Share

Chapter 4

Author: Rara Radika
last update publish date: 2026-05-30 03:00:32

Hari ini pagi-pagi sekali. Valerie mengajak Louis untuk mengelilingi pusat kota Roma. Karena pria tersebut baru menginjakan kakinya di ibukota Italia, Valerie berniat dengan baik hati mengajaknya untuk pergi jalan-jalan dan memperkenalkan kota kelahirannya pada pria tersebut. Dia mengajaknya untuk menikmati sarapan khas di sana, pergi berbelanja, dan juga pergi menonton film.

Alih-alih membuat Louis menikmati, Valerie malah lebih menikmatinya sendiri, bahkan dia mengajak Louis pergi ke tempat yang ada di dalam daftar otaknya selama ini. Louis pergi menemaninya, dan bukan sebaliknya. Itu terlihat jelas di mata Valerie jika wanita itu benar-benar antusias ketika berkeliling.

Kini keduanya berakhir di sebuah kedai ice cream. Setelah itu, mereka berjalan bersama menyusuri trotoar jalan sembari memakan Ice cream di tangan.

Valerie berpakaian Casual hari ini. Rok mini sepaha dan kaos putih bergambar kucing. Memakai topi pada rambutnya yang sengaja diurai agar orang-orang di sekitar tidak terlalu memperhatikan, kaki jenjangnya pun dibalut sneakers senada dengan kaos yang dikenakan. Penampilannya hari ini sangat berbeda dengan sehari-harinya yang lebih tampak seperti wanita dewasa.

Louis memperhatikan wajah cantik polosnya yang hanya terpoles make up tipis natural. Berbeda dengan yang ia lihat kemarin saat pertama kali bertemu.

Valerie menyadari jika dirinya sedang diperhatikan, lantas ia menoleh pada Louis yang spontan mengalihkan arah pandangnya.

"Ada apa?" tanya Valerie sambil menjilat ice cream miliknya.

Louis tersenyum simpul. "Tidak ada."

"Apa penampilanku terlihat aneh?"

"Tidak. Sama sekali tidak, Valerie."

Valerie menjumput rambutnya ke belakang telinga, dan terlihatlah garis rahangnya yang cantik berkulit putih mulus.

"Sudah lama aku tidak berpakaian santai seperti ini, aku pikir itu terlihat aneh," keluhnya.

"Kau cantik," puji Louis, membuat Valerie terkekeh kecil mendengarnya.

"AH!"

Valerie sontak berterak kaget saat ia melihat seekor anak kucing hendak menyebrang jalanan. Louis yang melihat hal tersebut segera berlari untuk menyelamatkan anak kucing tersebut.

"Valerie!"

"Ya, itu Valerie."

Terakan Valerie membuat heboh, dan tidak sengaja membuat orang-orang sekitar melihat ke arahnya. Saat mereka lihat wajah di balik topi tersebut ialah seorang model terkenal, orang-orang itu langsung heboh hendak mendekat.

Valerie tertegun, ia hendak melarikan diri sebelum orang mengerumuninya. Namun, sebelum dirinya melangkah, sebuah tangan kekar melingkar pada perutnya yang langsung saja membopong tubuh Valerie pergi dari sana dengan sangat ringan, seolah ia patung jalanan yang hendak dipindahkan.

Wanita cantik itu didudukan di dalam mobil. Matanya membulat dan ia terdiam saat pintu sebelahnya ditutup lalu seorang pria naik dan duduk di sampingnya.

"Hallo, Ms. Valerie Yoxavos."

Pria ini menoleh dan tersenyum simpul, menatap Valerie yang masih terkejut karena tiba-tiba dia di bawa pergi lalu dimasukan ke dalam mobil pria itu.

"Jalan," titah Demiral. Dia lagi.

Valerie melihat ke arah jalanan, berbalik melihat pada kaca belakang mobil. Sebelum mobil tersebut melaju menjauh, ia bisa melihat Louis di pinggir jalan sedang menggendong seekor anak kuncing pun pria itu melihat sekitar mencari seseorang.

