MasukSore itu, Madeleine menyusuri taman belakang Istana. Pepohonan yang dahan-dahannya melengkung karena berat buah yang ranum menciptakan ketenangan tersendiri. Di tempat ini, hiruk-pikuk istana yang menyesakkan terasa begitu jauh. Madeleine menghirup udara dalam-dalam, merasa seolah beban di pundaknya sedikit terangkat.
"Taman ini dibangun sendiri oleh mendiang Ratu terdahulu," jelas Erin, dayang istana yang melangkah tenang di belakang Madeleine. Madeleine menyentuh permukaan halus sebutir buah yang menggantung rendah. "Pasti beliau sangat mencintai tempat ini," gumamnya. Ia mengamati barisan pohon yang tertata rapi namun tetap terlihat alami. Di dunia aslinya, taman seperti ini hanya bisa ia lihat melalui layar ponsel atau buku sejarah. Merasakan tekstur daun dan mencium aroma manis buah yang matang secara langsung memberikan sensasi yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. "Beliau menghabiskan sebagian besar waktunya di sini saat merindukan kampung halamannya," tambah Erin lembut. Madeleine tersenyum tipis. Kini ia mengerti mengapa tempat ini terasa berbeda dari sudut istana lainnya yang penuh dengan emas dan marmer dingin. Taman ini memiliki jiwa. "Setelah Ratu wafat, Kaisar memerintahkan agar taman ini dijaga ketat. Tidak boleh ada yang diubah sedikit pun," jelas Erin lagi. Madeleine melihat sekeliling dengan binar mata yang cerah. Namun, ketenangan itu seketika hilang saat ia melihat Lucas berjalan mendekat. Tanpa perlu bicara banyak, Madeleine memberi isyarat singkat pada Erin untuk pergi. Erin membungkuk lalu segera menjauh. "Ada apa, Yang Mulia?" tanya Madeleine saat Lucas berdiri di hadapannya. "Apa yang sedang kau mainkan, Lady Madeleine?" tanya Lucas tanpa basa-basi. Madeleine memiringkan wajahnya sedikit. "Apa maksudmu?" "Jangan berpura-pura. Kau berhenti mengawasiku dan menjauh." Tatapan Lucas menyipit tajam. "Itu bukan dirimu yang biasanya." Madeleine tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang terlihat asing bagi Lucas. "Aku hanya sedang mencoba bertindak sebagai wanita yang tahu diri, Yang Mulia." Lucas mengernyit, rahangnya tampak mengeras. "Tahu diri? Apa maksudmu?" "Bukankah selama ini kehadiranku hanya mengganggumu?" Madeleine menatap Lucas datar. "Aku hanya memberikan apa yang kau inginkan selama ini. Kebebasan tanpa gangguan dariku. Seharusnya kau senang, bukan malah datang ke sini untuk menginterogasiku." "Aku tahu bukan aku yang Anda inginkan. Ada wanita lain," kata Madeleine tenang. "Jadi, aku hanya belajar tahu diri. Aku berhenti karena itu yang seharusnya kulakukan dari dulu." Madeleine menatap Lucas tanpa beban. "Aku sudah menarik semua pelayan yang kusuruh mengawasimu. Kau tidak perlu khawatir lagi. Saat ini aku tidak tertarik tahu ke mana kau pergi atau dengan siapa kau bicara." Lucas menyipitkan mata, menatap Madeleine penuh curiga. "Kau sedang merencanakan sesuatu di belakangku?" "Tidak, Yang Mulia," jawab Madeleine singkat. Lucas terdiam sesaat, sebelum wajahnya kembali mengeras. "Jangan berharap aku akan percaya begitu saja," katanya dingin sambil melangkah mendekat, mengunci pergerakan Madeleine. "Aku juga tidak memintanya," jawab Madeleine santai. Lucas hendak membalas, namun suara manis yang dibuat-buat menghentikan ucapannya. “Maaf, Yang Mulia. Saya lancang.” Madeleine melirik ke samping. Rocella berdiri tidak jauh dari sana. Meski matanya berkilat marah, senyum manis tetap terukir di wajahnya saat Lucas berpaling. “Saya ingin mengajak kakak saya minum teh. Kami sudah janjian,” ujar Rocella. Lucas mundur selangkah, memberi jarak. Madeleine segera merapikan gaunnya yang sedikit berantakan. Ia bisa merasakan tatapan tajam Lucas yang masih tertuju padanya sebelum pria itu akhirnya berujar pendek, “Baiklah.” Tanpa kata lain, Lucas berbalik dan pergi menjauh. “Apa yang kalian bicarakan, Kak? Kalian terlihat … dekat