Home / Thriller / Langkah Dewi : Warisan Rahasia / BAB 122 — Wilayah Sunyi

Share

BAB 122 — Wilayah Sunyi

Author: T.Y.LOVIRA
last update Last Updated: 2026-01-02 21:47:10

“Tempat yang mereka sebut mati, sering kali adalah tempat kebenaran bertahan hidup.”

Bayangan itu tidak bergerak ketika truk berhenti. Ia berdiri di seberang sungai dengan jaket lusuh, wajahnya separuh tertutup cahaya fajar yang pucat. Air mengalir pelan di bawah jembatan sempit, memantulkan langit abu-abu seperti kaca retak.

Dewi turun pertama. Tanah basah menempel di sepatunya. Ia mengenali postur itu sebelum wajahnya jelas—cara berdiri yang tidak pernah menantang, tapi juga tidak pernah tunduk.

“Sudah lama,” kata sosok itu.

“Tidak selama yang seharusnya,” jawab Dewi.

Pria itu melangkah maju. Wajahnya muncul utuh—garis-garis usia yang tidak tercatat, mata yang menyimpan peta lebih lengkap daripada layar manapun. Rizal Rahman. Ayahnya. Tidak ada pelukan. Hanya jeda singkat yang sarat.

“Mereka menyebut namaku,” kata Rizal. “Berarti waktumu sempit.”

“Dan waktumu lebih sempit,” sahut Dewi.

Rin dan warga menutup perimeter dengan gerak senyap. Tidak ada senjata terbuka, hanya mata yang wa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   Bab 127 — Serangan Tanpa Peluru

    “Mereka tak datang membawa senjata. Mereka datang membawa pasal.”Pagi itu, matahari terbit tanpa dramatis. Justru itulah yang membuat Dewi curiga.Di layar utama, berita mengalir rapi—terlalu rapi. Tak ada kecaman frontal, tak ada makian. Yang muncul adalah opini “netral”, kajian hukum, dan diskusi akademik yang tiba-tiba serempak membahas satu hal: legalitas Protokol Cahaya.“Mereka masuk lewat hukum,” kata Arga, menyesap kopi yang sudah dingin. “Judicial review, gugatan administratif, audit kepatuhan. Semua jalur dibuka bersamaan.”Dewi mengangguk. “Serangan tanpa peluru selalu yang paling mematikan.”Di ruang rapat, peta kekuatan diperbarui. Negara kecil yang semalam menyatakan dukungan kini disorot merah—tekanan ekonomi mulai dijatuhkan. Jalur dagang diperlambat. Asuransi dinaikkan. Kredit ditahan.“Mereka ingin memberi contoh,” ujar Laila, analis kebijakan. “Siapa pun yang berdiri di belakangmu akan ‘dipersulit’.”Dewi berdiri, menatap layar. “Dan siapa yang memimpin orkestranya

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   Bab 126 — Protokol Cahaya

    “Transparansi adalah pisau bermata dua: ia bisa menyelamatkan, atau memotong sampai ke tulang.”Lampu-lampu server menyala serempak, hijau—lalu biru. Angka-angka bergerak seperti arus laut yang tak bisa dibendung. Dewi berdiri di depan panel kaca, bayangannya terbelah oleh pantulan layar, seolah ada dua dirinya: satu yang memikul idealisme, satu lagi yang siap menanggung akibat.“Penguncian dibuka,” kata Arga. “Repositori publik aktif. Log transaksi, perizinan, alur pembiayaan—semuanya.”“Termasuk yang sensitif?” tanya Dewi tanpa menoleh.“Termasuk,” jawab Arga. “Nama, waktu, jalur. Tidak ada sensor.”Di ruang kendali, seseorang menarik napas panjang. Mereka tahu, setelah ini tak ada jalan pulang. Protokol Cahaya bukan sekadar rilis data—ia adalah pengakuan bahwa negara ini berani berdiri di bawah sorot lampu, tanpa bayangan.Di luar, dunia bergerak cepat. Editor menekan tombol terbit. Analis menyalakan grafik. Para pelobi berhenti tersenyum.Ponsel Dewi bergetar. Pesan masuk, terenkr

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   Bab 125 — Retakan di Dalam Barisan

