เข้าสู่ระบบ"Aaargh..."
Jeritan menggema dan lebih dari 20 bandit roboh dalam 1 serangan. Namun celah itu kembali dipenuhi bandit lain. "Hahaha! Bunuh mereka semua!" Bandit terus menyerbu tanpa rasa takut. Di luar Gerbang Selatan, lebih dari 20 bandit mendorong batang kayu raksasa. "Dobrak Gerbang!" "Bomm!" Ledakan keras menggema dan menciptakan gelombang kejut dan Gerbang Kota bergetar keras. "Pukul lagi!" "Bomm!" Ledakan keras kembali menggema dan menciptakan gelombang kejut. Retakan mulai muncul pada permukaan Gerbang. "Pertahankan Gerbang!" teriak Komandan penjaga. Puluhan prajurit berlari dan menahan Gerbang dari sisi dalam. Namun serangan terus berdatangan. "Bomm!" Ledakan keras menggema dan menciptakan gelombang kejut. Retakan semakin besar. "Bomm!" Suara ledakan berikutnya membuat engsel Gerbang patah. Kraakk.. Gerbang raksasa roboh ke arah dalam Kota. Debu beterbangan dan ribuan bandit mengaum kegirangan. "Masuk!" "Bunuh semua!" Pasukan bandit menerobos melewati Gerbang yang roboh. "Aaargh..." Jeritan menggema saat prajurit barisan depan diterjang gelombang pertama bandit. Pertempuran besar pecah di jalan utama. Klang... Klang... Suara senjata beradu menggema tanpa henti. Slash... "Aaargh..." Seorang kultivator bebas menebas 2 bandit dan darah mengalir di jalan batu. Namun sesaat kemudian golok besar membelah punggungnya. "Aaargh..." Jeritan menggema dan dia roboh tanpa bergerak lagi. He Long melesat memasuki kerumunan bandit dengan Energi Qi yang mengalir deras. Slash... "Aaargh..." Jeritan menggema dan belasan bandit roboh satu demi satu. Dia terus berpindah dari satu titik ke titik lain. Setiap tebasan selalu merenggut nyawa bandit. Namun jumlah musuh masih terlalu besar. Bandit terus mengalir melewati Gerbang yang roboh. "Hahaha! Kota ini sudah menjadi milik kita!" "Tidak ada yang bisa menghentikan kita!" He Long menggertakkan giginya. "Kalau terus seperti ini, korban akan semakin besar." Whush... Dia kembali melesat dengan mengayunkan pedangnya. Slash... "Aaargh..." Jeritan menggema dan 7 bandit roboh. "Bomm!" Namun ledakan keras menggema di saat 2 ahli Langit saling mengeluarkan teknik. Rumah-rumah di dekat Gerbang roboh akibat benturan Energi Qi. Tangisan warga terdengar dari berbagai arah. "Pindahkan anak-anak!" "Cepat!" Para prajurit berusaha memberi jalan agar warga melarikan diri. Namun bandit terus mengejar dan jeritan demi jeritan terus menggema. He Long muncul di depan anak kecil yang hampir ditebas golok. Klang... Pedangnya menahan golok itu dan bandit itu terkejut. "Cari mati!" Bandit kembali mengayunkan golok. Namun He Long lebih dulu melompat dan mengayunkan Pedang Naga Api. Slash... Kepala bandit terlepas dan darah menyembur keluar. "Lari." He Long mendorong anak kecil itu ke arah prajurit. Anak kecil itu menganggukkan kepala dan berlari tanpa menoleh lagi. Namun di saat yang sama, aura kuat menyelimuti jalan utama. Whush... Seorang pria bertubuh besar turun dari atap rumah. Golok hitam sepanjang hampir 2 meter berada di bahunya. Aura ahli Langit bintang 1 tahap akhir juga meledak tanpa ditahan. "Bocah, Jadi kamu yang membunuh anak buah ku?" pria itu menatap He Long dengan dingin. "Ahli Langit bintang 1 tahap akhir?" He Long menjadi waspada. Lawan itu berada 3 tahap di atasnya. Dia menggenggam pedangnya lebih erat dan bersiap bertarung. "Aku Feng Ba. Aku yang akan memotong kepala mu." Bandit itu tertawa keras dan langsung melesat dengan golok yang menyapu lurus. Slash... Namun He Long juga mengayunkan pedangnya dan menahan serangan itu. Klang... Bomm! Benturan keras menggema dan gelombang kejut menyapu jalan utama. Retakan panjang muncul pada batu-batu jalan. He Long terdorong lebih dari 10 langkah dengan lengannya terasa kebas. "Kuat sekali." gumam He Long pelan. "Hahaha! Jadi hanya kemampuan seperti itu?" Feng Ba tertawa puas dan kembali melesat. Golok hitam mengandung Energi Qi yang ganas dan menyapu ke arah He Long. Bomm! Ledakan keras kembali menggema dan menggetarkan udara. Namun Golok hitam Feng Ba dan Pedang Naga Api kembali beradu dengan keras. He Long menggertakkan giginya dan Energi Qi di dalam