LOGIN
Buk!
Eleanor tersentak ketika satu set pakaian pelayan berwarna hitam putih dilempar begitu saja ke arah tubuhnya hingga mengenai bahunya. Gadis itu refleks memegang bagain bahu tersebut sebelum perlahan menoleh. Di depannya, kepala pelayan berdiri dengan tangan terlipat di dada. Tatapannya tajam dan penuh tekanan. Ekspresinya sangat dingin hingga membuat Eleanor merasa takut. “Heh, pelayan baru! Tuan Xavier memberi ratusan ribu vareon pada bibimu untuk menjadikanmu pelayan di sini, bukan untuk menjadi tuan putri cengeng! Paham?!” bentak Lily dengan suara keras dan ekspresi tak suka. Eleanor menunduk cepat sembari menyeka basah di pipinya. Belum sempat ia menjawab, Lily kembali membentaknya. “Sudah, sekarang ambil seragammu, ganti, lalu kerjakan tugasmu!” Eleanor mengangguk dengan sedikit menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tidak pecah lagi. Kedua tangan lentiknya kemudian buru-buru memungut pakaian pelayan yang dilemparkan padanya tadi dari lantai. Dengan tubuh yang gemetar, Eleanor mengganti bajunya. Tak lama kemudian, Eleanor sudah berada di luar bangunan tempatnya tadi berada. Angin sore berembus pelan menerbangkan beberapa helai rambut panjang hitam indahnya yang dikuncir ekor kuda. Di tangannya kini terdapat sapu lidi yang akan ia gunakan untuk membersihkan halaman luas tersebut. Eleanor memandang sekelilingnya. Wilayah yang luar biasa luas hingga ia tidak mampu melihat dimana letak tepinya. Yang mampu di jangkau oleh indera penglihatnya sekarang hanya jalan-jalan batu membentang panjang dengan pepohonan besar di kanan kiri. Ada taman bunga yang tertata rapi, air mancur marmer, dan beberapa bangunan besar yang berdiri berjauhan satu sama lain. Tapi yang ingin dilihatnya justru tidak tampak. ‘Dimana letak gerbang itu? Dimana letak jalan keluar lain dari tempat ini?’ tanyanya dalam hati pada dirinya sendiri. Eleanor mendengkus kecewa karena niatnya seolah tidak akan berjalan mulus seperti apa yang diharapkannya. Tangannya memegang kuat gagang sapu karena dadanya tiba-tiba terasa berdebar dan sesak setelah menyadari kenyataan ini. “Kerja yang benar! Yang cepat! Jangan lamban!” Suara Lily membuyarkan lamunannya. Eleanor pun segera menyapu daun-daun kering di sekitarnya dengan gerakan cepat. Diliriknya beberapa pelayan yang sudah lebih dulu menyapu, tampak mempercepat gerakan juga. Eleanor pun jadi tahu kalau Lily ditakuti di tempat ini. Hal lain yang kemudian Eleanor juga ketahui adalah setiap pelayan memiliki jatah wilayah sendiri untuk dibersihkan. Dan ia mendapat jatah hanya di sekitar bangunan tempat para pelayan tinggal. Saat pekerjaannya hampir selesai, tiba-tiba fokus Eleanor jatuh pada bangunan utama yang berdiri megah di tengah wilayah tersebut. Bangunan itu sangat besar dan berkonsep kastil dalam cerita dongeng hanya saja tampak modern. Dindingnya berwarna abu-abu terang dengan jendela-jendela tinggi yang tampak elegan. Menara-menara menjulang berdiri di beberapa sisi bangunan. Meski terlihat indah, entah kenapa bangunan itu memberikan kesan dingin dan sulit didekati. Tatapan Eleanor tidak sengaja menangkap dua wanita cantik yang keluar dari bangunan utama tersebut. Mereka berjalan beriringan menuju mobil mewah yang telah disiapkan di depan pintu masuk. Penampilan mereka sangat mencolok. Gaun-gaun mahal membalut tubuh mereka dengan sempurna. Rambut mereka tertata rapi. Wajah mereka dipenuhi riasan elegan. Beberapa pria berpakaian hitam yang mengantar mereka keluar. Kemudian mereka pergi dengan menggunakan mobil mewah itu. Eleanor mengernyit pelan. ‘Siapa wanita-wanita itu? Apa yang mereka lakukan di bangunan utama?’ Eleanor belum sempat memikirkan jawabannya ketika suara dua pelayan wanita terdengar tidak jauh darinya. “Tuan kita mendatangkan wanita-wanita cantik lagi?” ujar salah satu pelayan sambil menyapu. “Dia tidak ada puasnya ya?” Pelayan lainnya langsung terkekeh kecil. “Pria muda dengan kekayaan luar biasa mana cukup dengan satu wanita?” “Hahahahaha....” Keduanya tertawa pelan. Tapi bagi Eleanor, percakapan singkat itu justru membuat dadanya terasa tidak nyaman. Dari obrolan sederhana itu, ia langsung menarik kesimpulan untuk apa para wanita cantik tadi berada di bangunan utama. Yaitu untuk menjadi hiburan Xavier. Eleanor menunduk sambil terus menyapu pelan. Entah kenapa, bayangan tentang sosok pria bernama Xavier Knight mulai memenuhi pikirannya. Selama ini ia hanya mendengar sedikit tentang pria itu tanpa pernah melihatnya. Xavier Knight dikenal sebagai pria muda berusia tiga puluh lima tahun dengan kekayaan yang luar biasa. Banyak orang mengatakan bahwa kekayaannya bahkan tidak akan habis sampai beberapa generasi. Ia memiliki banyak tanah luas, bisnis di berbagai kota dan negera, dan pengaruh besar yang membuat banyak orang segan padanya. Tapi di balik semua itu, Xavier Knight juga dikenal sangat tertutup. Tidak ada yang benar-benar mengenalnya secara dekat. Orang-orang hanya tahu bahwa pria itu hidup seorang diri di tempat sebesar ini tanpa orang tua maupun saudara. Hanya orang-orang yang bekerja padanya yang menemaninya. Dan sekarang, Eleanor mengetahui satu hal lagi tentang Xavier Knight. Yaitu kebiasaan pria itu dengan para wanita cantik. “Eh, pelayan baru.” Eleanor tersentak ketika seorang pelayan perempuan tiba-tiba berdiri di dekatnya. “Ka-kamu bicara padaku?” Pelayan itu mengangguk sambil melirik Eleanor dari atas ke bawah. “Kamu baru datang hari ini?” “Iya.” “Hm.” Pelayan itu memperhatikan Eleanor dari atas ke bawah sebelum akhirnya berbisik pada temannya dan kembali bekerja. Melihat itu, Eleanor mengernyit bingung. Tapi untuk bertanya, Eleanor tidak berani karena ia belum mengenal mereka. Eleanor mengarahkan tatapannya pada bangunan utama yang menjulang megah di kejauhan itu lagi. Entah mengapa tempat itu terasa jauh lebih menyeramkan dibanding sebelumnya. Padahal matahari masih bersinar terang. Seperti ada sesuatu yang gelap bersembunyi di balik kemewahan bangunan tersebut. *** Sementara itu, di bangunan utama yang berdiri megah bak kastil di tengah wilayah tersebut, suasana terasa jauh berbeda dibanding area para pelayan. Lorong-lorong luas dengan lantai marmer mengilap tampak sunyi dan dingin. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, memantulkan bayangan panjang yang membuat tempat itu terasa semakin hampa. Di salah satu ruangan besar di lantai atas, seorang pria paruh baya berdiri dengan kepala tertunduk dalam. “Untuk yang ke sekian kali, saya minta maaf jika belum juga berhasil menemukan gadis yang tuan cari,” ucapnya penuh penyesalan. Pria itu bernama Henry. Selama puluhan tahun, ia bekerja sebagai asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Xavier Knight. Rambutnya yang mulai memutih dan kerutan tipis di wajahnya menjadi bukti bahwa usianya tidak lagi muda. Namun selama ini, Henry selalu dikenal sebagai orang yang mampu menyelesaikan segala urusan dengan sempurna. Sayangnya, untuk