    “Pengkhianatan jarang datang dari musuh. Ia lahir dari orang yang pernah duduk semeja dan tersenyum paling lama.”Ruang rapat itu sunyi, terlalu sunyi untuk keputusan sebesar ini. Lampu LED memantul di meja kaca, memecah wajah-wajah yang biasanya lantang menjadi bayangan kaku. Dewi berdiri di ujung meja, kedua tangannya bertumpu ringan, seolah beban dunia tak cukup berat untuk membungkukkannya.“Negara itu menarik diri,” kata Arga, analis kepercayaannya. “Alasannya klasik: stabilitas nasional dan tekanan mitra strategis.”“Tekanan siapa?” tanya Dewi, datar.Tak ada yang langsung menjawab. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar seperti napas tertahan.Dewi menoleh ke layar. Peta kawasan menyala, satu titik berubah abu-abu. Kecil, tapi efeknya menjalar—seperti retakan halus di kaca yang terlihat sepele, sampai tiba-tiba seluruh permukaan runtuh.“Ini bukan soal satu negara,” lanjut Dewi. “Ini sinyal.”Seseorang di ujung meja menggeser kursi. “Jika mereka mundur, rantai kepercayaan

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   BAB 124-Standar, Kuasa, dan Ketakutan yang Tidak Pernah Diucapkan

    Lampu-lampu gedung itu menyala dingin, putih, tanpa jendela.Bukan karena ingin terlihat modern—melainkan agar siapa pun di dalamnya lupa waktu.Dewi duduk di ujung meja kaca panjang. Di seberangnya, layar besar menampilkan peta dunia. Bukan peta politik. Bukan peta militer.Peta alur uang.“Perhatikan baik-baik,” katanya, suaranya tenang namun menekan.“Perang modern tidak lagi dimulai dengan tembakan.”Ia menyentuh layar. Garis-garis cahaya muncul—mengalir dari negara berkembang menuju pusat-pusat lama dunia.“Inilah kolonialisme versi baru,” lanjutnya. “Bukan penjajahan wilayah. Tapi penjajahan standar.”Salah satu hadirin mengernyit.“Standar… pembayaran?”“Bukan cuma pembayaran,” Dewi mengoreksi. “Bahasa teknologi. Protokol. Aturan main. Siapa yang menentukan standar—dialah yang mengatur aliran nilai.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan,“Dan selama ini, bukan kita.”Di ruangan itu, semua paham. Negara boleh merdeka secara bendera, tapi selama sistemnya mengikuti desain

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   BAB 123 — Api yang Menyala Bersama

    “Mereka datang dengan helikopter. Kami menjawab dengan persatuan.”Deru baling-baling memecah udara, tapi tak lagi menakutkan. Di kampung itu—yang tak tercatat di peta, yang disebut wilayah mati—orang-orang berdiri tegak. Bukan sebagai tameng. Sebagai saksi. Lampu-lampu rumah menyala bergantian, seperti denyut nadi yang menemukan ritmenya kembali.Dewi melangkah ke tengah lapangan kecil. Tanah basah menahan sepatunya, namun ia tak goyah. Di atas, helikopter berputar ragu, sorot lampunya menyapu—dan berhenti. Bukan pada Dewi. Pada rakyat.Rizal berdiri di sampingnya, wajahnya tenang. “Mereka tak menyangka ini,” katanya pelan.“Karena mereka menghitung angka,” jawab Dewi. “Bukan manusia.”Siaran nasional kembali hidup—namun kali ini retak. Di layar-layar publik, tayangan terbelah dua. Di satu sisi, kurator kebijakan mengulang frasa keamanan. Di sisi lain, kanal alternatif menampilkan hal sederhana: mata air yang kembali mengalir, warga menanam kembali bantaran sungai, data izin yang run

  • Langkah Dewi : Warisan Rahasia   BAB 122 — Wilayah Sunyi

    “Tempat yang mereka sebut mati, sering kali adalah tempat kebenaran bertahan hidup.”Bayangan itu tidak bergerak ketika truk berhenti. Ia berdiri di seberang sungai dengan jaket lusuh, wajahnya separuh tertutup cahaya fajar yang pucat. Air mengalir pelan di bawah jembatan sempit, memantulkan langit abu-abu seperti kaca retak.Dewi turun pertama. Tanah basah menempel di sepatunya. Ia mengenali postur itu sebelum wajahnya jelas—cara berdiri yang tidak pernah menantang, tapi juga tidak pernah tunduk.“Sudah lama,” kata sosok itu.“Tidak selama yang seharusnya,” jawab Dewi.Pria itu melangkah maju. Wajahnya muncul utuh—garis-garis usia yang tidak tercatat, mata yang menyimpan peta lebih lengkap daripada layar manapun. Rizal Rahman. Ayahnya. Tidak ada pelukan. Hanya jeda singkat yang sarat.“Mereka menyebut namaku,” kata Rizal. “Berarti waktumu sempit.”“Dan waktumu lebih sempit,” sahut Dewi.Rin dan warga menutup perimeter dengan gerak senyap. Tidak ada senjata terbuka, hanya mata yang wa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status