Home / Fantasi / Legenda Kultivator Abadi / BAB 7 | Turun Gunung

Share

BAB 7 | Turun Gunung

Author: Bad_Romance
last update Last Updated: 2025-10-10 11:36:15

Malam berlalu dijemput pagi yang membawa sinar hangat sang mentari.

Di depan rumah sederhana yang terbuat dari kayu jati dan beratapkan daun rumbia, seorang pemuda berlutut memberi hormat kepada pria sepuh di depannya.

"Kakek, terima kasih atas bimbinganmu selama ini. Hari ini aku hendak memulai perjalananku sendiri, aku mohon doa dan restu darimu," ujar Tian Fan tulus.

Tuan Feng Xiao membungkuk menyentuh kedua bahu Tian Fan dan berkata dengan suara tuanya."Bangunlah, Nak. Doa dan restu dariku pasti akan menyertai dirimu."

Tian Fan pun segera bangkit dan memeluk Kakeknya cukup lama. Ada rasa enggan di dalam hati untuk meninggalkan, tapi Tapi Fan punya tugas yang harus diselesaikan.

Tian Fan menarik dirinya, matanya berkaca-kaca."Kakek, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik," ujar pemuda tangguh tersebut.

Tuan Feng Xiao mengangguk dengan mata yang juga berkaca-kaca."Pergilah, Nak."

Ia pun membalik badannya dan mulai melangkah meninggalkan kediaman sederhana yang ditinggalinya selama 5 tahun.

10 langkah...

15 langkah...

20 langkah...

Tian Fan berhenti, membalik badannya dan berlari memeluk Tuan Feng Xiao untuk terakhir kali. Tidak ada ucapan, hanya tangis yang mengambarkan kesedihan dari perpisahan di sana.

"Jangan menangis seperti anak kecil, Fan'er! Ingat, usiamu sudah 18 tahun," ujar Tuan Feng Xiao berlagak tegar padahal air mata juga mengalir dari pelupuk matanya.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Tian Fan kali ini benar-benar melangkah pergi meninggalkan Tuan Feng Xiao untuk memulai perjalanannya sendiri.

Sebelum Tian Fan benar-benar menghilang, suara teriakan Tuan Feng Xiao terdengar."Ingatlah untuk berhati-hati kepada para gadis cantik!"

Tian Fan hampir saja tertawa mendengar teriakan itu, akan tetapi apa yang di katakannya adalah benar. Godaan paling besar dari seorang pria memang adalah wanita, godaannya bahkan lebih besar dari uang dan emas.

Dalam hati, Tian Fan berjanji untuk kembali setelah menyelesaikan semua masalahnya. Sebelum semua masalah di selesaikan, pemuda itu tidak akan kembali kemari.

Bukan Tian Fan sengaja, tapi dia takut kepulangannya malah akan membawa bencana. Jika Tian Fan ingin kembali, maka dia harus memastikan bahwa semua musuhnya telah tiada.

... .. ...

Sekte Pedang Langit

Seorang pria tua dengan aura kuat terpancar dari tubuhnya berdiri di hadapan belasan pemuda yang merupakan murid-muridnya.

Dengan tatapan yang penuh dengan ketegasan dan suara yang lantang, pria tua itu mulai mengucapkan beberapa kata.

"Murid-muridku! Tahun ini adalah giliran kalian untuk mencari peluang di Pegunungan Mubei. Aku berharap kalian bisa berlatih dengan giat di sana dan melaksanakan tugas yang sekte berikan sebelumnya."

"Aku sangat percaya kepada kemampuan kalian semua. Ku harap kalian bisa menemukan petunjuk dari senjata yang dirumorkan selama setahun belakangan ini."

"Baik, Guru. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menemukan sebuah petunjuk. Hari ini kami semua akan pergi, mohon doa restu dari guru untuk perjalanan kami," ujar salah satu murid senior di sana.

"Pergilah. Doa dan restuku selalu menyertai kalian semua," ujar pria tua itu melepaskan kepergian para muridnya.

Rombongan yang diisi oleh 15 orang murid sekte Pedang Langit itu pun segera meninggalkan sekte untuk pergi ke Pegunungan Mubei.

