LOGINGUK!
GUK! GUK! Kalandra meloncat ke belakang ketika seekor anjing yang menyambut kedatangannya. Tak lama kemudian seorang pria mengenakan pakaian security bergegas mendekat. “Cari siapa, Mas?” tanyanya dari balik pagar. “Mau antar paket buat Bu Dini, Pak.” “Masuk aja, Mas.” Pria itu segera membukakan pintu gerbang. “Motor saya aman di taruh di sana, Pak?” “Aman. Cepat masuk.” Kalandra berjalan cepat melintasi pekarangan rumah yang lumayan luas. Anjing yang tadi menyambutnya sudah dibawa kembali ke kandangnya. Sesampainya di depan pintu rumah, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya. “Silakan masuk, Mas.” “Bu Dini nya mana?” “Mbak Dini di kamarnya. Mas disuruh langsung ke kamarnya aja.” “Hah? Ngga enak, Bi. Mbak Dini nya suruh keluar aja.” “Ngga apa-apa, Mas. Ngga ada siapa-siapa di rumah ini. Mas langsung naik aja ke lantai dua. Kamarnya yang dekat tangga.” Dengan perasaan kikuk, Kalandra menaiki anak tangga. Langkahnya terasa begitu berat dan semakin terasa berat ketika mendekati kamar Dini. Dengan gerakan pelan dia mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat. “Masuk!” Kalandra menelan ludahnya kelat. Mimpi apa dia semalam harus mengantarkan paket langsung ke kamar pemesan paket. Pelan-pelan dia membuka pintu, kemudian melongokkan kepalanya ke dalam. “Mbak Dini,” panggilnya pelan. “Masuk aja, Mas.” “Ini paketnya saya taruh di lantai aja ya.” “Eh jangan, sini masuk.” “Tapi..” “Kalau ngga masuk, ngga saya bayar!” Lagi-lagi Kalandra menelan ludahnya kelat. Pria itu akhirnya masuk ke dalam kamar. dia sengaja tidak menutup pintu. Namun ternyata Dini bersembunyi dibalik pintu dan langsung menutupnya ketika Kalandra masuk. Sontak pria itu langsung berbalik. “Eh, Mbak..” Dengan cepat Kalandra membalikkan badannya lagi ketika melihat Dini hanya mengenakan dalaman saja. Jantung pria itu langsung berdebar tak karuan. Tubuhnya langsung panas dingin melihat pemandangan yang tak seharusnya dilihat. “Mana paketnya, Mas?” Tanpa melihat pada Dini, Kalandra mengambil dus kecil dari saku jaketnya. Dia melihat dulu, apa benar paket yang diambilnya atas nama Dini. Setelah benar, barulah diberikan pada sang empu. “Berapa Mas?” “Harga biasa aja, Mbak,” jawab Kalandra asal, karena dia memang tidak tahu berapa nilai paket yang dibawanya. “Duduk dulu, Mas.” Kalandra memandang seluruh isi kamar. Dia menarik sebuah kursi kemudian mendudukkan diri di sana. kepalanya terus tertunduk, tak nyaman dengan Dini yang tidak menutupi dirinya dengan pakaian layak. Wanita itu membuka pintu kamar kemudian berteriak. “Bi! Buatin minuman dingin!” Usai memberi perintah, Dini menutup kembali pintu kamar. Dia mendudukkan diri di sisi ranjang kemudian membuka paket yang diberikan Kalandra. Pria itu melirik untuk melihat isi paket tersebut. Begitu Dini mengeluarkan isinya, nampak serbuk putih dibungkus plastik bening. “Mas pernah pake yang beginian?” “Ngga, Mbak,” jawab Kalandra cepat. “Mau coba?” “Ngga.” Tubuh Kalandra kembali panas dingin. Dia benar-benar tidak nyaman berada di kamar Dini. Ingin rasanya dia cepat pergi, tapi sialnya wanita itu belum memberikan uang bayaran. Pintu kamar terbuka tak berapa lama. Sang asisten rumah tangga mengantarkan minuman untuk Kalandra. Wajah wanita itu terlihat biasa, sepertinya dia sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini. Usai mengantarkan minuman, dia bergegas keluar. “Diminum dulu, Mas.” “Makasih, Mbak.” Dengan cepat Kalandra meneguk minuman sampai habis, agar dirinya cepat terbebas dari situasi canggung ini. Dini melangkah menuju meja yang ada di sudut ruangan. Dia mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam laci. Wanita itu mendekati Kalandra seraya menyodorkan amplop tersebut. ketika tangan Kalandra hendak meraihnya, dengan cepat Dini menariknya kembali. “Lihat