Home / Pendekar / Legenda Pendekar Dewa / Bab 5. Bocah dalam Ramalan

Share

Bab 5. Bocah dalam Ramalan

last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-29 12:27:50

Feng Wudao memperhatikan bocah itu sejenak. Pandangannya kembali tertuju pada kedua mata Zhi Shen yang berbeda warna. Ia teringat catatan kuno mengenai Suku Bulan Ungu yang telah lama menghilang. Terlebih lagi, Zhi Shen sebelumnya mengaku pernah melihat gerakan lawannya melambat ketika kedua matanya bereaksi.

Jika bocah ini benar-benar memiliki hubungan dengan legenda itu, bakatnya mungkin jauh dari biasa.

Feng Wudao mengusap janggutnya. Ia ingin mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimiliki Zhi Shen.

“Menjadi pendekar tidak semudah yang kau bayangkan. Tidak semua orang memiliki bakat untuk mempelajari ilmu bela diri,” ujar Feng Wudao akhirnya.

Zhi Shen terdiam. “Jadi, aku belum tentu bisa?”

“Tentu saja. Namun, bukan berarti kau tidak boleh mencoba.” Feng Wudao menjawab dengan nada tegas.

Zhi Shen kembali mengangkat wajah.

“Besok, aku akan melihat apakah kau memiliki bakat untuk menjadi pendekar,” lanjut Feng Wudao.

“Benarkah, Kakek?!”

Feng Wudao mengangguk.

“Tapi jangan terlalu senang dulu. Kalau ternyata kau tidak memiliki bakat, kau harus menerima kenyataan itu.”

Zhi Shen menatap kedua tangannya. Ia belum pernah mempelajari ilmu bela diri, apalagi mengetahui apakah dirinya memiliki bakat.

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan sekarang,” ujar Feng Wudao, membuyarkan lamunannya. “Hari sudah malam. Kau juga masih perlu memulihkan diri.”

Zhi Shen mengangguk, lalu mengikuti Feng Wudao masuk ke dalam rumah.

Sesampainya di ruang utama, Feng Wudao menunjuk sebuah pintu di sisi ruangan.

“Kau bisa tidur di kamar itu. Besok pagi, setelah lukamu lebih baik, kita akan melihat bagaimana bakatmu.”

“Baik, Kakek!”

Zhi Shen segera menuju kamar yang ditunjukkan. Ruangan itu sederhana, tetapi bersih dan nyaman.

Setelah merebahkan tubuh di tempat tidur, Zhi Shen kembali teringat janji Feng Wudao. Ia tidak sabar menunggu hari esok, meskipun masih khawatir apakah dirinya benar-benar memiliki bakat menjadi pendekar.

Tak lama kemudian, rasa lelah membuatnya tertidur.

Malam semakin larut. Setelah memastikan Zhi Shen beristirahat di kamarnya, Feng Wudao duduk seorang diri di teras. Ia mengeluarkan sebuah kitab usang dari cincin ruangnya. Pada sampulnya tertulis tiga kata, Kitab Petunjuk Langit.

Feng Wudao membuka kitab tersebut hingga menemukan halaman yang selama ini masih diingatnya.

“Di antara jutaan makhluk hidup, akan lahir seseorang yang membawa dua warna berbeda pada kedua matanya.”

“Mata kirinya menyimpan rahasia masa lalu, sedangkan mata kanannya menyimpan bayangan masa depan.”

Feng Wudao terdiam. Mungkinkah bocah itu adalah orang yang disebutkan dalam ramalan ini?

Selama bertahun-tahun, Feng Wudao menganggap ramalan tersebut terlalu sulit dibuktikan. Namun, kini seorang bocah dengan ciri yang sama justru muncul di hadapannya.

“Sepertinya aku harus memperhatikan bocah itu lebih jauh,” gumamnya.

Feng Wudao menutup kitab tersebut, lalu menyimpannya kembali ke dalam cincin ruang. Untuk sementara, ia memilih tidak memberi tahu Zhi Shen mengenai ramalan itu.