Rumor setahun lalu masih belum reda, semua orang masih berlomba-lomba untuk menemukan senjata misterius yang katanya muncul di sana.

Bukan hanya sekte Pedang Langit yang mengutus para muridnya. Ada beberapa sekte lain juga yang ikut berpartisipasi dalam pencarian ini.

Sekte Tapak Dewa, Naga Emas, Lembah Bunga, dan sekte Awan Biru juga mengutus para muridnya untuk pergi ke sana.

Sekte-sekte ini adalah sekte yang menganut ajaran suci dalam jalannya. Tapi bukan hanya mereka yang mengutus orang-orangnya, sekte beraliran hitam juga tidak mau kalah.

5 sekte besar beraliran hitam juga mengirim orang-orangnya. Dimulai dari sekte Awan Hitam, Mata Iblis, Tapak Setan, Pedang Darah, dan sekte Lembah Racun juga ikut dalam persaingan ini.

Pegunungan Mubei ibarat medan perang selama setahun belakangan. Meskipun tidak secara terang-terangan bertarung, tapi korban hilang yang entah masih bernyawa atau tidak sudah terhitung cukup banyak jumlahnya.

Kedua pihak berbeda aliran ini tentu saja sama-sama mengalami kerugian, tapi siapa yang mau mundur dari persaingan? Senjata misterius sudah ada di depan mata, ini adalah kesempatan langka yang tidak mungkin dilepaskan.

... .. ...

Kedai Pinggir Desa

Sekelompok orang dengan pakaian hitam berjalan memasuki sebuah kedai kecil di pinggir desa.

Dengan langkah angkuh dan wajah penuh kesombongan, sekelompok orang ini nampaknya bukan orang-orang baik.

"Pelayan!" Panggil salah satu pemuda berperawakan tinggi dan kekar.

Seorang gadis muda pun datang menyanggupi panggilan mereka."Tuan-tuan, apa anda ingin memesan makanan?" tanya gadis muda itu ramah.

Seorang pemuda dengan wajah mesum dari kelompok itu tampak memandangi gadis muda yang datang dengan cukup lama."Hohoho... aku tidak menyangka di desa terpencil seperti ini bisa menemukan seorang gadis cantik sepertimu. Nona, maukah kau ikut denganku?"

Pemuda itu bertanya dengan nada yang terdengar memaksa dan menyebalkan. Gadis muda yang ditanyai seketika merasa risih, dia tau maksud dari pertanyaan itu.

Mendapati mata sang pemuda yang tampak melihat seolah menelanjangi dirinya, gadis muda itu secara tidak langsung merasa dilecehkan.

"Tuan! Aku tidak bisa melakukan hal seperti itu," tolak gadis muda itu dengan cukup sopan.

"Huh! Kau menolakku? Apa kau tidak tau siapa aku?"

"Aku adalah murid dari sekte Tapak Setan, menolakku sama artinya memilih mati! Apa kau paham?!"

Pemuda itu mulai mengancam sang gadis muda. Sebagai seorang kultivator sesat dengan kekuatan yang mumpuni, ancaman pemuda itu tentu saja membuat sang gadis desa takut.

"Tuan! Tolong lepaskan aku, aku tidak bisa melakukan ini," mohon gadis muda itu dengan tubuh gemetaran. Siapa yang tidak tau sekte Tapak Setan, itu adalah salah satu sekte sesat yang diisi oleh orang-orang gila di dalamnya.

Pemuda yang mengancam berdiri menarik gadis muda itu secara paksa ke dalam pelukannya."Tentu saja aku akan melepaskamu setelah kau memuaskan kami semua malam ini. Patuhlah! Atau aku akan membunuhmu di sini!"

"Hahaha... benar! Kami akan melepaskanmu begitu kami merasa puas malam ini," tambah rekannya.

"Tu-tuan Muda! To-tolong lepaskan aku."

Gadis itu memohon dengan tubuh gemetar dan tangis yang mulai terdengar. Melepaskan apa? Dia tau setelah ini dia akan disiksa sampai mati.

"Diam! Jangan merengek di depanku atau kau akan langsung ku bunuh!"

Tubuh gadis muda itu semakin berguncang hebat, wajahnya bahkan sampai memucat begitu sebuah belati diletakan tepat satu jengkal dari batang lehernya.

