INICIAR SESIÓN“Namaku Zhi Shen. Usiaku delapan tahun. Aku tinggal di Desa Jianlu.” Bocah itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Aku tinggal sendirian. Namun semalam, orang-orang itu menyerang desaku dan membakar rumah-rumah penduduk. Mereka juga membawaku pergi.”
Zhi Shen menundukkan kepala. Bayangan rumah-rumah yang terbakar kembali terlintas di benaknya. Ia tidak tahu bagaimana nasib penduduk desa lainnya, termasuk orang-orang yang selama ini dikenalnya. Feng Wudao mengangguk kecil. Tatapannya kembali tertuju pada kedua mata bocah itu. “Apakah mereka menyerang desamu karena tertarik dengan matamu?” Zhi Shen terdiam sejenak, berusaha mengingat kejadian di rumahnya semalam. “Itu … aku tidak tahu. Awalnya mereka ingin membunuhku juga, salah satu dari mereka bahkan sudah mengangkat pedang. Namun ketika melihat mataku, tiba-tiba mereka menghentikannya.” Zhi Shen mengepalkan tangannya tanpa sadar, seolah kembali mengingat saat mencekam itu. Lalu, ia kembali menjelaskan, “Mereka bilang mataku aneh dan bisa dijual dengan harga mahal di pasar budak. Maka dari itu mereka membawaku pergi.” Feng Wudao sedikit mengernyit. Ia tidak menyangka sepasang mata bisa membuat sekelompok penjahat mengubah keputusan mereka dalam sekejap. “Begitu rupanya.” Feng Wudao tidak melanjutkan pembicaraan tentang mata Zhi Shen. Setelah terdiam sejenak, ia mengajukan pertanyaan lain. “Lalu, apa rencanamu sekarang?” Zhi Shen terdiam. Sejujurnya, ia belum memikirkan apa yang harus dilakukannya setelah berhasil lolos dari nasib sebagai budak. Desa Jianlu sudah hancur. Rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya mungkin telah menjadi abu. Ia bahkan tidak tahu apakah masih ada penduduk yang selamat. Setelah berpikir beberapa saat, Zhi Shen akhirnya menjawab, “Aku ingin pergi ke kota terdekat, Kakek. Mungkin aku bisa mencari pekerjaan di sana.” “Kau ingin bekerja? Dengan tubuh sekecil itu?” “Aku sudah terbiasa bekerja sejak tinggal di desa. Selama masih bisa mendapatkan uang untuk makan, aku pasti bisa bertahan.” Feng Wudao memperhatikan bocah di hadapannya. Meski baru berusia delapan tahun, Zhi Shen tampaknya sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri. “Kalau begitu, bagaimana jika kau tinggal bersamaku untuk sementara waktu?” Zhi Shen sontak mengangkat kepala. “Eh? Benarkah, Kakek?” “Tentu saja. Setidaknya sampai lukamu sembuh dan kau bisa menentukan apa yang ingin kau lakukan.” Zhi Shen tampak ragu. “Tapi aku tidak punya uang untuk membalas kebaikan Kakek.” “Siapa bilang kau harus membayarku?” Feng Wudao terkekeh. “Lagipula, dengan keadaanmu sekarang, kau bisa saja kembali ditangkap orang-orang seperti mereka lagi.” Dengan mata seperti itu, jelas akan membuat Zhi Shen mudah dikenali. Jika pergi ke kota sendirian, bukan tidak mungkin ada orang lain yang mencoba memanfaatkannya seperti anggota Sekte Iblis Hitam. Zhi Shen terdiam. Ia tahu pria tua itu benar. “Jadi, bagaimana?” Apakah kau tertarik? tanya Feng Wudao. Setelah berpikir sejenak, Zhi Shen akhirnya membungkuk. “Kalau begitu, aku akan merepotkanmu untuk sementara waktu, Kakek. Terima kasih telah memberiku tempat tinggal.” “Sudahlah. Oh ya, namaku Feng Wudao,” ujar Feng Wudao setelah ingat bahwa sejak tadi ia belum memperkenalkan namanya. Zhi Shen mengangguk, mengingat nama pria tua yang telah menyelamatkannya itu. Feng Wudao kemudian mengeluarkan sebuah pil dan menyerahkannya kepada Zhi Shen. “Telan ini. Lukamu akan segera membaik.” Zhi Shen menerima pil tersebut bersama air minum yang diberikan Feng Wudao. Tak lama setelah menelannya, rasa sakit di perutnya perlahan berkurang. Ketika Zhi Shen selesai, Feng Wudao mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya kepada bocah itu lalu berkata, “Kita berangkat sekarang.” Seketika itu juga tubuh Zhi Shen terangkat dari tanah. “Eh?!” Zhi Shen spontan mengayunkan kedua tangannya. Matanya membelalak ketika melihat kakinya tidak lagi menyentuh tanah. “K-Kakek! Kenapa