*****

Keesokan paginya, Zhi Shen terbangun ketika cahaya matahari masuk melalui jendela kamarnya. Ia bangkit dan merapikan tempat tidur sebelum keluar menuju ruang utama. Rumah masih sepi, sementara pintu kamar Feng Wudao belum terbuka.

Zhi Shen melirik ke arah dapur.

Mengingat Feng Wudao telah memberinya tempat tinggal dan makanan, ia ingin melakukan sesuatu sebagai ucapan terima kasih.

“Kalau begitu, aku akan menyiapkan sarapan untuk Kakek!” seru Zhi Shen penuh semangat.

Zhi Shen segera menuju dapur dan mulai memeriksa bahan makanan yang tersedia. Ia menemukan beras, sayuran, dan beberapa bahan makanan lainnya. Ia memutuskan membuat bubur sederhana beserta lauk untuk sarapan.

Setelah semuanya matang, Zhi Shen membawa makanan ke ruang utama dan menatanya di atas meja.

Tak lama kemudian, pintu kamar Feng Wudao terbuka. Pria tua itu keluar sambil menguap. Begitu mencium aroma makanan, pandangannya langsung beralih ke meja makan.

Zhi Shen yang sedang merapikan mangkuk segera menoleh.

“Kakek sudah bangun!” serunya sambil tersenyum.

Feng Wudao menghampiri meja dan memperhatikan hidangan yang tersedia. “Kau membuat semua ini?”

“Iya, Kakek!” Zhi Shen mengangguk bangga. Namun, sesaat kemudian, senyumnya menghilang.

Zhi Shen baru teringat bahwa dirinya menggunakan bahan makanan di dapur tanpa meminta izin. Semalam, Feng Wudao memang mengizinkannya membantu memasak, tetapi tidak pernah mengatakan bahwa ia boleh mengambil bahan makanan sendiri.

“Kakek, maaf. Aku menggunakan bahan makanan di dapur tanpa meminta izin,” ucapnya sambil menunduk.

Feng Wudao hanya meliriknya sebelum menarik kursi dan duduk.

“Lain kali, beri tahu aku kalau ada bahan makanan yang habis.”

Zhi Shen mengangkat kepala dengan ragu. “Eh... hanya itu, Kakek?”

“Memangnya kau melakukan kesalahan besar?”

“Tidak, Kakek.” Zhi Shen menggeleng cepat.

“Kalau begitu, duduklah. Buburnya akan dingin.”

Zhi Shen tersenyum lega, lalu segera duduk di hadapannya.

Feng Wudao mengambil mangkuk dan mencicipi bubur buatan Zhi Shen. Bocah itu diam-diam memperhatikan wajahnya, menunggu tanggapan.

Setelah beberapa suap, Feng Wudao mengangguk puas. “Rasanya cukup enak. Kau memang sudah terbiasa memasak, rupanya.”

Wajah Zhi Shen langsung cerah. “Dahulu aku sering memasak sendiri. Kalau tidak memasak, aku tidak punya makanan untuk dimakan.”

Feng Wudao tidak menanyakan lebih jauh tentang masa lalunya.

“Selama tinggal di sini, kau tidak perlu mengkhawatirkan makanan.”

Zhi Shen tersenyum kecil. “Terima kasih, Kakek.”

Feng Wudao kembali menyendok buburnya, tetapi kemudian menyadari mangkuk Zhi Shen masih utuh.

“Kenapa kau belum makan? Bukankah kau juga belum sarapan?”

Zhi Shen menoleh ke mangkuknya, lalu tersentak kecil.

“Ah, benar!”

Ia buru-buru mengambil sendok dan mulai menyantap buburnya.

Feng Wudao hanya menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah bocah itu.

Setelah sarapan, Zhi Shen membereskan meja dan mencuci peralatan makan. Ketika kembali ke ruang utama, Feng Wudao sudah bersiap pergi.

“Bocah, aku harus mengurus sesuatu. Selama aku pergi, kau boleh melakukan apa saja di rumah. Tapi jangan masuk ke kamarku tanpa izin.”

“Baik, Kakek!”

