LOGINPagi di Istana Auvrellis dimulai dengan keheningan yang kaku.
Di paviliun timur, Emma berdiri mematung di depan jendela tinggi. Nama Madeleine masih muncul tanpa diundang—sebuah identitas dari kehidupan yang telah berakhir. Ia menarik napas pelan, mencoba menyingkirkan bayang-bayang masa lalunya. Sekarang ia bukan lagi Emma, melainkan Madeleine, sang Putri Mahkota yang ditakdirkan mati. Dan ia tidak akan membiarkan nasib itu terulang. Saat para pelayan masuk dengan langkah nyaris tak bersuara, Madeleine membiarkan mereka bekerja. Jemari mereka bergerak cekatan merapikan gaun dan menyisir rambutnya dengan sangat hati-hati. Ada ketegangan yang jelas dari para pelayan itu; mereka bekerja seolah sedang menghindari kesalahan fatal. Emma merasakan kecanggungan yang nyata. Di kehidupannya yang lama, ia adalah pihak yang menunduk dan menerima perintah. Ia terbiasa bekerja kasar untuk bertahan hidup, bukan duduk diam sementara orang lain mengurusi setiap detail tubuhnya. Kini, satu gerakan kecil darinya saja cukup untuk membuat orang-orang di ruangan ini gemetar ketakutan. “Yang Mulia,” ujar salah satu pelayan dengan kepala tertunduk, “Yang Mulia Putra Mahkota Auvrellis telah menunggu Anda untuk sarapan bersama.” Madeleine menoleh perlahan. “Bisakah makananku dibawa ke kamar?” katanya datar. “Aku tidak ingin keluar pagi ini.” Udara seketika menegang. Para pelayan saling bertukar pandang singkat. Biasanya, sarapan adalah momen yang paling dinanti oleh Putri Mahkota. Madeleine yang lama akan bangun lebih awal, berdandan, dan memastikan dirinya tiba di meja makan sebelum Lucas. Namun pagi ini berbeda. “Yang Mulia,” pelayan itu memberanikan diri, suaranya menurun, “Yang Mulia Putra Mahkota … akan murka bila Anda tidak turun. Ini perintah beliau.” “Baiklah.” Ia melangkah tenang menuju ruang makan timur yang telah tertata sempurna. Cahaya matahari menembus kaca patri, memantul di atas meja panjang berlapis perak. Di sana, Lucas sudah duduk dengan posisi tegak dan dingin. Madeleine berhenti dua langkah dari meja. Gaun gading yang ia kenakan membingkai tubuhnya dengan sederhana namun tetap anggun. Rambutnya disanggul rapi tanpa perhiasan berlebihan. Tidak ada lagi riasan tebal yang biasanya ia gunakan untuk menarik perhatian. Lucas mengernyit. Matanya menyisir penampilan sang istri dari ujung rambut hingga ujung kaki. Perubahan itu begitu nyata hingga ia sempat terdiam, menatap sosok di depannya yang mendadak terasa asing. “Kau terlambat pagi ini, Lady Madeleine,” sambut Lucas dingin. Beberapa pelayan refleks menunduk lebih dalam. Mereka paham maknanya. Panggilan gelar resmi di hadapan publik adalah penegasan bahwa Madeleine hanyalah istri di atas kertas yang tidak diakui. Madeleine memahami hinaan tersirat itu, namun ia tidak ambil pusing. Ia tahu Lucas sama sekali tidak menginginkannya. Satu-satunya wanita yang ada di hati pria itu hanyalah sang tokoh utama cerita ini—cinta pertamanya yang terhalang restu Kaisar. Dalam naskah aslinya, mereka baru akan bersatu setelah Madeleine tewas mengenaskan. Madeleine menarik kursi dan duduk tanpa suara. Ia segera meraih pisau dan garpu, fokus pada piring di depannya seolah kehadiran Lucas tidak lebih penting dari sarapannya. Lucas bergeming. Tangannya yang memegang cangkir teh tertahan di udara sambil memperhatikan istrinya yang makan dengan tenang, tanpa sekali pun mencuri pandang ke arahnya. "Biasanya kau akan mengeluh jika tidak kusambut dengan hangat," ujar Lucas memecah keheningan. Madeleine mendongak sesaat, lalu kembali memotong daging. "Tidak akan ada yang seperti itu lagi, Yang Mulia. Jangan khawatir.” Lucas meletakkan cangkirnya hingga menimbulkan denting halus. Alisnya bertaut, matanya