Home / Rumah Tangga / Lelaki Plus-Plus / Bab 3 : Kurir Paket

Share

Bab 3 : Kurir Paket

Author: Ichageul
last update Last Updated: 2025-10-20 15:51:51

“Kamu siapa?”

Sebuah suara lembut menyapa indra pendengaran Kalandra. Pria itu memberanikan diri melihat pada wanita di depannya.

“Paket untuk Vicko.”

“Sayang.. ada paket untuk mu!” teriak wanita itu sambil melihat ke arah dalam.

“Ambil aja, sayang!” terdengar jawaban dari dalam.

“Sudah dibayar, Mas?”

“Sudah.”

Kalandra menyerahkan dus kecil di tangannya. Sepertinya wanita itu tidak tahu kalau paket yang dipesan kekasihnya berisi barang haram.

“Terima kasih,” ucap wanita itu seraya melemparkan senyum manis.

“Sama-sama.”

Kalandra bergegas meninggalkan kamar tersebut. Dia tidak nyaman melihat wanita yang menyambut kedatangannya. Sebagai pria normal, melihat penampilan wanita tadi sunggguh menggoda iman.

Usai mengantarkan paket kedua, Kalandra bermaksud kembali dulu ke rumahnya. Dia ingin beristirahat sejenak. Membantu Herlambang tadi cukup menguras tenaganya.

Kendaraan roda dua milik Kalandra berbelok memasuki sebuah gang kecil yang tepat berada di samping rumah sakit tempat anaknya dirawat. Dia terus menjalankan motornya menyusuri deretan rumah. Lima puluh meter kemudian pria itu menghentikan motor di depan sebuah rumah kecil bercat hijau.

“Mas Andra, katanya Nabil masuk rumah sakit lagi?” tanya salah satu tetangganya.

“Iya, Bu. Tadi pagi dibawa lagi ke rumah sakit.”

“Ya Allah, penyakitnya kambuh lagi?”

“Iya, Bu.”

“Sabar ya, Mas. Mudah-mudahan Nabil cepat diberi kesembuhan.”

“Aamiin.. makasih buat doanya, Bu.”

“Kalau Alya di rumah sakit?” tanya tetangga yang lain.

“Iya, Bu.”

“Nanti kita ke sana jenguk Nabil.”

“Iya, Bu. Masuk dulu, Bu.”

Kalandra menganggukkan kepalanya. Tangannya bergerak memasukkan anak kunci kemudian membuka pintu. Pria itu membuka jaketnya kemudian menggantung di paku yang ada di dekat pintu kamar. Dia mengambil dulu segelas minuman dingin kemudian meneguknya sampai habis.

Sekilas Kalandra melihat jam yang tergantung di dinding. Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Pria itu bangun dari duduknya, menyambar handuk yang ada di dalam kamar kemudian masuk ke kamar mandi. Tubuhnya lengket seharian berada di jalan dan membantu mengangkut barang pindahan. Ditambah lagi dengan cuaca kota Bandung yang terik seharian ini.

Lima belas menit kemudian Kalandra keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa lebih segar setelah terguyur air dingin. Pria itu menuju dapur, memanaskan air menggunakan panci kecil untuk membuat kopi.

Sambil menunggu panas kopi buatannya sedikit berkurang, Kalandra duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Dia sedang mencari informasi pekerjaan tambahan yang bisa dilakukan olehnya.

Diambilnya cangkir kopi kemudian menyeruputnya pelan sambil tak melepaskan pandangan dari layar ponsel. Kalandra menaruh kembali cangkir kopinya ketika sebuah panggilan masuk ke ponselnya.

“Halo.”

“Ndra, lo di mana?”

Dari seberang terdengar suara Panca, teman kuliahnya dulu. Dari pria itu dia sering mendapatkan job sebagai fotografer dadakan.

“Di rumah, kenapa?”

“Lusa sibuk ngga?”

“Kenapa? Lo ada kerjaan?”

“Yoi, tetangga gue mau nikah. Dia mau bikin foto pre wedding. Lo bisa kan?”

“Bisa.”

“Oke deh. Lusa ketemu dulu sama orangnya sama deal-dealan harga.”

“Siap.”