saya dulu dong, Mas.” Mau tidak mau Kalandra mengangkat kepalanya. Susah payah dia menelan salivanya melihat tubuh molek Dini yang hanya mengenakan pakaian minim, menampilkan hampir seluruh bagian tubuhnya. “Mas baru ya kerja kaya gini?” “Iya, Mbak.” “Yang biasa ngantar mana? Yang namanya Heri.” “Dia lagi ada keperluan.” “Oh gitu. Padahal saya lagi pengen diservice sama dia.” Perasaan Kalandra semakin tak menentu. Dia baru tahu kalau Heri sering bermain dengan wanita di depannya. “Namanya siapa, Mas?” “Kala.” “Unik banget namanya, Kala. Oke Mas Kala, ini bayarannya.” Kali ini Dini benar-benar memberikan amplop di tangannya. Kalandra langsung mengambil lalu memasukkan ke saku dalam jaketnya. Dengan cepat dia berdiri dari duduknya. “Kalau gitu saya pergi dulu.” “Eh tunggu, Mas.” Jantung Kalandra semakin berdetak tak karuan ketika Dini mendekatinya. Wanita itu berhenti hanya beberapa senti saja darinya. “Mas Kala tuh ganteng, badannya juga bagus. Mas lagi butuh kerjaan lain ngga?” “Kerjaan apa, Mbak?” “Jadi teman ranjang saya, hihihi..” “Maaf Mbak, saya permisi.” Tak mau berlama-lama di dekat Dini, Kalandra segera keluar dari kamar. Dengan langkah tergesa pria itu menuruni anak tangga. Dini hanya tertawa saja melihat sikap Kalandra yang nampak menggemaskan di matanya. Sekeluarnya dari rumah besar itu, Kalandra segera menuju tunggangannya. Dengan cepat dia memakai helm kemudian segera pergi dari sana. Pria itu seperti baru saja keluar dari sarang musuh. Setelah keluar dari gerbang perumahan mewah itu, Kalandra menghentikan kendaraannya. Dia menepi sejenak untuk menenangkan diri sambil menyalakan aplikasi ojek online. Sambil menunggu waktu pengantaran paket terakhir, Kalandra ingin mengojek dulu. Baru lima menit aplikasi dinyalakan, pesanan untuknya sudah masuk. Dia langsung menerima pesanan. Kebetulan jarak lokasi penjemputan hanya sekitar tiga menit saja dari tempatnya sekarang. Kalandra memperlambat kendaraannya ketika melihat seorang wanita berdiri menunggu ojek pesanannya. Dia berhenti tepat di dekat wanita itu. “Dengan Bu Winda.” “Iya, Mas.” Kalandra memberikan helm pada sang wanita. Sambil mengenakan helm, wanita itu duduk di belakang Kalandra. Baru saja kendaraan roda dua itu berjalan, Kalandra terjengit ketika penumpang di belakangnya merapatkan tubuhnya, membuat buah dadanya yang montok menyentuh punggung Kalandra. “Ya Allah, apalagi ini?” gumam Kalandra dalam hati. Belum habis rasa terkejutnya, kembali dia dibuat terperangah ketika tangan sang wanita melingkari perut Kalandra. Seketika tubuh pria itu langsung menegang. “Jangan tegang dong, Mas. santai aja,” ujar wanita bernama Winda itu dengan nada mendayu. “Maaf Mbak, bisa dilepas ngga pelukannya? Saya ngga nyaman bawa motornya. Kalau sampai kecelakaan kan bahaya.” Kalandra sengaja membawa motornya oleng ke kanan dan kiri agar penumpang di belakangnya mau melepaskan pelukannya. Upayanya berhasil, wanita itu segera melepaskan pelukannya dan memundurkan tubuhnya. Akhirnya kalandra bisa bernafas lega. Dia menambah kecepatan motornya agar segera tiba di tempat tujuan. Lima belas menit berselang, dia sudah sampai di depan tempat karaoke. Wanita itu segera turun dari motor kemudian memberikan helmnya. “Ini Mas,” wanita itu memberikan selembar lima puluh ribuan pada Kalandra. “Eh sudah dibayar kan pakai IVO.” “Ini tip buat Mas nya. Anggap aja bayaran karena udah dipeluk sama aku.” Wanita itu menaruh selembar uang tersebut begitu saja di tangan Kalandra kemudian segera masuk ke bangunan di depannya. Kalandra memasukkan uang pemberian ke saku celananya, kemudian melanjutkan perjalanan. *** Tepat pukul delapan, Kalandra sudah berada di depan sebuah rumah mewah di bilangan Setia Budi. Seorang satpam membukakan pintu pagar untuknya dan langsung mempersilakannya masuk. “Pak