sekali,” tanya Rocella. Nada suaranya penuh selidik yang membuat Madeleine muak. “Apa kegiatanku dengan suamiku harus kau ketahui juga, Lady Moore?” Rocella tersentak. Ia tampak kikuk, tidak menyangka akan dipanggil dengan gelar keluarganya—sebuah batasan formal yang jarang Madeleine gunakan. Rocella memaksakan senyum di bibirnya yang gemetar. “Kakak? Kenapa memanggilku begitu?” tanya Rocella pelan. Madeleine teringat bagaimana ia yang begitu bangga ketika adiknya memanggilnya tanpa embel-embel gelar di hadapan publik. Saat itu, ia mengira itu adalah bentuk kehangatan keluarga—sebuah tanda bahwa ikatan darah mereka lebih tinggi dari protokol kerajaan. Betapa bodohnya. Kini ia menyadari panggilan tanpa gelar itu bukanlah tanda kasih sayang, melainkan sebuah penghinaan halus: ‘Bahkan setelah kau menikah dengan Putra Mahkota, kau tidak akan pernah menjadi bagian dari Auvrellis. Kau tetaplah Lady dari House Moore.’ Madeleine menarik napas pendek, merasakan sisa-sisa kemarahan dari pemilik tubuh asli. "Kau benar-benar payah dalam membedakan racun dan madu, Madeleine," batinnya sinis. "Pantas saja kau berakhir tragis.” “Ada apa, Kak. Kenapa kau melihatku begitu?” “Yang Mulia Putri Mahkota!” koreksi Madeleine dingin. Rocella berkedip, sejenak saja. Lalu tertawa kecil. “Kita sudah sepakat tentang ini, Kak. Aku bisa tetap memanggilmu seperti biasanya.” Ia menatap Madeleine penuh kepolosan. “Di ruang keluarga. Tentu.” Ia melangkah mendekat, suaranya tetap lembut. “Namun di sini, kerajaan Auvrellis, aku lebih mudah dikenali dengan gelarku.” Ia mengangkat dagunya, menatap Rocella yang memucat. “Panggil dengan benar!” **“Erin, kirim seseorang ke rumah ibuku. Katakan padanya aku akan datang menemuinya,” ujar Madeleine dengan nada tenang.“Baik, Yang Mulia,” jawab Erin singkat sebelum segera pergi melaksanakan perintah itu.Pesan itu dikirim malam itu juga. Keesokan harinya Madeleine berangkat ke rumah keluarga Moore di distrik bangsawan lama ibu kota. Bangunan batu itu tampak tenang dari luar dan dikelilingi taman yang terawat rapi.Begitu memasuki aula depan, Madeleine langsung berpapasan dengan Rocella.Wanita itu berdiri di dekat tangga utama dan menatap Madeleine dengan ekspresi kesal yang sama seperti terakhir kali mereka bertemu. Jelas ia masih menyimpan kemarahan tentang pembicaraan perjodohan yang sempat terjadi sebelumnya.“Kau datang untuk membicarakan calon suamiku lagi bersama ibumu?” tanya Rocella dengan nada tajam.Madeleine menatapnya sekilas, ekspresinya tetap datar seolah pertanyaan itu tidak berarti apa-apa baginya. “Tidak,” jawabnya tenang. “Lagipula urusan pernikahanmu bukan hal ya
“Tapi, Yang Mulia, bisakah Anda memastikan bahwa ibu saya tidak akan ikut terseret dalam rencana ini?” tanya Madeleine dengan tenang.Kaisar Philip tidak langsung menjawab. Ia memandang Madeleine beberapa saat sebelum akhirnya berkata dengan nada tegas, “Keselamatan ibumu adalah tanggung jawabmu. Pastikan itu dengan caramu sendiri.”Madeleine mengangguk pelan. “Menurut Yang Mulia, apa yang seharusnya saya lakukan agar ibu saya benar-benar aman?”“Pindahkan dia ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh rencana ini,” jawab kaisar singkat, tanpa keraguan.Madeleine terdiam, menimbang kemungkinan yang ada. Setelah beberapa saat, ia berkata hati-hati, “Maksud Yang Mulia … membawanya kembali ke keluarganya?”“Calveris hampir tidak bisa disentuh oleh siapa pun,” kata Kaisar Philip dengan nada datar namun pasti. “Mereka adalah bangsawan tua yang dihormati oleh seluruh kaum bangsawan. Banyak orang memilih untuk tidak mengusik mereka, karena semua orang tahu bagaimana keluarga itu berdiri dan ap
