LOGINPuncak kekuatan cahaya melawan kesaktian legenda dari Peri Kehidupan. Sebuah pertempuran luar biasa terbesar yang pernah ada.Semua orang berharap-harap cemas di luar sangkar. Meraka tidak bisa mencampuri pertarungan keduanya karena terhalang kayu pelindung dari gunung ottoka.Sesaat Balada memang sempat kewalahan oleh puncak kekuatan cahaya milik Lintang.Akan tetapi beberapa tarikan napas berikutnya, Balada berhasil menguasai alur pertarungan.Dia bahkan mampu menghajar Lintang habis-habisan, sampai Lintang beberapa kali terjungkal memuntahkan darah hitam.Namun bagaimana pun, Balada tidak berniat membunuh Lintang. Dia hanya berusaha memaksa Lintang untuk sadar agar bisa melihat kenyataan.Dan benar saja, setelah mendapatkan luka yang cukup parah, kesadaran Lintang akhirnya kembali.Dia mematung dalam posisi berlutut, tertegun dengan apa yang dilihatnya.“Ka-kakak ..., mengapa kita bertarung?” Lintang menatap bingung dengan mata berkaca-kaca.Mendengar itu, Balada sontak saja sangat
Saudagar Weda Warta dan Kianti Dharma hampir melesat menyelamatkan Balada.Mereka tidak lagi sanggup menyaksikan kedua putra tercintanya bertarung beradu nyawa.Bagaimana pun, kesaktian Balada berada jauh di bawah Lintang. Saudagar Weda dan Kianti Dharma tidak mau salah satu putra mereka celaka.Terlebih Lintang saat ini masih dikuasai emosi, sehingga baik Balada mau pun Lintang, keduanya akan sama-sama menderita.Tidak ada hal baik dari sebuah pertarungan, apalagi pertarungan antara saudara.Jika pun Balada bisa mengalahkan Lintang, dia tidak akan mendapat apa-apa selain kesedihan.Begitu pula dengan Lintang, andai Balada meninggal dalam pertarungan dan suatu saat Lintang sadar, maka Lintang akan kehilangan jati dirinya.“Putraku, sudah cukup nak! Jangan lanjutkan!” teriak Kianti Dharma.“Bundamu benar nak. Kekerasan hanya akan semakin menyulut amarah. Kasihan adikmu, biarkan dia tenang, biar waktu yang memulihkan kondisinya,” Saudagar Weda benar-benar cemas.Keduanya tidak bisa mend
Semua orang tidak bisa main-main dengan kesaktian Lintang karena meski tubuh Lintang dalam keadaan terluka, tetapi puncak kekuatannya tetap saja bisa menghancurkan dunia dengan sangat mudah.Selain Lesmana, Galuh, dan Raja Kancradaka, tidak ada lagi yang mengetahui tentang luka tersebut.Mereka sengaja menyembunyikannya agar tidak menciptakan kesedihan lain di hati semua orang. Terlebih keluarga Wardana dan Weda Warta.Anantari, Putri Asmara, Atmarani, Putri Widuri, Putri Purbararang, Putri Shalya, Mayang, Pangeran Arundia, Anjeli, Jinggo, Asgar, Limo, Samhu, Linguy, Cantika Ayu, Yunla, Nindhi, Saudagar Weda, Kianti Dharma, Prabu Dorokundo, Raja Tunggara Setya, Raden Rakean, Prabu Tapa Mukti, Prabu Lhangkem Lhamuri, Prabu Dewangga, Raden Buana, Ratu Ambar, Ratu Isyana, Ratu Utari, Kanjeng Ratu Kidul, bahkan Ratu Gayatri sudah berkumpul berdiri di tepi medan laga yang sudah para sakti beri segel pelindung.Termasuk Raja Masalemba dan Senopati Drupada, mereka juga turut hadir karena in
Hari berganti hari, mingggu berubah menjadi bulan namun belum menyentuh hitungan tahun.Selama itu pula para raja, rakyat, dan saudagar yang berniat menetap di wilayah tersebut bergotong royong membangun kembali peradaban.Mereka mulai menebang kayu, membersihkan hutan, serta mengumpulkan bebatuan dan tanah liat sebagai pondasi dasar hunian yang akan didirikan.Kemudian dalam hitungan bulan, berdirilah kedaton istana, kaputren keluarga raja, benteng pertahanan, gerbang, menara pengawas, komplek kediaman para bangsawan, dan rumah-rumah warga.Begitu pula dengan kota raja yang akan menjadi pusat perekonomian masyarakat. Bahkan sawah dan ladang-ladang pertanian pun turut bermunculan secara bertahap.Dalam hitungan bulan, peradaban manusia sudah kembali seperti semula.Meski masih berupa peradaban sederhana, tetapi setidaknya mereka memiliki tempat untuk hidup dan mengolah sumber kehidupan (Pertanian, peternakan, perikanan, budidaya dan berbagai bentuk ketahanan pangan lain).Kerajaan Mal
Setelah Ruh Swarnakesa melarikan diri, cukup lama Galuh dan semua orang hanyut dalam kesedihan.Termasuk Lesmana karena bagaimana pun, dia pernah hidup lama bersama Arga. Bahkan jauh lebih lama dari pada Galuh dan Lintang.Namun Lesmana tidak menitikan air mata, ia hanya memendam kesedihan itu di dalam hati agar tidak terlalu terbawa suasana.Bagi Lesmana, kelahiran, kematian, jodoh, dan kehidupan sudah bagian dari takdir.Setiap pertemuan pasti akan diakhiri oleh perpisahan, pun begitu pula dengan pertemuannya dengan Arga.Akan tetapi Lesmana percaya, Arga sangat kuat sehingga dia pasti bertahan.Sudah terlalu lama Lesmana meninggalkan semesta Raya. Pria itu berkelana jauh ke semesta Raya yang lain.Alhasil untuk mengetahui semua yang terjadi, Lesmana meminta Galuh menceritakan semuanya. Dimulai dari kemunculan Nawadurja, Dewa Kegelapan yang kembali hidup, kelahiran Lintang, serta alasan Arga memilih jalan kematian.Memang benar saat ini dia telah memiliki kesaktian jauh di atas mahl
Namun Lesmana, dia mampu berpindah tempat dalam sekejap. Bahkan hampir tidak terikat waktu seakan sedari awal dirinya memang sudah berada di sana.“Siapa dia sebenarnya? Mengapa teknik dan ajian yang dia miliki sangat berbeda dengan ajian para pendekar pada umumnya?” ruh Swarnakesa bertanya-tanya sendiri di dalam hati.Wajah dingin, tatapan tajam, serta senyuman tipis di bibir Lesmana sudah lebih dari cukup untuk menunjukan bahwa dia tidak memiliki ketakutan.Kemudian dengan sikapnya yang tenang dan aura kegelapan yang begitu besar, Lesmana sepertinya jelas memiliki banyak cara untuk mengalahkan Ruh Swarnakesa.Namun dia masih menunggu keputusan Lintang dimana sedari awal, Lintang tidak pernah menunjukan niat membunuh terhadap lawan.Sebuah teka-teki yang sulit dicerna oleh Lesmana. Terlebih sedari dulu Lintang memang jarang terbuka. Terutama terhadap sesuatu yang menyangkut kematian.Wush! Jleg!Raja Kegelapan tiba-tiba muncul di sisi Lintang. “Kawan, apa yang kau pertimbangkan dari







