Beranda / Fantasi / Legenda Pendekar Biru / Bab 153 Pengganggu Perang

Share

Bab 153 Pengganggu Perang

Penulis: Pujangga
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-23 19:19:45

Kedatangan Lintang tidak hanya mengagetkan kedua belah pihak, tapi juga membuat geram pihak ketiga yang saat itu sedang menyaksikan peperangan.

Alpere dan ke 7 panglima lain sama-sama bingung tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Yang jelas Lintang adalah ancaman besar bagi mereka.

“Bedebah! Siapkan pasukan dan senjata perang. Pemuda sialan itu seperti akan mengganggu rencana kita,” Panglima Alpere melayangkan perintah.

Panglima Hala, Rogo, Lamtiar, Yurasa, Patar, Patudu, dan Siahan mengerti dengan keputusan itu.

Meski wujud Lintang hanya seorang pemuda tanggung, tapi aura dan karismanya begitu kuat sehingga disegani oleh para pembesar kerajaan Manggala.

Alpere, Lamtiar dan yang lain tidak tahu entah apa yang akan dilakukan Lintang.

Namun dari gelagatnya, Lintang seperti berniat menghentikan perang, membuat para panglima kerajaan Galatik terpaksa harus berganti rencana.

Mereka merasakan firasat buruk dari kehadiran Lintang, di mana sosok dan kedatanganya sangat misterius serta mencu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1170

    Setelah itu Lintang melesat terbang ke atas, membawa badai energi cahaya yang melindungi Galuh dan semua orang.Mereka berhenti di tengah semesta Maniloka, tidak jauh dari bekas medan pertempuran semula.Kemudian dengan sisa-sisa kekuatannya, Lintang dengan cepat memulihkan kondisi mereka, membuat Galuh dan semua orang kembali bugar seperti sedia kala.“Terimakasih nak, tapi tubuhmu ...,” Galuh terkejut mendapati Lintang ternyata mengalami luka.Meski luka itu tidak terlihat mata, tetapi sebagai pemilik kekuatan jantung samudra Galuh mampu melihat ke dalam tubuh terdalam Lintang.“Aku tidak apa-apa ayah. Setidaknya aku masih bisa hidup untuk ribuan tahun lagi,” ungkap Lintang menenangkan.Namun pangeran Arundia, dan yang lain yang mendengar itu malah menjadi sangat cemas.Terlebih putri Shalya karena Lintang adalah tujuan hidupnya.“A-apa ayah terluka? A-ayah cepat obati luka itu, ayah kan seorang alkemis. Ayah pasti bisa melakukannya,” Anjeli memeluk Lintang.“Tidak putri kecilku. Ay

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1169

    “Saat ini bukan waktunya kau mempersalahkan wujudmu, Swarnakesa. Aku datang kemari untuk kembali bekerja sama.”Lintang yang sudah memahami arti tatapan Ruh Swarnakesa langsung menjawabnya secara singkat.“Cih! Apa yang kau bisa terhadap rantai-rantai kematian ini? Jangankan dirimu, aku yang sudah lama hidup sekali pun tidak mampu menggoresnya,” ujar Ruh Swarnakesa dengan kesombongannya.“Justru karena kau tidak mampu sendiri aku kemari. Setidaknya dengan bersama, kita bisa memiliki peluang yang lebih besar,” tutur Lintang.Sesaat Ruh Swarnakesa terlihat berdecak kesal. Namun pada akhirnya, dia tetap menerima tawaran Lintang.“Kau bilang tadi rantai kematian? Itu artinya kau sudah tahu siapa yang ingin merenggut jiwa kita bukan?” tanya Lintang.“Tentu saja bodoh! Rantai ini adalah rantai kematian. Rantai pusaka milik Malaikat Kematian,” ungkap Ruh Swarnakesa.“Jelaskan secara rinci padaku,” pinta Lintang.“Beraliansi dengan mahluk rendah seperti dirimu memang menjengkelkan. Tapi baikl

