เข้าสู่ระบบBab Utama : 3/3 selesai. Bab terakhir malam ini... selamat beristirahat.
Angin gurun mengaum liar, seperti ratusan serigala kelaparan yang saling berebut mangsa di bawah langit malam. Pasir beterbangan, memukul wajah dan mata, membentuk dinding-dinding debu yang bergulung tanpa henti. Di batas cakrawala, badai pasir berdiri seperti raksasa yang tak pernah tidur, mengawasi setiap langkah makhluk hidup yang berani melintas.Qing Jian berlari.Tubuhnya melesat menembus gurun seakan dilahirkan ulang. Setiap pijakan terasa ringan, hampir tak menyentuh tanah. Energi Ranah Pendirian Pondasi mengalir di otot dan tulangnya—lentur, kuat, dan responsif. Angin yang sebelumnya menjadi penghalang kini seolah membuka jalan baginya.Namun di balik kecepatan itu, tekanan terus menghantui punggungnya.Bukan tekanan musuh.Melainkan pelukan Aylin.Lengan gadis itu melingkar erat di pinggangnya, jari-jarinya mencengkeram jubah Qing Jian seolah takut terlepas oleh badai. Tubuhnya masih lemah, napasnya tersengal, namun tekadnya terasa jelas—ia tidak akan melepaskan, bahkan jika
Qing Jian menjejakkan kakinya ke tanah gua.BUMM—!!Getaran menghantam dinding batu seperti gempa mendadak. Retakan merambat di lantai, pasir berloncatan, dan tekanan udara berubah drastis. Kegelapan milik Rong Hai bergetar—retak, terbelah sedikit demi sedikit.Qing Jian mengangkat kepalanya.“Tiga Pilar Pondasi—”Suara itu tenang, namun bergema, seakan gua sendiri menjadi corong bagi kehendaknya.Di belakang tubuhnya, tiga arus energi raksasa berputar.Energi Naga Purba—emas menyala, membentuk siluet naga purba. Sisiknya berkilau seperti matahari yang terperangkap dalam logam, auranya berat dan menekan.Energi Dewa Kehidupan—hijau lembut, seperti cahaya daun muda di pagi hari. Energinya mengalir pelan, hangat, membawa denyut kehidupan yang membuat udara beraroma segar, seolah gua mati itu kembali bernapas.Energi Bunga Merah—merah pekat, bergulung seperti asap berdarah. Racun Bunga Merah berdenyut ganas, panas dan mematikan, namun terkunci sempurna dalam kendali Qing Jian.Ketiganya
Hembusan napas Qing Jian terdengar berat dan kasar, seolah udara di dadanya harus dipaksa keluar.“Hufh…”Ia menjejakkan kaki lebih dalam ke tanah gua, telapak kakinya terasa panas saat Qi mengalir ke dantian barunya—pusat energi yang baru terbentuk, masih mentah namun liar. Dalam satu tarikan napas berikutnya, sesuatu berubah.Bukan suara ataupun cahaya, tapi tekanan.Aura keemasan menyebar seperti gelombang pasang yang menghantam dinding gua. Batu-batu bergetar, pasir di lantai terangkat, berputar perlahan di udara seolah tertahan oleh kekuatan tak kasatmata. Angin gurun yang tadi menderu… mendadak terhentikan oleh waktu yang melambat..Rong Hai berhenti.Tubuhnya yang semula bergerak seperti bayangan kini terhenti di tengah langkah, wajahnya menegang sepersekian detik—cukup lama untuk disebut terkejut.Aylin menahan napas.Dadanya terasa sesak saat ia menatap Qing Jian. Cahaya emas itu tidak sekadar menyelimuti tubuh pria itu, tapi menekan ruang di sekitarnya, membuat darahnya send
Author akan memberikan sedikit gambaran tentang ranah kultivasi di cerita ini agar sobat readers yang baru pertama kali membaca karya wuxia-xian xia tentang kultivasi, bisa memahaminya.Untuk kisah Legenda Dewa Pedang Shu Jin, Author menggunakan ranah yang umum digunakan di kisah-kisah kultivasi : RANAH MORTALPara manusia biasa yang belum tersentuh energi spiritual.~ Mortal Biasa~ Refining Body / Tempering Body / Body Forging— Memperkuat tulang, otot, darah, dan merasakan energi spiritual untuk pertama kali.Untuk Shu Jin yang merupakan jenius pedang Keluarga Shu, ranah ini sudah pasti dilewatinya saat cerita ini dimulai. RANAH AWAL SPIRITUALMulai memadatkan dasar kultivasi, membentuk akar spiritual.~ Qi Refining / Spirit Refining {Pemurnian Tubuh)~ Foundation Establishment (Pendirian Fondasi)— Menstabilkan inti energi dan membuka meridian.~ Core Formation (Pembentukan Inti / Golden Core)— Menciptakan inti emas dalam dantian. RANAH MENENGAHLebih mendalam, mulai mendapatk
Rong Hai bergerak dengan cepat.Bukan melompat—melainkan lenyap begitu saja.Tubuhnya seolah tersedot oleh angin yang tiba-tiba runtuh ke dalam dirinya sendiri. Satu tarikan napas… lalu ruang di depannya kosong.Qing Jian terlambat menyadarinya.Satu detik saja.SWOOOSH—!!Udara di belakangnya robek.Sebuah bilah hitam muncul tanpa peringatan, dingin dan sunyi, seperti niat membunuh yang tak perlu suara. Aura gelapnya mengiris kulit sebelum pedangnya sendiri menyentuh.Refleks Qing Jian bekerja lebih cepat dari pikirannya.Ia berputar setengah lingkaran—Qi pedangnya meledak keluar, menyala keemasan seperti kilat yang lahir dari matahari.“Teknik Pedang Bulan Merah!”TRANG—!!Dua bilah bertabrakan.Benturan itu tidak hanya menghasilkan suara—melainkan ledakan tekanan. Batu di bawah kaki mereka retak, pasir terangkat, dan dinding gua bergetar seperti dipukul palu raksasa. Cahaya emas dan hitam saling menggigit, berdesis, lalu meledak seperti petir yang tercekik di dalam ruang sempit.Na
Angin gurun tiba-tiba mengamuk.Bukan hembusan biasa—melainkan raungan rendah yang menggulung dari segala arah, menghantam dinding batu, mencabik pasir dari tanah dan mengangkatnya ke udara. Butiran pasir berputar liar, membentuk pusaran yang menanjak ke langit malam seperti naga tanpa kepala.Aylin menahan napas.Karena tepat di depan mulut gua—di tengah pusaran pasir yang mengaburkan pandangan—sesuatu mulai terbentuk.Bukan ilusi.Bukan bayangan.Seseorang benar-benar muncul dari badai.Langkahnya ringan, nyaris tak menyentuh tanah. Setiap pijakan seolah menekan udara, bukan pasir—tanda jelas ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. Jubahnya bergoyang pelan, namun tidak sekali pun tersentuh pusaran yang mengamuk di sekelilingnya, seakan badai itu tunduk pada keberadaannya.Api unggun di dalam gua meredup.Bukan karena angin.Melainkan karena aura kegelapan yang merembes dari tubuh pria itu—menelan cahaya, mengisap panas, membuat nyala api mengecil seperti lilin yang hampir mati.Ia be







