Inicio / Pendekar / Legenda Pendekar Dewa / Bab 3. Pertemuan dengan Pendekar Legenda

Compartir

Bab 3. Pertemuan dengan Pendekar Legenda

last update Fecha de publicación: 2026-10-29 12:23:49

“Dari pakaian dan aura kalian, aku sudah bisa menebak bahwa kalian berasal dari aliran hitam,” ujar Feng Wudao dengan nada datar.

Ji Mong segera menunduk sedikit. “Senior, Anda salah paham. Kami hanya rombongan pendekar yang sedang melakukan perjalanan.”

Feng Wudao tertawa pendek. 

“Kalian boleh mengganti pakaian atau menyembunyikan identitas. Namun, kalian tidak bisa menyembunyikan bau kematian yang melekat pada tubuh.” Senyum Feng Wudao langsung menghilang, wajahnya berubah serius. “Berapa banyak orang yang kalian bunuh?”

Wajah Ji Mong membeku. Menyadari kebohongannya telah terbongkar, ia langsung berteriak kepada anak buahnya.

“Cepat berpencar! Selamatkan diri masing-masing!”

Para anggota sekte segera melarikan diri ke berbagai arah.

Zhi Shen terperanjat melihat mereka meninggalkan kuda dan barang rampasan begitu saja. Ia belum pernah membayangkan orang-orang yang menghancurkan desanya bisa ketakutan sampai seperti itu.

Namun, Feng Wudao tidak membiarkan mereka pergi.

“Kalian pikir bisa melarikan diri?” ujarnya lirih, lalu menghela napas. “Kalian memang tidak pernah belajar.”

Feng Wudao langsung mengangkat tangan. Air sungai mendadak bergejolak, lalu terangkat ke udara dan berubah menjadi ribuan jarum bening.

“Seribu Jarum Embun!”

Wusss!

Jarum-jarum air melesat ke segala arah. Dalam sekejap, para anggota Sekte Iblis Hitam yang berusaha melarikan diri satu per satu tersungkur di padang rumput.

Zhi Shen membelalak. Ia bahkan tidak sempat mengikuti pergerakan serangan tersebut. “Hanya dengan satu gerakan, mereka semua dikalahkan?!”

Feng Wudao menurunkan tangan, lalu memandang wadah airnya yang tergeletak di atas batu. “Aku hanya ingin mengisi air. Sekarang malah harus mencari tempat lain.”

Zhi Shen masih terpaku memperhatikan pria tua itu. Bahkan ketika Feng Wudao hanya berjalan mengambil wadah airnya di dekat deretan kereta, pandangan Zhi Shen terus mengikutinya.

Namun, langkah pria tua itu tiba-tiba terhenti. Ia mengerutkan kening, lalu menoleh ke arah kereta tempat Zhi Shen dikurung.

Jantung Zhi Shen berdegup kencang.

Ketika Feng Wudao berjalan mendekat, Zhi Shen refleks mundur. Ia ingin meminta pertolongan, tetapi setelah menyaksikan kekuatan pria tua itu, ia justru takut akan bernasib sama seperti para anggota Sekte Iblis Hitam.

Tak lama kemudian, pintu kereta kuda terbuka.

Feng Wudao mengerutkan kening saat melihat seorang bocah kecil terkurung di balik jeruji besi. “Anak kecil?”

Zhi Shen menatapnya dengan waspada. Ia bahkan tidak berani menghembuskan napas dengan suara agak keras.

“Keluarlah,” kata Feng Wudao.

Zhi Shen ragu sesaat. Ia tidak tahu apakah pria tua itu juga termasuk pendekar yang hendak membawanya ke pasar budak. Namun melihat pintu sel telah terbuka dan orang-orang yang sebelumnya mengurungnya tidak lagi terdengar, ia akhirnya melangkah keluar dengan hati-hati.

Begitu turun dari kereta, Zhi Shen membungkuk dalam-dalam. “Terima kasih telah menyelamatkanku, Kakek.”