"Hahaha... bagus sekali! Aku suka gadis patuh seperti dirimu. Malam ini..." pemuda itu menjeda ucapannya mencium harum tubuh sang gadis dengan liar."Puaskanlah kami semua."

Tak dapat menahan nafsunya, pemuda itu berniat merobek pakaian sang gadis muda dengan paksa. Saat dia hendak melakukannya, suara seorang pemuda yang duduk di meja samping tiba-tiba saja terdengar.

"Lepaskan dia!"

Semua perhatian segera dialihkan ke arahnya. Seorang pemuda berpakaian hitam dengan corak berwarna merah tengah duduk dan makan dengan tenang di tempatnya.

"Kau! Apa kau yang bersuara sebelumnya?!" Tanya salah satu murid sekte Tapak Setan itu dengan nada arogan.

Pemuda yang tidak lain adalah Tian Fan itu lebih dahulu memasukkan suapan terakhirnya, mengunyah pelan-pelan dan menelannya.

Kepala pemuda itu kemudian diangkat, sepasang matanya yang tajam menatap satu per satu para pemuda bejat yang ada di depan sana."Lepaskan dia! Ini adalah peringatan kedua dariku!"

Para murid sekte Tapak Setan itu melihat Tian Fan dengan seksama. Terlebih dahulu mereka mencoba mencari tau setinggi apa kekuatan pemuda itu dari ranahnya guna menentukan tindakan apa yang harus diambil.

"Heh! Aku kira siapa, rupanya hanya seorang sampah yang berada di ranah Pembentukan Jiwa bintang 5. Bocah! Berani kau mengancam kami?!" Sindir salah satu pemuda di sana. Di matanya, Tian Fan tidak lebih kuat dari seekor semut yang dapat dibunuh dengan mudah.

"Aku tidak tau dari mana kau mendapatkan keberanian untuk mengancam kami, tapi karna kau sudah bersuara, ada baiknya kau dibunuh saja!"

Salah satu pemuda melangkah maju bersiap dengan tinjunya untuk benar-benar membunuh Tian Fan. Langkahnya penuh dengan percaya diri, pemuda asing itu pasti akan terbunuh di tangannya.

Keduanya berada dalam posisi berhadap-hadapan, pemuda itu berdiri sementara Tian Fan masih duduk dengan tenang di tempatnya. Tidak ada ketakutan di mata pemuda itu, dia tau dia bisa mengatasi semua ini dengan mudah.

"Aku sudah memperingati kalian sebelumnya, tapi karna kalian tidak mau mendengar juga, takdir kalian sudah diputuskan," ujar Tian Fan dengan suara datarnya.

"Hahaha... bicara apa kau ini? Apa kau pikir kau adalah De-..."

Braaak!

Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja tubuh pemuda yang berbicara kepada Tian Fan tumbang dan mati begitu saja.

"Lihat...!!!" Salah satu rekannya menunjuk dahi pemuda itu yang sudah berlubang seolah sudah ditembus oleh sesuatu yang tajam.

Masih di tempat duduknya, Tian Fan mematahkan tulang ayam menjadi beberapa bagian sembari berbicara dengan tenang."Aku sudah memperingatkan tapi kalian semua terlalu bebal. Sekarang, pergilah kalian semua ke neraka!"

Menggunakan tulang ayam yang sudah di bagi menjadi beberapa bagian, Tian Fan mulai membunuh satu per satu para murid bejat dari sekte Tapak Setan.

Dengan sedikit energi Qi yang dia alirkan ke dalam tulang ayam, Tian Fan menargetkan kepala mereka, membuat kepala mereka berlubang sama seperti pemuda pertama sebelumnya.

Tidak ada perlawanan, Tian Fan berhasil membunuh semua murid sekte sesat itu dalam waktu kurang dari 1 menit. Padahal tingkatan ranah mereka berada pada titik yang sama dengannya dan bahkan ada satu yang sedikit lebih tinggi lagi.

Gadis muda yang dipaksa sebelumnya sampai dibuat tak bisa berkata-kata. Di tengah kejadian tiba-tiba itu, dia hanya bisa membelalakkan matanya tak percaya.

