MasukBeberapa saat kemudian, dia menemukan sebuah rumah makam sederhana di pinggir jalan.
Kemudian dia mendorong pintu kayu dan masuk ke dalam. Saat masuk kedalam, sudah ada puluhan tamu yang menikmati sarapan. He Long memilih meja di sudut ruangan dan memanggil pelayan. "Semangkuk mi sapi dan teh hangat." ucap He Long tenang. "Baik Tuan." Pelayan itu menangkupkan kedua tangan lalu bergegas ke dapur. He Long duduk tenang dan telinganya menangkap percakapan para tamu. "Apa kalian sudah dengar?" "Semua gudang keluarga Luo kosong." "Bukan hanya keluarga Luo." "Keluarga Han, keluarga Qin, keluarga Zhao dan belasan keluarga bangsawan lain juga mengalami hal yang sama." "Hehehe... Pantas saja. Mereka menimbun makanan saat rakyat kelaparan." "Itu balasan yang pantas." "Katanya makanan itu muncul di rumah-rumah rakyat." "Kalau benar begitu, Berarti ada ahli hebat yang membantu kita." "Tapi para bangsawan sedang mengamuk." "Mereka meminta Komandan Kota menangkap pelakunya hidup atau mati." "Heh... Semoga saja pelakunya tidak pernah tertangkap." Suara tawa kecil terdengar di berbagai meja. He Long hanya menyesap teh hangat dan sudut bibirnya terangkat tipis. Dia tidak menyangka kabar itu sudah menyebar ke seluruh Kota hanya dalam semalam. Tidak lama kemudian pelayan membawa makanan. "Silakan Tuan." "Terima kasih." He Long mengambil sumpit dan menikmati mi sapi dengan tenang. Namun belum sampai setengah mangkuk habis. Tiing Tiing... Suara lonceng darurat menggema dari arah Gerbang Selatan. Dentang lonceng itu bergema tanpa henti dan rumah makan menjadi gempar. "Apa itu?" "Lonceng darurat!" "Itu suara dari Gerbang Selatan." "Jangan bilang ada musuh menyerang." Belum ada yang sempat menebak, seorang prajurit berlari melewati jalan utama. "Bandit Gunung menyerang!" "Bandit Gunung menyerang!" "Jumlah mereka lebih dari 5 ribu pasukan!" "Semua prajurit berkumpul di Gerbang Selatan!" Suara teriakan prajurit itu menggema di sepanjang jalan. Rumah makan langsung kacau dan para tamu bangkit dari kursi mereka. "Bandit Gunung?" "Bukankah mereka sudah lama menghilang?" "Aku dengar mereka membantai Desa demi Desa." "Kalau mereka berhasil masuk Kota, Kita semua mati." Kepanikan pun mulai menyebar. He Long meletakkan sumpitnya dan senyuman tipis di wajahnya menghilang. "5 ribu pasukan bandit?" gumamnya pelan. Whush... Dia meletakkan beberapa koin perak di atas meja lalu melesat keluar. Di jalan utama, ribuan warga berlari mencari tempat berlindung. Para pedagang menutup toko mereka. Anak-anak menangis mencari orang tua mereka. Sedangkan para prajurit berlari ke arah Gerbang Selatan. "Semua prajurit berkumpul!" "Cepat!" "Jangan biarkan bandit menembus Gerbang!" Teriakan para perwira menggema tanpa henti. He Long melihat lebih dari 2 ribu prajurit bergerak cepat ke arah Gerbang Selatan. Selain mereka, para kultivator bebas dan anggota berbagai Klan juga melesat dari berbagai penjuru Kota. "Bandit menyerang Kota." "Kita tidak boleh tinggal diam." "Kalau Kota jatuh, Keluarga kita juga mati." "Hei! Cepat!" Lebih dari 300 kultivator bebas melesat ke arah yang sama. He Long juga tidak mengatakan apa-apa dan melesat mengikuti arus manusia. Tidak lama kemudian Gerbang Selatan sudah terlihat. Puluhan pemanah berdiri di atas tembok Kota. Komandan penjaga mengenakan baju zirah hitam dan menatap ke kejauhan. Debu tebal membumbung tinggi dan getaran tanah semakin kuat. Tidak lama kemudian, ribuan bandit muncul dari balik hutan dengan jumlah yang sangat besar. Sebagian menunggang kuda dan sebagian lagi berjalan kaki. Ada juga yang membawa kapak besar dan golok raksasa. Aura ahli Langit bintang 5 tahap awal juga meledak dari tubuhnya. "Hahaha... Hari ini Kota Kemangi menjadi milik kita!" teriak pria berjanggut lebat itu dan mengayunkan golok raksasa ke depan. "Serbu!" "Bunuh semua yang melawan!" "Rebut semua makanan dan harta mereka!" Ribuan bandit mengaum ganas dan melesat ke arah tembok Kota. "Panah!" Komandan penjaga menghunus pedangnya dan berteriak keras. Wussh... Wussh... Ribuan anak panah melesat dari atas tembok. "Aaargh..." Jeritan menggema