Home / Fantasi / Legenda Dewa Pedang / Iblis Wanita Racun Merah

Share

Iblis Wanita Racun Merah

Author: Zhu Phi
last update Last Updated: 2025-12-02 12:58:48

Kabut hijau itu bergulung seperti makhluk hidup ketika Qing Jian melangkah mendekatinya. Baunya sangat menusuk hidung—tajam, masam, dan hangus—seakan campuran jamur busuk dan logam panas. Tanah di bawah sepatunya sudah tidak terlihat, tertelan lapisan asap tebal yang merayap rendah.

Qing Jian mengatur napas, lalu mendorong Qi naga di tubuhnya. Energi kuning keemasan berdenyut, mengalir seperti gelombang panas dari pusat dadanya hingga ke seluruh kulit. Dalam sekejap, lapisan tipis pelindung terbentuk mengitari tubuhnya.

Begitu kabut racun menyentuh kulitnya—

HSSSS—

Asap itu langsung menguap, terpecah oleh aura naga purba yang melindunginya.

Qing Jian mengangkat alis, sedikit terkejut pada efektivitasnya.

“Ternyata darah naga purba benar-benar menetralkan racun terkuat sekalipun…” bisiknya. Suaranya tenggelam dalam riak kabut yang terus bergerak.

Ia melangkah masuk lebih jauh dengan percaya diri. Setiap langkah membawa perubahan suasana—rumput yang mulanya hijau berubah menjadi ungu gelap, lalu hitam pekat. Udara menjadi lebih dingin, seperti masuk ke rongga mulut monster yang siap menelan apa pun. Angin berdesir, membawa bisikan samar yang terdengar seperti rintihan manusia… atau mungkin hanya imajinasinya.

Tiba-tiba—

SRETT!!!

Sebuah bayangan merah melintas dengan kecepatan luar biasa, memotong kabut seperti pisau.

Qing Jian menghentikan langkah. Tubuhnya otomatis menegang, napas diperlambat, tangan kanan bersiap menarik pedang yang tersembunyi.

Kabut di depannya bergeser.

Dari balik kehijauan pekat itu, seorang wanita muncul perlahan. Langkahnya begitu ringan seolah ia mengapung. Rambutnya—panjang, gelombang, dan berwarna hijau zamrud—melayang lembut mengikuti gerakan tubuhnya.

Jubah merahnya berkibar seperti kobaran api sayap feniks, memantulkan kilap halus dari embun racun yang menempel pada kainnya. Di tangan kanannya, sebuah cambuk tipis melingkar seperti ular hidup. Ujung cambuk itu meneteskan cairan hijau menyala, menetes ke tanah dan menghasilkan suara cesss kecil, menggerogoti tanah seperti asam murni.

Wajah wanita itu sangat cantik dan eksotik.

Kecantikan yang mematikan bila disentuh.

Kulitnya pucat sempurna, seperti porselen dingin tanpa retakan. Tubuhnya mempesona dengan lekuk-lekuk tubuh yang terlihat jelas. Mata hijaunya menatap lurus ke arah Qing Jian—dingin, jernih, tanpa seberkas emosi. Seolah ia sedang menatap makhluk yang sudah mati.

Qing Jian tahu tanpa keraguan.

Inilah dia yang ia cari...

Wanita Racun.

Yi Xue.

Ang Tok Mo Kui.

Iblis Wanita Racun Merah.

Wanita pertama yang harus ia taklukkan agar bisa menerima ajaran Ilmu Pedang Semesta dari Raja Pedang Abadi.

Yi Xue tidak langsung berbicara. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit, meneliti Qing Jian dari atas ke bawah seakan menilai kualitas sebuah barang.

“Siapa kau?”

Suaranya lembut. Terlalu lembut didengar oleh Qing Jian. Namun hawa membunuh menempel di setiap kata yang keluar dari bibirnya.

Qing Jian menunduk sedikit, sopan tapi tidak tunduk.

“Seorang pengembara,” jawabnya pelan, santai tanpa rasa khawatir.

Yi Xue tersenyum. Senyum tipis—indah dan tajam. Senyum yang lebih berbahaya dari cambuk di tangannya.

“Pembohong.”

Cambuknya bergetar sekali.

BRAKK—!

Tanah tepat di samping kaki Qing Jian langsung meleleh seperti lilin tersiram api. Bau daging terbakar memenuhi udara.

Yi Xue mencondongkan tubuh sedikit.

“Setiap laki-laki yang masuk wilayahku hanya punya dua alasan,” katanya, suaranya berubah dingin.

“Mati… atau mati perlahan.”

Qing Jian tetap tidak bergerak. Tidak ada getaran ketakutan di wajahnya.