Zhi Shen mengantar pria tua itu sampai ke pintu, lalu kembali masuk untuk merapikan rumah.

Setelah pekerjaannya selesai, ia berniat beristirahat. Namun, sebuah rak berisi berbagai kitab menarik perhatiannya. Ia menghampiri rak tersebut dan membaca beberapa judul. Matanya langsung berbinar ketika menemukan kitab-kitab ilmu bela diri.

“Wah, banyak sekali!”

Zhi Shen mengambil salah satunya dan mulai membaca. Halaman-halaman awal membahas latihan tubuh, pengaturan pernapasan, serta cara mengendalikan energi.

Beberapa istilah membuatnya kebingungan. Sesekali ia mengernyit dan membaca ulang penjelasannya, tetapi rasa penasaran membuatnya terus membalik halaman.

Setelah selesai dengan satu kitab, ia mengambil kitab lainnya.

Tanpa terasa, waktu berlalu hingga Feng Wudao kembali.

“Bocah.”

Zhi Shen tersentak dan segera menoleh. “Kakek! Kau sudah pulang?”

Feng Wudao melirik tumpukan kitab di meja.

“Sepertinya kau terlalu asyik membaca sampai tidak menyadari kedatanganku.”

Zhi Shen tersenyum malu. “Maaf, Kakek. Aku hanya penasaran dengan isinya.”

“Apakah kau memahami semuanya?” tanya Feng Wudao melihat beberapa buku yang tampak berubah tempat.

“Belum, Kakek. Banyak yang tidak kumengerti, tapi aku ingin mempelajarinya!”

Feng Wudao mengangguk pelan. Melihat kesungguhan bocah itu, ia teringat janji yang dibuatnya semalam.

“Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita melihat bakatmu menjadi pendekar?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 5. Bocah dalam Ramalan

    Feng Wudao memperhatikan bocah itu sejenak. Pandangannya kembali tertuju pada kedua mata Zhi Shen yang berbeda warna. Ia teringat catatan kuno mengenai Suku Bulan Ungu yang telah lama menghilang. Terlebih lagi, Zhi Shen sebelumnya mengaku pernah melihat gerakan lawannya melambat ketika kedua matanya bereaksi. Jika bocah ini benar-benar memiliki hubungan dengan legenda itu, bakatnya mungkin jauh dari biasa. Feng Wudao mengusap janggutnya. Ia ingin mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimiliki Zhi Shen. “Menjadi pendekar tidak semudah yang kau bayangkan. Tidak semua orang memiliki bakat untuk mempelajari ilmu bela diri,” ujar Feng Wudao akhirnya. Zhi Shen terdiam. “Jadi, aku belum tentu bisa?” “Tentu saja. Namun, bukan berarti kau tidak boleh mencoba.” Feng Wudao menjawab dengan nada tegas. Zhi Shen kembali mengangkat wajah. “Besok, aku akan melihat apakah kau memiliki bakat untuk menjadi pendekar,” lanjut Feng Wudao. “Benarkah, Kakek?!” Feng Wudao mengangguk. “Tapi

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 4. Ingin Menjadi Seorang Pendekar

    “Namaku Zhi Shen. Usiaku delapan tahun. Aku tinggal di Desa Jianlu.” Bocah itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Aku tinggal sendirian. Namun semalam, orang-orang itu menyerang desaku dan membakar rumah-rumah penduduk. Mereka juga membawaku pergi.” Zhi Shen menundukkan kepala. Bayangan rumah-rumah yang terbakar kembali terlintas di benaknya. Ia tidak tahu bagaimana nasib penduduk desa lainnya, termasuk orang-orang yang selama ini dikenalnya. Feng Wudao mengangguk kecil. Tatapannya kembali tertuju pada kedua mata bocah itu. “Apakah mereka menyerang desamu karena tertarik dengan matamu?” Zhi Shen terdiam sejenak, berusaha mengingat kejadian di rumahnya semalam. “Itu … aku tidak tahu. Awalnya mereka ingin membunuhku juga, salah satu dari mereka bahkan sudah mengangkat pedang. Namun ketika melihat mataku, tiba-tiba mereka menghentikannya.” Zhi Shen mengepalkan tangannya tanpa sadar, seolah kembali mengingat saat mencekam itu. Lalu, ia kembali menjelaskan, “Mereka bilang mataku