urusan yang satu ini berbeda. Di hadapannya, Xavier Knight duduk di kursi kerja besar berwarna hitam dengan ekspresi dingin yang sulit ditebak. Tatapan tajam pria itu menempel lurus pada Henry tanpa berkedip sedikit pun. Ruangan kerja itu sangat luas dan bernuansa maskulin. Rak-rak buku besar memenuhi salah satu sisi dinding. Meja kerja hitam mengilap berdiri kokoh di tengah ruangan. Sementara jendela kaca besar memperlihatkan pemandangan langit biru di luar sana. Tapi semewah apa pun tempat itu, suasananya tetap terasa menyesakkan. Terutama saat Xavier sedang diam seperti sekarang. “Selalu maaf yang kamu katakan, Pak,” ucap Xavier akhirnya dengan suara rendah dan berat. “Padahal aku tidak membutuhkannya.” Henry menundukkan kepalanya lebih dalam. “Yang aku butuhkan adalah gadis itu,” lanjut Xavier. Bersambung.Di sebuah rumah yang luas, sepasang suami istri dan putrinya sedang bercengkrama di ruang keluarga. Televisi di hadapan mereka menyala. Tapi mereka tidak memperdulikan apa yang ditayangkan oleh televisi. Mereka malah asyik bercengkrama.Malam telah turun sepenuhnya. Di luar rumah, angin malam berembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang menari di bawah cahaya lampu taman. Langit tampak gelap, seolah sedang menyembunyikan sesuatu di balik lipatan-lipatan awan yang muram.Namun suasana muram itu tidak sedikit pun menyentuh isi rumah mewah tersebut. Tawa memenuhi ruang keluarga. Tawa yang hangat. Tawa yang seharusnya menjadi lambang kebahagiaan. Tetapi malam itu, tawa mereka terdengar seperti pisau yang menggores luka seseorang yang bahkan tidak berada di sana untuk membela dirinya sendiri.Ruby duduk dengan santai di sofa empuk sambil menikmati secangkir teh hangat. Di sampingnya ada Hendrik, suaminya, sementara Stella, putri mereka, tampak begitu ceria.Mereka terlihat seperti keluarga
Xavier menatap Dokter Nico yang sedang memeriksa Eleanor yang belum sadarkan diri dengan perasaan khawatir. Tapi kemudian dia memutuskan keluar kamar dan menemui Henry yang berdiri di depan pintu kamar. Xavier lalu berkata pada Henry,"Aku ingin bicara denganmu."Nada suaranya terdengar rendah. Datar. Namun justru karena itulah, Henry merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada teriakan. Ia telah mengabdi kepada keluarga Knight selama puluhan tahun. Ia mengenal setiap perubahan raut wajah dan nada bicara tuan mudanya itu.Dan saat ini, ia tahu Xavier sedang menahan amarah. Amarah yang begitu besar hingga tidak lagi perlu diluapkan dengan bentakan.Tanpa menunggu jawaban, Xavier berbalik dan melangkah menuju kamarnya. Langkahnya mantap. Cepat. Penuh tekanan yang seolah ikut mengguncang keheningan rumah besar itu.Henry mengikuti dengan perasaan cemas karena melihat dari wajah Xavier sepertinya pria itu marah padanya. Dadanya dipenuhi berbagai dugaan. Apakah Xavier menyalahkan
Eleanor menelan ludah. Dadanya naik turun. Jantungnya berdegup kencang karena kelelahan sehabis berlari sangat kencang dan cukup jauh. Selain itu, suara Xavier barusan terdengar sangat menakutkan. Membuat kepalanya merasa pusing.Udara di lorong buntu itu terasa begitu sesak.Keheningan yang tercipta justru lebih mengerikan daripada suara langkah kaki yang sejak tadi mengejarnya. Eleanor mencoba menarik napas panjang, tetapi udara yang masuk ke paru-parunya terasa begitu sedikit. Dadanya seperti diikat oleh tali yang semakin lama semakin mengencang.Peluh dingin mengalir di pelipisnya.Kedua kakinya masih gemetar hebat.Tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menopang seluruh beban rasa takut yang sejak tadi memenuhi setiap inci dirinya.Ia memejamkan mata sesaat, berharap ketika membukanya nanti semua ini akan lenyap seperti mimpi yang berakhir menjelang fajar.Namun harapan itu kembali hancur. Suara napas Xavier masih terdengar jelas. Semakin dekat. Semakin nyata. Dan semakin membuat selu
