LOGINRaungan penjaga benteng mengguncang dinding jurang.Batu-batu kecil berjatuhan dari punggung bukit. Kabut yang menyelimuti lereng terbelah, memperlihatkan jembatan batu menuju gerbang hitam. Kedua makhluk di bawah sana bergerak bersamaan, tetapi setiap kepala menunjukkan perilaku berbeda.Kepala pertama menggeram sambil mengayunkan kapak besar. Kepala kedua tersenyum, lalu mengembuskan kabut tipis dari mulutnya.Shin Tian langsung mengangkat tangan.“Jangan menatap mata mereka terlalu lama. Mundur tiga langkah dan bersiap menghadapi ilusi!”Namun, peringatannya datang terlambat bagi salah seorang kultivator.“Di sana! Mereka bergerak ke arah kita!”Pria itu menunjuk ke sisi kanan bukit. Dalam pandangannya, puluhan makhluk berkepala dua telah mengepung mereka. Ia mengangkat pedang dan hendak menerjang, tetapi Shen Bao segera menahannya. “Berhenti! Itu bukan...”Kabut tipis menyapu wajah mereka.Dalam sekejap, pemandangan berubah.Shen Bao melihat dirinya berdiri sendirian di tengah med
“Jangan berpencar!” bentak Shin Tian. “Shen Bao, lindungi sisi kiri! Luo Han, mundur ke tengah! Dua orang lainnya, bentuk pertahanan silang!”Keempat kultivator bergerak sesuai perintah. Shin Tian mengambil posisi di depan, menggunakan pohon besar sebagai pembatas agar kawanan serigala tidak dapat mengepung mereka sekaligus.Serigala pertama melompat.Shin Tian memiringkan tubuh, menghindari cakarnya, lalu menghantam bagian bawah rahang makhluk itu dengan telapak tangan. Serigala tersebut terlempar ke samping dan menabrak batang pohon.Dua serigala lain menerjang dari kanan.Shen Bao menangkis dengan pedangnya, sementara Luo Han melemparkan jimat api ke tanah. Ledakan kecil memaksa kawanan itu mundur sesaat.Namun, serigala bertanduk tiga tidak mundur.Makhluk itu menggeram, kemudian menghentakkan kaki. Gelombang qi hitam menyebar di tanah, membuat kabut berputar dan mengacaukan pandangan.“Jangan kejar mereka!” perintah Shin Tian. “Pertahankan posisi!”Ia mengambil tiga batu kecil da
Kabut kelabu menelan jalan setapak di hadapan Shin Tian.Udara lembap menusuk kulit, sementara bau busuk bercampur aroma logam memenuhi hidung. Di bawah pepohonan tua, tulang-belulang hewan roh berserakan seperti sampah setelah pembantaian. Sebagian masih memiliki tanduk yang utuh, sedangkan yang lain tinggal tengkorak dengan rongga mata menghitam.Luo Han menelan ludah. Luka di tubuhnya memang mulai pulih setelah meminum pil pemberian Shin Tian, tetapi pemandangan di hadapannya membuat darahnya kembali terasa dingin.“Tempat ini tidak seperti yang kulihat sebelum diserang,” bisiknya. “Dulu hanya ada beberapa tulang. Sekarang jumlahnya ratusan.”Shin Tian berjongkok di samping tengkorak seekor serigala bertanduk. Ia menyentuh tanah dengan dua jari, lalu menggosokkan butiran hitam di antara kuku.“Bukan karena jumlah hewan roh bertambah,” katanya. “Sesuatu telah menarik mereka ke tempat ini.”“Energi iblis?” tanya seorang kultivator bernama Shen Bao.“Sebagian benar. Namun, lihat tanah
Shin Wang menghela napas berat. “Baiklah. Tetapi jika kau kembali dengan luka sebesar telapak tangan, aku akan memastikan kau menjalani latihan pemulihan selama sebulan.”Shin Tian tersenyum tipis. “Kalau lukanya sebesar mangkuk?”“Dua bulan.”“Kalau hanya lecet?”“Tiga bulan. Karena berarti kau ceroboh.”Shin Tian mengangkat kedua tangan menyerah.“Baik, aku akan berusaha pulang tanpa membawa satu pun luka. Rupanya, ancaman Paman lebih menakutkan daripada iblis.”Beberapa tetua tertawa kecil. Ketegangan di ruangan sedikit mencair, tetapi Shin Long tetap terlihat serius.Sebelum Shin Tian pergi, ayahnya memanggilnya. “Tian'er.”Shin Tian berhenti di ambang pintu.“Jangan menganggap dirimu harus menanggung semuanya sendirian. Kau memang memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang lain, tetapi itu bukan alasan untuk mempertaruhkan nyawamu tanpa perhitungan.”Tatapan Shin Tian melunak. “Aku mengerti, Ayah.”Kali ini, ia tidak menjawab sekadar untuk menenangkan ayahnya. Ia benar-benar mem
