LOGIN“Ilusi kebalikan. Bukankah ini mirip kemampuan pedang Kak Arga? Ta-tapi ini jauh lebih sulit dan lebih mematikan. Dasar tongkat bedebah!” Nayaka mulai mengerti saat mendapati permukaan tongkat semesta kembali utuh setelah semua luka yang dia dapatkan pindah ke tubuh Nayaka.Ini mirip dengan teknik cermin abadi pada pedang kebalikan. Apa pun yang kita lakukan terhadap si pemilik pedang akan berbalik kepada diri kita sendiri.Hanya bedanya, jurus dari tongkat semesta ini terjadi di dalam dunia ilusi sehingga Nayaka menemukan jalan buntu untuk mematahkannya.“Ingin mempermainkanku, cih! Tidak akan kubiarkan!” Nayaka mengibaskan tangan, membuka kembali kurungan sutra kegelapan yang melindungi dirinya.Setelah itu Nayaka melesat tinggi ke atas, mengayunkan pedang berniat menebas tongkat raksasa.Namun meski hanya sebatas tongkat, benda besar tersebut juga tidak tinggal diam.Mendapati dirinya akan ditebas oleh kekuatan tingkat tinggi, tongkat semesta pun segera bergerak melakukan perlawana
Sebelum bertemu dengan seluruh keluarga, Lintang lebih dulu menemui Nayaka yang waktu itu kebetulan sedang berlatih mempertajam kanuragannya.Di sebuah arae kosong di belakang kaputren Manik Segoro, Nayaka melayang, melompat, berputar, dan melesat sembari menebaskan pedang.Batuan serta karang yang berada di radius 200 meter dari tempatnya akan langsung hancur berhamburan sebelum kemudian melebur menjadi abu.Padahal waktu itu Nayaka tidak mengayunkan serangannya ke arah bawah, melainkan ke atas samudra hingga di permukaan laut tercipta gelombang-gelombang tsunami besar.Hal tersebut menandakan bahwa dalam setahun ini, kanuragan Nayaka mengalami perkembangan yang sangat pesat, yang membuat Lintang begitu terkagum terhadap semangat kependekarannya.Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Lintang yang sedari tadi sudah tidak sabar pun langsung menghilang dari pandangan.Kemudian secara tiba-tiba, dia muncul tepat di hadapan Nayaka dengan telah melepaskan tinjunya.Hiukkk!Kepalan tangan
Dua hari setelah pertarungan, kondisi Lintang pun mulai membaik.Namun itu bukanlah kabar yang menggembirakan karena biasanya, Luka apa pun yang Lintang derita akan sembuh hanya dalam hitungan tarikan napas.Mendapati hal tersebut, kini semua orang jadi tahu bahwa Lintang sejatinya memang sedang mengalami penyakit yang serius.Baik Balada, Saudagar Weda, Kianati Dharma, Ratu Gayatri, Prabu Dewangga, Raden Buana, Prabu Masalemba, bahkan sampai Linguy sekali pun sempat bertanya mengenai penyakit apa yang dideritanya?Namun satu pun tidak ada yang pernah Lintang jawab.Lintang benar-benar tidak ingin keluarganya tahu tentang apa yang tengah dideritanya.Dia hanya mengatakan bahwa dirinya sengaja memperlambat kesembuhan agar bisa beristirahat lebih lama.Akan tetapi siapa yang percaya, semua orang bisa melihat kebohongan pemuda itu. Hanya saja mereka lebih memilih diam karena tidak ingin menambah beban pikiran Lintang.Bahkan Anantari, Putri Asmara, dan Atmarani juga ikut berpura-pura, be
Puncak kekuatan cahaya melawan kesaktian legenda dari Peri Kehidupan. Sebuah pertempuran luar biasa terbesar yang pernah ada.Semua orang berharap-harap cemas di luar sangkar. Meraka tidak bisa mencampuri pertarungan keduanya karena terhalang kayu pelindung dari gunung ottoka.Sesaat Balada memang sempat kewalahan oleh puncak kekuatan cahaya milik Lintang.Akan tetapi beberapa tarikan napas berikutnya, Balada berhasil menguasai alur pertarungan.Dia bahkan mampu menghajar Lintang habis-habisan, sampai Lintang beberapa kali terjungkal memuntahkan darah hitam.Namun bagaimana pun, Balada tidak berniat membunuh Lintang. Dia hanya berusaha memaksa Lintang untuk sadar agar bisa melihat kenyataan.Dan benar saja, setelah mendapatkan luka yang cukup parah, kesadaran Lintang akhirnya kembali.Dia mematung dalam posisi berlutut, tertegun dengan apa yang dilihatnya.“Ka-kakak ..., mengapa kita bertarung?” Lintang menatap bingung dengan mata berkaca-kaca.Mendengar itu, Balada sontak saja sangat
Saudagar Weda Warta dan Kianti Dharma hampir melesat menyelamatkan Balada.Mereka tidak lagi sanggup menyaksikan kedua putra tercintanya bertarung beradu nyawa.Bagaimana pun, kesaktian Balada berada jauh di bawah Lintang. Saudagar Weda dan Kianti Dharma tidak mau salah satu putra mereka celaka.Terlebih Lintang saat ini masih dikuasai emosi, sehingga baik Balada mau pun Lintang, keduanya akan sama-sama menderita.Tidak ada hal baik dari sebuah pertarungan, apalagi pertarungan antara saudara.Jika pun Balada bisa mengalahkan Lintang, dia tidak akan mendapat apa-apa selain kesedihan.Begitu pula dengan Lintang, andai Balada meninggal dalam pertarungan dan suatu saat Lintang sadar, maka Lintang akan kehilangan jati dirinya.“Putraku, sudah cukup nak! Jangan lanjutkan!” teriak Kianti Dharma.“Bundamu benar nak. Kekerasan hanya akan semakin menyulut amarah. Kasihan adikmu, biarkan dia tenang, biar waktu yang memulihkan kondisinya,” Saudagar Weda benar-benar cemas.Keduanya tidak bisa mend
Semua orang tidak bisa main-main dengan kesaktian Lintang karena meski tubuh Lintang dalam keadaan terluka, tetapi puncak kekuatannya tetap saja bisa menghancurkan dunia dengan sangat mudah.Selain Lesmana, Galuh, dan Raja Kancradaka, tidak ada lagi yang mengetahui tentang luka tersebut.Mereka sengaja menyembunyikannya agar tidak menciptakan kesedihan lain di hati semua orang. Terlebih keluarga Wardana dan Weda Warta.Anantari, Putri Asmara, Atmarani, Putri Widuri, Putri Purbararang, Putri Shalya, Mayang, Pangeran Arundia, Anjeli, Jinggo, Asgar, Limo, Samhu, Linguy, Cantika Ayu, Yunla, Nindhi, Saudagar Weda, Kianti Dharma, Prabu Dorokundo, Raja Tunggara Setya, Raden Rakean, Prabu Tapa Mukti, Prabu Lhangkem Lhamuri, Prabu Dewangga, Raden Buana, Ratu Ambar, Ratu Isyana, Ratu Utari, Kanjeng Ratu Kidul, bahkan Ratu Gayatri sudah berkumpul berdiri di tepi medan laga yang sudah para sakti beri segel pelindung.Termasuk Raja Masalemba dan Senopati Drupada, mereka juga turut hadir karena in







