Masuk"Kau terlalu percaya diri untuk menghadapiku seorang diri, bocah." Setelah berkata seperti itu, Du Zhuan menghilang dari tempatnya berdiri dan muncul di hadapan Ye Tian seraya melayangkan serangan. Duar! Ye Tian terpental sejauh puluhan langkah terkena tinju Du Zhuan di dadanya. Tubuhnya menghantam lantai batu altar, menghancurkan lapisan batu hingga membentuk cekungan dalam. Debu dan pecahan batu menyembur ke udara. Darah segar merembes dari sudut bibirnya. Jiang Ruolan tersentak. "Tian’er…!" Du Zhuan berdiri tegak di udara, napasnya sedikit memburu. Tatapannya tajam, penuh kepuasan dingin. "Hmph. Jadi kau juga bisa terluka," ujarnya sinis. "Itu hanya baru permulaan, bocah." Tanpa memberi waktu— Du Zhuan menghilang. Wush... Ia muncul tepat di depan Ye Tian, telapak tangannya sudah diselimuti kabut hitam pekat yang berputar seperti pusaran neraka. "Telapak Penghancur Jiwa!" Duar! Telapak itu menghantam dada Ye Tian. Krak! Suara tulang retak terdengar je
Duar! Ledakan yang sangat keras terdengar ketika dua aura saling berbenturan antar Ye Tian dan Heylong. Kemudian simbol-simbol kuno yang berada di mengelilingi tubuh Ye Tian bergerak mengurung naga hitam. "Mu-mustahil... bagaimana mungkin dia bisa memeliki kekuatan seperti itu..." Hey Long tidak bisa menggerakan anggota tubuhnya. Simbol-simbol kuno itu terus menekan tubuhnya. Ledakan itu membuat altar batu retak-retak. Pecahan batu beterbangan, namun langsung hancur menjadi debu sebelum sempat menyentuh tanah. Aura Heylong yang semula mengamuk tiba-tiba terhenti, seolah ditekan oleh sesuatu yang jauh lebih tinggi tingkatannya. Simbol-simbol kuno itu berputar semakin cepat, membentuk lingkaran segel yang saling bertaut, mengunci tubuh naga hitam dari segala arah. Heylong menggeram keras, berusaha mengerahkan seluruh kekuatannya. Sisik hitam di tubuhnya berkilau, namun tak satu pun rantai simbol itu retak. "Aaargh—!" raungnya tertahan. "Tubuhku… ditekan sepenuhnya olehnya,
Langkah mereka terhenti hampir bersamaan. Ming Liu, Yinshen, dan Bao Liang menatap ke depan dengan sorot mata yang berubah tajam. Di hadapan mereka, seekor naga hitam raksasa terbelenggu oleh rantai kuno. Rantai itu melilit leher, tubuh, hingga keempat kakinya, menahan sosoknya di atas sebuah altar batu yang sangat luas. Naga hitam itu perlahan membuka mata ketika merasakan aura Ming Liu, Yinshen, Bao Liang, Ye Tian, beserta rombongannya. Cahaya dingin berkilat di pupil matanya. "Tch…," dengusnya rendah. "Aku tak menyangka kalian bertiga tunduk pada manusia." Tatapan naga hitam itu menyapu satu per satu wajah mereka sebelum berhenti pada Ye Tian. "Kalian tidak lebih seperti budak yang mau di perintah oleh manusia..." lanjutnya dengan nada meremehkan. "Yinshen, Bao Liang, Ming Liu—kalian benar-benar mengecewakanku." Tatapan naga hitam itu masih tertuju pada Ye Tian, penuh penilaian dan ejekan yang tertahan. Ye Tian tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya berdiri
Rombongan Ye Tian bergerak meninggalkan kawasan danau tanpa menoleh kembali. Hutan kembali menyelimuti mereka. Pepohonan kuno menjulang tinggi, akar-akar besar mencuat dari tanah seperti urat naga, dan kabut tipis menggantung rendah di antara batang pohon. Aura dunia kuno di tempat ini terasa semakin pekat, seolah setiap langkah membawa mereka lebih dalam ke wilayah yang belum tersentuh. Jiang Ruolan berjalan di sisi Ye Tian. "Dunia ini… jelas bukan reruntuhan biasa," ucapnya pelan. "Semakin jauh kita masuk, tekanan gravitasinya makin kuat." Ye Tian mengangguk tipis. "Ini bukan dunia yang diciptakan untuk kultivator lemah." Di belakang mereka, Ming Liu, Yinshen, dan Bao Liang berjalan dalam wujud manusia. Tidak ada lagi jejak keganasan—yang tersisa hanyalah kepatuhan mutlak. Yinshen melirik sekeliling. "Ada pergerakan aura di depan. Tidak kuat, tapi jumlahnya banyak." Bao Liang menyeringai tipis. "Seperti… pemburu tingkat rendah. Mereka menunggu mangsa." Shen Long tersen
Tekanan ruang di sekitar danau terus meningkat. Udara bergetar halus, seolah tak mampu lagi menahan keberadaan dua kekuatan besar yang saling berhadapan. Ular hitam raksasa itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Sisik hitam kebiruannya berderak, retakan kecil yang tadi muncul perlahan tertutup kembali oleh energi kuno yang mengalir deras di sepanjang tubuhnya. Aura buasnya melonjak satu tingkat, lebih pekat, lebih menekan. "Hmph… sudah ratusan tahun aku menjaga tempat ini," desisnya berat. "Bahkan banyak kultivator tingkat tinggi pun mati di hadapanku. Kau pikir tekanan ruang bisa menghentikanku?" Ia membuka mulutnya lebar-lebar. Energi hitam pekat berkumpul di dalam tenggorokannya, berputar liar seperti pusaran jurang. Shen Long mengangkat alis. "Serangan jiwa bercampur energi kuno." Jiang Ruolan berteriak, "Tian’er, hati-hati!" Namun Ye Tian tidak mundur setapak pun. Tatapannya tenang, Ia mengangkat satu tangan. "Berisik." Satu kata itu jatuh bersamaan dengan— B
Ye Tian menatap sekilas ke arah danau yang membeku setengah. Permukaannya tenang, terlalu tenang—namun di balik lapisan es tipis itu, gelombang aura dingin terus berputar tanpa henti. Tatapannya lalu beralih pada Jiang Ruolan. Ia merasakan energi qi pada Kakak perempuannya itu kacau, namun jejak pertempuran jelas terlihat dari napas yang belum sepenuhnya teratur dan lengan bajunya yang robek di beberapa bagian. "Kakak dan para Saudara dan Saudari segera memulihkan diri terlebih dahulu. Jangan terlalu memaksakan diri, karena itu sangat berisiko. Bisa-bisa nyawa kalian melayang sebelum mendapatkan bunga teratai lima warna itu," ucap Ye Tian tenang. "Ular hitam itu bukan sekadar penjaga biasa." Jiang Ruolan tersenyum tipis, sedikit pahit. "Kamu benar, meski kami mencoba mengurungnya dengan segel formasi es, dia mampu mengancurkan formasi itu. Aku tadi sempat melawannya, tapi aku kesulitan menembus pertahanan