Mengabaikan keterkejutan sang gadis muda, Tian Fan berjongkok melepas satu per satu cincin penyimpanan dari para murid sekte Tapak Setan yang dibunuhnya."Orang mati tidak perlu membawa uang."

Tian Fan kembali berdiri, dia mengeluarkan beberapa koin emas dari cincin penyimpanannya sendiri dan meletakkannya di atas meja lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa.

Gadis muda yang adalah pelayan kedai itu hanya bisa menatap kepergian Tian Fan dalam diam. Di lubuk hatinya, dia berterima kasih karna sudah dibantu oleh pemuda itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mulai menarik
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Legenda Kultivator Abadi   BAB 123 | Sosok Yang Harus Dihormati

    Patriak Han melihat seseorang terbaring tak sadarkan diri di tengah lapangan. Saat ia melihat baik-baik, pak tua itu sadar kalau sosok yang terbaring tak sadarkan diri adalah cucunya. "Han Lubao! Apa yang terjadi kepadanya?" Wajah pria tua itu tampak mengeras. Melihat cucunya terbaring tak sadarkan diri di tengah lapangan tanpa ada orang yang mau membantunya, pria tua itu pun segera berjalan mendekat. Di tempat yang sama, ia juga mendapati ada seorang pemuda dengan hanfu hitam bercorak biru berdiri memunggunginya. Dari apa yang pak tua itu simpulkan, sosok itulah yang membuat cucunya jatuh tak sadarkan diri. Patriak Han berdiri satu langkah di belakang sosok yang menggunakan hanfu hitam bercorak biru tersebut. Dengan tampang penuh kekuasaan dan sedikit tidak suka, sebuah pertanyaan pun dilontarkan."Kau! Apa yang sudah kau lakukan kepada cucuku?!" Nada Patriak Han yang sedikit membentak dan marah membuat semua orang yang ada di sana merasa gugup. Tetapi, lain dari orang-oran

  • Legenda Kultivator Abadi   BAB 122 | Hanya Satu Pukulan

    Masih dengan kepercayaan diri tinggi, Han Lubao memandang Tian Fan yang berdiri 10 langkah darinya dengan pandangan yang meremehkan."Kau ingin bertarung dengan apa? Tangan atau pedang?" Tantangan diberikan, Han Lubao yang angkuh dan sombong percaya kalau Tian Fan bisa ia kalahkan baik dengan pertarungan tangan kosong ataupun menggunakan pedang. Tian Fan yang ditantang pun tersenyum. Dengan santainya ia menanggapi keangkuhan Han Lubao."Tangan kosong ataupun pedang, aku tidak peduli." "Hahaha... kau begitu percaya diri, yah. Bocah kampung, kalau begitu kita akan bertarung dengan tangan kosong. Mari kita beradu tinju, tunjukkan siapa yang terbaik di antara kita berdua!" "Baik! Siapa takut!" Han Lubao menyeringai, pertarungan tangan kosong adalah keahliannya, ia pasti akan menang dengan mudah. "Bocah kampung, aku akan sedikit berbaik hati. Karna ranahmu 1 tingkat di bawahku, akan aku biarkan kau menyerangku terlebih dahulu. Ayo, serang aku!" Han Lubao merentangkan kedua tangan

  • Legenda Kultivator Abadi   BAB 121 | Bukan Lawan Yang Setara

    Han Lubao menggepalkan tangannya, merasa marah karna Tian Fan menantang dirinya terang-terangan di kediaman Klan Han."Bagus, bagus sekali, bocah! Kau sungguh membuat aku semakin muak!" Pemuda itu menunjuk Tian Fan, matanya melotot tajam."Kalau kau memang ingin bertarung, baiklah. Aku Han Lubao akan melawanmu hari ini." Han Lubao merupakan salah satu pemuda yang terbilang jenius di ibukota Kekaisaran. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Tuan Muda Klan Han itu sudah berada di ranah Kenaikan bintang 2. Dari apa yang ia lihat, Tian Fan yang menantang dirinya hanya berada pada ranah Kenaikan bintang 1, pemuda itu lebih lemah darinya. "Bocah, apa kau berani?" "Senior Lubao! Anda tidak bisa seperti ini." Pangeran Qin Fei Hu cemas. Ia tau kalau Han Lubao berada 1 tingkat di atas dirinya dan Tian Fan. Kalau mereka berdua bertarung, Tian Fan pasti dapat dikalahkan dengan mudah. "Pangeran! Kenapa tidak bisa? Jelas-jelas temanmu yang menantang aku lebih dulu. Di sini, aku hanya

