinya pada pria itu. Sialannya, ia dikhianati.

Alba dan Latina ikut terdiam, tidak terpikirkan oleh keduanya lelaki dari keluarga mana yang nama dan statusnya lebih jelas dari keluarga besar itu. Tapi ini bukan tentang kekayaan yang harus dilihat, melainkan dari dalam hati seseorang tersebut karena hal ini menyangkut nama cinta.

"Kau akan menemukan pria baik yang mencintaimu kelak, menyayangi, serta menghormatimu, Sayang." Latina membuka suara, sementara Valerie hanya terdiam.

*******

Valerie mengayunkan stik golf miliknya dengan cetakan, menghentak pada bola kecil yang kontan melambung tinggi jauh ke atas, pergi jauh kemudian jatuh pun tak terlihat lagi pada hamparan lapang yang hijau nan luas.

Cantik penampilan wanita itu kini. Tubuhnya yang ramping namun sintal pada bagian-bagian tertentu terbalut indah stelan khusus bermain golf. Baju lengan pendek berwarna hitam ketat serta rok mini di atas paha memperlihatkan paha mulus serta lekukan bokongnya yang sintal. Kaki jenjangnya terbalut kaus kaki panjang hingga bawah lutut dipadu dengan sneakers berwarna putih, tidak lupa ia kenakan topi dan mengikat rambut panjang hitam legamnya buntut kuda.

Dia meletakkan stik golf lalu duduk pada kursi di sebelah Latina, meminum jus jeruk yang disodorkan oleh ibunya.

"Kenapa dia terlihat sangat cantik dan memesona padahal hanya memukul bola?" decak Alba yang kontan terkekeh dua wanita cantik kebanggaannya di belakang. Valerie dan Latina bersamaan memperhatikan Alba yang sudah siap memegang stik golf miliknya.

Pria itu membuat ancang-ancang sebelum memukul bola kecil berwarna putih yang sudah tersangga siap di bawah.

Melihat putrinya yang seketika terdiam, Latina mendekati dan memegang tangannya. "Kau baik-baik saja?"

"Ya, Mom."

Di depan, Alba telah memukul bola miliknya yang ternyata hanya melambung rendah saja, tidak lebih tinggi dari bola Valerie sebelumnya.

"Aku tetap tak bisa mengalahkan jarak bolamu," keluh Alba pada putri serta istrinya. Dia mengambil jus jeruk dari atas meja, minum sembari lirikan matanya serta merta memperhatikan Valerie. "Ada apa?" Alba bertanya pada Valerie.

"Tidak ada," balas wanita itu singkat.

"Tidak perlu terlalu memikirkannya. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari keluarga itu. Lagipula, aku tidak menyukai mereka," papar Alba jelas yang langsung saja mendapat tatapan tajam dari istrinya.

"Yah, I know." Valerie melirih.

******

Ruang kerja luas bernuansa hitam abu, disertai meja kaca persegi panjang yang dipenuhi oleh berkas-berkas pekerjaan serta komputer yang menyala. Posisi tengah ruangan terdapat sofa mewah letter U berwarna hitam yang tertata rapih disertai meja kaca bulat berukuran sedang di tengahnya. Pada bagian samping ruangan terdapat jendela kaca besar yang langsung menyajikan pemandangan indah kota Roma.

Pria itu duduk menyender pada kursi kebesarannya, membaca berkas yang ia pegang dengan tatapannya yang tajam pun intens, tidak lupa kaca mata putih yang bertengger pada hidung mancungnya membuat pesona kuat pun tegasnya semakin dominan.

Pintu terbuka setelah diketuk beberapa kali, dan si pemilik ruangan membuka suara untuk mengijinkan seseorang itu masuk. Lucas berjalan santai menuju Demiral yang sibuk dengan pekerjaan. Pria berwajah garang dengan jambang cukup tebal tersebut melapor jika tugas yang Demiral perintahkan padanya telah selesai.

"Kau menemuinya?" Demiral menyimpan dokument, melepaskan kaca mata, lalu mengangkat pandangannya mengarah Lucas dengan wajah yang tetap sedikit menunduk.

"Tidak. Tapi aku berbicara dengan managernya."

"Apa yang dia katakan?" tanya Demiral. Masih focus pada dokument di atas meja yang sedang pria itu baca.

"Dia ingin menemuimu. Secepatnya," tandas Lucas.

Gerakan mata Demiral terhenti saat itu juga. Ia mengangkat wajahnya menatap Lucas dengan tatapannya yang datar.

"Atur jadwal pertemuannya."

"Baik."