“Kalau begitu,” ujarnya sambil mengangkat kepala, menatapnya langsung, “biarkan aku menunjukkan alasan ketiga.”

Yi Xue memicingkan mata. Hawa membunuh beliau meningkat, seperti tekanan air yang siap meledak.

“Alasan… yang tidak pernah ada sebelumnya?” tanyanya pelan tapi penasaran.

Qing Jian menegakkan tubuhnya. Aura Qi-nya melesat, tajam seperti bilah pedang yang baru ditempa.

Hawa naga purba menyala tipis di balik kulitnya, menggetarkan kabut racun di sekelilingnya.

“Aku datang…”

Ia mengucapkan kata-kata itu dengan tenang, datar, tapi tegas.

“…untuk menaklukkanmu.”

Kabut racun seperti bergejolak, berputar mengikuti aura mereka berdua. Udara menegang dengan cepatnya.

Yi Xue menatapnya tanpa berkedip selama tiga hitungan panjang. Lalu—senyum itu muncul lagi, kali ini lebih lebar.

“Menarik,” bisiknya.

“Baiklah. Mari kita lihat apakah kau masih bisa hidup… setelah ini.”

Hanya dalam sekejap—

SWISSSSH!!

Cambuk racunnya melesat seperti kilat, membelah kabut dan udara dalam satu gerakan. Ujungnya meninggalkan garis hijau mematikan yang berpendar seperti racun hidup, mengarah langsung ke leher Qing Jian dengan niat membunuh tanpa ampun.

Zhu Phi

Selamat datang di karya baru Author ini. "Legenda Dewa Pedang" yang bersetting pada zaman Kerajaan Song Selatan. Semoga suka dengan Fantasi Timur ini. Bab Utama : 1/6. Bab pertama hari ini...

| 36
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mantap Thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Legenda Dewa Pedang    Ancaman Rong Hai

    Beberapa tarikan napas berlalu.Tidak ada lagi ledakan. Tidak ada lagi benturan pedang yang memekakkan telinga.Namun gema pertarungan barusan masih tertinggal—bukan di udara, melainkan di dalam tulang. Getarannya halus, seperti sisa gempa yang belum sepenuhnya reda.Debu yang sebelumnya menelan langit kini mulai turun perlahan.Butiran halus melayang malas di udara, berkilau diterpa cahaya merah keemasan yang tersisa dari langit retak di atas lembah. Retakan itu membentang panjang seperti luka pada cakrawala, memancarkan cahaya samar yang membuat dunia tampak asing… seolah realitas baru saja dipaksa bertahan hidup.Di pusat kehancuran—sebuah kawah raksasa terbentang.Tanahnya meleleh, batuan menghitam, dan retakan bercabang menyebar ke segala arah seperti bekas hantaman bintang jatuh.Dan di tengah kawah itu…Rong Hai berlutut.Tubuhnya condong ke depan, napasnya berat dan tidak teratur. Jubah hitamnya telah hancur—kainnya robek, hangus, sebagian bahkan berubah menjadi abu yang tertiu

  • Legenda Dewa Pedang    Pedang Matahari Pencipta Langit

    Shu Jin mengangkat pedangnya.Gerakannya tenang.Tanpa tergesa-gesa.Setiap inci bilah yang terangkat membuat matahari mini itu berdetak semakin keras.Suara Shu Jin terdengar.Tidak keras.Tidak menggema liar.Namun, ketika ia berbicara, ruang di sekitarnya seolah mendengarkan.“Ilmu Pedang Abadi Semesta…”Kata-katanya jatuh seperti hukum langit yang ditetapkan sejak awal penciptaan.Energi lima elemen bergetar.Api menyala lebih terang.Petir mengaum, menyambar dari langit ke bilah pedang.Angin berputar semakin cepat, membentuk pusaran transparan yang memotong debu di udara menjadi serpihan halus.Es membeku hingga tanah berderak keras.Racun merayap, menyusup, melingkupi cahaya tanpa memadamkannya.Semua menyatu.Tidak lagi lima.Tidak lagi terpisah.Melainkan satu kehendak.Satu tujuan.“Pedang Matahari Pencipta Langit!”Dan Shu Jin mengayunkan pedangnya ke bawah.Satu tebasan.Namun saat bilah itu bergerak... dunia meledak dalam cahaya.Matahari mini di ujung pedang meledak ke de