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1168

    “Ma-mahluk macam apa yang keluar dari pusaran kelam itu?” napas Garu dan pangeran Arundia tertahan.Mereka tidak menduga akan ada mahluk dengan wujud yang semengerikan itu. Padahal di setiap harinya mereka kerap berhadapan dengan berbagai jenis ras mahluk.“Malaikat kematian, tidak salah lagi. Aku pernah merasakan auranya saat dulu tewas di tangan dia,” ungkap Galuh sembari melirik ke arah Dewa Kegelapan yang kala itu juga masih menganga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.“Malaikat kematian?” semua orang serentak mengedarkan pandangan ke arah Galuh.“Kakek, malaikat itu apa kek?” tanya Anjeli polos.“Malaikat Kematian adalah penguasa alam baka, dia merupakan raja yang bertugas mengurung serta menyiksa seluruh ruh.”Ungkap Galuh, wajahnya tetap nampak pucat menandakan bahwa ketakutan Malaikat Kematian memang bukan ketakutan biasa. Tetapi ketakutan yang mampu menekan kesadaran ruh dan jiwa.“A-anjeli takut kek,” Anjeli memeluk lengan Jinggo erat-erat.Tidak ada yang tidak menggig

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1167

    Setelah kembali mendapatkan tongkat semesta, Jagat dan Lintang lantas melesat menyerang Nawadurja.Mendapati itu, Ruh Swarnakesa yang sudah pulih kembali pun tidak tinggal diam.Menurutnya, Lintang yang sekarang adalah kesempatannya untuk bisa membinasakan Nawadurja sehingga dia langsung turut melesat menyerang musuh yang sama.Wush!Lintang mengibaskan tongkat semesta, namun sebelum itu, dia membentuk segel tangan terlebih dahulu, menciptakan akar cahaya yang berhasil melilit salah satu lengan Nawadurja, membuat mahluk tersebut kesulitan bergerak.Krak!Tangan kanan Nawadurja yang menggenggam pedang seketika kaku terlilit akar cahaya, sementara serangan dari Lintang dan Ruh Swarnakesa sudah semakin mendekat.Hal itu sontak saja membuat Nawadurja panik, dia berusaha melepaskan akar cahaya, tetapi sayang akar tersebut ternyata sangat kuat.“Cecunguk tengik! Ilmu apa yang kau pakai? Sialan!” Nawadurja mengumpat panjang lebar.Dia kemudian mengepakkan kedua sayapnya untuk menghindar, nam

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1166

    Dari sejak diciptakan, untuk pertama kalinya ruang Pranayama mengalami guncangan hebat.Bahkan beberapa pelindung di ruangan itu sampai mengalami kerusakan.Cahaya terang memancar dari tubuh Lintang, mengikis seluruh kegelapan yang ada menjadi sumber kekuatan ruang Pranayama.Badai petir berputar membentuk pusaran, menyambar setiap dinding Pranayama, mengakibatkan ruang pusaka tersebut mengalami keretakan.Sementara Lintang masih duduk bersila memejamkan mata, merapalkan mantera yang dihapalnya sembari membayangkan setiap gerakan tangan yang ada di dalam kitab.Hal ini membuktikan bahwa jurus segel yang tengah Lintang pelajari memang bukan jurus biasa. Tetapi jurus segel maha tinggi yang mampu mengekang seluruh energi, termasuk energi dari kekuatan maha dewa terdahulu.Tidak ada yang tahu entah seperti apa kekuatan puncak dari jurus segel tersebut. Yang jelas ruang Pranayama sekali pun tak mampu menahannya, padahal apa yang tubuh Lintang keluarkan hanya berupa aura semata.“Tinggal se

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1165

    Wush! Trang!Siurrr! BUMMMM!Serangan dari Lintang dan Ruh Swarnakesa berhasil ditangkis oleh Nawadurja dengan sangat mudah.Namun meski begitu, keduanya tetap maju seakan tidak peduli pada hasil yang didapat.Sieng!Lintang melesatkan tongkat semesta, menciptakan pusaran pita cahaya yang amat sangat tajam.Sementara Ruh Swarnakesa menebaskan pedang kebalikan milik Arga.“Percuma saja kalian menentangku. Dengan puncak kekuatan ini, serangan kalian tidak lebih dari sehelai bulu yang menggelitik,” Nawadurja menyeringai tipis ke arah kedua lawannya.Kemudian, dia menahan pusaran pita cahaya milik Lintang dengan kibasan sayap kanan.Sementara tebasan pedang ruh Swarnakesa di tangkis oleh pedangnya.Wush! BUMMMMM!Tongkat semesta yang sebelumnya menjelma menjadi pita cahaya langsung terpental terkena ledakan energi sayap musuh.Sedangkan pedang kebalikan tertahan oleh pedang lawan, membuat Ruh Swarnakesa terpaksa harus kembali mundur mengambil jarak.Mendapati serangan tongkatnya tidak ber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status