Chiko nya ada, Pak?” “Ada, langsung masuk aja ke belakang. Mas Chiko ada di kolam renang.” “Langsung masuk aja, Pak?” “Iya. Masuknya dari pintu samping yang itu.” Petugas keamanan itu menunjuk sebuah pintu kecil yang ada di bagian samping. Kalandra bergegas menuju ke sana. Setelah berjalan sebentar, akhirnya dia sampai di halaman belakang. Pria itu menganga ketika melihat pemandangan di depannya.Tak butuh waktu lama, keduanya langsung terlibat dalam situasi panas. Ciuman keduanya sekarang sudah semakin panas saja. Lidah mereka sudah saling membelit, menarik dan bertukar saliva. Nafas keduanya nampak terengah ketika ciuman itu berakhir. Dapat Mega rasakan ada yang menusuknya dari bawah. Kalandra sudah benar-benar terpancing hasratnya. “Kita ke kamar ku saja,” bisik Mega. Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Kalandra menuruti apa yang dikatakan Mega. Pria itu sekarang tengah dikuasai oleh gairah. Sebagai pria normal, dia butuh pelampiasan. Sambil menggendong Mega, Kalandra bangun dari duduknya. Pria itu melangkah masuk ke dalam vila yang sepi, kemudian menuju kamar Mega. Sesampainya di kamar, Kalandra langsung membaringkan tubuh Mega di kasur dan melanjutkan ciuman mereka. Suara decapan terdengar memenuhi seisi kamar. Mega melepaskan dress yang dikenakannya, berikut penutup bukit kembarnya. Dia membiarkan Kalandra melahap bukit kembarnya. Kepalanya mendongak ketika merasakan
Semua barang-barang di rumah kontrakan Kalandra sudah dibereskan. Sesuai janjinya, semua peralatan elekteronik diberikan pada Alya berikut motor yang dulu sering digunakan. Sementara barang yang lain sudah dikirimkan ke rumah orang tua Kalandra. Untuk sementara dia akan tinggal di sana. Para tetangga cukup terkejut mengetahui pernikahan Kalandra dan Alya berakhir pasca meninggalnya Nabila. Padahal dulu keluarga itu terlihat begitu harmonis. Kalandra yang pekerja keras, rela melakukan apa pun demi kesembuhan anaknya. Sedangkan Alya adalah istri dan ibu yang baik dan setia. Dia selalu mendampingi putrinya yang sakit-sakitan dan juga senantiasa memberikan semangat pada suaminya. Tapi sekarang, itu semua hanyalah tinggal kenangan. Setelah kepergian Nabila, rumah itu terasa sunyi dan dingin. Tidak ada lagi kehangatan di dalamnya. Satu per satu penghuninya pergi meninggalkan rumah. “Bu, saya titip kunci buat Pak Tatang ya. Saya sudah bilang. Karena Pak Tatang lagi di Tasik, minta kunci
“Apa Al? Kamu bercanda kan? Tolong jangan seperti ini, Al. Aku mencintai mu. Aku tidak bisa hidup tanpa mu.” “Tapi Mas bisa tidur tanpa ku dan bisa melakukannya dengan perempuan lain.” Seketika Kalandra terdiam. Perkataan Alya mengingatkannya pada dosa tak termaafkan yang sudah dilakukannya. Pria itu seakan lupa, bertahannya Alya di sisinya selama ini karena Nabila. Tapi setelah anaknya pergi, tidak ada lagi yang bisa membuat wanita itu bertahan. Luka yang dibuat Kalandra masih menganga dan belum sepenuhnya kering. Wanita yang telah dikhianati, akan sulit untuk pulih seperti semula. “Kalau pun pernikahan ini diteruskan, aku tidak yakin ke depannya akan seperti apa.” “Maafkan aku, Al. Aku tahu yang ku lakukan salah. Dan aku juga sudah mengatakan alasannya pada mu. Katakan Al, bagaimana cara ku mendapatkan maaf mu. Tapi tolong jangan pergi. Aku sudah kehilangan Nabil. Jangan buat aku kehilangan diri mu juga.” Kalandra memegangi tangan Alya. Tatapan matanya penuh dengan permohonan