Dantian mengalir semakin deras. Feng Ba tertawa keras. "Hahaha! Hanya kemampuan seperti ini dan kamu berani membunuh anak buahku?" Slash... Golok hitam kembali menyapu dengan aura yang ganas. Klaang... Bomm! Ledakan keras menggema dan menciptakan gelombang kejut. He Long kembali terdorong belasan langkah dan telapak kakinya menggores jalan batu. "Lagi!" teriak Feng Ba dengan tawa keras dan melesat sekali lagi. Slash... Golok raksasa mengarah ke leher He Long. Whush... He Long menggeser tubuh ke samping dan Pedang Naga Api menusuk lurus. Slash... "Aaargh..." Jeritan menggema dan seorang bandit yang berada di belakang Feng Ba roboh dengan dada berlubang. "Heh..." Feng Ba mendengus dingin dan memutar goloknya. Klaang... Senjata mereka kembali beradu. Bomm! Ledakan keras menggema dan menciptakan gelombang kejut. Retakan panjang kembali muncul pada jalan batu. Di sisi lain jalan utama, para prajurit Kota terus bertarung mati-matian. "Jangan mundur!" "Pertahankan barisan!" Slash... "Aaargh..." Jeritan menggema dan korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Namun bandit terus berdatangan melewati Gerbang yang roboh. Komandan penjaga menebas 2 bandit dengan pedangnya lalu berteriak keras. "Semua pasukan mundur ke Alun-alun Kota!" "Jangan bertarung sendiri-sendiri!" "Satukan barisan!" "Baik Komandan!" Para prajurit menganggukkan kepala dan bergerak mundur sambil terus mengayunkan senjata mereka. Slash... "Aaargh..." Jeritan menggema dan korban kembali berjatuhan. He Long melirik ke arah Komandan penjaga lalu kembali menatap Feng Ba. "Kamu tidak akan bisa melewati aku." ucap He Long dengan suara tenang. "Hahaha! Anak muda, omonganmu terlalu besar." Feng Ba tertawa keras dan aura Langit bintang 1 tahap akhir meledak lebih kuat. Whush... Dia melesat dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Slash... Golok hitam mengarah ke dada He Long. Klaang... Bomm! Ledakan keras menggema dan menciptakan gelombang kejut. He Long terdorong lebih dari 20 langkah dan darah mengalir dari sudut bibirnya. "Senior!" Prajurit muda yang pernah diselamatkannya berteriak cemas. He Long mengusap darah di bibirnya dan kembali menggenggam Pedang Naga Api dengan erat. "Jangan pedulikan aku. Lindungi warga." teriaknya. "Baik!" Prajurit muda itu menggertakkan giginya lalu kembali bertarung. Slash... "Aaargh..." Jeritan menggema dan korban kembali berjatuhan. Namun Bandit terus menyerbu tanpa henti.7 hari kemudian.Mentari baru saja muncul dari balik pegunungan dan lonceng Sekte Gunung Langit berbunyi 9 kali.Dong... Dong... Dong...Suara lonceng bergema ke berbagai puncak gunung dan para Murid menghentikan kultivasi mereka.Hari ini adalah hari Kompetisi Murid Pemburu.Di Halaman Utama Murid Pemburu.Arena batu berukuran raksasa sudah dipenuhi para Murid Pemburu dan para Tetua.Di kursi paling depan, Tetua Lin dan Tetua Gu duduk dengan wajah tenang.Tidak jauh dari mereka, Ketua Sekte juga hadir bersama para Tetua lainnya.Para Murid Dalam dan Murid Elite hanya bisa melihat dari luar arena.Mereka tidak memiliki hak untuk memasuki wilayah Murid Pemburu.Whush...He Long melesat dari puncak gunung miliknya dan mendarat di pinggir arena.Hari ini dia masih menggunakan nama Han Li.Pakaiannya berwarna putih dengan corak emas dan pedang tergantung di pinggangnya.Saat dia muncul, hanya sedikit Murid yang mengenalinya."Itu Han Li.""Murid baru yang dijadikan Murid Pemburu.""Aku de
Lelang kembali berlanjut. Setelah beberapa item dilelang, wanita pelelang membawa sebuah kotak kecil. "Item terakhir dalam sesi ketiga." "Jamur Kaisar Langit." Begitu nama itu terdengar, para Murid Pemburu berubah serius. Wanita pelelang membuka kotak tersebut. Sebuah jamur putih dengan pola emas terlihat di dalamnya. "Jamur ini berasal dari wilayah rahasia kuno." "Jika dikonsumsi oleh ahli Langit, benda ini bisa membantu meningkatkan kultivasi 1 tahap." "Untuk Murid Pemburu yang sedang mencari terobosan, item ini memiliki nilai luar biasa." jelas si wanita. Penjelasan itu membuat banyak peserta tertarik. Harga awal diumumkan. "10 juta koin emas." "20 juta koin emas." "30 juta koin emas."