Feng Wudao melambaikan tangan. “Berdirilah. Apa kau terluka?”

Zhi Shen sempat terdiam, seolah tidak menyangka akan ditanya demikian.

“Perutku masih sakit. Salah satu dari mereka memukulku tadi malam,” jawab Zhi Shen akhirnya dengan apa adanya.

Feng Wudao mengamati tubuh kecil itu “Kau bisa berjalan?”

“Bisa.” Zhi Shen mengangguk penuh keyakinan.

“Bagus. Jangan memaksakan diri kalau rasa sakitnya bertambah.”

Zhi Shen kembali mengangguk. Namun, ketika pandangannya beralih ke padang rumput, tubuhnya mendadak menegang.

Mayat para anggota Sekte Iblis Hitam bergelimpangan di sekitar kereta. Mereka adalah orang-orang yang menyerang Desa Jianlu dan menculiknya semalam.

Zhi Shen menelan ludah. Ia lega karena tidak perlu lagi takut dibawa ke pasar budak, tetapi melihat Feng Wudao berdiri begitu santai di tengah semua itu membuatnya kembali gugup.

Bagaimanapun juga, Zhi Shen baru saja melihat betapa mudahnya pria tua itu menghancurkan sel besi. Kini ia tahu bahwa orang yang berdiri di hadapannya juga telah mengalahkan lebih dari seratus pendekar.

“Kakek … kakek tidak akan membawaku ke pasar budak, kan?” tanya Zhi Shan polos, tentu saja ia masih takut.

Feng Wudao terkekeh pelan. Ia benar-benar tidak menunjukkan niat untuk menyakiti kepada Zhi Shen. Pria itu menggelengkan kepalanya, lalu berkata, “Tenang saja, itu tidak akan terjadi.”

Zhi Shen perlahan melonggarkan genggaman tangannya. Lalu dengan suara lebih pelan, sekali lagi ia berkata, “Terima kasih, Kakek ….”

“Sudah cukup. Kau tidak perlu mengulanginya setiap saat.”

Nada suara Feng Wudao terdengar datar, tetapi tidak kasar. Ia hendak berbalik ketika pandangannya tertuju pada wajah bocah itu.

Ada sesuatu yang ganjil pada mata anak tersebut. Bola mata kirinya berwarna ungu, sedangkan yang kanan berwarna emas. Kedua warna itu tampak jelas, bukan akibat pantulan cahaya.

Feng Wudao menyipitkan mata. “Bocah, sejak lahir apakah kedua matamu memang seperti itu?”

Zhi Shen mengangkat wajah. Ia sudah terbiasa dengan pertanyaan tersebut, meskipun jarang ada orang dewasa yang menanyakannya tanpa mengejek.

“Ya, Kakek. Mataku memang seperti ini sejak lahir.”

“Pernahkah orang tuamu mengatakan sesuatu tentangnya?”

Zhi Shen terdiam.

“Ibuku meninggal ketika melahirkanku. Ayahku juga sudah meninggal setahun lalu. Aku tidak pernah tahu apa pun tentang mataku.”

Feng Wudao tidak langsung menjawab. Ia kembali memperhatikan kedua mata itu, sementara ingatan tentang sebuah buku kuno muncul di benaknya.

Bertahun-tahun silam, ia pernah membaca catatan singkat mengenai Suku Bulan Ungu. Menurut catatan tersebut, anggota suku itu memiliki ciri mata yang tidak biasa dan menyimpan kemampuan misterius. Namun, informasi yang tersisa sangat terbatas. Bahkan asal-usul suku tersebut tidak tercatat dengan jelas.

Catatan itu juga menyebutkan bahwa Suku Bulan Ungu telah menghilang sejak zaman kuno. Tidak ada yang mengetahui apakah mereka benar-benar punah atau hanya mengasingkan diri dari dunia persilatan.