Sejak meninggalkan rumah, komunikasi antara Alya dan Kalandra benar-benar terputus. Setiap pesan yang dikirimkan Kalandra tidak pernah dibaca apalagi dibalas. Tak mau menyerah, Kalandra terus mengirimkan pesan. Semua untuk menunjukkan kalau pria itu masih peduli akan kelangsungan hubungan mereka. Alya terus tinggal di rumah kedua orang tuanya. Sudah beberapa kali orang tuanya membujuk, namun wanita itu bergeming. Dia tidak mau kembali ke rumah apalagi bertemu dengan Kalandra. Sampai akhirnya tiba di hari ke-40 kepergian putrinya. Dengan sangat terpaksa Alya kembali ke rumah untuk mempersiapkan tahlilan empat puluh hari Nabila. Wanita itu datang sehari sebelum acara diselenggarakan. Begitu tiba di rumah, keadaan nampak sepi. Kalandra tidak berada di rumah. Seperti biasa, dia pergi bekerja di dealer milik Mukhlis. Keadaan rumah nampak bersih dan rapih. Bahkan Alya tidak menemukan sampah secuil pun. Lantai rumah nampak bersih dan kinclong. Jelas sekali kalau pria itu benar-benar men
Tangis Alya semakin kencang setelah Bayu menyebutkan waktu kematian anaknya. Tangis bercampur ratapan keluar dari mulut wanita itu. Kedua tangannya terus memeluk tubuh Nabila yang sudah terbujur kaku. Kalandra juga tidak bisa menahan tangisnya. Setelah banyak hal yang dia lakukan demi kesembuhan putrinya, nyatanya sang anak pergi juga meninggalkan dirinya. Sambil mengusap airmatanya, Kalandra mencoba menenangkan istrinya. “Alya… tolong jangan seperti ini, sayang. Kasihan Nabil.” “LEPAS!!” Dengan kasar Alya menepis tangan Kalandra. Kali ini wanita itu menatap tajam suaminya sambil terus berderaian airmata. “Kalau Mas tidak memindahkannya ke sini, Nabil pasti baik-baik saja! Kamu yang sudah membunuhnya, kamu, Mas!!” Alya tengah melampiaskan kemarahan dan kesedihan yang dirasakan akibat kehilangan anaknya. Dia melampiakan semuanya pada sang suami. Apalagi tadi mereka sudah bersitegang soal pemindahan Nabila dari ruang ICU. Teriakan Alya yang cukup kencang, menarik perhatian orang-
“Nabil akan tetap berada di ICU.” Alya mengambil lembaran kertas tersebut kemudian merobeknya. Kalandra yang merasa kesal, meminta formulir lain pada sang perawat. Melihat perdebatan pasangan suami istri itu, membuat perawat tersebut bingung. Di tengah perdebatan Kalandra dan Ayla, Bayu mendekat. Pria itu mengatakan kalau Nabila sudah bisa ditengok. Setelah mengenakan pakaian steril, pasangan tersebut segera masuk ke dalam ruang ICU. Alya hampir saja menangis melihat anaknya terbaring lemah dengan banyak peralatan medis menepel di tubuhnya. Kalandra langsung mendekat lalu memegang tangan anaknya. “Nabil..” “Papa..” suara Nabil terdengar pelan dan lemah. “Sayang,” Alya mendekati anaknya kemudian mencium kening Nabila. “Sehat-sehat ya, sayang. Nabil anak yang kuat,” suara Alya bergetar menahan tangis yang hendak meledak. Nabila memandangi kedua orang tuanya bergantian. Wajah keduanya nampak sedih dan cemas. Sebisa mungkin anak itu mencoba tersenyum agar kedua orang tuanya tidak
Waktu syuting memakan waktu lebih lama dari perkiraan Kalandra. Disangkanya proses syuting ini sama ketika pria itu merekam adegan percintaan Irving dan Davina. Ternyata proses pembuatan blue film lebih rumit. Mereka harus berganti beberapa pose dan tempat. Tidak terbayang bagaimana peningnya kedua
Kalandra melemparkan senyum kikuknya pada Yulia. Pria itu mendudukkan dirinya di samping wanita cantik itu. Mega yang menempati kursi yang sejajar mereka melihat keduanya dengan tatapan cemburu. Dari bahasa tubuh Yulia, wanita itu tahu kalau sang komisaris utama tersebut tertarik pada Kalandra. Me
Terdengar helaan nafas panjang Bayu. Inilah yang ditakutkannya sejak pria itu menangani Nabila. Detak jantung anak itu terdengar tidak beraturan. Tapi Bayu masih mencoba menanganinya menggunakan obat-oabatan. Dan ternyata sekarang anak itu benar-benar membutuhka operasi. Entah bagaimana perasaan Al
“Ayo silakan duduk.” Suara lembut Yulia membuyarkan lamunan Kalandra. Bersama dengan Mega, Kalandra menuju sofa lalu mendudukkan diri di sana. Tidak disangka, Yulia justru memilih duduk di dekat pria itu, membuat Mega duduk di sofa lain. “Sudah berapa lama kamu menjadi fotografer majalah?” “Dua







