Beranda / Fantasi / Legenda Pendekar Biru / Bab 181 Saran Ahli Siasat bagian 2

Share

Bab 181 Saran Ahli Siasat bagian 2

Penulis: Pujangga
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-26 19:38:49

“Kedua terdapat kecacatan dalam analisa medan. Jika benar kerajaan Galatik berada diantara dua gunung besar, maka terdapat berbagai kemungkinan yang akan kita hadapi,” Lintang melanjutkan penjelasannya.

“Posisi kerajaan di bawah gunung memang sangat mudah sekali diserang dari dua sisi. Namun kita harus menguasai kedua gunung tersebut terlebih dahulu. Dan musuh pasti sudah menyadari kelemahannya,” sambung Lintang membuat Prabu Mangkukarsa, Raja Manggala, dan Raden Rakean semakin pucat.

“Dengan begitu, musuh kemungkinan telah menyiapkan perangkap mematikan di kedua sisi itu. Jika tidak jebakan beracun atau semacamnya, mereka pasti memiliki jalur goa bawah tanah yang bisa menghubungkan langsung antara wilayah kerajaan dengan kedua gunung tersebut,” tutur Lintang.

“Ba-bagaimana kau bisa berpikir hingga sejauh itu Kusha? Sial! ternyata perhitungan kami masih jauh dari kata matang,” Prabu Mangkukarsa menelan ludah ngeri.

“Si-si—siapa kau sebenarnya anak muda? Kemampuan analisis seperti itu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1193

    “Kau jangan cemas. Dia tidak melakukan moksa. Gadis itu sekarang sedang berlatih keras agar dapat membantu menyelamatkan suaminya,” sambung Hanuman membuat Lintang menjadi tenang.Meski bingung entah dari mana Larasati mengetahui kondisi Arga, Lintang tetap berusaha menerimanya karena sejak awal, dia memang telah terseret ke dalam misteri besar.Bahkan rahasia Alam Asmat sekali pun tidak bisa Lintang cerna. Belum lagi sekarang ada kaum kera, Hanuman, dan segala apa yang menimpa dirinya.Tidak ingin larut dalam ketidak berdayaan, Lintang lantas menanyakan prihal luka dan apa yang harus dia lakukan agar luka itu sembuh sehingga Hanuman langsung menjelaskannya.Ternyata, luka yang Lintang derita adalah karma karena dia telah melenyapkan ruh seorang mahluk suci dari Jagat Raya atas yang seharusnya tidak boleh dilenyapkan oleh dia yang masih hidup.“Ghuhahala? A-apa mungkin dia?” Lintang terkejut.“Aku tidak tahu entah siapa nama ruh itu. Namun yang aku lihat dari karmamu memang demikian,”

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1192

    Pada awalnya, Lintang memang dibuat canggung dan ketakutan oleh sosok kera putih kecil yang ditemuinya.Namun setelah beberapa lama, dia mulai terbiasa dengan sikap angkuh makhluk tersebut sehingga mereka pada akhirnya menjadi teman.Sang kera putih memperkenalkan diri sebagai Hanuman, tetapi mahluk lain kadang memanggil dia sebagai Hanoman atau Anuman yang berarti si rahang besar karena ras kera memang memiliki rahang besar.Namun rahang milik Hanuman jauh lebih besar sehingga membuat tampangnya menjadi sangat lucu.Tetapi itu hanya pada wujud kecilnya saja karena dalam wujud Tiwikrama, sosok Hanuman akan sangat mengerikan dengan taring dan kuku yang mampu mencabik dunia dalam sekecap mata.“Anuman, aku tidak mengerti mengapa kau menyelamatkanku? Siapa kau sebenarnya dan apa tujuanmu terhadapku?” tutur Lintang mulai berani bertanya layaknya pada seorang sahabat.Saat ini, Lintang dan Hanuman tengah duduk berhadapan di atas sebuah batu besar yang sebelumnya Hanuman gunakan untuk tidur