"Kau tidak bisa membawaku pergi begitu saja, aku bersama seseorang," protesnya pada Demiral.

Kemudian mobil itu berhenti atas titah sang tuan. Demiral melirik wanita itu dingin. "Keluar jika ingin," katanya tanpa nada dan terdengar datar.

Mendadak Valerie diam. Dia tahu orang-orang akan mengerumuninya jika ia keluar sekarang, dan Valerie tentu saja tidak ingin hal itu terjadi. Maka dari itu dia hanya duduk, menatap Demiral dengan sirens eyenya yang menurun.

"Jalan." Pria itu memberi perintah lagi.

Valerie menggeser posisi tubuhnya, miring menghadap Demiral di samping. Ia tatap pria itu dengan intens dan dalam. Kini bukan ketampanan Demiral yang ia pandang, melainkan keberadaan pria itu yang menjadi tanda tanya.

"Kau selalu ada di saat orang-orang mengejarku," papar Valerie, lalu sirens eyenya menyipit. "Kau menguntitku?"

Demiral terkekeh samar mendengarnya. Ia matikan layar ponsel lalu memasukan benda pipih itu ke dalam saku.

"Kau berada di area perusahaanku, Ms. Valerie, wajar jika aku berada di sini."

Valerie berdecak, mengalihkan pandangnya lalu membenarkan posisi duduk tubuhnya kembali. Jawaban dari Demiral tidak membuatnya puas.

Menatap lurus ke depan. Valerie membuka topi miliknya, lalu merapikan rambut legamnya yang terurai.

Di samping Demiral melirik, menatap wanita cantik yang ia lihat kini dengan polesan wajah yang natural. Berbeda seperti sebelum-sebelumnya saat ia melihat Valerie yang terpoles make up cukup tebal.

"Aku tahu aku cantik." Valerie menoleh. "Apa sekarang kau jatuh cinta padaku, Mr. Hugo?"

"Maybe?" Pria itu menjawab.

"Hidung belang."

"Karena itu kau harus menjauhinya."

"Kau yang terus mendekat."

Lantas Demiral mencondongkan tubuhnya ke depan, membawa wajah pada sisi wajah cantik itu. Ketika Valerie menoleh, jarak antara wajahnya dengan wajah Demiral hanya berjarak beberapa inci saja.

"Apa yang kau lakukan?"

"Mendekat, seperti katamu."

"Bukan itu yang kumaksud." Valerie mendorong dada pria itu menjauh, kontan jatuh punggung Demiral menabrak senderan kursi mobil.

"Ingin membeli pakaian?" oceh Valerie.

"Pakaian?" Sebelah alisnya terangkat, heran.

"Kemejamu selalu terbuka di bagian atas. Kurasa kancingnya putus." Ia melirik, menunjuk kemeja bagian atas Demiral yang memang selalu terbuka dua kancing di bagian atasnya seolah pria itu sengaja memperlihatkan dada kekarnya yang bidang dan terbentuk sempurna.

Belum Demiral menjawab, ponsel Valerie lebih dulu berdering menyebabkan atensi wanita cantik itu berpaling. Ia ambil benda pipih itu dari dalam tas, menerima telepon dari Louis yang pastinya pria itu masih mencarinya sekarang.

"Hallo Louis, maaf aku pergi lebih dulu. Beberapa orang menyadari keberadaanku di sana."

"Tidak masalah Valerie, yang terpenting kau baik-baik saja."

"Tentu, aku baik-baik saja."

"Baiklah, kutunggu di kediamanmu."

"Baiklah, sampai jumpa."

Kembali ia masukan ponselnya ke dalam tas. Saat melihat jalanan dari dalam jendela, Valerie heran karena itu bukanlah jalan menuju rumahnya.

"Ke mana kau akan membawaku?" Alisnya bertaut menatap Demiral.

"Penthouse. Aku memiliki rapat lima belas menit lagi, dan tidak bisa mengantarmu pulang, Ms."

"Apa? Maka turunkan saja aku di sini."

"Terlambat. Kita sudah memasuki area jalur laju."

