LOGINRocella membeku. Perubahan drastis kakaknya terasa seperti tamparan yang sulit ia cerna. Semuanya terjadi terlalu mendadak—sikap tenang itu, tatapan tajam itu, seolah-olah Madeleine yang selama ini bisa ia kendalikan telah lenyap.
Dari sudut matanya, Rocella melihat para pelayan yang biasanya bersikap santai kini berdehem gugup. Mereka segera membetulkan posisi berdiri, lalu membungkuk sangat dalam saat Madeleine melintas di depan mereka. Sebuah rasa hormat yang murni karena wibawa, bukan karena takut akan amarah. Rocella mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarah dan kegelisahan bercampur di dadanya melihat pengakuan yang baru saja didapatkan kakaknya dari para pelayan. Tanpa sepatah kata pun, Rocella berbalik dan pergi dari sana dengan langkah terburu-buru. Ia perlu menyusun ulang rencananya. Madeleine yang tenang ternyata jauh lebih berbahaya daripada Madeleine yang gila. – Sejak kejadian di taman, Lucas gelisah. Sosok Madeleine terus menghantui pikirannya. Madeleine yang dulu tergila-gila padanya, kini bersikap tak acuh dan tenang. Tangannya mengepal di atas meja. Ia terbiasa dikejar, dipuja, bahkan dimaki oleh Madeleine. Namun, ketenangan istrinya tadi terasa lebih menghina daripada rentetan makian mana pun. Lucas duduk di balik meja kerjanya, namun pandangannya terus tertuju pada pintu yang tertutup rapat. Biasanya, Madeleine akan menerobos masuk dengan gangguan-gangguan kecil, atau mengirim pelayan hanya untuk membawakan hadiah sepele—apa pun, asalkan bisa menarik perhatiannya. Lucas menghentakkan penanya ke meja, lalu bersandar di kursi. Keheningan ini seharusnya menjadi apa yang ia inginkan selama ini, namun kini justru kesunyian itulah yang membuatnya tak mampu bekerja. Kegelisahan itu akhirnya menang. Lucas berpaling pada Kael yang berdiri siaga di dekat pintu. “Kael, di mana Putri Mahkota berada?” “Di taman belakang, Yang Mulia,” jawab Kael singkat. Lucas terdiam sejenak. “Ia mulai suka ke sana, ya?” Tanpa menunggu jawaban, ia berdiri dan melangkah menuju taman belakang istana. Langkahnya melambat saat ia melihat sosok Madeleine di kejauhan. Wanita itu menggenggam satu buah Pir, menatapnya dengan binar mata yang belum pernah Lucas lihat sebelumnya. Ketika Madeleine menggigit buah itu, senyum cerah terukir di wajahnya. Lucas terpaku. Perasaannya mendadak kacau. Ia telah lama terbiasa dengan ekspresi Madeleine yang berlebihan, namun kesederhanaan yang ia saksikan kini justru terasa jauh lebih berbahaya. Madeleine tersentak saat menyadari kehadiran Lucas. Ia segera menghapus senyumnya, kembali pada ekspresi datar yang kaku. Lucas melangkah mendekat, matanya menatap tajam setiap inci wajah istrinya yang kini tampak begitu asing. "Katakan, apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya, Lady Madeleine?" desis Lucas, suaranya rendah dan penuh curiga Madeleine mengernyit, tidak paham. Ia menyadari para pelayan di sekitarnya segera menyingkir setelah mendapat lirikan tajam dari sang penguasa kedua negeri itu. Suasana taman yang tadinya hangat mendadak terasa mencekam. “Bicara sekarang, Putri Mahkota Auvrellis. Apa yang kau rencanakan?” tuntut Lucas. Madeleine Tertegun. Pikirannya berputar cepat menelusuri setiap panel komik. Tak ada satu pun bab yang menulis Lucas memanggil Madeleine dengan gelar formalnya secara intens seperti ini. “Yang Mulia, aku tidak merencanakan apa pun,” jawab Madeleine setelah sempat terdiam. Ia berusaha menjaga wajahnya tetap datar, meski jantungnya berdegup kencang. Apakah rencananya untuk mengubah nasib tragis sang antagonis telah terbaca oleh Lucas? Ataukah perubahannya terlalu drastis hingga memicu naluri waspada Lucas yang biasanya apatis? Jika Lucas mulai curiga, maka setiap langkahnya ke depan akan menjadi jauh lebih sulit. “Berhenti bersikap konyol dengan berpura-pura tak acuh! Para pelayan dan bangsawan mulai membicarakan tingkahmu. Rumor itu bisa mencoreng citra Auvrellis. Apa kau baru akan berhenti jika Kaisar sendiri yang turun tangan menegurmu?” Madeleine menarik napas dalam, berusaha meredam debar jantungnya. “Yang Mulia, sepertinya kau salah paham. Aku tidak merencanakan apa pun.” “Lalu menapa kau bertingkah seolah tak pernah melakukan hal-hal memalukan di depanku?” Lucas melangkah maju, mempersempit jarak hingga Madeleine dapat merasakan hawa dingin dari pria itu. “Tiba-tiba menjauh