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 3. Pertemuan dengan Pendekar Legenda

    “Dari pakaian dan aura kalian, aku sudah bisa menebak bahwa kalian berasal dari aliran hitam,” ujar Feng Wudao dengan nada datar.Ji Mong segera menunduk sedikit. “Senior, Anda salah paham. Kami hanya rombongan pendekar yang sedang melakukan perjalanan.”Feng Wudao tertawa pendek. “Kalian boleh mengganti pakaian atau menyembunyikan identitas. Namun, kalian tidak bisa menyembunyikan bau kematian yang melekat pada tubuh.” Senyum Feng Wudao langsung menghilang, wajahnya berubah serius. “Berapa banyak orang yang kalian bunuh?”Wajah Ji Mong membeku. Menyadari kebohongannya telah terbongkar, ia langsung berteriak kepada anak buahnya.“Cepat berpencar! Selamatkan diri masing-masing!”Para anggota sekte segera melarikan diri ke berbagai arah.Zhi Shen terperanjat melihat mereka meninggalkan kuda dan barang rampasan begitu saja. Ia belum pernah membayangkan orang-orang yang menghancurkan desanya bisa ketakutan sampai seperti itu.Namun, Feng Wudao tidak membiarkan mereka pergi.“Kalian pikir

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 2. Awal Takdir Zhi Shen

    “Ugh …”Zhi Shen meringis sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit. Namun, begitu matanya perlahan terbuka, pemandangan di hadapannya membuatnya tertegun. Ada jeruji besi mengelilinginya. Ruangan itu begitu sempit hingga ia kesulitan meluruskan kaki.“Di mana aku?”Zhi Shen mencoba bangkit. Ia berpegangan pada jeruji untuk menjaga keseimbangan, lalu mengamati keadaan di sekelilingnya. Tetapi tubuhnya kembali terjatuh ketika kereta melewati jalan berbatu.Saat itu juga, ingatan tentang kejadian semalam kembali muncul di kepala Zhi Shen. Seketika, wajah Zhi Shen memucat. Ia mencengkeram jeruji besi di hadapannya, lalu mencoba mengguncangnya sekuat tenaga.“Aku harus keluar dari sini! Aku tidak mau dibawa ke pasar budak!”Zhi Shen berpindah ke sudut sel dan memeriksa sambungan batang-batang besi tersebut. Sayangnya, semuanya terpasang kuat pada rangkanya. Tubuhnya yang masih kesakitan juga tidak memungkinkan dirinya melakukan banyak hal.“Aku harus mencari cara....”Belum sempat

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 1. Bocah Bermata Dua Warna

    “Malam ini kita hancurkan desa ini. Jangan biarkan seorang pun lolos!” Seorang pria nampak berbicara dengan rekannya yang ada di sampingnya.Sementara itu, Zhi Shen, bocah delapan tahun yang kelelahan setelah bekerja seharian itu tengah terlelap di tempat tidurnya. Sementara di luar rumah, beberapa pria berpakaian hitam mulai menyerbu Desa Jianlu entah dengan tujuan apa. Hingga tiba-tiba sesuatu terjadi. Brak! Pintu kayu rumah Zhi Shen jebol dihantam tendangan. Bocah berusia delapan tahun itu terbangun dari tidurnya. Ia berusaha mendengarkan, tetapi belum sempat memastikan asal suara tersebut, terdengar bunyi benda pecah. Zhi Shen bangkit dan keluar dari kamarnya. Namun, tubuhnya langsung terhuyung ke belakang ketika beberapa pria berpakaian hitam menerobos masuk sambil menghunus pedang. Zhi Shen mundur dengan wajah pucat. Punggungnya membentur dinding. Ia benar-benar tidak menyangka suara tadi adalah suara orang-orang yang mendobrak paksa rumahnya. Sementara di luar, su

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status