Selama bertahun-tahun mengembara, Feng Wudao belum pernah bertemu seseorang dengan ciri seperti yang digambarkan dalam buku tersebut. Ia bahkan sempat menganggap kisah itu sebagai legenda yang dibesar-besarkan. Kini, seorang bocah dengan mata ungu dan emas berdiri tepat di hadapannya.

Feng Wudao tidak ingin buru-buru menarik kesimpulan. Warna mata yang sama belum cukup untuk membuktikan bahwa Zhi Shen merupakan keturunan Suku Bulan Ungu. Ia membutuhkan lebih banyak petunjuk.

“Apakah kedua matamu pernah menunjukkan sesuatu yang aneh?” tanyanya.

Zhi Shen berpikir sejenak. Ia teringat bagaimana gerakan pria yang hendak menangkapnya tampak melambat.

“Tadi malam, saat mereka hendak membawaku, aku bisa melihat gerakan salah seorang dari mereka menjadi lambat. Aku berhasil menghindar dan melukainya dengan pisau. Namun, setelah beberapa saat, kepalaku terasa sakit dan aku tidak bisa melakukannya lagi.”

Feng Wudao menatapnya lebih saksama, lalu kembali bertanya, “Kau tidak pernah mempelajari teknik bela diri?”

Zhi Shen menggelengkan kepalanya. “Tidak pernah.”

Feng Wudao tersenyum padanya. “Siapa namamu, bocah? Dari mana asalmu?"

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 5. Bocah dalam Ramalan

    Feng Wudao memperhatikan bocah itu sejenak. Pandangannya kembali tertuju pada kedua mata Zhi Shen yang berbeda warna. Ia teringat catatan kuno mengenai Suku Bulan Ungu yang telah lama menghilang. Terlebih lagi, Zhi Shen sebelumnya mengaku pernah melihat gerakan lawannya melambat ketika kedua matanya bereaksi. Jika bocah ini benar-benar memiliki hubungan dengan legenda itu, bakatnya mungkin jauh dari biasa. Feng Wudao mengusap janggutnya. Ia ingin mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimiliki Zhi Shen. “Menjadi pendekar tidak semudah yang kau bayangkan. Tidak semua orang memiliki bakat untuk mempelajari ilmu bela diri,” ujar Feng Wudao akhirnya. Zhi Shen terdiam. “Jadi, aku belum tentu bisa?” “Tentu saja. Namun, bukan berarti kau tidak boleh mencoba.” Feng Wudao menjawab dengan nada tegas. Zhi Shen kembali mengangkat wajah. “Besok, aku akan melihat apakah kau memiliki bakat untuk menjadi pendekar,” lanjut Feng Wudao. “Benarkah, Kakek?!” Feng Wudao mengangguk. “Tapi

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 4. Ingin Menjadi Seorang Pendekar

    “Namaku Zhi Shen. Usiaku delapan tahun. Aku tinggal di Desa Jianlu.” Bocah itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Aku tinggal sendirian. Namun semalam, orang-orang itu menyerang desaku dan membakar rumah-rumah penduduk. Mereka juga membawaku pergi.” Zhi Shen menundukkan kepala. Bayangan rumah-rumah yang terbakar kembali terlintas di benaknya. Ia tidak tahu bagaimana nasib penduduk desa lainnya, termasuk orang-orang yang selama ini dikenalnya. Feng Wudao mengangguk kecil. Tatapannya kembali tertuju pada kedua mata bocah itu. “Apakah mereka menyerang desamu karena tertarik dengan matamu?” Zhi Shen terdiam sejenak, berusaha mengingat kejadian di rumahnya semalam. “Itu … aku tidak tahu. Awalnya mereka ingin membunuhku juga, salah satu dari mereka bahkan sudah mengangkat pedang. Namun ketika melihat mataku, tiba-tiba mereka menghentikannya.” Zhi Shen mengepalkan tangannya tanpa sadar, seolah kembali mengingat saat mencekam itu. Lalu, ia kembali menjelaskan, “Mereka bilang mataku

