FAZER LOGINHujan badai serta angin kencang masih melanda kota Roma, membuat kemacetan di mana-mana. Sembari menunggu supir menjemput, wanita cantik itu memutuskan untuk ikut Demiral naik pada penthouse pria tersebut.
Keduanya kini berada dalam private lift menuju lantai tujuan. Hening di antara mereka, tidak ada percakapan apapun selama beberapa menit di dalam sana. Private lift mengantar langsung pada pintu penthouse Demiral. Di depan, sudah ada Lucas yang menunggu bigbosnya sedari tadi. Pintu penthouse telah terbuka, beberapa orang pria bertubuh tegap berpakaian jas rapih tengah duduk di dalam sana. "Bawa dia ke lantai atas," pinta Demiral pada Lucas. Kemudian setelah itu, ia pergi untuk bergabung dengan beberapa pria yang sempat memandang Valerie dengan tatapan heran. Lucas mempersilahkan Valerie masuk. Lalu ia bawa Valerie naik tangga menuju lantai dua, membukakan satu ruangan untuk wanita itu tempati. Sebuah kamar. "Mohon tunggu di sini, Ms. Yoxavos." Lucas pergi setelah menutup pintu. Meninggalkan Valerie sendiri di dalam kamar yang ia yakini itu adalah kamar Demiral. Sebuah kamar utama yang luas dan besar dengan nuansa hitam putih di dalamnya, tidak banyak barang yang tertata di sana, hanya beberapa rak kaca berisikan beberapa figura foto. Valerie melihat-lihat foto tersebut, beberapa foto Demiral berserta keluarga besarnya. Di dalam foto, pria itu tetap terlihat dingin tanpa ekspresi, tidak tersenyum sedikitpun. Satu pintu yang terbuka membuat pandangan Valerie tertarik untuk menelusuri tempat itu. Banyak lemari besar berisikan pakaian pria tersebut. Itu walk in closet. Sementara itu di lantai bawah. Demiral sedang berbincang mengenai pekerjaan dengan beberapa orang. Beberapa pria bertubuh tegap serta berjambang tebal tengah menerima perintah dari sang empu. "Kapal pesiar kita tenggelam," ucap dari salah satu pria tersebut. "Ratusan kilo kokain serta puluhan kontainer berisi senjata tidak bisa diselamatkan." "Klien meminta ganti secepatnya, mereka sama sekali tidak memberikan waktu." Adu tiga pria berjambang tebal tersebut. Tiga orang kepercayaan Demiral yang menjaga bisnis gelap milik pria itu. Demiral terdiam mendengarkan. Sebelum akhirnya ia buka suara untuk bertanya, pria itu berdeham samar. "Bagaimana dengan para aparat yang selalu mengintai? Sudah tahu siapa dalangnya?" Para pria itu saling menatap, mereka terdiam sejenak. Sementara Lucas yang berdiri di samping Demiral langsung mencondongkan tubuhnya pada pria tersebut, berbisik akan satu hal. Lantas pria itu menarik ujung bibirnya asimetris. Telah terpikirkan olehnya siapa orang yang berani mengusik ketenangan bisnisnya. Tidak lain ialah orang yang sama berkuasa, memiliki banyak kabel dengan orang-orang di atas pemerintahan. "Dia memaksa ingin kuhancurkan." Demiral beranjak, diikuti dengan beberapa pria di sana. "Pergilah. Jangan biarkan bangkai tercium dan membuat para lalat mendekat. Buat janji dengan klien, biar kuurus mereka semua," tegasnya memerintah. Kemudian pria itu pergi melangkah dengan gagah, naik ke atas tangga menuju kamarnya di lantai dua. Sebelum ia memegang kenop pintu hendak membuka, suara sesuatu yang pecah terdengar begitu nyaring dari dalam. "Ahh!" Valerie merintih. Dia tidak sengaja menjatuhkan sebuah kotak musik yang dipajang saat ia hendak mengambilnya. Kotak musik berbentuk bulat kaca dengan air di dalamnya. Snowball. Valerie merasa bersalah. Alih-alih