menyisir wajah tenang Madeleine yang polos tanpa riasan tebal. "Itu berita yang bagus.” Madeleine mengangguk tipis. Sikap tenangnya semakin membuat Lucas tak nyaman. Ia berdehem singkat. “Apa rencanamu hari ini?" tanyanya datar. Madeleine berhenti sejenak, lalu menjawab dengan tenang. "Aku akan menghadiri pelajaran etiket dan membaca laporan rumah tangga istana." Lucas mengerutkan kening. "Hanya itu?" "Ya, hanya itu, Yang Mulia." Lucas menutup cangkirnya dengan pelan. Sesuatu di matanya berubah, bukan tertarik, melainkan waspada. Ia merasakan ada yang hilang dari sekitarnya, rasa diawasi yang biasanya memuakkan. Di lantai atas, di dalam kamarnya yang tenang, Madeleine sedang menata dunianya yang baru. Ia tidak lagi mengirim pelayan untuk mengawasi Lucas. Tidak ada lagi pertanyaan ke mana suaminya pergi, dengan siapa ia berbicara, atau berapa lama ia akan kembali. Kebiasaan lama dihentikan. "Tidak perlu lagi melaporkan pergerakan Yang Mulia Putra Mahkota padaku," ucap Madeleine. Kepala Pelayan membeku. "A-apa Yang Mulia yakin?" "Aku yakin," jawabnya. Berita itu menyebar cepat. Hingga sampai ke telinga Lucas. "Putri Mahkota menghentikan semua pemantauan," lapor Kael, sang ajudan. Lucas terdiam. Pena di tangannya berhenti bergerak. "Sejak kapan?" "Sejak pagi ini, Yang Mulia." Lucas bersandar ke kursinya, mata menyipit, dan sebuah seringaian muncul di sudut bibirnya. "Menarik.” **“Apakah itu berarti Yang Mulia mulai merindukan perhatianku yang menjijikkan itu?” tanya Madeleine telak. Lucas tersentak. Untuk sesaat, ekspresi dingin di wajahnya retak. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap Madeleine dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku tidak punya maksud apa-apa dengan berhenti berharap padamu, Yang Mulia,” lanjut Madeleine datar. “Aku berhenti mencintaimu karena aku sadar kehadiranku selama ini hanya mengganggumu. Kau sangat muak padaku, bukan? Jadi aku memilih berhenti. Seharusnya kau senang.” Lucas masih bungkam. Namun, Madeleine bisa melihat rahang pria itu mengeras dan jemarinya yang menggantung di sisi tubuh mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Madeleine tidak menunggu balasan. Ia hanya menatap Lucas sekilas, lalu berbalik menjauh tanpa beban. Meninggalkan Lucas yang terpaku menatap punggung istrinya. – Seminggu berlalu sejak insiden di taman belakang Istsna. Madeleine memutuskan untuk menjaga jarak, namun sikap Lucas justru me
Rocella membeku. Perubahan drastis kakaknya terasa seperti tamparan yang sulit ia cerna. Semuanya terjadi terlalu mendadak—sikap tenang itu, tatapan tajam itu, seolah-olah Madeleine yang selama ini bisa ia kendalikan telah lenyap. Dari sudut matanya, Rocella melihat para pelayan yang biasanya bersikap santai kini berdehem gugup. Mereka segera membetulkan posisi berdiri, lalu membungkuk sangat dalam saat Madeleine melintas di depan mereka. Sebuah rasa hormat yang murni karena wibawa, bukan karena takut akan amarah. Rocella mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarah dan kegelisahan bercampur di dadanya melihat pengakuan yang baru saja didapatkan kakaknya dari para pelayan. Tanpa sepatah kata pun, Rocella berbalik dan pergi dari sana dengan langkah terburu-buru. Ia perlu menyusun ulang rencananya. Madeleine yang tenang ternyata jauh lebih berbahaya daripada Madeleine yang gila. – Sejak kejadian di taman, Lucas gelisah. Sosok Madeleine terus menghantui pikirann