Valerie mendengus. Ia bersandar pada sandaran jok dan menatap pada jalanan. Tidak banyak yang bisa ia lakukan selain duduk diam di dalam sana sampai mereka sampai di tempat tujuan.

Tiba-tiba langit yang cerah mendadak gelap. Hujan lebat disertai angin kencang turun membasahi kota Roma, merubah drastis suhu pada ibukota itali tersebut.

Sepuluh menit berlalu, akhirnya mobil itu memasuki area basement sebuah penthouse mewah. Demiral pun Valerie sama-sama keluar dari sana.

"Hujan lebat serta jalanan yang macet, kau tidak akan mendapatkan kendaraan jika kembali sekarang," tutur Demiral pada wanita cantik itu.

.

.

.

Bersambung ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • LUST OBSESSION    Chapter 8

    Sosoknya yang amat gagah melangkah gontai di dalam kegelapan. Derap langkah yang berat menjadi backsound menyeramkan dikala heningnya malam. Disertai suara-suara rantai yang di seret dan pintu besi berkarat yang dibuka menimbulkan bunyi nyaring membuat sesuatu di dalamnya kontan terjaga. Meraung ganas seekor serigala hitam di dalam kandang jerusi besi. Matanya yang tajam meruncing menelisik pada sosok gagah di dalam kegelapan, mengendus mengenali sosok tuannya lantas bersimpuh serigala tersebut pada sang empu. Demiral menerima rantai besi yang disodorkan oleh penjaga bertubuh besar bak algojo. Lalu dikalungkan rantai tersebut pada leher serigala ganas miliknya, membawa hewan buas itu keluar dari dalam kandang. Dia menggiring hewan buas besar berbulu hitam tersebut pada lorong yang gelap, sesekali raungan ganasnya serigala membuat segala bulu tubuh bergidik ngeri. Di belakangnya, dua orang algojo mengetuk setiap pintu kiri dan kanan menggunakan tongkat besi. Sengaja membuat semua pi

  • LUST OBSESSION    Chapter 7

    Berdiri membelakangi meja yang tersusun kue-kue cantik dan indah di atasnya. Ia berdiri di sisi ruangan, sendiri seraya menimati sesapan redwine dari dalam gelas miliknya. Sementara Louis pergi ke kamar mandi, Valerie sendiri, terdiam dan matanya hanya focus menelisik setiap orang yang berada di aula besar tersebut. Ia tidak suka keramaian, tidak suka orang-orang palsu, dan juga tidak suka omong kosong. Oleh karena itu dirinya menepi. Sesapan pada cairan merah beralkohol miliknya telah tandas. Ia berbalik untuk mengambil gelas lainnya. Detik itu juga gerakan tangannya terhenti tatkala maniknya menangkap sesosok pria yang amat di kenalnya berjalan menuju lorong Villa. Demiral melangkah gontai memasuki lorong hingga hilang sosok pria itu terhalang pilar besar. Valerie masih memiliki dendam serta hutang pernyataan dari pria tersebut, bergegas ia pergi untuk menyusul ke mana pria itu melangkah. Pada sisi Villa, terdapat taman serta kolam renang berukuran cukup besar. Demiral pergi

  • LUST OBSESSION    Chapter 6

    Awan yang cerah, matahari bersinar begitu hangat, serta angin segar menerpa setiap inci kulit putih mulus yang terbuka dan bercahaya saat pantulan mentari menyorotinya.Wanita cantik itu terbaring di sebuah gazebo di tepi taman kediamannya. Hanya mengenakan celana pendek di atas paha serta kaos crop top tipis yang memperlihatkan pusarnya yang ditindik. Dia mengangkat kakinya yang terdapat bekas luka ke atas, mengingat kembali hal yang terjadi beberapa hari yang lalu.Itu adalah hari Minggu. Saat Valerie membawa Louis untuk mengelilingi kota Roma, berakhir dengan dirinya yang dibawa pergi oleh Demiral ke kediaman pria itu. Kemudian, dia terluka lalu pria itu mengobatinya. Setelahnya, Valerie tidak mengingat apapun selain terakhir ia melihat hujan badai berkabut di luar jendela.Besok paginya, beberapa penjaga menemukan Valerie berbaring di depan gerbang Mega mansion kediamannya, tidak sadarkan diri serta linglung. Entah apa yang terjadi, tapi Valerie yakin jika itu adalah perbuatan Dem