  • Legenda Kultivator Abadi   BAB 120 | Han Lubao

    Kediaman Klan Han Tian Fan datang dengan santai. Saat ini ia telah berada di gerbang utama kediaman Klan Han untuk berkunjung seperti yang ia katakan di rumah makan sebelumnya. Pemuda itu tidak datang sendiri. Di sebelahnya, ada Pangeran Qin Fei Hu dan Tuan Putri Qin Shi Mei. Awalnya, Tian Fan berniat untuk datang sendiri, tapi karna Pangeran Qin Fei Hu memaksa untuk ikut, ia pun tidak punya alasan untuk melarangnya. Untuk Putri Qin Shi Mei, ia hanya ikut saja ke mana saudara laki-lakinya pergi. Putri Kaisar Qin itu ingin melihat bagaimana cara Tian Fan menyelesaikan masalah yang sudah ia buat di rumah makan sebelumnya. Saat melihat kedatangan ketiga orang itu, para pengawal yang berjaga di gerbang masuk langsung menyambut mereka dengan ramah. "Pangeran! Tuan Putri! Selamat datang di kediaman Klan Han." Para pengawal menduga kalau kedua orang berpengaruh itu datang untuk berkunjung guna melihat keadaan Han Zuran. Meskipun tidak terlalu dekat, tapi bagaimanapun Pangeran Qin Fei H

  • Legenda Kultivator Abadi   BAB 119 | Kali Pertama

    Kediaman Klan Su Su Yixian kembali dengan wajah riang setelah bertemu sang kekasih di rumah makan sebelumnya. Bersama gadis itu, Bai Hu digendong selayaknya kucing kecil yang manja. Su Yixian masih belum tau kalau kucing kecil yang ia gendong bukanlah kucing kecil biasa. Mahluk kecil itu sebenarnya adalah siluman harimau putih yang sangat kuat, bahkan kekuatannya dapat diadu dengan Jendral besar Kekaisaran Qin. Hari ini perasaan Su Yixian juga sangat bahagia. Tian Fan berjanji akan datang ke Klan Su, ia datang untuk berkunjung sekaligus meminta izin untuk menjadikan Su Yixian sebagai kekasihnya yang sah. "Aku harus bersiap-siap. Kira-kira, Tian Fan suka makan makanan seperti apa?" gumam Su Yixian. Sebelum berpisah, Tian Fan berpesan kepada Su Yixian untuk memasakkan dirinya beberapa masakan yang akan ia makan saat berkunjung nanti. Su Yixian tentu saja setuju, ia akan memasakkan makanan untuk Tian Fan dengan tangannya sendiri. Gadis itu pun langsung berjalan ke arah dapur. D

  • Legenda Kultivator Abadi   BAB 118 | Sedikit masalah

    Pengawal Han Zuran menyipitkan matanya, memandang Tian Fan dengan penuh selidik dan tidak percaya."Kau jangan main-main. Kau kira Klan Han itu tempat yang bisa kau masuki sesuka hati? Dasar orang rendahan!" Pengawal itu menghina Tian Fan. Di matanya, Tian Fan hanyalah seorang pemuda desa yang tidak tau sebesar apa pengaruh Klan Han di Kekaisaran Qin ini. Tian Fan yang diremehkan hanya tersenyum santai dan membalas dengan tenang."Heh! Aku malah takut kalau Klan Han kalian tidak pantas menyambut aku." "Lancang! Kau kira kau siapa, huh?!" "Bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang pemuda tampan." "Sialan. Kau..." "Kau apa? Apa kau hanya akan terus mengoceh di tempat ini. Lihatlah, Tuan Mudamu sudah tidak sadarkan diri." Tunjuk Tian Fan ke lantai di mana Han Zuran terbaring tak berdaya di bawah kakinya. Pengawal itu menoleh ke arah Han Zuran dan mendapati kalau pemuda itu memang sudah tak sadarkan diri. Tampaknya aura penindasan yang Tian Fan lepaskan sudah tidak sanggup lagi ia t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status