dan puluhan bandit roboh setelah anak panah menembus dada dan leher mereka. Namun pasukan bandit sama sekali tidak berhenti. Mereka terus berlari dan sebagian mengangkat perisai besar. "Dorong tangga!" "Naik ke tembok!" Lebih dari 100 tangga kayu disandarkan ke dinding Kota. Bandit-bandit itu memanjat dengan kecepatan tinggi. "Prajurit! Jangan biarkan mereka naik!" teriak Komandan penjaga. "Baik Komandan!" Slash... Pedang para prajurit menebas tanpa henti. "Aaargh..." Jeritan menggema dan belasan bandit jatuh dari tangga. Namun jumlah mereka terlalu banyak. Whush... Seorang bandit melompat ke atas tembok dan mengayunkan kapak besarnya. Slash... "Aaargh..." Kepala beberapa prajurit terbang dan darah menyembur ke udara. "Naik!" "Naik semua!" Whush... Whush... Bandit lain terus melompat ke atas tembok dan pertempuran sengit pecah. Klang... Klang... Pedang, tombak, kapak dan golok terus beradu. "Aaargh..." Jeritan menggema tanpa henti dan korban berjatuhan dari kedua pihak. Di tengah-tengah kekacauan itu, He Long melesat ke atas tembok dan melihat 3 bandit sedang mengepung seorang prajurit muda. Slash... Pedangnya menyapu seperti kilat. "Aaargh..." Jeritan menggema dan 3 kepala bandit terlepas hampir dalam waktu yang sama. Prajurit muda itu terengah-engah. "Terima kasih Senior!" He Long hanya menganggukkan kepala dan kembali melesat. Whush... Dia muncul di sisi 5 bandit lain. Slash... Slash.... "Aaargh..." Jeritan kembali menggema dan 5 bandit roboh dengan leher terbelah. "Siapa pria itu?" "Aku tidak pernah melihatnya." "Hebat sekali." Beberapa kultivator bebas menatap He Long dengan kagum. Namun He Long sama sekali tidak berhenti. Whush... Dia berpindah ke sisi lain tembok. Slash... "Aaargh..." Beberapa bandit yang baru memanjat tangga itu terbelah menjadi 2 bagian. Mayat mereka kemudian jatuh menimpa rekan-rekan mereka dari bawah. "Bomm!" Ledakan keras menggema dan menciptakan gelombang kejut saat batu besar dari luar Kota menghantam tembok. "Bajingan." Komandan penjaga menggertakkan giginya. "Bomm!" Ledakan keras kembali menggema dan menciptakan gelombang kejut. Sebagian tembok batu runtuh dan puluhan prajurit kehilangan pijakan. Whush... Bandit memanfaatkan kesempatan itu dan melompat melewati celah. Slash... "Aaargh..." Jeritan kembali menggema dan darah terus membasahi batu-batu tembok. He Long melesat ke arah celah itu dan tebasan besar menyapu ke depan.7 hari kemudian.Mentari baru saja muncul dari balik pegunungan dan lonceng Sekte Gunung Langit berbunyi 9 kali.Dong... Dong... Dong...Suara lonceng bergema ke berbagai puncak gunung dan para Murid menghentikan kultivasi mereka.Hari ini adalah hari Kompetisi Murid Pemburu.Di Halaman Utama Murid Pemburu.Arena batu berukuran raksasa sudah dipenuhi para Murid Pemburu dan para Tetua.Di kursi paling depan, Tetua Lin dan Tetua Gu duduk dengan wajah tenang.Tidak jauh dari mereka, Ketua Sekte juga hadir bersama para Tetua lainnya.Para Murid Dalam dan Murid Elite hanya bisa melihat dari luar arena.Mereka tidak memiliki hak untuk memasuki wilayah Murid Pemburu.Whush...He Long melesat dari puncak gunung miliknya dan mendarat di pinggir arena.Hari ini dia masih menggunakan nama Han Li.Pakaiannya berwarna putih dengan corak emas dan pedang tergantung di pinggangnya.Saat dia muncul, hanya sedikit Murid yang mengenalinya."Itu Han Li.""Murid baru yang dijadikan Murid Pemburu.""Aku de
Lelang kembali berlanjut. Setelah beberapa item dilelang, wanita pelelang membawa sebuah kotak kecil. "Item terakhir dalam sesi ketiga." "Jamur Kaisar Langit." Begitu nama itu terdengar, para Murid Pemburu berubah serius. Wanita pelelang membuka kotak tersebut. Sebuah jamur putih dengan pola emas terlihat di dalamnya. "Jamur ini berasal dari wilayah rahasia kuno." "Jika dikonsumsi oleh ahli Langit, benda ini bisa membantu meningkatkan kultivasi 1 tahap." "Untuk Murid Pemburu yang sedang mencari terobosan, item ini memiliki nilai luar biasa." jelas si wanita. Penjelasan itu membuat banyak peserta tertarik. Harga awal diumumkan. "10 juta koin emas." "20 juta koin emas." "30 juta koin emas."
