Share

06. Menara Lonceng

Penulis: Bebby
last update Terakhir Diperbarui: 2025-04-14 04:44:50

Udara malam terasa berat, lembap, dan penuh listrik. Di tengah bengkel tersembunyi yang penuh roda-roda gigi, kabel-kabel berserakan, dan bau logam yang tajam, berdiri Shin Tian. Ia berdiri terpaku, matanya menyapu siluet mesin waktu yang menjulang seperti raksasa logam dalam kabut tipis uap panas. Mesin itu tak hanya sekadar alat ciptaannya—itu adalah puncak dari semua malam tanpa tidur, goresan luka karena eksperimen gagal, dan mimpi-mimpi yang ia rawat dalam diam.

Ia menarik napas dalam-dalam. Udara masuk ke paru-parunya, dingin dan penuh aroma besi.

Akhirnya...

Namun jauh di dalam relung hatinya yang paling dalam, kehampaan menggeliat. Bukan kehampaan karena kelelahan atau keraguan. Tapi karena sosok yang tak pernah memberinya tatapan bangga—ayahnya. Kepala Keluarga Shin. Seorang pria berwajah batu dan suara sekeras baja tempa.

"Jika kau tidak menjadi kultivator, kau bukan siapa-siapa di keluarga ini." Kata-kata itu masih terngiang jelas, seperti cambuk yang tak kasat mata tapi meninggalkan bekas.

Shin Tian mengepalkan tangan. Ujung kukunya menusuk telapak.

"Bukan saatnya untuk tenggelam dalam perasaan," gumamnya, memaksa dirinya kembali fokus. Ia menatap ke arah aliran sungai yang deras mengalir tak jauh dari jendela bengkel. Gemuruh air mengisi telinganya, seolah dunia tengah bernapas bersamanya.

"Tenaga dari turbin air masih belum cukup... aku butuh lebih," katanya lirih.

Tiba-tiba—

DUUUAAAARRRR!

Langit mengerang. Cahaya putih menyilaukan membelah langit dan menerangi seluruh bengkel sejenak, memperlihatkan bayangan mesin waktu yang bergetar oleh dentuman petir yang baru saja menyambar jauh di kejauhan. Getarannya merambat hingga ke kaki Shin Tian.

Matanya membelalak. Bibirnya ternganga, lalu perlahan tertarik membentuk senyum kecil—penuh antusiasme, bahkan sedikit kegilaan.

"Petir," bisiknya, hampir tak percaya. "Kenapa aku tidak memikirkannya sejak awal?! Energi petir... itu jawabannya!"

Tangannya langsung meraih buku catatannya, mencoret-coret ide dengan pensil yang gemetar karena adrenalin.

"Aku hanya butuh penangkap... sesuatu yang bisa mengubah petir jadi energi listrik." Ia berbicara seolah pada dirinya sendiri, pikirannya berpacu lebih cepat dari kata-katanya. Tapi satu bayangan menghalangi—tempat yang cukup tinggi untuk memancing sambaran petir.

Dan saat itu, satu nama muncul di benaknya seperti kilat menyambar langit.

"Menara Lonceng."

Ia menelan ludah. Menara itu menjulang di ujung pemukiman Keluarga Shin, bangunan keramat yang dijaga ketat. Larangan memasuki tanpa izin adalah hukum yang tidak tertulis, tapi mutlak. Ayahnya menyebut menara itu sebagai “tulang punggung kehormatan keluarga.” Melanggar berarti mengkhianati garis darah.

Tapi Shin Tian hanya berdiri lebih tegak.

“Kalau aku harus melanggarnya demi membuktikan diri… maka biarlah begitu.”

Langkahnya menyusuri lorong-lorong belakang pemukiman seperti bayangan. Sepatu botnya nyaris tak bersuara di atas tanah becek. Cahaya obor yang berjaga-jaga di kejauhan memantul di dinding batu, sesekali menampilkan siluetnya yang ramping tapi teguh.

Ia tahu para penjaga muda sering terlena di malam hujan begini. Dengan mengandalkan celah waktu itu, ia menyelinap ke dalam gudang senjata. Udara di dalamnya lembap dan sarat debu tua yang mengendap di setiap sudut. Bau logam karatan bercampur bau kayu lapuk menusuk hidungnya.

Matanya mencari cepat di antara rak-rak yang berderit. Dan di sudut ruangan, matanya menangkap kilatan logam. Sebuah tombak besi—panjang, kokoh, dengan ujung yang masih tajam meski usianya tua.

“Ini dia,” desisnya sambil meraih tombak itu. Logam dingin menyentuh telapak tangannya, membuat jari-jarinya sedikit kaku.

Di samping tombak itu, ia mengambil gulungan kawat tembaga hasil eksperimen lamanya. Ia mengangguk kecil. Semuanya siap.