“Pasti ada sesuatu yang penting sampai kau datang menemuiku,” ujar Kaisar Phillip.Ia duduk di balik meja kerjanya yang besar, sorot matanya tajam memperhatikan Madeleine yang berdiri di hadapannya. Sang Kaisar tidak terburu-buru berbicara lagi, seolah memberi waktu agar wanita itu menjelaskan sendiri maksud kedatangannya.Madeleine maju selangkah dan meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja.“Saya membawa wewangian dari tanah kelahiran ibu saya,” katanya tenang. “Beliau berkunjung beberapa hari lalu dan menitipkannya untuk Anda. Katanya aroma ini baik untuk kesehatan.”Kaisar Phillip tidak langsung menyentuh kotak itu. Ia justru menatap Madeleine dengan lebih dalam.“Aku tahu ibumu datang,” katanya datar. “Dan aku juga tahu Duke Alaric beberapa kali terlihat bersamamu.”Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.“Kalian tampaknya mulai cukup dekat setelah rapat dewan terakhir.”Kaisar Phillip memperhatikan setiap perubahan kecil pada wajah Madeleine, seolah menilai reaksinya. Namun
“Saya akan segera memesankannya untuk Anda. Namun pengiriman dari luar Auvreliss biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama—”“Dua minggu,” potong Madeleine tenang. “Saya membutuhkan semua perhiasan itu dua minggu dari sekarang, Duchess.”Duchess Rowan sedikit menaikkan alisnya. “Itu waktu yang sangat singkat, Yang Mulia,” ujarnya jujur. Perhiasan dari luar kekaisaran biasanya harus melewati pedagang perantara dan perjalanan panjang sebelum tiba di istana.Namun ketika ia melihat tatapan Madeleine yang tegas, Duchess Rowan akhirnya mengangguk pelan.“Baiklah. Saya akan mengusahakannya. Dua minggu dari sekarang perhiasan itu akan tiba di istana.” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum sopan. “Namun sebelum itu, kita perlu membicarakan harganya.”Madeleine tidak tampak ragu sedikit pun. “Berapa pun harganya akan saya bayar.”Ia melirik ke arah Erin. “Siapkan surat pembayaran sekarang.”Erin segera menunduk hormat sebelum bergerak menyiapkan dokumen yang diminta oleh Madeleine.Setelah doku
“Saya akan membawa jawaban yang Anda inginkan.”Ucapan Alaric itu masih terngiang di kepala Madeleine bahkan setelah pria itu pergi. Ia sudah memberinya tiga informasi penting, namun tampaknya itu masih belum cukup untuk membuat sang duke benar-benar percaya. Pria itu jauh lebih berhati-hati daripada yang ia duga.Madeleine berjalan perlahan menyusuri jalur taman istana, sementara Erin mengikutinya beberapa langkah di belakang.“Harga yang cukup mahal untuk mendapatkan kepercayaan seseorang, bukan begitu, Erin?” katanya akhirnya.Erin mengangguk kecil. “Ya, Yang Mulia. Kepercayaan memang jarang datang tanpa harga.”Madeleine berhenti melangkah. Ia menengadah, memandang langit yang perlahan menggelap di atas halaman istana. Awan tebal mulai berkumpul, tanda hujan akan segera turun.Pikirannya kembali berputar pada kemungkinan lain. Rocella kemungkinan besar sudah menceritakan pada ayah mereka bahwa ia beberapa kali bertemu dengan Duke Alaric. Jika itu benar, ayahnya pasti mulai mencuri
Rocella mengepalkan tangannya erat. Dari sudut matanya ia menyadari para dayang dan pelayan di sekitar mereka diam-diam memperhatikan, meskipun berpura-pura tetap sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Madeleine tahu Rocella berada dalam posisi yang sulit. Jika wanita itu bereaksi terlalu keras, orang-orang yang mendengar bisa saja menilai bahwa ia memang menyukai pria yang sudah beristri. Tapi jika ia menyangkalnya, Madeleine justru memiliki alasan untuk segera menanyakan siapa pria yang dimaksud dan menentukan waktu pernikahan mereka.“Jadi bagaimana, Lady?” tanya Madeleine dengan nada tenang. “Siapa pria yang kau maksud? Apa aku mengenalnya?”Mata Rocella memerah menahan rasa malu yang tiba-tiba menyeruak, namun ia tetap mengangkat dagunya dengan keras kepala. “Yang Mulia, tetap saja kau tidak bisa memaksaku menikah dengan pria pilihanmu!” balasnya.Madeleine tidak terpancing oleh nada itu. Ia hanya menatap Rocella dengan tenang sebelum berkata, “Kalau begitu katakan saja siapa or







