Home / Fantasi / Legenda Pendekar Biru / BAB 1 Kebangkitan

Share

Legenda Pendekar Biru
Legenda Pendekar Biru
Author: Pujangga

BAB 1 Kebangkitan

Author: Pujangga
last update Last Updated: 2025-07-08 10:45:11

Setelah lama tertidur akibat kematian, saat ini untuk pertama kalinya Lintang kembali membuka mata.

Namun dia membuka mata dengan perasaan aneh di mana di sekujur tubuhnya seperti terdapat banyak luka.

Terlebih Lintang merasa seakan dia telah tertidur sangat lama hingga kedua kelopak matanya sulit sekali terbuka.

“Ada apa ini? Mengapa seluruh persendianku amat sakit? Apa mungkin aku telah mengalami penyiksaan? Ah tidak mungkin, bukankah terakhir kali kuingat diriku masih berupa ruh?” gumam Lintang mulai meracau.

Lintang terbangun di sebuah kamar berdinding kayu dengan satu lentera kecil tergantung di dekat pembaringan.

Tidak ada apa-apa di sana selain meja kayu sederhana yang di atasnya terdapat sebuah poci tanah liat lengkap dengan cangkir berbahan bambu.

Ada juga sepasang pedang lusuh yang menempel pada salah satu dinding dengan posisi menyilang sehingga tampak seperti hiasan.

Tapi Lintang tidak peduli, dia kini sedang menitikan air mata teringat dengan semua kenangan keluarganya.

Lintang belum sadar bahwa dirinya hidup kembali dan sedang berada di tubuh seorang anak kecil.

“Ayah, ibu, Sari, Tari, Rani, Rara,, Arga, Sugi, Ayu, bagaimana keadaan kalian?” ucap Lintang lirih dipenuhi linang air mata.

“Jagat, Asgar, Limo,” gumam Lintang.

Dia masih terbaring bingung, menatap kosong pada langit-langit, membayangkan wajah semua keluarga yang pasti sedang bersedih akibat kematiannya.

Namun sesaat kemudian lamunan pemuda itu seketika buyar dikejutkan oleh sebuah suara keras dari balik pintu kamar.

“Oiii, Kusha! Aku tahu kau sedang menangis. Dasar cengeng! Ayo cepat bangun, ibu memanggil kita keruang makan.” Teriak seorang anak lelaki berusia 14 tahun yang entah siapa.

“Kusha? Siapa Kusha? Mengapa ada suara seorang bocah? Bukankah di sini tidak ada siapa-siapa selain aku?” Lintang mengerutkan kening tidak mengerti.

Dia mulai sadar bahwa dirinya ternyata sedang berada di sebuah ruangan yang entah di mana. Yang pasti Lintang tidak lagi terkurung dalam kegelapan semesta.

“Rasa sakit? Bernapas? Detak jantung? Apa mungkin aku hidup kembali?” gumam Lintang melebarkan mata.

Dia kemudian segera meraba dada, memastikan bahwa detak jantung yang ia rasakan bukanlah mimpi.

Dan benar saja, Lintang ternyata kembali memiliki jantung, membuat pemuda itu tertawa terbahak bahak.

“Hahahahahaha, aku hidup! Aku hidup! Yosh! Aku hidup lagi!” Lintang meracau berlompatan di atas pembaringan.

Dia berlompatan senang layaknya seorang anak kecil tanpa peduli pada teriakan yang terus memanggil nama Kusha dari luar kamar.

“Dasar gila! Apa mungkin dia mengalami gegar otak akibat benturan?” umpat seorang anak lelaki di luar kamar.

“Oii, Kusha, cepat buka pintu! Ayah dan ibu sudah menunggu kita, ayo cepat keluar!” bentak anak tersebut.

“Kusha? Dasar bocah nakal! Siapa dia? Mengapa anak itu terus berteriak ke dalam kamar?” gumam Lintang.

Karena merasa heran, Lintang pun lantas mengedarkan pandangan, menyusuri setiap sudut ruangan memastikan barangkali ada anak bernama Kusha di sana.

Tapi sekeras apa pun Lintang mencari, di dalam kamar tetap saja tidak ada siapa pun selain dirinya.

“Aneh! Di sini tidak ada siapa-siapa?” gumam Lintang mengerutkan kening.

Namun anak lelaki tadi kembali berteriak, kali ini suaranya lebih kencang membuat Lintang sakit kepala mendengarnya.

Merasa kesal kepada anak itu, Lintang pun lantas menanggapi teriakannya.

“Oiii bocah! Siapa kau? Mengapa terus memanggil nama Kusha?” seru Lintang.