Tidak lama setelahnya, seorang sekretaris cantik masuk ke dalam ruangan. Tersenyum melenggok wanita itu begitu menggoda mendekati meja Demiral. Sementara Lucas yang mengerti langsung ia ijin untuk keluar dari sana, meninggalkan bos serta sekretaris wanitanya.

"Beberapa berkas untuk kau tangani." Arabella menyampaikan, menyimpan beberapa dokument di atas meja Demiral.

"Pergilah, aku akan menyelesaikan pekerjaanku."

"Baik, Sir."

.

.

.

Bersambung ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 28

    Menunduk pria itu di hadapannya. Menatap dengan raut wajah penuh penyesalan. Dua tanganya terkepal erat di bawah bergetar kecil.Tidak pernah Valerie bayangkan jika pria seperti Demiral rela bersimpuh di hadapanya meminta ampun. Tidak pernah Valerie menyangka jika cara pria ini meminta maaf ialah menurunkan harga dirinya di hadapan sang wanita.Sosoknya yang begitu dingin tidak bisa ditebak sama sekali. Kejam pun tidak berperasaan. Pembunuh mematikan tanpa pandang buluh.Dia pikir jika sang pria akan menanggapi pertanyaannya dengan nada suara yang dingin tanpa penyesalan. Maka Valerie akan meluapkan segala bentuk emosi yang di masalalu tidak bisa dirinya ungkapkan dengan benar.Tapi apa guna meminta maaf sekarang. Hatinya yang telah dia hancurkan tidak akan utuh kembali seperti sedia kala. Kehidupanya yang menyedihkan kini tidak akan kembali pada kebahagiaan layaknya di masalalu.Lingkar matanya memanas menyimpan sebulir cairan bening yang sebisa mungkin ia tahan kehadiranya. Dada yan

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 27

    "Bisakah aku membawamu ke Milan?"Louis bertanya, nada suaranya terdengar penuh pengharapan. Seraya mengenggam tangan Valerie erat ia seolah mengajak wanita itu untuk turut pergi bersamanya. Ia ingin mengatakan jika dirinya akan menjaganya dengan sepenuh hati.Valerie tersenyum. Turut mengenggam tangan Louis begitu erat. "Kabari aku jika kau telah sampai di Milan," tuturnya jelas mengalihkan topik pembicaraan.Louis tidak bisa berata apa-apa lagi selain menyenggut samar. "Aku akan menghubungimu."Genggaman tangan mereka terlepas seiring Louis yang mulai melangkah menjauh dari hadapan Valerie. Langkahnya masuk pada pembatas bandara yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang memegang tiket keberangkatan.Velerie turunkan tangannya yang melambai. Senyuman mulai pudar dari wajah cantiknya bersamaan hilangnya Louis dari pandangan.Dia berbalik pun melangkah pergi dari sana. Menundukan wajahnya sembari berjalan lau ia temukan sepasang kaki tepat di depan menghalangi jalannya. Tanpa menga

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 26

    Tegap berdiri pria itu pada rooftop perusahaan dengan sebatang nikotin tersulut diapit oleh bibirnya. Menghisap dalam menghembuskan asapnya keluar.Lalu ia matikan sulutan rokok itu menginjaknya kasar ketika sebuah helikopter mendarat tepat di hadapannya. Melangkah lebar Demiral naik ke dalam helikopter tersebut, yang selanjutnya membawa ia pergi menjauh dari sana.Benda besi yang terbang melewati kota Roma, kemudian menyebrangi lautan luas dan tepat mendarat kembali pada sebuah pulau terpencil.Sebuah mansion megah di tengah-tengah hutan menyambutnya. Disertai dinding tebal nan tinggi membentang melindungi bangunan megah bak kastil tersebut.Burung-burung gagak yang bertengger di atas rimbunnya pohon sontak berterbangan ketika sang empu menginjakan kakinya di atas tanah pulau. Seolah-olah tahu jika sesuatu yang kejam telah kembali burung-burung itu berkicau amat seram mengirigi setiap langkah tuan tanah mereka.Pintu utama mansion terbuka berderit menggema pada setiap sudut ruangan.

