Compartilhar

05. Mesin Waktu

Autor: Bebby
last update Data de publicação: 2025-04-14 04:44:27

Ruang laboratoriumnya tak luas, tapi terasa seperti dunia lain. Lampu-lampu panel menyala lembut, memantulkan sinar ke meja kerja yang penuh dengan serpihan logam, kabel, dan skema digital yang melayang di udara. Suara mesin-mesin kecil mulai berdengung perlahan, menyatu menjadi simfoni pagi yang hanya bisa dinikmati oleh para pencipta.

Ia mengenakan sarung tangan tipis, lalu menyentuh layar digital di depannya. Jari-jarinya mulai menari, menggambar sketsa-sketsa rumit yang muncul seolah mengalir dari pikirannya langsung ke layar. Pagi masih muda, dan dunia di luar masih setengah tertidur, tapi dalam dirinya, badai ide telah menggulung sejak semalam.

“Kalau waktu menyimpan jawabannya, maka aku akan mencurinya dari masa lalu…”

Ia mendesah pelan. Udara di ruang itu terasa lebih hangat dibanding luar, tapi juga lebih tegang. Bau logam berpadu dengan aroma kopi yang dingin di sudut meja—sisa malam yang ia lewati tanpa tidur. Keringat mulai membasahi pelipis, meski matahari belum tinggi.

Mesin waktu. Bukan fiksi. Bukan mimpi. Tapi rencana. Ia tahu risikonya. Waktu adalah hukum yang tak boleh dilanggar, tapi... siapa yang peduli pada hukum kalau hidupmu sendiri tak pernah adil?

Komponen demi komponen mulai disatukan. Kabel-kabel menjuntai seperti urat nadi yang belum dialiri darah. Logam-logam dingin tersambung satu per satu, membentuk jantung bagi ciptaannya. Shin Tian menciptakan bukan hanya sebuah alat—tapi sebuah harapan. Sebuah pintu menuju kebenaran yang selama ini ditutup rapat.

“Kalau takdir menolakku… maka aku akan menulis ulang takdirku sendiri.”

Dan saat matahari pagi naik sedikit lebih tinggi, menyinari wajahnya yang penuh keringat dan tekad, Shin Tian tahu—ini bukan awal dari pelarian. Ini adalah langkah pertama menuju kebangkitan.

*****

Hari-hari berlalu dalam diam yang tegang. Malam sering datang tanpa terasa, digantikan oleh pagi yang muncul terlalu cepat. Namun, tak sekalipun Shin Tian menunjukkan tanda-tanda lelah. Di balik mata hitamnya yang selalu tajam, tersembunyi semangat yang membara—api tekad yang tak bisa dipadamkan bahkan oleh waktu.

Tangannya bergerak lincah, memutar mur, mengatur kabel, menyelaraskan kristal energi yang memancarkan kilau lembut kebiruan. Setiap sambungan ia periksa ulang, setiap kalkulasi ia hitung kembali, seolah satu kesalahan sekecil apapun bisa membunuh harapan yang selama ini ia jaga. Mesin waktu itu—karyanya yang paling gila sekaligus satu-satunya harapan—akan menjadi jembatan antara dirinya dan jawaban yang tak pernah bisa ia temukan di masa kini.

"Jika ada yang tahu bagaimana cara melepas segel sialan ini," gumamnya pelan sambil menatap telapak tangannya yang bergetar samar oleh energi yang terkekang, "mereka pasti ada di masa lalu."

Namun, bukan tanpa ragu. Kadang, saat malam merambat sunyi dan hanya denting alat-alat yang menemani, pikirannya dibayangi tanya yang sunyi—Apa yang menantiku di sisi lain? Melintasi waktu bukan perkara sederhana. Bukan hanya sekadar melihat masa silam... bisa jadi, di sana menunggu bahaya yang jauh lebih besar dari segel yang membelenggu kultivasinya kini.

Akhirnya, hari itu tiba.

Di tengah ruangan gelap yang hanya diterangi oleh kilatan energi dari mesin waktu, berdirilah sebuah struktur logam raksasa, membentuk lingkaran sempurna. Sinar biru dan putih menyembur dari tengahnya, berputar perlahan seperti pusaran air yang hidup—menggoda, memanggil, dan mengguncang udara di sekelilingnya. Angin hangat mengalir deras dari pusat mesin, menyapu wajah Shin Tian seperti sentuhan dari dunia lain.

Ia berdiri tegak di hadapannya. Pakaiannya berkibar, rambutnya ikut menari di antara aliran energi yang berdesir. Matanya menatap tak berkedip, memantulkan cahaya berdenyut yang seakan menanyainya sekali lagi: Kau yakin ingin melakukan ini?

Shin Tian menarik napas dalam-dalam. Udara hangat bercampur dengan rasa logam dan sedikit ozon—aroma khas dari energi mentah yang belum dijinakkan. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut, tapi karena harapan. Karena di balik pusaran waktu itu, mungkin... hanya mungkin... ada seseorang, atau sesuatu, yang bisa mengubah takdirnya.