prihatin dengan kakinya yang berdarah terluka, dia malah memungut isi dari snowball tersebut. "Apa yang kau lakukan?" Demiral mendekat. Jatuh pandangannya pada Valerie yang tengah bersimpuh di lantai dengan kaki yang terluka berdarah. "Aku tidak sengaja." Menghela nafasnya dalam, pria itu kemudian mencondongkan tubuhnya untuk membawa tubuh Valerie ke dalam gendongan. Refleks wanita itu mengalungkan kedua lengannya pada leher Demiral agar tidak terjatuh. Jujur saja, ini merupakan kali kedua pria itu menggendongnya hari ini. Demiral membawanya duduk pada sebuah sofa tunggal. Lalu pria itu keluar dan datang kembali dengan satu kotak obat di tangannya. Dia bersimpuh di hadapan Valerie, tangannya bergerak cekatan membersihkan darah dari luka di kakinya. "Ah, itu sakit," keluhnya. "Hanya luka kecil. Diam dan duduk saja, ini akan segera selesai." Demiral mengatakan tanpa mendongak melihat Valerie. Dia menggigit bibir bawahnya, merasakan sakit sekaligus perih pada punggung kakinya yang terluka. Luka kecil apanya, kulitnya terkena pecahan kaca dan berdarah cukup banyak, selain itu benturan dari snowball tersebut membuat lukanya memar kebiruan. Sepuluh menit berlalu pria itu telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia menutup kotak obat lalu berdiri di depan Valerie. Raut wajahnya yang dingin menatap wanita cantik itu penuh sidik. Valerie berada di dalam kamarnya selama kurang lebih satu jam. Wanita ini juga tidak segan menelusuri setiap ruangan di dalam kamar pribadi itu. Dia pastinya menemukan sesuatu yang tentu saja Demiral simpan dengan rapih. "Ingin minum obat untuk menghilangkan rasa sakit?" tawar pria itu. Valerie menengadah, menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak mau." Pria itu berbalik dan pergi keluar kamar, entah ke mana. Meninggalkan Valerie di dalam kamar itu sendiri lagi. Dia duduk pada sofa yang berhadapan langsung dengan jendela, melihat hujan badai serta angin yang kencang hingga menyebabkan kabut tebal di luar sana. Suhu ruangan yang dingin membuat matanya berat dan mengantuk, rasanya tidak bisa ia tahan hingga akhirnya dia menutup mata dan pergi untuk terlelap, membangun dunia mimpi di bawah alam bawah sadarnya. "She sleeps." Lucas berbicara perlahan pada Demiral yang sedang memasukan peluru ke dalam Glock 17 miliknya. "Dia harus tertidur agar tidak mendengar apapun." Demiral berjalan mendekat pada Valerie yang memang tengah terlelap. Penampilan pria itu berbeda dari sebelumnya saat terakhir ia berada di dalam kamar bersama Valerie dan mengobati luka wanita itu. Kemeja hitam yang selalu menjadi ciri khasnya telah ternoda oleh cairan segar berwarna merah yang tidak terlalu kentara saat menyatu dengan warna gelapnya, rambut yang selalu tersisir rapih telah jatuh ke depan berkeringat, wajahnya yang biasa tenang tanpa ekspresi apapun kini bertaut alis pria tersebut, dadanya naik turun akibat nafasnya yang memburu. Sementara di lantai bawah, tergeletak tiga mayat segar berlumuran darah. Masing-masing tubuh mereka telah terserang beberapa peluru yang mengakibatkan nyawa melayang. Itulah balasannya jika tidak menurut, itulah balasannya jika tidak taat pada sang empu, itulah balasannya jika menjadi pengkhianat. Kematian adalah jalan terbaik yang Demiral berikan pada tiga pengkhianat itu. Setidaknya tidak dia siksa terlebih dahulu untuk menambah rasa sakit. Peluru yang panas menembus daging serta lemak