LOGIN
"Menepi! Pangeran Ketiga sudah kembali!"
Suara penjaga Gerbang menggema di depan Gerbang masuk Ibukota Kerajaan He. Keramaian di jalan utama pun langsung terbelah dan mereka memberi jalan. Para pedagang menarik gerobak ke pinggir jalan dan para warga langsung menundukkan kepala. "Caaahh..." Tidak lama kemudian, seorang pemuda menunggang kuda dan memasuki Kota. Namun tidak sedikit yang diam-diam melirik ke arah penunggang kuda itu. "Pangeran Ketiga?" "Ternyata hanya Pangeran Sampah yang kembali dari hutan." Saat pemuda itu melewati kerumunan, dia mendengar bisik-bisik tetangga dari berbagai sudut jalan. Tapi dia tetap tenang saat mendengar semua ejekan itu. Sudah bertahun-tahun dia mendengar hinaan seperti ini. Sejak diketahui tidak mampu berkultivasi, gelar Pangeran Ketiga tidak berarti di mata rakyat Kerajaan He. "Ibu, Kenapa Pangeran Ketiga tidak punya Energi Qi?" Saat terus bergerak dan ingin kembali ke Istana Kerajaan, Pangeran ketiga yang tidak lain adalah He Long, mendengar seorang anak kecil bertanya pada Ibunya. "Diam!" "Jangan bicara sembarangan!" Ibunya langsung menarik anak itu dengan wajah pucat pasi. Namun anak kecil itu menatap Ibunya dengan bingung. He Long juga melirik mereka sekilas dan tersenyum tipis. Tidak ada amarah di wajahnya. Dia sudah terlalu terbiasa dengan ejekan seperti itu. Whush... Kuda hitam itu kembali melaju melewati jalan utama kota. Bangunan-bangunan besar berdiri megah di sisi jalan. Bendera Kerajaan He berkibar tertiup angin senja. Para kultivator bebas berjalan dengan bangga memakai pakaian Sekte atau Klan besar mereka. Saat He Long melewati mereka, sebagian besar menatapnya dengan berbagai ekspresi. Ada yang merasa kasihan, ada yang mengejek dan ada yang meremehkan. Namun tidak ada yang berani mengatakannya secara langsung. Bagaimanapun juga, He Long adalah Pangeran Raja Kerajaan He. "Haaah..." He Long menghela nafas dan terus melaju ke Istana. Tidak lama kemudian, He Long tiba di depan Gerbang Istana Kerajaan. "Salam Pangeran Ketiga!" puluhan penjaga segera menunduk hormat. "Mmm...." He Long turun dari kudanya dan menyerahkan tali kekang pada salah satu penjaga. Pemuda ini kemudian masuk kedalam dan pergi ke Istana miliknya. "Pangeran Ketiga!" tapi tiba-tiba suara tua terdengar dari samping. He Long menghentikan langkah dan menoleh ke sana. Dia melihat Kasim Fu berjalan cepat ke arahnya "Apakah Ayahanda memanggil ku?" tanyanya pelan. "Benar, Pangeran ketiga." jawab Kasim Fu membungkuk hormat. "Baik." He Long mengangguk dan menemui Ayahnya. Pemuda ini kemudian masuk ke Aula Utama dan menunduk Hormat. Di singgasana Naga Emas, seorang pria paruh baya duduk dengan aura Agung di sana. Yang tidak lain adalah Raja Kerajaan He, He Tian. "Bangunlah." He Tian mengangguk ringan. "Kamu masih berlatih di Hutan Belakang Ibukota?" tanya sang Raja dengan suara pelan. "Benar ayahanda." jawab He Long tenang. Mendengar itu, para pejabat saling melirik dengan tatapan aneh. Di mata mereka, usaha He Long hanyalah tindakan sia-sia. Orang tanpa dantian tidak mungkin menjadi kultivator. "Latihan tanpa Energi Qi itu tidak akan mengubah apa pun. Berhentilah melakukan hal bodoh." ucap He Tian. Namun He Long tidak menjawab dan hanya menundukkan kepala. "Ayah memanggilmu karena ingin memberitahu mu hal penting." "Ayah sudah melamar Putri Yan Fei sebagai Istri mu. Dan lamaran itu diterima Raja Yan dan Putri Yan Fei." ucap sang Raja menatap Putranya dengan serius. Saat mendengar itu, suasana di Aula Utama langsung menjadi sunyi. Para pejabat terlihat terkejut mendengar nama Kerajaan Yan. Kerajaan itu adalah salah satu Kerajaan besar di wilayah Barat. Hubungan mereka dengan Sekte-sekte besar juga sangat dalam. Tidak ada yang menyangka mereka menerima lamaran itu. "Putri Ketiga Kerajaan Yan akan menikah denganmu." "Dan kalian akan menikah 2 minggu lagi di Istana Kerajaan Yan." lanjut sang Raja lagi. Setelah memberitahu pernikahan Putra ketiganya, He Tian menatap tenang pemuda itu. Dia melihat tidak ada kebahagiaan sama sekali di wajah pemuda itu. "Aku akan menikah?" He Long tersenyum pahit. Sepertinya Raja He ingin menyingkirkannya dari Istana Kerajaan. Dia pernah mendengar nama Putri Ketiga Kerajaan Yan. Wanita itu terkenal sebagai Jenius kultivasi di Generasi Muda. Namanya cukup terkenal bahkan di Kerajaan He. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah... Kenapa wanita seperti itu mau menikah dengannya? "Yang Mulia." karena rasa penasarannya yang tinggi, Jenderal Lin menunduk hormat dan membuka suara. "Bicaralah." He Tian mengangguk ringan. "Jika Pangeran Ketiga menikah dengan Putri Ketiga Yan, Bukankah itu akan menjadi bahan tertawaan Kerajaan Yan?" tanya sang Jenderal dengan serius. Dan pertanyaan itu membuat Aula Utama menjadi tegang. Jenderal tua itu berani mengatakannya secara terang-terangan. Namun tidak ada yang menyangkal kebenarannya. Putri Jenius Kerajaan Yan menikah dengan pria tanpa Energi Qi? Itu adalah lelucon yang baru mereka dengar. "Jenderal Lin benar. Orang seperti ku tidak pantas mendampingi seorang Jenius." namun He Long justru tersenyum. Jenderal Lin langsung canggung dan wajahnya memerah. Dia tidak menyangka He Long akan mengakuinya begitu mudah. "Ayahanda, Aku terima pernikahan ini." kemudian menatap ayahnya dan menyetujui pernikahan itu. "Beristirahatlah. Seminggu lagi kamu dan rombongan akan berangkat." He Tian mengangguk ringan. "Aku dan rombongan?" He Long tertegun mendengarnya. artinya sang Raja tidak ikut kesana. "Baik ayahanda." tapi pemuda ini tidak bertanya lebih jauh lagi. Dia menunduk hormat sekali lagi dan meninggalkan Aula Utama. Satu minggu kemudian. Setelah satu minggu berlalu, He Long dan rombongannya bersiap untuk meninggalkan Kerajaan He. Rombongan ini akan menggunakan kapal terbang untuk perjalanan ini. "Naikkan semua peti persediaan dan periksa Formasi sekali lagi!" suara para pengawal terdengar silih berganti. Di tengah-tengah kesibukan itu, He Long berdiri dengan mengenakan pakaian hitam sederhana. Tidak ada hiasan mewah seperti para Pangeran yang lain. Di belakangnya, 20 pelayan membawa berbagai kebutuhan perjalanan. 50 Pengawal Istana juga berbaris dengan tombak perak di tangan mereka. Di depan rombongan itu, seorang pria tinggi mengenakan zirah biru tua berjalan mendekat. Pria itu memiliki wajah tegas dan bekas luka panjang di lehernya. Yang mana pria itu adalah Komandan Yun. Salah satu Komandan Pasukan Pengawal Istana. "Salam Pangeran Ketiga." Komandan Yun menunduk hormat. "Mmm... Apa semuanya sudah siap?" He Long mengangguk ringan. "Tidak ada masalah, Pangeran ketiga. Kapal bisa berangkat kapan saja." jawab Komandan Yun. He Long mengangguk dan menoleh ke arah Istana Kerajaan. Dan yang dilihatnya hanya para Pengawal dan Pelayan Istana saja. Tidak ada satu pun keluarga Kerajaan yang datang mengantarnya. Pangeran Pertama tidak muncul. Pangeran Kedua juga tidak terlihat. Bahkan para Tuan Putri juga tidak datang. He Long hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan tertawa kecil dalam hati. Sejak kecil dia sudah terbiasa diperlakukan seperti orang asing di Istana itu. Bahkan saat dia mau pergi menikah juga tetap sama saja. Tidak ada yang peduli padanya.Lelang kembali berlanjut. Setelah beberapa item dilelang, wanita pelelang membawa sebuah kotak kecil. "Item terakhir dalam sesi ketiga." "Jamur Kaisar Langit." Begitu nama itu terdengar, para Murid Pemburu berubah serius. Wanita pelelang membuka kotak tersebut. Sebuah jamur putih dengan pola emas terlihat di dalamnya. "Jamur ini berasal dari wilayah rahasia kuno." "Jika dikonsumsi oleh ahli Langit, benda ini bisa membantu meningkatkan kultivasi 1 tahap." "Untuk Murid Pemburu yang sedang mencari terobosan, item ini memiliki nilai luar biasa." jelas si wanita. Penjelasan itu membuat banyak peserta tertarik. Harga awal diumumkan. "10 juta koin emas." "20 juta koin emas." "30 juta koin emas."