Dia teringat pada masa-masa gelap, ketika dia hanya bisa duduk diam di bawah langit malam, menggenggam harapan yang terasa rapuh. Tapi kini, di titik ini, semuanya berbeda.

"Aku tak akan menyerah," ucapnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. "Jika kebenaran tersembunyi di masa lalu, maka aku akan menemukannya."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Legenda Sang Genius Immortal   70. Senjata Rusak

    “Ini tidak bisa diterima!” serunya. “Shou Ren belum menggunakan seluruh kemampuannya. Shin Tian pasti melakukan sesuatu terhadap senjata itu!”Shin Tian menoleh perlahan.“Menarik. Ketika kalian mengundangku bertarung, kemenangan ditentukan oleh kemampuan. Sekarang senjata kalian patah, kalian ingin mengganti aturan?”“Kau!”Shin Tian mengangkat tangan, menghentikan protes berikutnya.Ia berjalan ke luar arena, mencabut tombak yang tertancap di tanah, lalu membawanya kembali ke tengah. Dengan ujung jarinya, ia menunjuk bagian yang retak.“Lihat bagian ini. Permukaan luarnya tampak kokoh, tetapi campuran logamnya tidak merata. Ada bagian yang terlalu rapuh. Lubang kecil di sini juga menunjukkan proses penempaan yang buruk.”Ia mengetuk batang tombak.Ting!Bunyinya terdengar tumpul pada satu sisi dan nyaring pada sisi lainnya.“Logam yang baik seharusnya memiliki kepadatan lebih seragam. Ketika menerima tekanan berulang, bagian ini menjadi titik lemah. Shou Ren terus menyerang dengan t

  • Legenda Sang Genius Immortal   69. Pemenang Pertarungan

    Suara retakan terdengar jelas di tengah arena.Krek!Shou Ren membeku sesaat. Matanya menatap gagang tombak hitam di tangannya, lalu beralih kepada Shin Tian yang berdiri santai beberapa langkah di hadapannya.“Apa maksudmu tombakku cacat?” bentaknya.Shin Tian mengangkat bahu. “Aku hanya mengatakan apa yang kulihat. Kalau kau tidak percaya, silakan ayunkan sekali lagi. Namun, kalau tombakmu patah dan mengenai kakimu sendiri, jangan salahkan aku.”Beberapa penonton tertawa tertahan.Wajah Shou Ren memerah. Baginya, ucapan itu merupakan penghinaan di depan para tetua, pejabat Kota Xian Jin, dan puluhan prajurit Keluarga Shou yang datang untuk menyaksikan kemenangannya.“Kau pikir bisa mempermalukanku dengan omong kosong?” Shou Ren menggeram. “Aku akan membuatmu menarik kembali ucapanmu!”Ia menghentakkan kaki, lalu menerjang.Tombak hitam melesat dengan suara siulan tajam. Ujungnya membidik bahu Shin Tian, kemudian berputar ke arah pinggang sebelum menyapu rendah untuk memotong jalur g

  • Legenda Sang Genius Immortal   68. Pertarungan Shin vs Shou

    Keesokan paginya, Lapangan Persatuan Xian Jin dipenuhi orang.Pedagang menutup kios lebih awal. Murid-murid dari berbagai keluarga memanjat pagar batu demi mendapatkan pandangan yang lebih jelas. Para pejabat kota duduk di tribun kehormatan, sementara para tetua Keluarga Shin dan Keluarga Shou menempati sisi yang berlawanan.Di tengah lapangan terbentang arena berlantai batu. Bekas goresan senjata menghiasi permukaannya, menjadi saksi berbagai duel yang pernah berlangsung di sana.Shin Tian tiba tanpa membawa senjata.Sebaliknya, Shou Ren datang dengan tombak hitam di bahunya dan pelindung lengan dari logam tebal.Melihat tangan kosong lawannya, Shou Ren tertawa meremehkan.“Kau tidak membawa senjata?”“Aku punya tangan.”“Itu bukan jawaban seorang pendekar.”“Kalau begitu, anggap saja aku ingin memberimu kesempatan untuk merasa lebih percaya diri.”Wajah Shou Ren kembali menegang.Seorang pejabat kota berdiri di tengah arena.“Pertandingan ini merupakan duel persahabatan untuk menguji

  • Legenda Sang Genius Immortal   67. Tantangan Keluarga Shou

    Genderang perang mengguncang gerbang utama kediaman Keluarga Shin.Dua belas prajurit berseragam biru tua berbaris memasuki halaman. Baju zirah mereka memantulkan cahaya matahari, sementara tombak panjang di tangan mereka bergerak serempak mengikuti langkah komandan. Di bagian depan rombongan, seorang pemuda bertubuh kekar membawa tombak hitam sepanjang dua meter. Tatapannya tajam, dagunya terangkat, dan senyum meremehkan menghiasi wajahnya.Dialah Shou Ren, ahli bela diri muda Keluarga Shou yang telah memenangkan sejumlah pertandingan antarkeluarga.Jenius militer yang menjadi andalan Keluarga Shou sebagai Dewa Perang yang akan memimpin pasukan Kerajaan Song Selatan untuk menghalau invasi dari bangsa asing seperti bangsa Mongol di Selatan dan Kerajaan Jin di Utara.Di belakangnya berjalan seorang pria paruh baya berjubah biru dengan lambang harimau perak di dada. Ia adalah Tetua Shou, perwakilan resmi keluarga militer yang memiliki pengaruh besar di Xian Jin.“Di mana Shin Tian?” seru