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1191

    Perlu diketahui bahwa setelah pertarungannya dengan Morogandi, Lintang dan Limo kehilangan seluruh energi.Mereka tidak bisa memulihkan diri menggunakan energi regenerasi sehingga memerlukan bantuan orang lain.Sedangkan terkait kemampuan penciptaan pil milik Lintang, kekuatan itu turut menghilang bersama energi pengendalian api karena pil tidak bisa dibentuk tanpa api.Terlebih Lintang tidak bisa mengakses dimensi penyimpanannya, sehingga membuat dia benar-benar tidak berdaya.Andai tidak ada para kera kecil, mungkin Lintang dan Limo akan mati.Namun beruntung takdir masih berpihak kepada mereka, dimana tanpa terduga, Lintang dan Limo tersadar telah dirawat oleh para kera.Sedikit janggal memang karena seharusnya tidak ada kera yang mengerti tentang ilmu pengobatan.Akan tetapi di dunia aneh seperti alam Asmat ini, para kera justru sangat pintar. Bahkan mereka mampu berkomunikasi dengan mahluk lain seakan mereka memiliki pradaban. Padahal para kera di sana bukanlah mahluk siluman.“L

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1190

    Namun Mutiara Sendayu masih penasaran terhadap apa yang sedang dilakukan oleh para prajurit yang bertapa.“Lantas mereka? Mantera apa yang sedang mereka rapalkan?” tanya Mutiara Sendayu penasaran.“Maaf gusti, kami juga tidak memiliki kewenangan atas itu,” keempat prajurit bidadari kembali meminta maaf karena tidak bisa menjawab pertanyaan Mutiara Sendayu.“Sial! Apa ini hanya perasaanku saja atau mereka memang menjengkelkan,” Mutiara Sendayu menggerutu di dalam hati.Bukan tanpa alasan Mutiara Sendayu merasa seperti itu karena selain mengkhawatirkan Larasati, dia juga mengkhawatirkan keadaan Lintang dan Limo yang sampai saat ini belum kunjung menyusulnya.Sementara para prajurit bidadari malah terkesan menutup-nutupi informasi sehingga Mutiara Sendayu merasa jengkel.Namun bagaimana pun, dia tetap tidak bisa berbuat banyak karena para bidadari memang terikat hukum yang membelenggu kehidupan mereka.Alhasil dari pada terus mengumpat, Mutiara Sendayu pun langsung meminta para prajurit

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1189

    Setelah dua hari tidak sadarkan diri akibat terbentur batuan keras di dasar jeram, Mutiara Sendayu akhirnya kembali sadarkan diri.Ia begitu terkejut dan sangat heran karena mendapati dirinya tengah terbaring di atas ranjang kristal yang memancarkan cahaya merah darah.Seakan bukan kristal biasa, selain bisa memulihkan luka, ranjang kristal itu juga ternyata mampu memulihkan kekuatan Mutiara Sendayu sampai mencapai titik puncaknya, membuat istri kedua Arga tersebut tidak lagi terlalu tertekan oleh gravitasi alam Asmat. Setidaknya dia kini bisa lebih sedikit leluasa dalam bergerak.Mutiara Sendayu bangkit dari pembaringan, namun di saat dia sedang bertanya-tanya akan dimana dan siapa yang menolongnya, Mutiara Sendayu tiba-tiba melebarkan mata karena secara tidak terduga, datang 4 prajurit bidadari istana atas awan milik Larasati yang menandakan bahwa dirinya benar-benar berhasil mencapai lembah Hanuman.Ke-empat prajurit bidadari itu serentak berlutut memberi hormat, menyapa Mutiara Se

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1188

    Gruuuuuuuusssssss!Pohon, tanah, dan batuan lenyap seketika tergerus oleh sinar ledakan tersebut. Sehingga yang tersisa di sana hanya tinggal lubang kawah yang amat sangat besar. Sedangkan Mutiara Sendayu berada tepat di tepi lubang itu.“He-hebat ...,” tubuh Mutiara Sendayu bergetar tak kuasa menahan keterkejutan.Sementara Morogandi memicingkan mata tidak percaya karena serangan Lintang kali ini mampu mengimbangi kesaktiannya.“Aku tidak peduli kau makhluk apa dan apa hubungan dengan Ruh Swarnakesa. Kau memang sakti, bahkan sangat sakti seakan kau bukan berasal dari Jagat Bhursaloka. Namun selama jantungku masih berdetak, aku tidak akan pernah memberikan tubuhku pada siapa pun,” seru Lintang sembari kembali mengayunkan tongkatnya.Wush!Lintang dengan tubuh milik Limo melompat jauh ke atas, mengayunkan tongkat semesta secara vertikal tepat ke arah kepala lawan.Namun Morogandi lagi-lagi mampu melihat arah serangannya, sehingga dengan sigap dia juga kembali menyilangkan kedua kakinya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status