dan bersikap seolah aku tidak ada—apa tujuanmu?” Kesabaran Madeleine habis. Ia mendongak, menatap langsung ke mata Lucas. “Sudah kujawab, aku hanya sedang mencoba tahu diri!” suara Madeleine bergetar. “Aku tahu siapa yang kau inginkan, Yang Mulia. Karena itu aku hanya tidak ingin terlihat lagi di hadapanmu. Bukankah ini yang Mulia inginkan?” Madeleine tersentak saat Lucas merampas buah pir itu dari tangannya. Gerakan pria itu begitu kasar dan dominan, memaksanya mundur hingga punggungnya nyaris menabrak batang pohon di belakangnya. Ia hanya bisa menatap dengan mata membulat saat Lucas menimang buah itu. Jantung Madeleine berdegup kencang. Pikirannya kembali memindai ingatan dari naskah asli—Lucas sangat membenci Madeleine. Pria itu bahkan tidak sudi menyentuh barang apa pun yang telah ia sentuh karena dianggap menjijikkan. Namun, pemandangan di depannya mematahkan semua logika komik itu. Tanpa memutuskan kontak mata, Lucas menggigit buah tersebut tepat di bekas gigitannya. ‘Dia gila?’ batin Madeleine tak percaya. Rasa mual dan amarah mendadak bercampur di ulu hatinya. Tindakan itu bukan bentuk romansa, melainkan penghinaan. Lucas sedang memamerkan kekuasaannya, menunjukkan bahwa bahkan makanan yang masuk ke mulut Madeleine pun bisa ia ambil sesukanya. "Manis," desis Lucas. Suaranya rendah, namun tajam. Ia menjatuhkan sisa buah itu ke tanah, lalu menginjaknya dengan sepatu bot peraknya hingga hancur tak berbentuk. Madeleine menunduk menatap buah yang kini menjadi sampah itu. Ia merasa seolah-olah martabatnya baru saja diinjak dengan cara yang sama. "Kau bicara seolah kau adalah korban yang sedang berbaik hati memberiku ketenangan," ujar Lucas sambil mendekat, memangkas jarak hingga Madeleine bisa mencium aroma kayu cendana dari pakaian pria itu. Madeleine mendongak, berusaha menyembunyikan getaran di tangannya. Ia tidak boleh terlihat lemah. Jika Lucas mencari reaksi histerisnya, pria itu tidak akan mendapatkannya. "Mengapa Yang Mulia melakukan itu?" suara Madeleine terdengar dingin dan stabil. "Bukankah itu menjijikkan? Itu sudah terkena air liurku." Lucas mencengkram dagu Madeleine, tidak cukup kuat untuk menyakiti, namun cukup tegas untuk mengunci gerakannya. "Aku memang membencimu, Madeleine. Tapi aku lebih membenci fakta bahwa kau mencoba bermain-main denganku melalui perubahan sikapmu yang picik ini.” Madeleine menatap rahang Lucas yang mengeras. Alih-alih gemetar ketakutan seperti biasanya, ia justru menarik sudut bibirnya—seulas senyum tipis yang sarat akan cemoohan. "Jika Yang Mulia begitu terganggu dengan ketenanganku," bisik Madeleine pelan, napasnya menerpa wajah Lucas, "apakah itu berarti Yang Mulia mulai merindukan perhatianku yang menjijikkan itu?” **“Apakah itu berarti Yang Mulia mulai merindukan perhatianku yang menjijikkan itu?” tanya Madeleine telak. Lucas tersentak. Untuk sesaat, ekspresi dingin di wajahnya retak. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap Madeleine dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku tidak punya maksud apa-apa dengan berhenti berharap padamu, Yang Mulia,” lanjut Madeleine datar. “Aku berhenti mencintaimu karena aku sadar kehadiranku selama ini hanya mengganggumu. Kau sangat muak padaku, bukan? Jadi aku memilih berhenti. Seharusnya kau senang.” Lucas masih bungkam. Namun, Madeleine bisa melihat rahang pria itu mengeras dan jemarinya yang menggantung di sisi tubuh mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Madeleine tidak menunggu balasan. Ia hanya menatap Lucas sekilas, lalu berbalik menjauh tanpa beban. Meninggalkan Lucas yang terpaku menatap punggung istrinya. – Seminggu berlalu sejak insiden di taman belakang Istsna. Madeleine memutuskan untuk menjaga jarak, namun sikap Lucas justru me
Rocella membeku. Perubahan drastis kakaknya terasa seperti tamparan yang sulit ia cerna. Semuanya terjadi terlalu mendadak—sikap tenang itu, tatapan tajam itu, seolah-olah Madeleine yang selama ini bisa ia kendalikan telah lenyap. Dari sudut matanya, Rocella melihat para pelayan yang biasanya bersikap santai kini berdehem gugup. Mereka segera membetulkan posisi berdiri, lalu membungkuk sangat dalam saat Madeleine melintas di depan mereka. Sebuah rasa hormat yang murni karena wibawa, bukan karena takut akan amarah. Rocella mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarah dan kegelisahan bercampur di dadanya melihat pengakuan yang baru saja didapatkan kakaknya dari para pelayan. Tanpa sepatah kata pun, Rocella berbalik dan pergi dari sana dengan langkah terburu-buru. Ia perlu menyusun ulang rencananya. Madeleine yang tenang ternyata jauh lebih berbahaya daripada Madeleine yang gila. – Sejak kejadian di taman, Lucas gelisah. Sosok Madeleine terus menghantui pikirann