mereka, menghancurkan tulang-tulang rusuk yang langsung mencabut nyawa, itulah yang terbaik dibandingkan dengan penyiksaan kejam yang selalu dilakukannya. Kematian untuk tiga orang kepercayaannya yang memilih untuk berkhianat. Mencolong bisnis miliknya dengan mengatakan jika kapal pesiar telah tenggelam. Matilah dengan damai. Setidaknya tidak merasakan rasa sakit akibat penyiksaan yang fatal. . . . Bersambung ....Menunduk pria itu di hadapannya. Menatap dengan raut wajah penuh penyesalan. Dua tanganya terkepal erat di bawah bergetar kecil.Tidak pernah Valerie bayangkan jika pria seperti Demiral rela bersimpuh di hadapanya meminta ampun. Tidak pernah Valerie menyangka jika cara pria ini meminta maaf ialah menurunkan harga dirinya di hadapan sang wanita.Sosoknya yang begitu dingin tidak bisa ditebak sama sekali. Kejam pun tidak berperasaan. Pembunuh mematikan tanpa pandang buluh.Dia pikir jika sang pria akan menanggapi pertanyaannya dengan nada suara yang dingin tanpa penyesalan. Maka Valerie akan meluapkan segala bentuk emosi yang di masalalu tidak bisa dirinya ungkapkan dengan benar.Tapi apa guna meminta maaf sekarang. Hatinya yang telah dia hancurkan tidak akan utuh kembali seperti sedia kala. Kehidupanya yang menyedihkan kini tidak akan kembali pada kebahagiaan layaknya di masalalu.Lingkar matanya memanas menyimpan sebulir cairan bening yang sebisa mungkin ia tahan kehadiranya. Dada yan
"Bisakah aku membawamu ke Milan?"Louis bertanya, nada suaranya terdengar penuh pengharapan. Seraya mengenggam tangan Valerie erat ia seolah mengajak wanita itu untuk turut pergi bersamanya. Ia ingin mengatakan jika dirinya akan menjaganya dengan sepenuh hati.Valerie tersenyum. Turut mengenggam tangan Louis begitu erat. "Kabari aku jika kau telah sampai di Milan," tuturnya jelas mengalihkan topik pembicaraan.Louis tidak bisa berata apa-apa lagi selain menyenggut samar. "Aku akan menghubungimu."Genggaman tangan mereka terlepas seiring Louis yang mulai melangkah menjauh dari hadapan Valerie. Langkahnya masuk pada pembatas bandara yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang memegang tiket keberangkatan.Velerie turunkan tangannya yang melambai. Senyuman mulai pudar dari wajah cantiknya bersamaan hilangnya Louis dari pandangan.Dia berbalik pun melangkah pergi dari sana. Menundukan wajahnya sembari berjalan lau ia temukan sepasang kaki tepat di depan menghalangi jalannya. Tanpa menga
Tegap berdiri pria itu pada rooftop perusahaan dengan sebatang nikotin tersulut diapit oleh bibirnya. Menghisap dalam menghembuskan asapnya keluar.Lalu ia matikan sulutan rokok itu menginjaknya kasar ketika sebuah helikopter mendarat tepat di hadapannya. Melangkah lebar Demiral naik ke dalam helikopter tersebut, yang selanjutnya membawa ia pergi menjauh dari sana.Benda besi yang terbang melewati kota Roma, kemudian menyebrangi lautan luas dan tepat mendarat kembali pada sebuah pulau terpencil.Sebuah mansion megah di tengah-tengah hutan menyambutnya. Disertai dinding tebal nan tinggi membentang melindungi bangunan megah bak kastil tersebut.Burung-burung gagak yang bertengger di atas rimbunnya pohon sontak berterbangan ketika sang empu menginjakan kakinya di atas tanah pulau. Seolah-olah tahu jika sesuatu yang kejam telah kembali burung-burung itu berkicau amat seram mengirigi setiap langkah tuan tanah mereka.Pintu utama mansion terbuka berderit menggema pada setiap sudut ruangan.