Sore itu, Madeleine menyusuri taman belakang Istana. Pepohonan yang dahan-dahannya melengkung karena berat buah yang ranum menciptakan ketenangan tersendiri. Di tempat ini, hiruk-pikuk istana yang menyesakkan terasa begitu jauh. Madeleine menghirup udara dalam-dalam, merasa seolah beban di pundaknya sedikit terangkat. "Taman ini dibangun sendiri oleh mendiang Ratu terdahulu," jelas Erin, dayang istana yang melangkah tenang di belakang Madeleine. Madeleine menyentuh permukaan halus sebutir buah yang menggantung rendah. "Pasti beliau sangat mencintai tempat ini," gumamnya. Ia mengamati barisan pohon yang tertata rapi namun tetap terlihat alami. Di dunia aslinya, taman seperti ini hanya bisa ia lihat melalui layar ponsel atau buku sejarah. Merasakan tekstur daun dan mencium aroma manis buah yang matang secara langsung memberikan sensasi yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. "Beliau menghabiskan sebagian besar waktunya di sini saat merindukan kampung halamannya," tambah E
Pagi di Istana Auvrellis dimulai dengan keheningan yang kaku. Di paviliun timur, Emma berdiri mematung di depan jendela tinggi. Nama Madeleine masih muncul tanpa diundang—sebuah identitas dari kehidupan yang telah berakhir. Ia menarik napas pelan, mencoba menyingkirkan bayang-bayang masa lalunya. Sekarang ia bukan lagi Emma, melainkan Madeleine, sang Putri Mahkota yang ditakdirkan mati. Dan ia tidak akan membiarkan nasib itu terulang. Saat para pelayan masuk dengan langkah nyaris tak bersuara, Madeleine membiarkan mereka bekerja. Jemari mereka bergerak cekatan merapikan gaun dan menyisir rambutnya dengan sangat hati-hati. Ada ketegangan yang jelas dari para pelayan itu; mereka bekerja seolah sedang menghindari kesalahan fatal. Emma merasakan kecanggungan yang nyata. Di kehidupannya yang lama, ia adalah pihak yang menunduk dan menerima perintah. Ia terbiasa bekerja kasar untuk bertahan hidup, bukan duduk diam sementara orang lain mengurusi setiap detail tubuhnya. Kini, sa
"Semuanya keluar!" perintah Lucas akhirnya. "Jika tidak, dia akan mulai berteriak dan menuduh siapa pun yang dia inginkan." Suaranya dingin menusuk. "Baik, Yang Mulia," jawab para pelayan serempak sebelum bergegas meninggalkan ruangan. Rocella masih berdiri di sisi pria itu. Ia melirik, berharap mendapatkan pembelaan, namun Lucas bicara bahkan tanpa menoleh ke arahnya. "Kau juga keluar. Tinggalkan aku bersama istriku!" Rocella tersentak, rasa kesal kilat melintas di wajahnya. "Baik, Yang Mulia," sahutnya sambil mengangguk sopan. Namun, sebelum berbalik pergi, Emma sempat menangkap sorot kebencian yang tajam dari matanya. Setelah sang adik pergi, keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan. Lucas melangkah mendekat, matanya menyipit penuh selidik. "Apa yang sedang kau mainkan, Maddie?" Maddie. Nama itu terdengar akrab sekaligus merendahkan di telinga Emma. Ia mengerutkan kening, merasakan debaran tidak nyaman di dadanya. "Lady Madeleine! Kau mendengarku?"
Uhuk! Uhuk! Paru-paru Emma terasa terbakar saat ia memuntahkan sisa air yang menyumbat tenggorokannya. Begitu matanya terbuka, ia tidak menemukan kegelapan gang sempit atau kepungan rentenir yang mengejarnya. Ia justru terbaring di atas ranjang sutra yang terlalu empuk. “Sudah bangun? Sandiwara yang luar biasa, Lady Madeleine.” Suara itu berat dan sedingin es. Emma menoleh ke arah pintu. Di sana, seorang pria berdiri tegap dengan jubah kebesaran khas bangsawan membalut tubuhnya. Wajahnya tampan, seperti pahatan dewa Yunani, namun tatapannya menghujam tajam ke arah Emma. “Kakak, kau selalu seperti ini,” suara ketus lain menyambar. Di samping pria itu, berdiri seorang gadis berambut pirang dengan mahkota kristal yang berkilau—Rocella. “Apa kau harus menceburkan diri ke danau hanya agar ibu menghukumku lagi?” Emma tidak menjawab. Ia justru terpaku menatap kedua tangannya sendiri. Kulit itu justru bersih dan halus, tanpa bekas luka parut akibat kerja kasar bertahun-tahun di