  • Legenda Dewa Pedang    Jurus Pedang Terhebat

    Waktu seakan berhenti berputar.Awan yang terbelah antara terang dan gelap membeku di tempatnya. Angin yang sebelumnya mengamuk kini lenyap tanpa jejak. Debu yang beterbangan menggantung di udara—tak jatuh, tak bergerak—seakan takut menyentuh medan kekuatan yang sedang mengental di tengah markas Sekte Pedang Dewa.Di antara reruntuhan aula dan tanah yang terbelah panjang, Shu Jin dan Rong Hai berdiri saling berhadapan.Jarak mereka hanya beberapa puluh langkah.Namun ruang di antara keduanya terasa seperti jurang tak terlihat, seperti dua dunia yang dipaksa saling menekan hingga retak.Aura mereka saling bertubrukan, menciptakan riak halus di udara. Batu-batu kecil di tanah bergetar, lalu hancur menjadi serpihan halus sebelum sempat menggelinding.Di sisi Rong Hai—kegelapan berkumpul.Bukan sekadar bayangan yang mengikuti cahaya.Bukan sekadar qi hitam yang berputar liar.Ia adalah kehampaan.Sesuatu yang tidak memiliki suhu, tidak memiliki bentuk, tidak memiliki batas... namun menelan

  • Legenda Dewa Pedang    Pertarungan Antar Dewa

    Shu Jin tetap berdiri.Tubuhnya sedikit condong ke depan, jubahnya robek di beberapa bagian, rambutnya terhempas angin energi yang masih bergolak. Dari sudut bibirnya, darah merah gelap menetes perlahan, jatuh ke tanah yang sudah retak dan hangus.Namun, kakinya tidak bergeser setengah inci pun.Tatapannya lurus.Tak goyah.Ia mengangkat tangan dan menyeka darah itu dengan ibu jarinya. Tidak ada amarah di wajahnya. Tidak ada kepanikan.Hanya keteguhan yang mengeras seperti baja ditempa ribuan kali.Perlahan...Ia menutup mata.Di tengah gemuruh aura yang saling menekan, napasnya justru menjadi tenang. Dalam dan teratur. Seolah dunia di sekitarnya bukan medan perang, melainkan ruang meditasi sunyi.Pedang di tangannya bergerak perlahan.Bukan untuk menyerang.Bukan untuk menangkis.Namun, seperti menggambar sesuatu di udara.Kabut tipis mulai merembes dari bilahnya.Awalnya hanya helai samar, seperti embusan napas di pagi hari. Namun, dalam hitungan detik, ia menebal, berputar, dan meny

  • Legenda Dewa Pedang    Dewa Abadi Melawan Kegelapan Abadi

    Senyum tipis terukir di wajah Rong Hai.Dingin dan tipis, namun penuh keyakinan seorang pemburu yang akhirnya menemukan mangsa yang layak.“Kau berkembang jauh lebih cepat dari yang kuduga.”Suaranya tidak keras, tetapi setiap kata seperti jatuh langsung ke dasar jiwa.Angin di markas Sekte Pedang Dewa berhenti berembus.Debu yang masih melayang di udara tiba-tiba terasa berat.Rong Hai perlahan mengangkat Pedang Kegelapan Abadi tinggi ke atas kepalanya.Begitu bilah itu terangkat, langit di atas mereka berubah.Bayangan dari segala arah tersedot ke satu titik.Awan kelabu menghitam.Cahaya yang tersisa memudar.Dalam beberapa detik saja, bayangan itu berkumpul dan membentuk lingkaran raksasa di langit—sebuah cincin kegelapan yang berputar perlahan seperti gerbang menuju jurang tanpa dasar.Udara berubah dingin.Namun, bukan dingin biasa.Melainkan dingin yang terasa langsung di tulang.“Jurang Pemakan Jiwa.”Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Rong Hai...Langit bergerak.Dari ling

  • Legenda Dewa Pedang    Ilmu Pedang Kegelapan Abadi

    Langit di atas kompleks Sekte Pedang Dewa terbelah menjadi dua dunia.Separuhnya tenggelam dalam kegelapan pekat—hitam yang begitu dalam hingga tampak seperti jurang tanpa dasar yang menelan cahaya.Separuh lainnya memancarkan merah keemasan, berkilau seperti matahari yang baru lahir dari rahim langit.Dua warna itu tidak menyatu.Mereka saling menolak.Seperti dua jalan dao yang tidak mungkin berjalan berdampingan.Di tengah kehancuran lembah—tanah retak, bangunan sekte runtuh, dan udara masih dipenuhi bau logam panas… dua sosok berdiri saling berhadapan.Shu Jin.Rong Hai.Angin berhenti seketika.Debu yang melayang di udara seperti tertahan oleh kehendak tak kasat mata.Bahkan suara dunia terasa ditarik menjauh.Tidak ada gemuruh.Tidak ada desis api.Hanya ada dua pedang.Dua kehendak.Dua eksistensi yang tidak lagi bisa hidup dalam dunia yang sama.Di kejauhan, Shin Ling menyipitkan mata.“Kenapa aku merasa kalau mereka berdua terus begini… langit bakal minta pindah alamat?”Lian

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status