MasukBab Utama : 2/3. Untuk bab bonus Gems sudah mencapai 15 Bab ya sobat readers. Author pasti merealisasikan bab ini jadi mohon bersabar ya.
Suara Shu Jin membelah udara lembap yang pengap. Tangannya bergerak cepat. Hanya satu kibasan ringan, hampir tak terlihat… namun energi di sekeliling mereka langsung bergetar hebat.Dalam sekejap, sembilan titik cahaya menyala di tanah, membentuk lingkaran rumit. Dari sana, perisai transparan menjulang, melengkung seperti kubah raksasa yang menyelimuti seluruh kelompok.Langit berkabut di atas mereka mendadak menyala merah.Lalu, hujan panah api turun dengan kencang.Api melesat turun seperti meteor kecil, membelah kabut dengan desisan panas yang membuat udara terasa kering dan menyengat kulit.TRANG! TRANG! TRANG!Benturan demi benturan menggema keras. Panah-panah api itu menghantam perisai cahaya dan terpental, berhamburan ke segala arah seperti percikan bunga api dari baja yang ditempa. Getarannya merambat ke kaki, membuat tanah berdenyut halus.Cahaya merah dan kilau keemasan saling bertabrakan, menciptakan kilatan yang menyilaukan mata.Di seberang kabut, suara Wu Chao-Xing terde
Matahari baru saja muncul di langit Kota Lin’an, tetapi cahaya keemasan pagi itu gagal mengusir ketegangan yang menggantung di udara. Jalan-jalan utama yang biasanya ramai kini dipenuhi bisik-bisik cemas. Warga menyingkir ke tepi, sebagian menutup pintu, sebagian lagi mengintip dari celah jendela saat barisan besar melintasi kota. Di garis terdepan, pasukan Penyamun Gurun Gobi bergerak seperti badai pasir yang tak terlihat—rapi, disiplin, dan memancarkan aura liar yang membuat bulu kuduk berdiri. Di antara mereka, sosok Aylin Qara berjalan dengan langkah mantap, matanya tajam menyapu setiap sudut kota, seolah menantang siapa pun yang berani menghalangi. Debu tipis terangkat setiap langkah mereka menghantam tanah. Denting senjata yang beradu pelan, gesekan kulit dan logam, serta derap kaki ratusan orang berpadu menjadi irama yang menekan dada. Di belakang mereka, ratusan murid Gobi Pay mengikuti dalam formasi sempurna. Jubah mereka berkibar tertiup angin pagi, sementara Madam Yao She
Halaman luas Keluarga Besar Shu terbentang seperti luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Rumput liar menjalar liar di antara batu-batu retak, menjepit sisa-sisa kemegahan yang dulu berdiri angkuh. Pilar-pilar kayu yang dahulu dipahat dengan indah kini miring, sebagian hangus, sebagian lagi lapuk dimakan waktu. Angin berhembus pelan, membawa aroma lembap bercampur debu dan sisa darah yang seolah masih menempel di tanah—jejak bisu dari tragedi yang pernah mengguncang tempat ini.Langkah kaki Shu Jin terhenti begitu ia menginjak halaman itu. Sepasang matanya membeku, menatap lurus ke arah bangunan utama yang kini tinggal kerangka. Dindingnya runtuh sebagian, atapnya bolong, dan pintu besarnya tergantung miring, berderit setiap kali angin menyentuhnya.Guo Xiang dan Zhang Yin tiba hampir bersamaan di sisinya, diikuti oleh Mei Shia dan Lian Hua yang bergerak tanpa suara di belakang mereka, seperti bayangan yang setia mengikuti tuannya.“Sadis juga mereka…” suara Guo Xiang memecah k
Yi Xue menghentakkan kakinya pelan, tapi cukup keras untuk membuat ujung jubahnya berayun. Bibirnya mengerucut, matanya menyipit tajam ke arah pintu aula yang masih terbuka—tempat dua sosok baru saja pergi dengan penuh percaya diri.Liang Mei menyilangkan tangan di dada, kuku-kukunya menekan lengan sendiri seolah menahan kesal yang menggelegak. Sementara itu, Shin Ling hanya berdiri diam, tetapi sorot matanya dingin dan tajam seperti bilah pisau yang baru diasah.Di sisi lain aula, suara langkah ringan dan tenang milik Guo Xiang dan Zhang Yin masih terngiang, seakan sengaja meninggalkan jejak yang menyebalkan.“Seluruh anggota Gobi Pay akan tiba sebentar lagi untuk membantu kita menyerang Lembah Hantu,” ujar Guo Xiang sebelumnya. Nada suaranya mantap dan penuh keyakinan.Kata-kata itu seperti bara yang dilempar ke dalam dada Yi Xue.“Kabar bagus,” sahut Zhang Yin, melanjutkan dengan nada serius, “pasukan Jenderal Wei Qilin tidak akan sampai dengan cepat ke ibu kota. Aku khawatir Zhao S