Langit sudah kelam saat ia tiba di kaki Menara Lonceng. Angin menderu seperti lolongan serigala, menusuk pori-pori lewat jubahnya yang basah diterpa rintik hujan.

Ia menengadah.

Menara menjulang seperti raksasa batu, tak bergerak namun menyimpan ancaman.

“Ayo, Tian,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Jangan ragu sekarang.”

Tangan dan kakinya mulai memanjat, mencengkeram celah kayu dan batu yang dingin dan licin. Hujan mengguyur wajahnya, menciptakan garis-garis dingin di kulitnya. Napasnya memburu, dada sesak karena ketinggian dan rasa takut yang coba ditepis. Tapi ia tak berhenti.

Setelah perjuangan panjang yang membuat tubuhnya nyaris mati rasa, ia tiba di puncak. Angin di sini lebih buas, mencambuk wajah dan telinganya tanpa ampun. Tapi pandangannya tetap terarah—ke langit.

Ia mengikat tombak besi di ujung menara, tangannya gemetar tapi mantap. Jemarinya membungkus kawat tembaga di sekeliling tombak, satu lilitan demi satu lilitan, seperti menyulam benang harapan.

Setelah semuanya selesai, ia berdiri tegak. Jubahnya berkibar liar. Petir kembali menyambar kejauhan, menyinari wajahnya yang basah dan bersinar oleh semangat membara.

“Aku akan tunjukkan padamu, Ayah... bahwa aku bisa mengukir takdirku sendiri.”

Ia menatap langit dengan mata penuh tekad. Kini, bukan hanya kilat yang menunggu waktu untuk menyambar—Shin Tian pun demikian.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Legenda Sang Genius Immortal   61. Formasi Pelindung Leluhur Keluarga Shin

    Langit di atas alun-alun berputar liar, awan-awan kelabu tersedot ke satu titik, membentuk pusaran hitam yang menganga seperti mata raksasa. Udara mengerang. Tekanan qi melonjak tak terkendali, menusuk paru-paru, menghancurkan keseimbangan.Beberapa kultivator muda langsung terhempas berlutut. Darah menyembur dari mulut mereka, bercampur dengan debu dan hujan energi yang tak kasatmata.Shin Tian melompat mundur, menghentakkan kaki ke tanah untuk menancapkan dirinya.Braak!Permukaan batu retak di bawah telapak sepatunya.“Gerbang semu…” gumamnya lirih, mata menajam menatap pusaran itu. “Mereka benar-benar gila.”Di tengah kekacauan, Qian Mu berdiri—namun yang tersisa dari dirinya hanyalah bentuk. Sesuatu yang lain menggerakkan tubuh itu kini.Dagingnya menggelembung, tulang-tulang bergeser. Kulitnya pecah, memperlihatkan lapisan hitam berkilau seperti baja iblis. Dari punggungnya, kabut pekat memadat, membentuk sepasang sayap yang berdenyut seirama dengan pusaran di langit.Suara yang

  • Legenda Sang Genius Immortal   60. Bahaya Susulan

    Langit di atas Kota Xian Jin belum sepenuhnya cerah ketika tanda bahaya berikutnya muncul.BUUUM...!!!Getaran berat merambat dari kejauhan, bukan dari gerbang, bukan dari dalam kota—melainkan dari tanah di bawah kaki mereka. Batu-batu kecil melompat, air di selokan beriak liar, dan burung-burung yang tadi kembali bertengger mendadak beterbangan panik.Shin Tian mengerutkan kening.“Tidak mungkin hanya satu Jenderal Roh Iblis,” gumamnya. “Itu terlalu… biasa.”Belum selesai kalimatnya...KRAAAKKK!Tanah di tengah kota... alun-alun utama terbelah dua.Teriakan histeris terdengar dari warga kota.Warga berhamburan. Pedagang menjatuhkan barang dagangan, anak-anak tersandung, orang-orang saling bertabrakan dalam kepanikan. Dari celah tanah itu, kabut hitam merembes keluar, lebih kental, lebih licik, seperti asap yang berpikir.“Formasi Pertahanan!” teriak Shin Wang. “Lindungi rakyat!”Para tetua Klan Shin bergerak cepat, membentuk lingkaran qi di sekeliling alun-alun. Namun kabut itu menye