  • Legenda Sang Genius Immortal   66. Utusan Keluarga Shou

    Shin Tian tetap tenang dengan sikap angkuh Shin Hao yang tidak menerima kritik yang diberikannya.“Benar. Karena itu, bangkitkan lagi semangatmu.”Shin Hao kembali menyerang, kali ini dengan gerakan lebih cepat. Namun, hasilnya tidak berubah. Setiap kali ia berusaha memaksakan kekuatan, Shin Tian memindahkan titik keseimbangannya sedikit saja.Akhirnya, ketika Shin Hao melancarkan pukulan menyilang, Shin Tian memutar tubuh dan menyentuh pergelangan tangannya.Satu tarikan pendek. Satu langkah menyamping.Shin Hao jatuh terduduk di atas pasir arena.Duk!Halaman mendadak sunyi.Shin Hao memandangi kedua tangannya, seolah tidak percaya bahwa ia telah dikalahkan tanpa menerima satu pukulan pun.Shin Tian mengulurkan tangan. “Berdirilah. Lantai ini tidak bersalah.”Beberapa murid tertawa, tetapi Shin Hao kali ini tidak membalas dengan kemarahan. Setelah ragu sejenak, ia menerima uluran tangan tersebut.“Bagaimana kau melakukannya?” tanyanya pelan. Ada rasa penasaran di hati Shin Hao sekara

  • Legenda Sang Genius Immortal   65. Ujian di Balai Kultivasi

    Suara lonceng dari Balai Kultivasi menggema ke seluruh kediaman Keluarga Shin.Pagi itu, puluhan murid berkumpul di halaman luas yang dikelilingi pilar batu. Udara masih dingin, tetapi suasana terasa panas oleh bisikan dan tatapan penuh rasa ingin tahu. Kabar tentang kemenangan Shin Tian melawan Utusan Lembah Iblis telah menyebar ke seluruh Kota Xian Jin. Kini, semua orang ingin mengetahui seberapa kuat pemuda yang dahulu sering dianggap sebagai aib keluarga itu.Di atas panggung batu, Shin Long berdiri bersama para tetua.“Hari ini, Keluarga Shin mengadakan ujian terbuka untuk mengukur kemampuan generasi muda,” serunya. “Kemenangan kita melawan Lembah Iblis membuktikan bahwa kekuatan tidak boleh hanya bergantung pada para tetua. Masa depan keluarga ini berada di tangan kalian!”Tepuk tangan terdengar, meski beberapa murid masih sibuk melirik Shin Tian yang berdiri santai di bawah panggung.Pemuda itu menguap.Shin Wang yang berdiri di sampingnya langsung menyikut lengannya. “Jangan me

  • Legenda Sang Genius Immortal   26. Ketahuan

    Shin Tian melangkah mendekat, langkahnya tenang, nyaris tak terdengar. Bajunya berkibar sedikit, dan tiap langkah seolah menekan udara di sekitar, menciptakan beban tak kasatmata yang menggantung di antara mereka. Ia berlutut perlahan di hadapan Qian’er, membiarkan matanya sejajar dengan wanita ya

  • Legenda Sang Genius Immortal   09. Zaman Kultivasi Kuno

    Suara desir angin bergaung samar di telinganya. Perlahan, kesadaran Shin Tian mulai merangkak kembali dari kegelapan. Ia menggeliat pelan, tubuhnya terasa seperti dihantam batu besar—berat, nyeri, dan tak sepenuhnya berada di bawah kendalinya.“Ugh… aku… ada di mana?” gumamnya pelan. Suaranya terde

  • Legenda Sang Genius Immortal   08. Waktu Yang Salah

    Deras hujan menari-nari di atas atap Menara Lonceng, memercik di atas bebatuan yang dingin dan licin. Udara malam yang basah dan dingin terasa menyesakkan, seperti ikut menindih dada Shin Tian yang sudah penuh luka.Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena udara dingin yang menusuk kulit, tapi juga kar

  • Legenda Sang Genius Immortal   07. Menunggu Sambaran Petir

    Langit di atas kediaman Keluarga Shin menghitam, menggantung berat seperti pertanda kutukan yang hendak turun. Awan bergulung-gulung seperti naga kelabu, dan rintik hujan mulai menari di udara, menciptakan irama lembut yang menghantam genting tua menara tua keluarga. Udara terasa lembap dan bergeta

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status