Cahaya merah pada peta kuno berdenyut semakin cepat.Shin Tian berdiri di depan meja kayu, menatap simbol-simbol yang menyala di bagian barat Kota Xian Jin. Dua titik energi telah berubah merah, sedangkan titik ketiga berkedip seperti nyala lilin yang hampir padam. Udara di ruangan terasa dingin.“Jadi, kalian mulai bergerak,” gumamnya.Ia mengusap permukaan peta dengan ujung jari. Garis-garis kuno yang sebelumnya samar perlahan muncul, membentuk jalur dari Kota Xian Jin menuju bagian terdalam Lembah Iblis.Selama beberapa saat, Shin Tian tidak bergerak.Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah melihat formasi pelindung runtuh akibat kerusakan kecil pada satu titik energi. Ketika titik-titik lainnya ikut hancur, seluruh wilayah yang dilindungi formasi itu berubah menjadi ladang pembantaian.Formasi Pelindung Leluhur bukan sekadar tembok pertahanan. Formasi itu merupakan jaringan energi yang menghubungkan beberapa titik di sekitar kota. Jika salah satunya dirusak, titik lainnya harus menan
Shin Tian mengangkat alis. “Bukankah Ayah terlalu cepat mempercayakan semua itu kepadaku?”“Kalau aku tidak mempercayaimu, untuk apa aku membawakan teh?”“Tehnya tidak buruk. Hanya saja, aku berharap ada camilan.”Shin Long menatapnya tajam. “Kau baru saja makan dua porsi daging!”Shin Tian tertawa. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, percakapan mereka terasa ringan tanpa dibayangi pertengkaran.Namun, tawa itu segera mereda ketika Shin Tian kembali membicarakan rencananya.“Kita harus mulai dari pertanian. Jika hasil panen meningkat, rakyat memiliki lebih banyak makanan dan keluarga memperoleh pemasukan yang stabil. Setelah itu, kita bisa mengembangkan produksi garam, minuman berkualitas, dan barang-barang yang sulit diperoleh di wilayah lain.”Shin Long mengerutkan kening.“Semua itu membutuhkan modal, tenaga kerja, dan jalur distribusi.”“Benar. Karena itu, kita tidak boleh mengerjakan semuanya sekaligus. Kita mulai dengan proyek kecil yang dapat menghasilkan keuntungan nyata. K
Shin Tian melangkah mendekat, langkahnya tenang, nyaris tak terdengar. Bajunya berkibar sedikit, dan tiap langkah seolah menekan udara di sekitar, menciptakan beban tak kasatmata yang menggantung di antara mereka. Ia berlutut perlahan di hadapan Qian’er, membiarkan matanya sejajar dengan wanita ya
Suara desir angin bergaung samar di telinganya. Perlahan, kesadaran Shin Tian mulai merangkak kembali dari kegelapan. Ia menggeliat pelan, tubuhnya terasa seperti dihantam batu besar—berat, nyeri, dan tak sepenuhnya berada di bawah kendalinya.“Ugh… aku… ada di mana?” gumamnya pelan. Suaranya terde
Deras hujan menari-nari di atas atap Menara Lonceng, memercik di atas bebatuan yang dingin dan licin. Udara malam yang basah dan dingin terasa menyesakkan, seperti ikut menindih dada Shin Tian yang sudah penuh luka.Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena udara dingin yang menusuk kulit, tapi juga kar
Langit di atas kediaman Keluarga Shin menghitam, menggantung berat seperti pertanda kutukan yang hendak turun. Awan bergulung-gulung seperti naga kelabu, dan rintik hujan mulai menari di udara, menciptakan irama lembut yang menghantam genting tua menara tua keluarga. Udara terasa lembap dan bergeta







