Mag-log in“Ugh …”
Zhi Shen meringis sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit. Namun, begitu matanya perlahan terbuka, pemandangan di hadapannya membuatnya tertegun. Ada jeruji besi mengelilinginya. Ruangan itu begitu sempit hingga ia kesulitan meluruskan kaki. “Di mana aku?” Zhi Shen mencoba bangkit. Ia berpegangan pada jeruji untuk menjaga keseimbangan, lalu mengamati keadaan di sekelilingnya. Tetapi tubuhnya kembali terjatuh ketika kereta melewati jalan berbatu. Saat itu juga, ingatan tentang kejadian semalam kembali muncul di kepala Zhi Shen. Seketika, wajah Zhi Shen memucat. Ia mencengkeram jeruji besi di hadapannya, lalu mencoba mengguncangnya sekuat tenaga. “Aku harus keluar dari sini! Aku tidak mau dibawa ke pasar budak!” Zhi Shen berpindah ke sudut sel dan memeriksa sambungan batang-batang besi tersebut. Sayangnya, semuanya terpasang kuat pada rangkanya. Tubuhnya yang masih kesakitan juga tidak memungkinkan dirinya melakukan banyak hal. “Aku harus mencari cara....” Belum sempat memikirkan sesuatu, kereta yang ditumpanginya mendadak melambat. “Berhenti. Kuda-kuda perlu minum. Kita beristirahat di dekat sungai itu.” Terdengar suara seorang pria dari luar. Zhi Shen segera mendekati celah di antara papan kayu untuk mengintip keadaan di luar. Matanya membelalak ketika melihat begitu banyak pria berpakaian hitam berkumpul di padang rumput. Sebagian turun dari kuda, sementara yang lain berjalan menuju sungai. Jika dihitung jumlahnya, pasti lebih dari seratus orang. “Sebanyak ini orang yang harus kulewati kalau ingin kabur?” Zhi Shen akhirnya terduduk lemas. Ia tidak tahu ke mana orang-orang itu membawanya, apalagi bagaimana caranya melarikan diri dari para pendekar bersenjata. Ia tak memiliki kemampuan bela diri, tetapi ia tidak mau menghabiskan sisa hidupnya sebagai budak nantinya. Yang Zhi Shen tidak tahu, orang-orang itu adalah anggota Sekte Iblis Hitam. Mereka adalah salah satu kelompok aliran hitam yang dikenal kejam dan sering melakukan pembantaian. Saat ini, rombongan itu dipimpin oleh seorang tetua bernama Ji Mong, pria yang berada di barisan paling depan, yang sebelumnya memberi perintah untuk berhenti dan beristirahat. “Hei, orang tua! Bawa barang-barangmu dan pergi dari sini. Kami akan beristirahat di tempat ini!” seru Ji Mong sambil menatap pria tua di tepi sungai dengan tidak suka. Pria tua itu menoleh sekilas, kemudian kembali mengisi wadahnya dengan air. Dengan malas, ia berkata, “Padang rumput ini luas. Sungainya pun panjang. Kalian bisa memilih tempat lain.” Beberapa anggota sekte langsung mengumpat. “Orang tua kurang ajar!” “Berani menolak perintah tetua?” Mendengar itu, Zhi Shen langsung terperanjat. Ia kembali mengintip melalui celah kecil di dinding kereta. Pria tua itu masih terlihat tenang, sementara wajah Tetua Ji Mong semakin tidak bersahabat. Ji Mong mengerutkan kening. Ia mengerahkan indra spiritual untuk memeriksa pria tersebut, tetapi tidak merasakan aura pendekar yang berarti. Menurut penilaiannya, orang itu hanya pengembara tua dengan tubuh yang masih kuat. “Kesempatan terakhir,” kata Ji Mong. “Pergi sekarang, atau kau akan mati di sini.” Zhi Shen menahan napas. Ia berharap pria tua itu segera pergi. Zhi Shen sudah melihat sendiri betapa kejamnya orang-orang ini, dan ia tidak ingin ada orang lain yang menjadi korban mereka. Namun, pria tua itu justru tersenyum tipis dan berkata, “Aku hanya sedang mengisi air. Setelah selesai, aku akan pergi. Kalian tidak perlu mengancam orang hanya untuk mendapatkan tempat.” Wajah Ji Mong mengeras. Ia merasa harga dirinya diinjak di hadapan anak buahnya. “Kalau begitu, ajari orang tua ini cara menghormati orang lain.” Ji Mong melambaikan tangan kepada anggotanya. “Bunuh