“Dasar tengik! Berani kau memanggil aku bocah? Ayo cepat keluar, ibu sudah menunggu kita sedari tadi!” balas sang anak lelaki dengan umpatan.

“Ibu?” Lintang duduk di pembaringan, menyandarkan punggung pada dinding dipan sembari mengangkat tangan berniat mengurut keningnya yang terasa sakit.

Namun sebelum tangannya tiba menyentuh kening, Lintang langsung terperanjat kaget melebarkan mata.

Dia tidak percaya menyaksikan tangan yang seharusnya kekar entah mengapa menjadi begitu kecil layaknya tangan anak-anak.

Dan ketika diraba kulitnya terasa begitu lembut bagaikan bayi. Terlebih dia memiliki kulit berwarna biru tua membuat Lintang semakin terkaget keheranan.

 “Ini ...?  A-a—ada apa de-dengan ta-tanganku?” Lintang terbata.

Mengira semua itu hanya ilusi, Lintang pun lantas memeriksa kaki, tubuh, serta meraba wajahnya, memastikan bahwa dia tidak sedang terjebak dalam ajian seseorang.

Tapi seberapa kali pun pemuda itu memeriksa, tubuhnya tetap tidak berubah membuat dia langsung berteriak panik.

“Kyaaaaaaaaa, ti-tidakkkkk! Aku tidak mau! Mengapa tubuhku menjadi anak kecil seperti ini, ayahhhhh, tidakkkkk! Siapa pun tolong aku!” Lintang menjerit histeris.

Dia kembali meracau seperti orang gila, tapi racauannya kali ini bagaikan seorang yang sedang tersakiti membuat anak lelaki di luar kamar langsung mendobrak pintu sangat khawatir.

**

Hai teman-teman, Novel Lintang pertama juga sudah rilis, silahkan dibaca dengan judul Legenda Tongkat Semesta.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1193

    “Kau jangan cemas. Dia tidak melakukan moksa. Gadis itu sekarang sedang berlatih keras agar dapat membantu menyelamatkan suaminya,” sambung Hanuman membuat Lintang menjadi tenang.Meski bingung entah dari mana Larasati mengetahui kondisi Arga, Lintang tetap berusaha menerimanya karena sejak awal, dia memang telah terseret ke dalam misteri besar.Bahkan rahasia Alam Asmat sekali pun tidak bisa Lintang cerna. Belum lagi sekarang ada kaum kera, Hanuman, dan segala apa yang menimpa dirinya.Tidak ingin larut dalam ketidak berdayaan, Lintang lantas menanyakan prihal luka dan apa yang harus dia lakukan agar luka itu sembuh sehingga Hanuman langsung menjelaskannya.Ternyata, luka yang Lintang derita adalah karma karena dia telah melenyapkan ruh seorang mahluk suci dari Jagat Raya atas yang seharusnya tidak boleh dilenyapkan oleh dia yang masih hidup.“Ghuhahala? A-apa mungkin dia?” Lintang terkejut.“Aku tidak tahu entah siapa nama ruh itu. Namun yang aku lihat dari karmamu memang demikian,”

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1192

    Pada awalnya, Lintang memang dibuat canggung dan ketakutan oleh sosok kera putih kecil yang ditemuinya.Namun setelah beberapa lama, dia mulai terbiasa dengan sikap angkuh makhluk tersebut sehingga mereka pada akhirnya menjadi teman.Sang kera putih memperkenalkan diri sebagai Hanuman, tetapi mahluk lain kadang memanggil dia sebagai Hanoman atau Anuman yang berarti si rahang besar karena ras kera memang memiliki rahang besar.Namun rahang milik Hanuman jauh lebih besar sehingga membuat tampangnya menjadi sangat lucu.Tetapi itu hanya pada wujud kecilnya saja karena dalam wujud Tiwikrama, sosok Hanuman akan sangat mengerikan dengan taring dan kuku yang mampu mencabik dunia dalam sekecap mata.“Anuman, aku tidak mengerti mengapa kau menyelamatkanku? Siapa kau sebenarnya dan apa tujuanmu terhadapku?” tutur Lintang mulai berani bertanya layaknya pada seorang sahabat.Saat ini, Lintang dan Hanuman tengah duduk berhadapan di atas sebuah batu besar yang sebelumnya Hanuman gunakan untuk tidur