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 3. Pertemuan dengan Pendekar Legenda

    “Dari pakaian dan aura kalian, aku sudah bisa menebak bahwa kalian berasal dari aliran hitam,” ujar Feng Wudao dengan nada datar.Ji Mong segera menunduk sedikit. “Senior, Anda salah paham. Kami hanya rombongan pendekar yang sedang melakukan perjalanan.”Feng Wudao tertawa pendek. “Kalian boleh mengganti pakaian atau menyembunyikan identitas. Namun, kalian tidak bisa menyembunyikan bau kematian yang melekat pada tubuh.” Senyum Feng Wudao langsung menghilang, wajahnya berubah serius. “Berapa banyak orang yang kalian bunuh?”Wajah Ji Mong membeku. Menyadari kebohongannya telah terbongkar, ia langsung berteriak kepada anak buahnya.“Cepat berpencar! Selamatkan diri masing-masing!”Para anggota sekte segera melarikan diri ke berbagai arah.Zhi Shen terperanjat melihat mereka meninggalkan kuda dan barang rampasan begitu saja. Ia belum pernah membayangkan orang-orang yang menghancurkan desanya bisa ketakutan sampai seperti itu.Namun, Feng Wudao tidak membiarkan mereka pergi.“Kalian pikir

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 2. Awal Takdir Zhi Shen

    “Ugh …”Zhi Shen meringis sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit. Namun, begitu matanya perlahan terbuka, pemandangan di hadapannya membuatnya tertegun. Ada jeruji besi mengelilinginya. Ruangan itu begitu sempit hingga ia kesulitan meluruskan kaki.“Di mana aku?”Zhi Shen mencoba bangkit. Ia berpegangan pada jeruji untuk menjaga keseimbangan, lalu mengamati keadaan di sekelilingnya. Tetapi tubuhnya kembali terjatuh ketika kereta melewati jalan berbatu.Saat itu juga, ingatan tentang kejadian semalam kembali muncul di kepala Zhi Shen. Seketika, wajah Zhi Shen memucat. Ia mencengkeram jeruji besi di hadapannya, lalu mencoba mengguncangnya sekuat tenaga.“Aku harus keluar dari sini! Aku tidak mau dibawa ke pasar budak!”Zhi Shen berpindah ke sudut sel dan memeriksa sambungan batang-batang besi tersebut. Sayangnya, semuanya terpasang kuat pada rangkanya. Tubuhnya yang masih kesakitan juga tidak memungkinkan dirinya melakukan banyak hal.“Aku harus mencari cara....”Belum sempat

  • Legenda Pendekar Dewa   Bab 1. Bocah Bermata Dua Warna

    “Malam ini kita hancurkan desa ini. Jangan biarkan seorang pun lolos!” Seorang pria nampak berbicara dengan rekannya yang ada di sampingnya.Sementara itu, Zhi Shen, bocah delapan tahun yang kelelahan setelah bekerja seharian itu tengah terlelap di tempat tidurnya. Sementara di luar rumah, beberapa pria berpakaian hitam mulai menyerbu Desa Jianlu entah dengan tujuan apa. Hingga tiba-tiba sesuatu terjadi. Brak! Pintu kayu rumah Zhi Shen jebol dihantam tendangan. Bocah berusia delapan tahun itu terbangun dari tidurnya. Ia berusaha mendengarkan, tetapi belum sempat memastikan asal suara tersebut, terdengar bunyi benda pecah. Zhi Shen bangkit dan keluar dari kamarnya. Namun, tubuhnya langsung terhuyung ke belakang ketika beberapa pria berpakaian hitam menerobos masuk sambil menghunus pedang. Zhi Shen mundur dengan wajah pucat. Punggungnya membentur dinding. Ia benar-benar tidak menyangka suara tadi adalah suara orang-orang yang mendobrak paksa rumahnya. Sementara di luar, su

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status