"500 ribu koin emas, apakah ada yang ingin memberikan penawaran lebih tinggi?" tanya wanita pelelang. Namun tidak ada suara lain. "Terjual kepada Tuan Muda di bagian belakang dengan harga 500 ribu koin emas." ucap wanita pelelang sambil mengetuk palu kayu. He Long menerima Bunga Naga Api beberapa saat kemudian. Dia menyimpan bunga itu ke dalam cincin penyimpanan. Para peserta kembali melihatnya dengan rasa penasaran. Namun tidak ada yang mengetahui identitas aslinya. Lelang terus berlanjut. He Long beberapa kali memberikan penawaran untuk beberapa bahan kultivasi langka. Setiap kali dia membeli sesuatu, para Murid lain semakin penasaran. "Siapa pemuda itu?" "Aku belum pernah melihatnya di Sekte." "Dia berani menghabiskan ratusan ribu k
"Senior." He Long melihat seorang Murid Elite dan memanggilnya. "Ada yang bisa ku bantu?" tanya Murid itu menoleh. He Long menganggukkan kepala. "Kenapa begitu banyak Tuan Muda dan Nona Muda naik ke lantai 3?" tanyanya. Murid Elite itu tersenyum. "Adik junior baru datang ke Sekte?" "Benar Senior." He Long menganggukkan kepala. "Hari ini ada Pelelangan Tahunan Paviliun Harta Karun." jelasnya. "Pelelangan?" kening He Long kembali terangkat. "Setiap tahun Paviliun Harta Karun melelang berbagai harta langka." "Kadang ada Pil tingkat tinggi, senjata kuno dan teknik kultivasi langka." "Semua barang itu berasal dari Reruntuhan kuno dan wilayah rahasia." Murid Elite itu menganggukkan kepala. He Long sedikit tertarik dengan pelelangan ini. Kalau benar ada berbagai harta langka, mungkin dia menemukan sesuatu yang be
Tidak lama kemudian dia tiba di lantai 2. Ruangan itu jauh lebih tenang dibandingkan lantai 1. Jumlah kios juga lebih sedikit. Namun aura berbagai harta jauh lebih kuat. Di setiap kios terlihat berbagai herbal berusia ratusan bahkan ribuan tahun. He Long pun menganggukkan kepala dengan puas. "Seperti yang diduga. Tempat ini memang berbeda." gumamnya pelan. Dia kemudian mengelilingi setiap kios dan melihat berbagai barang langka. Ada Buah Api Seribu Tahun, Teratai Es Ungu dan ada juga Batu Bintang Hitam yang biasa digunakan untuk menempa senjata. Namun semua itu bukan tujuan utamanya. Dia terus mencari hingga langkahnya berhenti di depan sebuah kios kecil. Di atas meja kayu itu terlihat 2 tanaman yang sangat dikenalnya. Jamur berwarna u
Beberapa saat kemudian, He Long dan semua Murid Pemburu tiba di sana. Tanpa membuang waktu, He Long lebih dulu naik ke arena pertarungan. "Siapa yang lebih dulu?" tanyanya menyapu pandangannya. "Cukup sombong juga bocah ini." para Murid Senior tertegun melihat mental He Long. Mereka tidak menyangka Murid baru yang berusia 18 tahun itu begitu berani. "Baik. Aku yang naik lebih dulu." teriak seorang Murid laki-laki dan melompat ke arena pertarungan. "Ada apa ini?" namun tiba-tiba sebuah suara datang dari langit. Semua Murid pun langsung mendongak dan membungkuk hormat. "Salam Tetua." ucap para Murid dengan hormat. "Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Tetua Gu dengan suara berat. Pemuda yang bernama Zhao Feng pun menangkupkan tangan. "Tetua Gu, kami hanya