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1191

    Perlu diketahui bahwa setelah pertarungannya dengan Morogandi, Lintang dan Limo kehilangan seluruh energi.Mereka tidak bisa memulihkan diri menggunakan energi regenerasi sehingga memerlukan bantuan orang lain.Sedangkan terkait kemampuan penciptaan pil milik Lintang, kekuatan itu turut menghilang bersama energi pengendalian api karena pil tidak bisa dibentuk tanpa api.Terlebih Lintang tidak bisa mengakses dimensi penyimpanannya, sehingga membuat dia benar-benar tidak berdaya.Andai tidak ada para kera kecil, mungkin Lintang dan Limo akan mati.Namun beruntung takdir masih berpihak kepada mereka, dimana tanpa terduga, Lintang dan Limo tersadar telah dirawat oleh para kera.Sedikit janggal memang karena seharusnya tidak ada kera yang mengerti tentang ilmu pengobatan.Akan tetapi di dunia aneh seperti alam Asmat ini, para kera justru sangat pintar. Bahkan mereka mampu berkomunikasi dengan mahluk lain seakan mereka memiliki pradaban. Padahal para kera di sana bukanlah mahluk siluman.“L

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1190

    Namun Mutiara Sendayu masih penasaran terhadap apa yang sedang dilakukan oleh para prajurit yang bertapa.“Lantas mereka? Mantera apa yang sedang mereka rapalkan?” tanya Mutiara Sendayu penasaran.“Maaf gusti, kami juga tidak memiliki kewenangan atas itu,” keempat prajurit bidadari kembali meminta maaf karena tidak bisa menjawab pertanyaan Mutiara Sendayu.“Sial! Apa ini hanya perasaanku saja atau mereka memang menjengkelkan,” Mutiara Sendayu menggerutu di dalam hati.Bukan tanpa alasan Mutiara Sendayu merasa seperti itu karena selain mengkhawatirkan Larasati, dia juga mengkhawatirkan keadaan Lintang dan Limo yang sampai saat ini belum kunjung menyusulnya.Sementara para prajurit bidadari malah terkesan menutup-nutupi informasi sehingga Mutiara Sendayu merasa jengkel.Namun bagaimana pun, dia tetap tidak bisa berbuat banyak karena para bidadari memang terikat hukum yang membelenggu kehidupan mereka.Alhasil dari pada terus mengumpat, Mutiara Sendayu pun langsung meminta para prajurit

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1189

    Setelah dua hari tidak sadarkan diri akibat terbentur batuan keras di dasar jeram, Mutiara Sendayu akhirnya kembali sadarkan diri.Ia begitu terkejut dan sangat heran karena mendapati dirinya tengah terbaring di atas ranjang kristal yang memancarkan cahaya merah darah.Seakan bukan kristal biasa, selain bisa memulihkan luka, ranjang kristal itu juga ternyata mampu memulihkan kekuatan Mutiara Sendayu sampai mencapai titik puncaknya, membuat istri kedua Arga tersebut tidak lagi terlalu tertekan oleh gravitasi alam Asmat. Setidaknya dia kini bisa lebih sedikit leluasa dalam bergerak.Mutiara Sendayu bangkit dari pembaringan, namun di saat dia sedang bertanya-tanya akan dimana dan siapa yang menolongnya, Mutiara Sendayu tiba-tiba melebarkan mata karena secara tidak terduga, datang 4 prajurit bidadari istana atas awan milik Larasati yang menandakan bahwa dirinya benar-benar berhasil mencapai lembah Hanuman.Ke-empat prajurit bidadari itu serentak berlutut memberi hormat, menyapa Mutiara Se

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1188

    Gruuuuuuuusssssss!Pohon, tanah, dan batuan lenyap seketika tergerus oleh sinar ledakan tersebut. Sehingga yang tersisa di sana hanya tinggal lubang kawah yang amat sangat besar. Sedangkan Mutiara Sendayu berada tepat di tepi lubang itu.“He-hebat ...,” tubuh Mutiara Sendayu bergetar tak kuasa menahan keterkejutan.Sementara Morogandi memicingkan mata tidak percaya karena serangan Lintang kali ini mampu mengimbangi kesaktiannya.“Aku tidak peduli kau makhluk apa dan apa hubungan dengan Ruh Swarnakesa. Kau memang sakti, bahkan sangat sakti seakan kau bukan berasal dari Jagat Bhursaloka. Namun selama jantungku masih berdetak, aku tidak akan pernah memberikan tubuhku pada siapa pun,” seru Lintang sembari kembali mengayunkan tongkatnya.Wush!Lintang dengan tubuh milik Limo melompat jauh ke atas, mengayunkan tongkat semesta secara vertikal tepat ke arah kepala lawan.Namun Morogandi lagi-lagi mampu melihat arah serangannya, sehingga dengan sigap dia juga kembali menyilangkan kedua kakinya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status