Eleanor berlari sekuat tenaganya melewati koridor panjang. Larinya semakin kencang ketika dia mendengar teriakan Xavier."Kamu! Berhenti aku bilang! Percuma kamu berlari menjauhiku! Karena kali ini sudah pasti aku bisa menangkapmu!"Suara itu bergema di sepanjang lorong rumah keluarga Knight yang begitu luas. Dinding-dinding tinggi seolah memantulkan setiap kata yang keluar dari bibir Xavier hingga terdengar berkali-kali lipat lebih keras. Bagi Eleanor, suara itu bukan sekadar teriakan. Suara itu menjelma menjadi ancaman yang menggetarkan seluruh sendi tubuhnya.Air mata terus mengalir tanpa mampu ia bendung. Napasnya memburu. Dadanya naik turun dengan begitu cepat hingga terasa menyakitkan. Setiap helaan udara yang masuk ke dalam paru-parunya seolah berubah menjadi bara api yang membakar dari dalam.Namun ia tidak berani berhenti. Tidak sedetik pun. Karena nalurinya terus berteriak agar ia tetap berlari. Secepat mungkin. Sejauh mungkin. Menjauh dari pria yang selama ini selalu hadir
Kata "kamu" yang terucap dari bibir Xavier membuat Eleanor tahu kalau Xavier mengenalnya. Itu berarti, mimpi-mimpi bersama Xavier bukan sekadar mimpi biasa. Itu mimpi yang memang untuk mempertemukan mereka. Tapi reaksi Xavier di dalam mimpi yang terlihat punya niat jahat padanya membuatnya yakin kalau Xavier memang berniat jahat padanya. Itu sebabnya dia harus menjauhi Xavier.Seluruh tubuh Eleanor seketika membeku.Wajahnya kehilangan warna. Darah yang mengalir di dalam tubuhnya seolah membeku menjadi bongkahan-bongkahan es yang menusuk setiap urat nadi. Napasnya tercekat di tenggorokan, sementara jantungnya kembali menghantam dadanya dengan kekuatan yang hampir membuatnya kesulitan berdiri.Tidak...Jadi selama ini benar.Semua mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Bukan pula khayalan yang lahir dari pikirannya yang lelah.Mimpi-mimpi yang selalu mempertemukannya dengan pria di hadapannya ternyata adalah kenyataan yang belum sempat terjadi. Takdir telah memperlihatkan perjumpaan mere
Jantung Eleanor berdetak semakin cepat begitu melihat Xavier yang tampak belakang. Rasanya dia ingin berbalik badan. tapi tidak jadi mengingat ada henry di balik pintu masuk yang akan mencegahnya berlari. Kini, harapan satu-satunya xavier knight tidak menoleh ke belakang dan melihatnya sampai ia selesai menaruh susu dan makanan kecil ke atas meja yang di belakangi xavier.Rasa takut menjelma menjadi kabut pekat yang menyelimuti seluruh kesadarannya. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan-tangan tak kasatmata yang mencengkeram jantungnya tanpa belas kasihan. Napasnya memburu, namun ia berusaha menahannya agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Bahkan desir napasnya sendiri terdengar begitu memekakkan telinga.Tatapannya tidak pernah lepas dari punggung pria itu. Punggung yang tegap. Punggung yang selama ini hanya ia lihat dari mimpi-mimpinya. Punggung yang begitu ditakutinya.Andai saja ia memiliki pilihan. Andai saja ia diperbolehkan menolak perintah untuk mengantarkan makanan