Dinginnya malam semakin menelusup menembus kulit. Ditambah hujan gemerincik disertai kabut tipis yang membuat suasananya semakin sendu.Valerie berdiri di belakang jendela kaca besar mansion pada lantai dua, menyuguhkan pemandangan bawah yang langsung mengarah pada gerbang besi besar pengaman di depan sana.Sepi nan gelap, tidak ada apapun atau siapapun sebab kini hampir tengah malam, semua orang telah terlelap menuju mimpi alam bawah sadar mereka.Sementara Valerie masih berdiri di sana tegak, tidak terbuai akan rasa kantuk yang sama sekali tidak datang.Pandangannya bergerak pada sisi mansion. Di mana ia lihat seseorang mencoba menerobos masuk kedimannya. Ia tidak berbuat apa-apa atau memanggil keamanan, sebab ia tahu siapa yang datang dengan diam-diam di tengah malam.Langkah Valerie melebar namun gontai pergi menuju kamarnya. Membuka pintu ruangan yang kontan ia temui pria berpakaian basah kuyup di dalam sana. Pada air yang menetes dari tubuhnya, mengalir juga sebuah cairan merah
Melenggang cantik wanita itu di dalam sebuah lobi perusahaan besar. Naik ke lantai atas menggunakan lift khusus para petinggi perusahaan.Mata memandang dari setiap orang yang ia lewati. Berbisik-bisik menggunjing heran akan kehadiran wanita tersebut.Valerie membuka sebuah ruangan, melemparkan beberapa paperbag yang di dalamnya berisikan pakaian wanita dari sebuah brand terkenal. Jatuh paperbag tersebut ke atas lantai pun membuat isi di dalamnya berhambur berserakan."Aku tidak membutuhkan semua ini," katanya menekankan. "Berhenti mengirimiku sampah, Demiral Hugo."Duduk gagah menyender pada kursi di belakang meja kerja, jemarinya bergerak lincah memainkan pena, melakukan pen spinning. Tatapan tajamnya kian memicing menatap pada sang wanita yang berdiri marah di ambang pintu.Valerie geram. Demiral selalu mengiriminya banyak barang-barang mewah setiap hari. Entah apa maksud pria itu melakukannya. Padahal dia tahu dengan jelas bahwa Valerie bukanlah wania yang kekurangan barang-barang
Tubuhnya berbaring di atas peraduan. Memejamkan mata mencoba untuk terlelap masuk ke alam bawah sadar. Pikiannya yang tidak tenang tidak bisa diajak kompromi, terus bergulat di dalam sana.Spontan Valerie membuka matanya ketika tiba-tiba saja semilir angin menyentuh kulit kakinya. Lantas ia beranjak bangun, duduk di atas ranjang lalu ia tatap pintu kaca balkoni yang terbuka padahal sangat ia ingat jelas jika sebelum berbaring tadi ia telah menutupnya.Pelan-pelan ia menarik laci nakas di samping tempat tidur. Mengambil glock miliknya dari dalam sana. Kemudian dia turun dari ranjang, berjalan mengendap-endap menuju pintu balkoni.Ia arahkan lurus tangannya ke depan yang tak ia dapati siapapun di sana. Kosong. Hanya kegelapan yang menyita.Valerie menurunkan kembali tangannya ke bawah. Menilik sekitar yang sepi lalu ia berbalik hendak masuk kembali ke dalam kamar. Dua langkahnya seketika terhenti ketika pandanganya mendapati sosok seorang pria di dalam kegelapan. Perawakannya yang besa
"Apa yang dia lakukan? Berani-beraninya dia berkata hal seperti itu tentangku?" Valerie tengah melakukan pemotretan pertamanya pagi ini. Saat tiba-tiba saja dia mendengar beberapa staf yang sedang menggunjingkannya. Model cantik ini bertanya-tanya apa yang telah terjadi sampai mereka bergosip sepe
Hari ini pagi-pagi sekali. Valerie mengajak Louis untuk mengelilingi pusat kota Roma. Karena pria tersebut baru menginjakan kakinya di ibukota Italia, Valerie berniat dengan baik hati mengajaknya untuk pergi jalan-jalan dan memperkenalkan kota kelahirannya pada pria tersebut. Dia mengajaknya untuk
Valerie melenggang cepat seraya melihat ke sekitar sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil berwarna hitam yang terparkir dengan mesin menyala di basement. Sedetik kemudian wanita cantik itu kontan tersentak saat mendapati seorang pria dengan kaca mata beningnya di dalam sana, duduk tepat di sampin
Ximena Valerie Yoxavos. Siapa yang tidak mengenal wanita cantik satu ini. Wanita cantik berdarah asli Eropa. Tinggal dan dibesarkan di ibukota Italia, Roma. Putri satu-satunya dari pasangan Alba dan Latina dari keluarga Yoxavos, keluarga terpandang pun terkaya di Italia.Semua orang mengenalnya, me