"500 ribu koin emas, apakah ada yang ingin memberikan penawaran lebih tinggi?" tanya wanita pelelang. Namun tidak ada suara lain. "Terjual kepada Tuan Muda di bagian belakang dengan harga 500 ribu koin emas." ucap wanita pelelang sambil mengetuk palu kayu. He Long menerima Bunga Naga Api beberapa saat kemudian. Dia menyimpan bunga itu ke dalam cincin penyimpanan. Para peserta kembali melihatnya dengan rasa penasaran. Namun tidak ada yang mengetahui identitas aslinya. Lelang terus berlanjut. He Long beberapa kali memberikan penawaran untuk beberapa bahan kultivasi langka. Setiap kali dia membeli sesuatu, para Murid lain semakin penasaran. "Siapa pemuda itu?" "Aku belum pernah melihatnya di Sekte." "Dia berani menghabiskan ratusan ribu k
"Senior." He Long melihat seorang Murid Elite dan memanggilnya. "Ada yang bisa ku bantu?" tanya Murid itu menoleh. He Long menganggukkan kepala. "Kenapa begitu banyak Tuan Muda dan Nona Muda naik ke lantai 3?" tanyanya. Murid Elite itu tersenyum. "Adik junior baru datang ke Sekte?" "Benar Senior." He Long menganggukkan kepala. "Hari ini ada Pelelangan Tahunan Paviliun Harta Karun." jelasnya. "Pelelangan?" kening He Long kembali terangkat. "Setiap tahun Paviliun Harta Karun melelang berbagai harta langka." "Kadang ada Pil tingkat tinggi, senjata kuno dan teknik kultivasi langka." "Semua barang itu berasal dari Reruntuhan kuno dan wilayah rahasia." Murid Elite itu menganggukkan kepala. He Long sedikit tertarik dengan pelelangan ini. Kalau benar ada berbagai harta langka, mungkin dia menemukan sesuatu yang be
Tidak lama kemudian dia tiba di lantai 2. Ruangan itu jauh lebih tenang dibandingkan lantai 1. Jumlah kios juga lebih sedikit. Namun aura berbagai harta jauh lebih kuat. Di setiap kios terlihat berbagai herbal berusia ratusan bahkan ribuan tahun. He Long pun menganggukkan kepala dengan puas. "Seperti yang diduga. Tempat ini memang berbeda." gumamnya pelan. Dia kemudian mengelilingi setiap kios dan melihat berbagai barang langka. Ada Buah Api Seribu Tahun, Teratai Es Ungu dan ada juga Batu Bintang Hitam yang biasa digunakan untuk menempa senjata. Namun semua itu bukan tujuan utamanya. Dia terus mencari hingga langkahnya berhenti di depan sebuah kios kecil. Di atas meja kayu itu terlihat 2 tanaman yang sangat dikenalnya. Jamur berwarna u
Beberapa saat kemudian, He Long dan semua Murid Pemburu tiba di sana. Tanpa membuang waktu, He Long lebih dulu naik ke arena pertarungan. "Siapa yang lebih dulu?" tanyanya menyapu pandangannya. "Cukup sombong juga bocah ini." para Murid Senior tertegun melihat mental He Long. Mereka tidak menyangka Murid baru yang berusia 18 tahun itu begitu berani. "Baik. Aku yang naik lebih dulu." teriak seorang Murid laki-laki dan melompat ke arena pertarungan. "Ada apa ini?" namun tiba-tiba sebuah suara datang dari langit. Semua Murid pun langsung mendongak dan membungkuk hormat. "Salam Tetua." ucap para Murid dengan hormat. "Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Tetua Gu dengan suara berat. Pemuda yang bernama Zhao Feng pun menangkupkan tangan. "Tetua Gu, kami hanya