Sore itu, Madeleine menyusuri taman belakang Istana. Pepohonan yang dahan-dahannya melengkung karena berat buah yang ranum menciptakan ketenangan tersendiri. Di tempat ini, hiruk-pikuk istana yang menyesakkan terasa begitu jauh. Madeleine menghirup udara dalam-dalam, merasa seolah beban di pundaknya sedikit terangkat. "Taman ini dibangun sendiri oleh mendiang Ratu terdahulu," jelas Erin, dayang istana yang melangkah tenang di belakang Madeleine. Madeleine menyentuh permukaan halus sebutir buah yang menggantung rendah. "Pasti beliau sangat mencintai tempat ini," gumamnya. Ia mengamati barisan pohon yang tertata rapi namun tetap terlihat alami. Di dunia aslinya, taman seperti ini hanya bisa ia lihat melalui layar ponsel atau buku sejarah. Merasakan tekstur daun dan mencium aroma manis buah yang matang secara langsung memberikan sensasi yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. "Beliau menghabiskan sebagian besar waktunya di sini saat merindukan kampung halamannya," tambah E
Pagi di Istana Auvrellis dimulai dengan keheningan yang kaku. Di paviliun timur, Emma berdiri mematung di depan jendela tinggi. Nama Madeleine masih muncul tanpa diundang—sebuah identitas dari kehidupan yang telah berakhir. Ia menarik napas pelan, mencoba menyingkirkan bayang-bayang masa lalunya. Sekarang ia bukan lagi Emma, melainkan Madeleine, sang Putri Mahkota yang ditakdirkan mati. Dan ia tidak akan membiarkan nasib itu terulang. Saat para pelayan masuk dengan langkah nyaris tak bersuara, Madeleine membiarkan mereka bekerja. Jemari mereka bergerak cekatan merapikan gaun dan menyisir rambutnya dengan sangat hati-hati. Ada ketegangan yang jelas dari para pelayan itu; mereka bekerja seolah sedang menghindari kesalahan fatal. Emma merasakan kecanggungan yang nyata. Di kehidupannya yang lama, ia adalah pihak yang menunduk dan menerima perintah. Ia terbiasa bekerja kasar untuk bertahan hidup, bukan duduk diam sementara orang lain mengurusi setiap detail tubuhnya. Kini, sa
"Semuanya keluar!" perintah Lucas akhirnya. "Jika tidak, dia akan mulai berteriak dan menuduh siapa pun yang dia inginkan." Suaranya dingin menusuk. "Baik, Yang Mulia," jawab para pelayan serempak sebelum bergegas meninggalkan ruangan. Rocella masih berdiri di sisi pria itu. Ia melirik, berharap mendapatkan pembelaan, namun Lucas bicara bahkan tanpa menoleh ke arahnya. "Kau juga keluar. Tinggalkan aku bersama istriku!" Rocella tersentak, rasa kesal kilat melintas di wajahnya. "Baik, Yang Mulia," sahutnya sambil mengangguk sopan. Namun, sebelum berbalik pergi, Emma sempat menangkap sorot kebencian yang tajam dari matanya. Setelah sang adik pergi, keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan. Lucas melangkah mendekat, matanya menyipit penuh selidik. "Apa yang sedang kau mainkan, Maddie?" Maddie. Nama itu terdengar akrab sekaligus merendahkan di telinga Emma. Ia mengerutkan kening, merasakan debaran tidak nyaman di dadanya. "Lady Madeleine! Kau mendengarku?"
Uhuk! Uhuk! Paru-paru Emma terasa terbakar saat ia memuntahkan sisa air yang menyumbat tenggorokannya. Begitu matanya terbuka, ia tidak menemukan kegelapan gang sempit atau kepungan rentenir yang mengejarnya. Ia justru terbaring di atas ranjang sutra yang terlalu empuk. “Sudah bangun? Sandiwara yang luar biasa, Lady Madeleine.” Suara itu berat dan sedingin es. Emma menoleh ke arah pintu. Di sana, seorang pria berdiri tegap dengan jubah kebesaran khas bangsawan membalut tubuhnya. Wajahnya tampan, seperti pahatan dewa Yunani, namun tatapannya menghujam tajam ke arah Emma. “Kakak, kau selalu seperti ini,” suara ketus lain menyambar. Di samping pria itu, berdiri seorang gadis berambut pirang dengan mahkota kristal yang berkilau—Rocella. “Apa kau harus menceburkan diri ke danau hanya agar ibu menghukumku lagi?” Emma tidak menjawab. Ia justru terpaku menatap kedua tangannya sendiri. Kulit itu justru bersih dan halus, tanpa bekas luka parut akibat kerja kasar bertahun-tahun di