Panggilan keduanya berakhir. Senyum di wajah Kalandra terbit. Ada peluang lagi untuk menghasilkan uang selain dari mengojek. Pria itu nampak antusias. Dia yakin, asal mau bekerja keras, jalan untuk mendapatkan uang untuk pengobatan putrinya akan selalu terbuka.

Baru saja panggilan Panca berakhir, ponsel Kalandra kembali bordering. Kali ini Heri yang menghubunginya. Dengan cepat Kalandra langsung menjawab panggilan.

“Ndra, paket yang tadi udah dikirim?”

“Udah.”

“Good. Nih dua paket lagi. Kamu bisa ke tempat ku?”

“Di mana?”

“Kontarakan ku.”

“Oke.”

Tanpa menunggu lama, Kalandra langsung bersiap. Dia mengenakan kembali jaket hitamnya. Jaket ojeknya ditaruh di bagasi motor. Sambil menenteng helmnya, pria itu keluar dari rumah kontrakannya. Setelah mengunci pintu, dia segera melaju dengan motornya.

Tak sampai setengah jam dia sudah sampai di depan kontrakan Heri. Pintu rumah pria itu nampak tertutup rapat. Heri adalah seorang duda. Dia berpisah dengan istrinya dua tahun lalu, anak semata wayangnya dibawa oleh mantan istrinya. Sementara pria itu hidup sendiri, sudah seperti seorang bujang.

Walau berprofesi sama seperti dirinya sebagai pengojek online, namun gaya hidup Heri terbilang cukup tinggi. Dia sering mengenakan pakaian bermerk dan makan di café atau restoran. Hari ini Kalandra baru tahu, dari mana pria itu mendapatkan uang.

Namun begitu Kalandra tidak pernah menghakimi apa yang dilakukan Heri. Toh sekarang dirinya juga melakukan pekerjaan seperti pria itu, mengantarkan barang haram demi pengobatan putrinya. Kalandra segera mengirimkan pesan pada Heri.

Tak sampai lima menit pintu rumah Heri terbuka. Rambut pria itu terlihat kusut, dan tubuhnya hanya terbalut bokser saja. Dengan gerakan kepala dia meminta Kalandra untuk masuk. Pria itu segera turun dari motornya kemudian masuk ke dalam kontrakan Heri.

Baru saja Kalandra mendaratkan bokongnya di kursi tamu, dari arah kamar muncul seorang perempuan mengenakan kaos dengan sepanjang selutut kemudian berlari ke kamar mandi.

“Pacar Abang?”

“Pacar kalau lagi ada uang. Kalau ngga ada aku ditendang, hahaha..”

Tak ayal Kalandra ikut tertawa mendengarnya. Sejak bercerai, Heri memang terkenal sering bergonta-ganti pacar. Kadang pacarnya pegawai di supermarket di depat tempat mereka berkumpul. Kadang penjaga counter, bahkan pernah Heri memacari seorang gadis SMA. Entah gombalan apa yang diberikan olehnya, hingga gadis belia itu mau saja dijadikan pacaran oleh pria yang usianya sudah kepala tiga.

“Abang ngga ada niat nikah lagi gitu?”

“Ngga lah. Ribet nikah tuh, tanggung jawabnya besar. Mending kaya sekarang. Pacaran, kalau udah ngga cocok, langsung pisah, beres.”

“Tapi si adik ngga ada ngelus,” goda Kalandra sambil melihat pada senjata pusaka Heri dibalik celana boksernya.

“Kata siapa. Pas kamu datang, aku baru ganti oli, hahaha..”

Kepala Kalandra hanya menggeleng saja. Tahu tujuan kedatangan temannya itu, Heri segera bangun dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian dia keluar dengan dua paket berbentuk dus kecil di tangannya.

“Yang buat Dini, antar sekarang. BTW dia belum bayar. Nanti ambil aja bayarannya terus setor ke aku. Kalau buat Chiko, antarnya malam, sekitar jam delapan.”

“Oke, Bang.”

Kalandra menganggukkan kepalanya. Dia langsung mengambil dua dus tersebut kemudian memasukkan ke saku dalam jaketnya. Bertepatan dengan itu, pacar Heri keluar dari kamar mandi. Kalandra buru-buru berpamitan.