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 25

    Dinginnya malam semakin menelusup menembus kulit. Ditambah hujan gemerincik disertai kabut tipis yang membuat suasananya semakin sendu.Valerie berdiri di belakang jendela kaca besar mansion pada lantai dua, menyuguhkan pemandangan bawah yang langsung mengarah pada gerbang besi besar pengaman di depan sana.Sepi nan gelap, tidak ada apapun atau siapapun sebab kini hampir tengah malam, semua orang telah terlelap menuju mimpi alam bawah sadar mereka.Sementara Valerie masih berdiri di sana tegak, tidak terbuai akan rasa kantuk yang sama sekali tidak datang.Pandangannya bergerak pada sisi mansion. Di mana ia lihat seseorang mencoba menerobos masuk kedimannya. Ia tidak berbuat apa-apa atau memanggil keamanan, sebab ia tahu siapa yang datang dengan diam-diam di tengah malam.Langkah Valerie melebar namun gontai pergi menuju kamarnya. Membuka pintu ruangan yang kontan ia temui pria berpakaian basah kuyup di dalam sana. Pada air yang menetes dari tubuhnya, mengalir juga sebuah cairan merah

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 24

    Melenggang cantik wanita itu di dalam sebuah lobi perusahaan besar. Naik ke lantai atas menggunakan lift khusus para petinggi perusahaan.Mata memandang dari setiap orang yang ia lewati. Berbisik-bisik menggunjing heran akan kehadiran wanita tersebut.Valerie membuka sebuah ruangan, melemparkan beberapa paperbag yang di dalamnya berisikan pakaian wanita dari sebuah brand terkenal. Jatuh paperbag tersebut ke atas lantai pun membuat isi di dalamnya berhambur berserakan."Aku tidak membutuhkan semua ini," katanya menekankan. "Berhenti mengirimiku sampah, Demiral Hugo."Duduk gagah menyender pada kursi di belakang meja kerja, jemarinya bergerak lincah memainkan pena, melakukan pen spinning. Tatapan tajamnya kian memicing menatap pada sang wanita yang berdiri marah di ambang pintu.Valerie geram. Demiral selalu mengiriminya banyak barang-barang mewah setiap hari. Entah apa maksud pria itu melakukannya. Padahal dia tahu dengan jelas bahwa Valerie bukanlah wania yang kekurangan barang-barang

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 23

    Tubuhnya berbaring di atas peraduan. Memejamkan mata mencoba untuk terlelap masuk ke alam bawah sadar. Pikiannya yang tidak tenang tidak bisa diajak kompromi, terus bergulat di dalam sana.Spontan Valerie membuka matanya ketika tiba-tiba saja semilir angin menyentuh kulit kakinya. Lantas ia beranjak bangun, duduk di atas ranjang lalu ia tatap pintu kaca balkoni yang terbuka padahal sangat ia ingat jelas jika sebelum berbaring tadi ia telah menutupnya.Pelan-pelan ia menarik laci nakas di samping tempat tidur. Mengambil glock miliknya dari dalam sana. Kemudian dia turun dari ranjang, berjalan mengendap-endap menuju pintu balkoni.Ia arahkan lurus tangannya ke depan yang tak ia dapati siapapun di sana. Kosong. Hanya kegelapan yang menyita.Valerie menurunkan kembali tangannya ke bawah. Menilik sekitar yang sepi lalu ia berbalik hendak masuk kembali ke dalam kamar. Dua langkahnya seketika terhenti ketika pandanganya mendapati sosok seorang pria di dalam kegelapan. Perawakannya yang besa

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 1

    "Apa yang dia lakukan? Berani-beraninya dia berkata hal seperti itu tentangku?" Valerie tengah melakukan pemotretan pertamanya pagi ini. Saat tiba-tiba saja dia mendengar beberapa staf yang sedang menggunjingkannya. Model cantik ini bertanya-tanya apa yang telah terjadi sampai mereka bergosip sepe

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 5

    Hujan badai serta angin kencang masih melanda kota Roma, membuat kemacetan di mana-mana. Sembari menunggu supir menjemput, wanita cantik itu memutuskan untuk ikut Demiral naik pada penthouse pria tersebut. Keduanya kini berada dalam private lift menuju lantai tujuan. Hening di antara mereka, tidak

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 4

    Hari ini pagi-pagi sekali. Valerie mengajak Louis untuk mengelilingi pusat kota Roma. Karena pria tersebut baru menginjakan kakinya di ibukota Italia, Valerie berniat dengan baik hati mengajaknya untuk pergi jalan-jalan dan memperkenalkan kota kelahirannya pada pria tersebut. Dia mengajaknya untuk

  • OBSESI BERGAIRAH    Chapter 3

    Valerie melenggang cepat seraya melihat ke sekitar sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil berwarna hitam yang terparkir dengan mesin menyala di basement. Sedetik kemudian wanita cantik itu kontan tersentak saat mendapati seorang pria dengan kaca mata beningnya di dalam sana, duduk tepat di sampin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status