dia!” Beberapa anggota Sekte Iblis Hitam segera mencabut pedang dan menyerbu pria tua tersebut. Zhi Shen spontan mencengkeram jeruji besi. Ia ingin memperingatkan pria tua itu, tetapi para penyerang sudah terlalu dekat. Anehnya, pria tua tersebut sama sekali tidak terlihat panik. Zhi Shen tertegun ketika melihatnya berdiri dengan tenang, lalu mengepalkan tangan kanan tanpa sedikit pun berusaha menghindar. “Harimau Pencabik Nyawa!” teriak pria itu itu tiba-tiba. Aum! Raungan menggema di tepi sungai. Dari kepalan tangan pria tua itu melesat siluet harimau biru dengan taring dan cakar yang tampak nyata. Zhi Shen membelalak. Seumur hidupnya, ia belum pernah menyaksikan jurus seperti itu. “Apa itu?!” Harimau tersebut menerjang para pendekar yang menyerang. Mereka buru-buru mengangkat pedang untuk bertahan. Krak! Pedang mereka hancur saat bersentuhan dengan serangan itu. Sesaat kemudian, tubuh mereka terpental ke tanah dan tak lagi bergerak. Zhi Shen terpaku di balik jeruji besi. Para pendekar yang begitu mudah menangkapnya semalam ternyata tidak mampu menahan satu serangan pria tua tersebut. “Kakek itu … kuat sekali?” gumam Zhi Shen tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Sementara itu, seorang pendekar paruh baya yang berdiri di dekat Ji Mong mendadak mundur. Wajahnya memucat saat memandang pria tua tersebut. “Jurus itu... Aku pernah melihatnya dalam catatan dunia persilatan.” Ji Mong menoleh tajam. “Kau tahu siapa dia?” Pendekar itu menelan ludahnya sebelum akhirnya berkata, “Jurus Harimau Pencabik Nyawa adalah teknik andalan Feng Wudao!” Nama itu membuat beberapa pendekar senior tersentak. “Feng Wudao?!” “Pendekar terkuat itu?!” Pria paruh baya tersebut mengangguk cepat, lalu kembali menjelaskan. “Benar! Dia dikenal sebagai pendekar terkuat di dunia persilatan! Dia tidak terikat pada sekte atau kekaisaran mana pun. Bahkan, hanya sedikit orang yang pernah melihatnya secara langsung!” Ji Mong mematung. Wajahnya memucat setelah mengetahui bahwa pria tua yang baru saja diserang anak buahnya adalah pendekar legendaris Feng Wudao. Feng Wudao mengusap janggut putihnya, lalu terkekeh. “Rupanya masih ada orang yang mengenaliku.” Dari balik celah kereta, Zhi Shen memperhatikan perubahan sikap para anggota Sekte Iblis Hitam. Orang-orang yang sebelumnya begitu sombong kini bahkan tidak berani mengangkat kepala. Hal itu membuat Zhi Shen mulai menyadari bahwa pria tua tersebut pasti bukanlah orang sembarangan!Feng Wudao memperhatikan bocah itu sejenak. Pandangannya kembali tertuju pada kedua mata Zhi Shen yang berbeda warna. Ia teringat catatan kuno mengenai Suku Bulan Ungu yang telah lama menghilang. Terlebih lagi, Zhi Shen sebelumnya mengaku pernah melihat gerakan lawannya melambat ketika kedua matanya bereaksi. Jika bocah ini benar-benar memiliki hubungan dengan legenda itu, bakatnya mungkin jauh dari biasa. Feng Wudao mengusap janggutnya. Ia ingin mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimiliki Zhi Shen. “Menjadi pendekar tidak semudah yang kau bayangkan. Tidak semua orang memiliki bakat untuk mempelajari ilmu bela diri,” ujar Feng Wudao akhirnya. Zhi Shen terdiam. “Jadi, aku belum tentu bisa?” “Tentu saja. Namun, bukan berarti kau tidak boleh mencoba.” Feng Wudao menjawab dengan nada tegas. Zhi Shen kembali mengangkat wajah. “Besok, aku akan melihat apakah kau memiliki bakat untuk menjadi pendekar,” lanjut Feng Wudao. “Benarkah, Kakek?!” Feng Wudao mengangguk. “Tapi