tubuhku melayang?!” “Tenang saja. Aku hanya membawamu pergi.” Feng Wudao menggerakkan jarinya. Lapisan energi tak kasatmata menyelimuti tubuh Zhi Shen sebelum keduanya perlahan terangkat semakin tinggi. Zhi Shen mencengkeram pakaiannya dengan gugup. “Kita... benar-benar akan terbang?” “Tentu saja. Pegangan yang kuat.” Begitu selesai berbicara, Feng Wudao melesat menuju kejauhan. ***** Malam harinya, Zhi Shen akhirnya tiba di kediaman Feng Wudao yang terletak di puncak sebuah bukit. Di puncak bukit itu berdiri sebuah rumah kayu yang dikelilingi pepohonan dan bebatuan besar. Halamannya luas, sementara sebuah teras membentang di depan rumah. Feng Wudao berhenti di udara, memandang rumah yang sudah lama tidak dikunjunginya. “Sudah lama aku tidak pulang,” gumamnya. Ia menggerakkan beberapa jari. Udara di sekitar rumah seketika bergetar, lalu lapisan energi yang menyelimuti kediaman itu perlahan terbuka. Sebuah celah muncul pada formasi pelindungnya. Feng Wudao membawa Zhi Shen turun melewati celah tersebut. Begitu mereka mendarat di halaman, ia kembali menggerakkan tangannya. Formasi pelindung itu pun menutup, menyembunyikan kediamannya seperti semula. Udara di bukit terasa sejuk. Pepohonan tumbuh di sepanjang halaman, sementara suara gemericik sungai terdengar dari kejauhan. Cahaya bulan menerangi lingkungan sekitar, membuatnya tetap terlihat meski malam telah tiba. Zhi Shen memandang sekelilingnya dengan kagum. “Ini tempat tinggal Kakek?” tanya bocah itu. Feng Wudao mengangguk. “Benar. Memang tidak terlalu bagus, tetapi cukup untuk ditinggali.” “Menurutku, tempat ini sangat bagus.” Zhi Shen menatap rumah kayu di hadapannya. Selama tinggal di Desa Jianlu, ia tidak pernah membayangkan akan berada di tempat setenang ini. Rumah tersebut memang tidak besar, tetapi jauh lebih nyaman daripada tempat tinggalnya dahulu. Melihat kekaguman bocah itu, Feng Wudao tersenyum tipis. “Kalau begitu, ayo masuk. Jangan berdiri di luar terus.” Zhi Shen hendak mengikuti pria tua itu, tetapi langkahnya tertahan. Sejak tadi, ia masih memikirkan bagaimana Feng Wudao bisa mengalahkan begitu banyak pendekar, bahkan membawanya terbang melintasi pegunungan. Zhi Shen teringat kejadian semalam. Meski sudah berusaha melawan, ia tetap tidak mampu menyelamatkan diri dari para penculik. Sementara Feng Wudao bahkan hanya melakukan satu gerakan dan langsung bisa membuat ratusan orang itu melarikan diri. “Kakek....” Feng Wudao menghentikan langkahnya. “Ada apa?” Zhi Shen menatapnya dengan penuh harap. “Apakah aku juga bisa menjadi seperti Kakek?” Feng Wudao mengangkat sebelah alis. “Sepertiku?” “Iya! Bisa terbang dan menggunakan jurus-jurus hebat seperti tadi!” jawab Zhi Shen penuh rasa antusias. Feng Wudao mengusap janggutnya. “Jadi, kau ingin menjadi pendekar?” Zhi Shen mengangguk cepat. “Aku ingin menjadi kuat, Kakek! Kalau aku bisa menggunakan ilmu bela diri, orang-orang jahat tidak akan mudah menangkapku lagi!”Feng Wudao memperhatikan bocah itu sejenak. Pandangannya kembali tertuju pada kedua mata Zhi Shen yang berbeda warna. Ia teringat catatan kuno mengenai Suku Bulan Ungu yang telah lama menghilang. Terlebih lagi, Zhi Shen sebelumnya mengaku pernah melihat gerakan lawannya melambat ketika kedua matanya bereaksi. Jika bocah ini benar-benar memiliki hubungan dengan legenda itu, bakatnya mungkin jauh dari biasa. Feng Wudao mengusap janggutnya. Ia ingin mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimiliki Zhi Shen. “Menjadi pendekar tidak semudah yang kau bayangkan. Tidak semua orang memiliki bakat untuk mempelajari ilmu bela diri,” ujar Feng Wudao akhirnya. Zhi Shen terdiam. “Jadi, aku belum tentu bisa?” “Tentu saja. Namun, bukan berarti kau tidak boleh mencoba.” Feng Wudao menjawab dengan nada tegas. Zhi Shen kembali mengangkat wajah. “Besok, aku akan melihat apakah kau memiliki bakat untuk menjadi pendekar,” lanjut Feng Wudao. “Benarkah, Kakek?!” Feng Wudao mengangguk. “Tapi