Ketika pria itu sedang memakai sepatunya, tanpa sengaja sudut matanya menangkap Heri tengah berciuman dengan pacarnya. Bergegas Kalandra meninggalkan rumah kontrakan temannya itu.

***

Motor yang ditunggangi Kalandra berbelok memasuki sebuah komplek perumahan mewah. Dia menurunkan kecepatannya sambil mencari nomor rumah yang dimaksud. Setelah melewati beberapa deret rumah mewah, Kalandra berhenti di depan sebuah rumah besar dengan pagar tinggi berwarna hitam.

Lebih dulu pria itu mencocokkan alamat rumah beserto nomornya dengan alamat yang diberikan Heri. Setelah yakin, Kalandra turun dari motornya. Dia berjalan mendekati pintu pagar. Tangannya terulur memijit bel yang ada di dekat pintu pagar.

GUK!

GUK!

GUK!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lelaki Plus-Plus   Bab 65 : Tempat Terbaik

    Tangis Alya semakin kencang setelah Bayu menyebutkan waktu kematian anaknya. Tangis bercampur ratapan keluar dari mulut wanita itu. Kedua tangannya terus memeluk tubuh Nabila yang sudah terbujur kaku. Kalandra juga tidak bisa menahan tangisnya. Setelah banyak hal yang dia lakukan demi kesembuhan putrinya, nyatanya sang anak pergi juga meninggalkan dirinya. Sambil mengusap airmatanya, Kalandra mencoba menenangkan istrinya. “Alya… tolong jangan seperti ini, sayang. Kasihan Nabil.” “LEPAS!!” Dengan kasar Alya menepis tangan Kalandra. Kali ini wanita itu menatap tajam suaminya sambil terus berderaian airmata. “Kalau Mas tidak memindahkannya ke sini, Nabil pasti baik-baik saja! Kamu yang sudah membunuhnya, kamu, Mas!!” Alya tengah melampiaskan kemarahan dan kesedihan yang dirasakan akibat kehilangan anaknya. Dia melampiakan semuanya pada sang suami. Apalagi tadi mereka sudah bersitegang soal pemindahan Nabila dari ruang ICU. Teriakan Alya yang cukup kencang, menarik perhatian orang-

  • Lelaki Plus-Plus   Bab 64 : Nabil Ngantuk

    “Nabil akan tetap berada di ICU.” Alya mengambil lembaran kertas tersebut kemudian merobeknya. Kalandra yang merasa kesal, meminta formulir lain pada sang perawat. Melihat perdebatan pasangan suami istri itu, membuat perawat tersebut bingung. Di tengah perdebatan Kalandra dan Ayla, Bayu mendekat. Pria itu mengatakan kalau Nabila sudah bisa ditengok. Setelah mengenakan pakaian steril, pasangan tersebut segera masuk ke dalam ruang ICU. Alya hampir saja menangis melihat anaknya terbaring lemah dengan banyak peralatan medis menepel di tubuhnya. Kalandra langsung mendekat lalu memegang tangan anaknya. “Nabil..” “Papa..” suara Nabil terdengar pelan dan lemah. “Sayang,” Alya mendekati anaknya kemudian mencium kening Nabila. “Sehat-sehat ya, sayang. Nabil anak yang kuat,” suara Alya bergetar menahan tangis yang hendak meledak. Nabila memandangi kedua orang tuanya bergantian. Wajah keduanya nampak sedih dan cemas. Sebisa mungkin anak itu mencoba tersenyum agar kedua orang tuanya tidak

  • Lelaki Plus-Plus   Bab 63 : Kritis

    Kalandra terbangun saat mendengar teriakan Alya. Buru-buru pria itu masuk ke dalam kamar. Nampak Alya tengah mengguncang tubuh Nabila yang tak kunjung bergerak. “Kenapa, sayang?” “Nabil, Mas. Nabil…” Kalandra segera memeriksa keadaan anaknya. Dia masih bisa merasakan hembusan nafas anaknya, namun denyut nadinya sangat lemah. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung mengangkat tubuh Nabila. “Hubungi dokter Bayu, kita ke rumash sakit sekarang.” Tanpa menunggu jawaban Alya, Kalandra langsung keluar kamar. sambil membopong tubuh Nabila, pria itu berjalan cepat ke rumah sakit. Di belakangnya Alya menyusul dengan tergesa. Tak lupa wanita itu menghubungi Bayu. Sambil terus berjalan, Alya menunggu sampai Bayu menjawab panggilannya. “Halo.” “Mas.. Nabil, Mas. Nabil pingsan lagi.” “Kamu di mana sekarang?” “Mas Andra dan aku lagi jalan ke rumah sakit.” “Ya sudah, aku tunggu di IGD.” Dengan nafas terengah, akhirnya Kalandra tiba juga di IGD rumah sakit. Bayu yang sudah menunggu di sana