“Namaku Zhi Shen. Usiaku delapan tahun. Aku tinggal di Desa Jianlu.” Bocah itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Aku tinggal sendirian. Namun semalam, orang-orang itu menyerang desaku dan membakar rumah-rumah penduduk. Mereka juga membawaku pergi.” Zhi Shen menundukkan kepala. Bayangan rumah-rumah yang terbakar kembali terlintas di benaknya. Ia tidak tahu bagaimana nasib penduduk desa lainnya, termasuk orang-orang yang selama ini dikenalnya. Feng Wudao mengangguk kecil. Tatapannya kembali tertuju pada kedua mata bocah itu. “Apakah mereka menyerang desamu karena tertarik dengan matamu?” Zhi Shen terdiam sejenak, berusaha mengingat kejadian di rumahnya semalam. “Itu … aku tidak tahu. Awalnya mereka ingin membunuhku juga, salah satu dari mereka bahkan sudah mengangkat pedang. Namun ketika melihat mataku, tiba-tiba mereka menghentikannya.” Zhi Shen mengepalkan tangannya tanpa sadar, seolah kembali mengingat saat mencekam itu. Lalu, ia kembali menjelaskan, “Mereka bilang mataku
“Dari pakaian dan aura kalian, aku sudah bisa menebak bahwa kalian berasal dari aliran hitam,” ujar Feng Wudao dengan nada datar.Ji Mong segera menunduk sedikit. “Senior, Anda salah paham. Kami hanya rombongan pendekar yang sedang melakukan perjalanan.”Feng Wudao tertawa pendek. “Kalian boleh mengganti pakaian atau menyembunyikan identitas. Namun, kalian tidak bisa menyembunyikan bau kematian yang melekat pada tubuh.” Senyum Feng Wudao langsung menghilang, wajahnya berubah serius. “Berapa banyak orang yang kalian bunuh?”Wajah Ji Mong membeku. Menyadari kebohongannya telah terbongkar, ia langsung berteriak kepada anak buahnya.“Cepat berpencar! Selamatkan diri masing-masing!”Para anggota sekte segera melarikan diri ke berbagai arah.Zhi Shen terperanjat melihat mereka meninggalkan kuda dan barang rampasan begitu saja. Ia belum pernah membayangkan orang-orang yang menghancurkan desanya bisa ketakutan sampai seperti itu.Namun, Feng Wudao tidak membiarkan mereka pergi.“Kalian pikir
“Ugh …”Zhi Shen meringis sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit. Namun, begitu matanya perlahan terbuka, pemandangan di hadapannya membuatnya tertegun. Ada jeruji besi mengelilinginya. Ruangan itu begitu sempit hingga ia kesulitan meluruskan kaki.“Di mana aku?”Zhi Shen mencoba bangkit. Ia berpegangan pada jeruji untuk menjaga keseimbangan, lalu mengamati keadaan di sekelilingnya. Tetapi tubuhnya kembali terjatuh ketika kereta melewati jalan berbatu.Saat itu juga, ingatan tentang kejadian semalam kembali muncul di kepala Zhi Shen. Seketika, wajah Zhi Shen memucat. Ia mencengkeram jeruji besi di hadapannya, lalu mencoba mengguncangnya sekuat tenaga.“Aku harus keluar dari sini! Aku tidak mau dibawa ke pasar budak!”Zhi Shen berpindah ke sudut sel dan memeriksa sambungan batang-batang besi tersebut. Sayangnya, semuanya terpasang kuat pada rangkanya. Tubuhnya yang masih kesakitan juga tidak memungkinkan dirinya melakukan banyak hal.“Aku harus mencari cara....”Belum sempat
“Malam ini kita hancurkan desa ini. Jangan biarkan seorang pun lolos!” Seorang pria nampak berbicara dengan rekannya yang ada di sampingnya.Sementara itu, Zhi Shen, bocah delapan tahun yang kelelahan setelah bekerja seharian itu tengah terlelap di tempat tidurnya. Sementara di luar rumah, beberapa pria berpakaian hitam mulai menyerbu Desa Jianlu entah dengan tujuan apa. Hingga tiba-tiba sesuatu terjadi. Brak! Pintu kayu rumah Zhi Shen jebol dihantam tendangan. Bocah berusia delapan tahun itu terbangun dari tidurnya. Ia berusaha mendengarkan, tetapi belum sempat memastikan asal suara tersebut, terdengar bunyi benda pecah. Zhi Shen bangkit dan keluar dari kamarnya. Namun, tubuhnya langsung terhuyung ke belakang ketika beberapa pria berpakaian hitam menerobos masuk sambil menghunus pedang. Zhi Shen mundur dengan wajah pucat. Punggungnya membentur dinding. Ia benar-benar tidak menyangka suara tadi adalah suara orang-orang yang mendobrak paksa rumahnya. Sementara di luar, su