“Namaku Zhi Shen. Usiaku delapan tahun. Aku tinggal di Desa Jianlu.” Bocah itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Aku tinggal sendirian. Namun semalam, orang-orang itu menyerang desaku dan membakar rumah-rumah penduduk. Mereka juga membawaku pergi.” Zhi Shen menundukkan kepala. Bayangan rumah-rumah yang terbakar kembali terlintas di benaknya. Ia tidak tahu bagaimana nasib penduduk desa lainnya, termasuk orang-orang yang selama ini dikenalnya. Feng Wudao mengangguk kecil. Tatapannya kembali tertuju pada kedua mata bocah itu. “Apakah mereka menyerang desamu karena tertarik dengan matamu?” Zhi Shen terdiam sejenak, berusaha mengingat kejadian di rumahnya semalam. “Itu … aku tidak tahu. Awalnya mereka ingin membunuhku juga, salah satu dari mereka bahkan sudah mengangkat pedang. Namun ketika melihat mataku, tiba-tiba mereka menghentikannya.” Zhi Shen mengepalkan tangannya tanpa sadar, seolah kembali mengingat saat mencekam itu. Lalu, ia kembali menjelaskan, “Mereka bilang mataku
“Dari pakaian dan aura kalian, aku sudah bisa menebak bahwa kalian berasal dari aliran hitam,” ujar Feng Wudao dengan nada datar.Ji Mong segera menunduk sedikit. “Senior, Anda salah paham. Kami hanya rombongan pendekar yang sedang melakukan perjalanan.”Feng Wudao tertawa pendek. “Kalian boleh mengganti pakaian atau menyembunyikan identitas. Namun, kalian tidak bisa menyembunyikan bau kematian yang melekat pada tubuh.” Senyum Feng Wudao langsung menghilang, wajahnya berubah serius. “Berapa banyak orang yang kalian bunuh?”Wajah Ji Mong membeku. Menyadari kebohongannya telah terbongkar, ia langsung berteriak kepada anak buahnya.“Cepat berpencar! Selamatkan diri masing-masing!”Para anggota sekte segera melarikan diri ke berbagai arah.Zhi Shen terperanjat melihat mereka meninggalkan kuda dan barang rampasan begitu saja. Ia belum pernah membayangkan orang-orang yang menghancurkan desanya bisa ketakutan sampai seperti itu.Namun, Feng Wudao tidak membiarkan mereka pergi.“Kalian pikir
“Ugh …”Zhi Shen meringis sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit. Namun, begitu matanya perlahan terbuka, pemandangan di hadapannya membuatnya tertegun. Ada jeruji besi mengelilinginya. Ruangan itu begitu sempit hingga ia kesulitan meluruskan kaki.“Di mana aku?”Zhi Shen mencoba bangkit. Ia berpegangan pada jeruji untuk menjaga keseimbangan, lalu mengamati keadaan di sekelilingnya. Tetapi tubuhnya kembali terjatuh ketika kereta melewati jalan berbatu.Saat itu juga, ingatan tentang kejadian semalam kembali muncul di kepala Zhi Shen. Seketika, wajah Zhi Shen memucat. Ia mencengkeram jeruji besi di hadapannya, lalu mencoba mengguncangnya sekuat tenaga.“Aku harus keluar dari sini! Aku tidak mau dibawa ke pasar budak!”Zhi Shen berpindah ke sudut sel dan memeriksa sambungan batang-batang besi tersebut. Sayangnya, semuanya terpasang kuat pada rangkanya. Tubuhnya yang masih kesakitan juga tidak memungkinkan dirinya melakukan banyak hal.“Aku harus mencari cara....”Belum sempat
“Malam ini kita hancurkan desa ini. Jangan biarkan seorang pun lolos!” Seorang pria nampak berbicara dengan rekannya yang ada di sampingnya.Sementara itu, Zhi Shen, bocah delapan tahun yang kelelahan setelah bekerja seharian itu tengah terlelap di tempat tidurnya. Sementara di luar rumah, beberapa pria berpakaian hitam mulai menyerbu Desa Jianlu entah dengan tujuan apa. Hingga tiba-tiba sesuatu terjadi. Brak! Pintu kayu rumah Zhi Shen jebol dihantam tendangan. Bocah berusia delapan tahun itu terbangun dari tidurnya. Ia berusaha mendengarkan, tetapi belum sempat memastikan asal suara tersebut, terdengar bunyi benda pecah. Zhi Shen bangkit dan keluar dari kamarnya. Namun, tubuhnya langsung terhuyung ke belakang ketika beberapa pria berpakaian hitam menerobos masuk sambil menghunus pedang. Zhi Shen mundur dengan wajah pucat. Punggungnya membentur dinding. Ia benar-benar tidak menyangka suara tadi adalah suara orang-orang yang mendobrak paksa rumahnya. Sementara di luar, su