"500 ribu koin emas, apakah ada yang ingin memberikan penawaran lebih tinggi?" tanya wanita pelelang. Namun tidak ada suara lain. "Terjual kepada Tuan Muda di bagian belakang dengan harga 500 ribu koin emas." ucap wanita pelelang sambil mengetuk palu kayu. He Long menerima Bunga Naga Api beberapa saat kemudian. Dia menyimpan bunga itu ke dalam cincin penyimpanan. Para peserta kembali melihatnya dengan rasa penasaran. Namun tidak ada yang mengetahui identitas aslinya. Lelang terus berlanjut. He Long beberapa kali memberikan penawaran untuk beberapa bahan kultivasi langka. Setiap kali dia membeli sesuatu, para Murid lain semakin penasaran. "Siapa pemuda itu?" "Aku belum pernah melihatnya di Sekte." "Dia berani menghabiskan ratusan ribu k
"Senior." He Long melihat seorang Murid Elite dan memanggilnya. "Ada yang bisa ku bantu?" tanya Murid itu menoleh. He Long menganggukkan kepala. "Kenapa begitu banyak Tuan Muda dan Nona Muda naik ke lantai 3?" tanyanya. Murid Elite itu tersenyum. "Adik junior baru datang ke Sekte?" "Benar Senior." He Long menganggukkan kepala. "Hari ini ada Pelelangan Tahunan Paviliun Harta Karun." jelasnya. "Pelelangan?" kening He Long kembali terangkat. "Setiap tahun Paviliun Harta Karun melelang berbagai harta langka." "Kadang ada Pil tingkat tinggi, senjata kuno dan teknik kultivasi langka." "Semua barang itu berasal dari Reruntuhan kuno dan wilayah rahasia." Murid Elite itu menganggukkan kepala. He Long sedikit tertarik dengan pelelangan ini. Kalau benar ada berbagai harta langka, mungkin dia menemukan sesuatu yang be
Tidak lama kemudian dia tiba di lantai 2. Ruangan itu jauh lebih tenang dibandingkan lantai 1. Jumlah kios juga lebih sedikit. Namun aura berbagai harta jauh lebih kuat. Di setiap kios terlihat berbagai herbal berusia ratusan bahkan ribuan tahun. He Long pun menganggukkan kepala dengan puas. "Seperti yang diduga. Tempat ini memang berbeda." gumamnya pelan. Dia kemudian mengelilingi setiap kios dan melihat berbagai barang langka. Ada Buah Api Seribu Tahun, Teratai Es Ungu dan ada juga Batu Bintang Hitam yang biasa digunakan untuk menempa senjata. Namun semua itu bukan tujuan utamanya. Dia terus mencari hingga langkahnya berhenti di depan sebuah kios kecil. Di atas meja kayu itu terlihat 2 tanaman yang sangat dikenalnya. Jamur berwarna u
Beberapa saat kemudian, He Long dan semua Murid Pemburu tiba di sana. Tanpa membuang waktu, He Long lebih dulu naik ke arena pertarungan. "Siapa yang lebih dulu?" tanyanya menyapu pandangannya. "Cukup sombong juga bocah ini." para Murid Senior tertegun melihat mental He Long. Mereka tidak menyangka Murid baru yang berusia 18 tahun itu begitu berani. "Baik. Aku yang naik lebih dulu." teriak seorang Murid laki-laki dan melompat ke arena pertarungan. "Ada apa ini?" namun tiba-tiba sebuah suara datang dari langit. Semua Murid pun langsung mendongak dan membungkuk hormat. "Salam Tetua." ucap para Murid dengan hormat. "Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Tetua Gu dengan suara berat. Pemuda yang bernama Zhao Feng pun menangkupkan tangan. "Tetua Gu, kami hanya
3 hari kemudian. Whush... Kapal terbang melewati awan dan sebuah pegunungan besar terlihat di kejauhan. Puncak gunung itu sangat tinggi dan diselimuti kabut. Di antara gunung-gunung tersebut terlihat bangunan besar dengan aura kuno. He Long menatap pemandangan itu dengan kagum. "Ini adalah Sekte Gunung Langit." ucap Tetua Lin. Kapal terbang bergerak mendekati wilayah sekte. Dari kejauhan, sudah terlihat banyak bangunan megah dan lapangan latihan yang luas. Para Murid Sekte sedang melakukan latihan pedang dan teknik kultivasi. Ketika kapal Tetua Lin tiba, beberapa murid melihat ke arah mereka. "Tetua Lin sudah kembali." "Tapi siapa pemuda di samping Tetua?" Bisik-bisik tetangga terdengar di antara para murid. He Long tetap tenang dan tidak memperlihatkan perubahan.