  • Legenda Sang Genius Immortal   59. Jenderal Roh Iblis

    Aura gelap itu datang seperti napas kematian.Tidak meledak, tidak meraung—melainkan menekan. Langit di atas Kota Xian Jin meredup, seolah matahari ditelan kabut hitam. Sorak kemenangan rakyat perlahan meredam, digantikan keheningan yang membuat bulu kuduk berdiri.Shin Tian mengangkat kepala.Udara… menjadi pekat dan berat.“Semua mundur!” teriaknya keras. “Sekarang!”Belum semua orang memahami perintah itu—BOOOM!Tanah di luar gerbang timur terbelah.Retakan raksasa menjalar seperti urat hitam, dan dari celah itu, sesuatu bangkit perlahan.Bukan hewan.Bukan sepenuhnya roh.Ia berdiri setinggi menara pengawas, tubuhnya diselimuti kabut pekat, tulangnya hitam legam dengan simbol merah menyala terukir di setiap sendi. Kepalanya menyerupai tengkorak banteng, dengan tanduk bengkok yang berdenyut seperti nadi hidup.Jenderal Roh Iblis.Makhluk yang seharusnya tertidur di lapisan terdalam Lembah Iblis.“Tidak mungkin…” bisik Shin Wang, wajahnya pucat. “Makhluk itu… setara Pembentukan Int

  • Legenda Sang Genius Immortal   58. Serangan Hewan Roh Lembah Iblis

    Gerbang timur Kota Xian Jin runtuh dengan suara menggelegar.Bukan runtuh perlahan—melainkan dihantam dari luar oleh sesuatu yang berat dan hidup. Balok kayu tebal terlepas, batu bata beterbangan, dan jeritan panik rakyat bercampur dengan auman yang membuat qi para kultivator muda bergetar ketakutan.“AUUUUU—!”Seekor Serigala Tulang menerobos masuk pertama kali. Tubuhnya setinggi kuda, bulunya rontok memperlihatkan rangka putih berkilau, mata hijau fosfor menyala seperti lentera neraka. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar.Di belakangnya, Kera Api melompat dari atap ke atap, tubuhnya diselimuti nyala merah, ekornya menyapu udara hingga menyisakan bau gosong. Angin berputar liar ketika Ular Angin melingkar di langit, sisiknya transparan seperti kaca, menyayat udara dengan desisan tajam.Kota Xian Jin—yang pagi tadi masih dipenuhi aroma bubur hangat dan teriakan pedagang—kini berubah menjadi ladang teror.“Lariii—!”“Anak-anak—selamatkan anak-anak!”“Penjaga kota! Di mana penjaga

  • Legenda Sang Genius Immortal   57. Kebangkitan Sang Genius

    Shin Tian mengikuti langkah pamannya melewati koridor kayu yang sunyi. Derit papan lantai terdengar pelan di bawah telapak kakinya, seolah rumah tua itu sendiri menahan napas. Di ujung lorong, pintu ruang utama terbuka setengah—dan di sanalah ia melihat sosok yang sejak tadi berputar-putar di kepalanya.Seorang pria berdiri membelakangi mereka.Punggungnya tegap, namun garis bahunya kaku. Rambut hitam yang dulu selalu terikat rapi kini diselipi beberapa helai perak. Tangan pria itu bertumpu di atas meja kayu tua, seakan sedang menahan beban yang tak terlihat.Shin Tian berhenti.Dadanya terasa sesak.“Ayah…” suaranya nyaris tak terdengar.Tubuh pria itu bergetar halus. Perlahan, sangat perlahan, ia berbalik.Tatapan tajam yang selama ini hanya dikenal Shin Tian sebagai tatapan dingin penuh tuntutan kini bertabrakan langsung dengan matanya. Untuk sesaat, tak ada kata. Hanya keheningan yang menegang.Shin Long.Kepala Keluarga Shin.Pria yang selama ini Shin Tian yakini membencinya.Waja

  • Legenda Sang Genius Immortal   56. Pulang

    Udara dingin musim semi menyusup ke pori-pori Shin Tian ketika kesadarannya kembali perlahan. Helaan napas pertamanya terasa seperti menarik dunia baru—meski ia tahu, ini dunia lamanya. Aroma tanah basah bercampur serpihan wangi bambu dan sisa hujan menari memasuki hidungnya. Embun tipis menempel di rambut dan alisnya, seakan alam sendiri sedang memeriksa apakah ia benar-benar kembali, atau hanya bayang-bayang yang tersesat di antara lipatan waktu.Ia berbaring di atas lantai batu yang dinginnya membekukan tulang. Saat pandangannya mengarah ke atas, bentuk raksasa menjulang menutup langit... menara tua yang tubuhnya diselimuti lumut, dan di puncaknya tergantung sebuah lonceng perunggu raksasa, diam tetapi sekaligus mengancam.Sebelum kesadarannya benar-benar kembali, terdengar...DONG! DONG! DONG!Suara lonceng itu menggema di seluruh dadanya seperti palu yang memaku jiwanya kembali ke dunia nyata. Detak waktu meneguhkan keberadaannya.Mata Shin Tian terbelalak. Bibirnya bergetar.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status