  • Lelaki Plus-Plus   Bab 62 : Belum Siap

    Kehidupan rumah tangga Kalandra dan Alya tetap berjalan seperti biasanya. Kondisinya masih tetap sama, masih belum ada komunikasi yang berarti di antara keduanya. Alya masih cenderung membatasi interaksi dengan suaminya. Hanya Nabila yang menjadi penghubung keduanya. Kadang Kalandra memanfaatkan anaknya agar bisa berdekatan dengan Alya. Untung saja Nabila mau membantunya. Terlebih anak itu terlihat senang ketika melihat kedua orang tuanya berdekatan. Setiap malam, Nabila selalu ingin ditemani tidur oleh kedua orang tuanya. Tentu saja Kalandra dengan senang hati mengabulkan keinginan anaknya. Setiap malam dia selalu menemani Nabila sampai tertidur. Namun setelahnya dia cukup tahu diri untuk pindah ke kamar sebelah. Malam ini, seperti biasa Nabila minta ditemani kedua orang tuanya. Alya selalu mengambil di pojok dekat tembok, sementara Kalandra berada di bagian sisi. Nabila berbaring telentang sambil memegangi tangan kedua orang tuanya. Dia masih mengajak keduanya untuk berbicara.

  • Lelaki Plus-Plus   Bab 61 : Hati yang Tersakiti

    Setengah jam kemudian Kalandra sampai di café bersama dengan Nabila. Pria itu terkejut melihat Yulia sedang bersama dengan istrinya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” berang Kalandra. “Aku merindukan mu,” jawab Yulia dengan nada manja. Alya nampak kesal karena Yulia melakukan itu di depan Nabila. Anak itu hanya melihat pada orang tuanya dan Yulia bergantian, tanpa anak itu tahu apa yang sedang terjadi. Alya segera berdiri kemudian memeluk lengan Kalandra dengan mesra. Matanya melihat pada Yulia penuh kemenangan. Kalandra cukup terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya, namun pria itu tentu saja memanfaatkan situasi yang terjadi. dia melepaskan pegangan Alya di lengannya kemudian menarik pinggang sang istri. “Apa kamu lama menunggu, sayang?” “Ngga, Mas. Apa pekerjaannya sudah selesai? Maaf kalau aku mengganggu pekerjaan Mas.” “Ngga apa-apa.” “Mama.. tadi Papa jualan mobil. Papa bisa juga tiga mobil, Ma,” celetuk Nabila dengan nada bangga. Sambil bermain sendiri, Nabil

  • Lelaki Plus-Plus   Bab 60 : Istri Sah vs Jablay

    Karena Kalandra membawa pulang Nabila, mau tidak mau Alya pun ikut pulang ke rumah. Wanita itu membawa kembali semua barang-barang yang dibawa sebelumnya. kembalinya wanita itu bukan karena sudah memaafkan suaminya, tapi hanya demi Nabila. Biar bagaimana pun anak itu masih butuh kasih sayang dan perhatian kedua orang tuanya. Kehidupan rumah tangga Kalandra dan Alya berjalan seperti biasanya, namun suasananya sudah jauh berubah. Sekarang seolah ada jarak tidak terlihat di antara pasangan suami istri tersebut. Alya tetap menjalankan kwajibannya sebagai istri, menyiapkan makan, mencuci dan menyetrika baju suaminya dan membereskan rumah. Namun tidak ada komunikasi di antara keduanya. Untuk meminta Kalandra makan saja, Alya meminta Nabila yang menjadi perantara. Wanita itu masih belum mau membuka komunikasi dengan suaminya. Takut hanya ada pertengkaran saja di antara mereka. Kalandra sendiri memilih mengikuti apa yang diinginkan istrinya, walau hatinya sakit melihat sikap diam Alya. Tap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status