  • LUST OBSESSION    Chapter 5

    Hujan badai serta angin kencang masih melanda kota Roma, membuat kemacetan di mana-mana. Sembari menunggu supir menjemput, wanita cantik itu memutuskan untuk ikut Demiral naik pada penthouse pria tersebut. Keduanya kini berada dalam private lift menuju lantai tujuan. Hening di antara mereka, tidak ada percakapan apapun selama beberapa menit di dalam sana.Private lift mengantar langsung pada pintu penthouse Demiral. Di depan, sudah ada Lucas yang menunggu bigbosnya sedari tadi. Pintu penthouse telah terbuka, beberapa orang pria bertubuh tegap berpakaian jas rapih tengah duduk di dalam sana."Bawa dia ke lantai atas," pinta Demiral pada Lucas. Kemudian setelah itu, ia pergi untuk bergabung dengan beberapa pria yang sempat memandang Valerie dengan tatapan heran.Lucas mempersilahkan Valerie masuk. Lalu ia bawa Valerie naik tangga menuju lantai dua, membukakan satu ruangan untuk wanita itu tempati. Sebuah kamar."Mohon tunggu di sini, Ms. Yoxavos."Lucas pergi setelah menutup pintu. Men

  • LUST OBSESSION    Chapter 4

    Hari ini pagi-pagi sekali. Valerie mengajak Louis untuk mengelilingi pusat kota Roma. Karena pria tersebut baru menginjakan kakinya di ibukota Italia, Valerie berniat dengan baik hati mengajaknya untuk pergi jalan-jalan dan memperkenalkan kota kelahirannya pada pria tersebut. Dia mengajaknya untuk menikmati sarapan khas di sana, pergi berbelanja, dan juga pergi menonton film.Alih-alih membuat Louis menikmati, Valerie malah lebih menikmatinya sendiri, bahkan dia mengajak Louis pergi ke tempat yang ada di dalam daftar otaknya selama ini. Louis pergi menemaninya, dan bukan sebaliknya. Itu terlihat jelas di mata Valerie jika wanita itu benar-benar antusias ketika berkeliling.Kini keduanya berakhir di sebuah kedai ice cream. Setelah itu, mereka berjalan bersama menyusuri trotoar jalan sembari memakan Ice cream di tangan.Valerie berpakaian Casual hari ini. Rok mini sepaha dan kaos putih bergambar kucing. Memakai topi pada rambutnya yang sengaja diurai agar orang-orang di sekitar tidak te

  • LUST OBSESSION    Chapter 3

    Valerie melenggang cepat seraya melihat ke sekitar sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil berwarna hitam yang terparkir dengan mesin menyala di basement. Sedetik kemudian wanita cantik itu kontan tersentak saat mendapati seorang pria dengan kaca mata beningnya di dalam sana, duduk tepat di sampingnya. Lantas pria tersebut menatap Valerie heran.Wanita cantik ini menggigit bibir bawahnya, menoleh pada jendela mobil yang mana sudah banyak wartawan di luar sana. Ia tidak bisa keluar."Mereka semua mengejar ku, sial!" gumam Valerie rendah. Lalu wajahnya kembali lagi menilik pria dingin di sebelahnya."Maafkan aku, tapi bisakah kau membawaku keluar dari sini?" pinta Valerie dengan wajah memohon."Jalan." Perintah pria tersebut pada sang supir yang langsung menurutinya, menekan pedal gas dan pergi dari area basement tersebut."Terima kasih," tutur Valerie lega. "Apa kau akan pulang?" tanya Demiral, yang ternyata pria yang berada di dalam mobil tersebut adalah Demiral. Pria itu datang unt

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status