Langkah kaki bergema pelan di lantai batu istana yang dingin. Shu Jin yang berdiri di sisi aula langsung mengenali suara itu—tegas, mantap, dan tak asing lagi di telinganya. Suara Zhang Yin. Sosok yang telah berkali-kali bertarung bersamanya di garis depan, menembus dinginnya perbatasan, menghabisi pasukan Jurchen tanpa ragu. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Saat bayangan Zhang Yin muncul di ambang pintu aula, Shu Jin tidak hanya melihat seorang rekan seperjuangan… tapi juga seseorang di sampingnya. Seorang gadis. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara. Rambut hitamnya panjang, jatuh seperti aliran sutra di punggungnya, berkilau tertimpa cahaya obor istana. Wajahnya halus, lembut, dengan aura yang tidak biasa—bukan sekadar cantik, tapi anggun… seperti seseorang yang memang dilahirkan untuk berada di dalam tembok istana. Jantung Shu Jin berdegup sedikit lebih cepat. Aku… pernah melihatnya. Perasaan itu muncul begitu saja, samar tapi mengganggu. Ia mengenali wajah itu—ata
Kembali ke Istana Kekaisaran Song Selatan—bau darah dan asap masih menggantung tipis di udara.Halaman yang tadi bergemuruh kini sunyi.Mayat berserakan, sebagian hangus, sebagian terbelah. Batu-batu marmer retak, bekas benturan energi masih terasa hangat di telapak kaki.Di aula utama, suasana jauh dari tenang.“Kenapa Zhao Shin tidak ikut menyerang?” tanya Shin Ling, suaranya rendah namun tajam, memecah keheningan.Ia berdiri tegak, matanya menatap ke arah pintu besar yang terbuka—seolah berharap sosok musuh itu muncul kapan saja.“Perempuan iblis itu juga tidak muncul,” sambung Mei Shia, alisnya berkerut. Udara di sekitarnya masih dingin. Embun tipis kembali muncul di lantai.Shu Jin berdiri di tengah mereka.Sikapnya tetap tenangNamun sorot matanya berbeda—tajam dan penuh perhitungan.“Zhao Shin…” gumamnya pelan.Ia melangkah satu langkah, ujung jubahnya menyapu lantai yang dingin.“…sedang mengujiku.”Semua mata langsung tertuju padanya.“Mengujimu?” ulang Yi Xue. Nada suaranya p
Qing Jian menghela napas panjang.Udara pasar yang sarat aura roh terasa berat di paru-parunya—bukan karena tekanan lawan, melainkan karena ketiadaan pilihan. Ia telah cukup berlari. Cukup menahan diri.“Kalau begitu,” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan angin, “cepatlah.”Dalam satu tarikan napas
Cahaya pagi menyusup dari sela-sela jendela penginapan, memantul di lantai kayu yang masih lembab oleh embun malam. Aroma teh hangat dan kayu basah bercampur di udara, menandai awal hari di Kota Huayin—hari yang seharusnya tenang, namun justru dipenuhi bahaya.Qing Jian berdiri tegak di tengah ruang
Kabut darah menelan langit sepenuhnya.Tidak ada lagi matahari. Tidak ada arah waktu. Di atas lembah, cahaya merah gelap berdenyut perlahan—seperti jantung raksasa yang menggantung di langit, memompa darah ke setiap sudut neraka ini.Setiap denyutnya terasa di tulang.DUK! DUK! DUK!Qing Jian ber
Kabut merah Lembah Kabut Darah belum sempat menjilat ujung sepatu Qing Jian—ketika bau kematian yang jauh lebih tua menghantam inderanya lebih dulu.Bukan bau darah segar. Bukan pula racun yang masih hidup. Ini adalah bau tulang yang telah lama terkubur, digerus waktu, dilupakan dunia… lalu dipaksa







