/ Rumah Tangga / PERGI UNTUK KEMBALI / Bab 2 - Kutemukan Dirinya

공유

Bab 2 - Kutemukan Dirinya

last update 최신 업데이트: 2024-06-15 06:30:55

Jantung ini bagai tersengat ribuan volt tegangan listrik saat pandangannya beradu dengan tatapanku. Langkahku terayun setengah sadar mendekat ke arahnya. Paras yang sama, sorot mata yang sama, dengan kemasannya yang berbeda. Rambut panjangnya yang indah sekarang sudah tertutup hijab panjang. Lekuk tubuhnya yang dulu selalu kupuja, sekarang sudah terbalut gamis longgar, yang entah mengapa membuatnya terlihat semakin anggun di mataku. Aku yakin dia adalah Amaraku yang telah kucari dua tahun terakhir.

“Aku hampir tidak mengenalimu,” ucapku saat hanya tersisa beberapa langkah di depannya.

Dari gerak bibirnya bisa terbaca, Amara menyebut namaku walaupun terlampau pelan untuk terdengar. Terlalu banyak yang ingin kusampaikan padanya, tetapi tak satu pun yang terucap hingga Amara begitu saja berlalu dari hadapanku. Kuikuti terus langkahnya yang tergesa. Jika tidak khawatir akan terjadi keributan, ingin rasanya kutarik lengan itu untuk berhenti sebentar.

Amara terlihat sangat gugup dan terburu-buru membayar di meja kasir tanpa menyadari ia telah menjatuhkan kunci mobilnya sendiri. Ia sempat hilang dari pandanganku saat kupungut benda itu. Ada sesuatu yang menusuk saat melihat ukiran berwarna perak yang terkait pada bagian atas kunci. Amara bahkan masih menyimpannya, gantungan kunci yang kuhadiahkan untuknya pada saat bulan madu kami bertahun lalu.

Sebuah harapan terbit di hatiku, bahwa Amara masih menyimpanku. Kususul ia dengan tergesa hingga mataku menangkap sosoknya yang sedang kebingungan mencari sesuatu di dalam tas. Langkahku melambat saat lagi-lagi pandangan kami bertemu. Amara diam terpaku saat kuulurkan kunci tersebut, juga saat kubantu memasukkan barang belanjanya ke bagasi. Kupandangi mobil itu menjauh tanpa berusaha berbuat apa pun.

Bodoh, Radit! Harusnya kau tanyakan nomor kontaknya, atau paling tidak kau titipkan saja nomor teleponmu padanya. Amara sudah di depan mata, dan kau melepasnya begitu saja? Ternyata setelah bertahun-tahun kau tetaplah lelaki bodoh yang sama.

Kuremas rambut dengan kesal yang membuncah. Sekarang harus kupikirkan cara untuk menemukannya kembali. Paling tidak aku tahu ia masih tinggal di kota ini.

***

Zein.

Jadi Amara memberinya nama Zein. Bocah lelaki kecil yang langsung mencuri perhatianku saat mendengarnya menyapa untuk pertama kali. Paras Amara tercetak jelas di wajah Zein yang mampu aku ingat. Caranya tertawa dan tersenyum mengingatkanku pada ibunya, senyum yang puluhan bulan kurindukan dan kerap hadir di mimpi-mimpi burukku tentang perpisahan kami.

Zein sudah sebesar itu sekarang. Aku bahkan tidak sempat memberinya nama saat kutinggalkan mereka berdua. Keputusan yang sangat kusesali, saat egoku mengalahkan segalanya dan jiwa pengecutku mengikuti kemudian. Harusnya kubawa serta Amara dan bayi kecil kami, bukan malah mengabaikan dan mencari pelarian. Aku memang pantas dihukum dengan sebentuk rasa bersalah yang terus menghantui hingga saat ini.

Kucoba memejamkan mata, tetapi akhirnya terbuka kembali. Pikiranku tidak bisa terlepas dari Amara dan juga Zein. Otakku berpikir keras mengumpulkan cara agar aku bisa kembali menemukannya. Hingga saat rasa kantuk mulai menguasai, aku teringat akan perbincanganku dengan Zein. Bocah kecil itu sempat menyebutkan nama sekolahnya. Tak ada salahnya besok kujumpai mereka di sana. Semoga takdir kembali berpihak padaku kali ini.

***

Hampir satu jam kuhabiskan menunggu hingga satu per satu siswa berseragam sekolah mulai terlihat berhamburan keluar. Bergegas kudekati gerbang sekolah untuk mencari Zein di antara ramainya anak-anak yang sebayanya dengannya. Ternyata sungguh sulit membedakan, ditambah aku pun tak terlalu hafal akan wajahnya, sampai kemudian lengan kemejaku terasa seperti ditarik beberapa kali.

“Om yang kemarin ketemu di supermarket ‘kan?” Suara kecil itu menyapa ramah. “Mau ngapain di sekolahku?”

Kurendahkan posisi tubuh untuk menyamai tingginya. “Kebetulan lewat, Om mau nanyain obeng yang dibeli bisa dipakai enggak?”

Ia mengangguk riang sambil menceritakan pedal sepedanya yang sudah berhasil diperbaiki, juga beberapa mainan yang menurutnya rusak juga sudah ia reparasi dengan aneka obeng itu. Minat Zein pada beragam perkakas mengingatkanku pada diri sendiri yang gemar membongkar pasang sesuatu. Caranya berceloteh sangat mirip Amara, terutama pada sepasang mata yang selalu ekspresif mengikuti setiap gerak bibirnya.

“Biasanya siapa yang jemput?” Kulanjutkan bertanya.

“Bunda, Om. Tapi kalo Bunda sibuk, aku harus nunggu agak lama.”

“Ayah?”

“Kata Bunda, ayahku kerja di tempat yang jauh. Ayah belum pernah pulang sampai sekarang,” gumamnya sedih.

Seperti ada seribu pedang yang menusuk jantungku saat Zein selesai membicarakan sang ayah. Meskipun di sisi lain, hatiku berteriak lega mengetahui bahwa selama ini Amara tidak menggantikanku dengan lelaki lain. Aku masih punya harapan itu.

“Om kerja di mana?” Zein memandangku ingin tahu.

“Di perusahaan mobil, kantornya dekat dari sini,” jawabku menuntaskan penasarannya.

“Oh, kalo bundaku kerjanya bikin kue,” ujarnya sebelum aku sempat bertanya. “Tokonya ada di rumah.”

Rasa bersalah yang teramat sangat memenuhi dadaku. Jika Amara sampai berjualan makanan, pastilah ada sesuatu hal yang terjadi pada bisnis keluarganya, hingga ia mencari jalan lain untuk menafkahi Zein. Kumaki diri sendiri atas seluruh kelalaianku pada dua orang yang sangat kucintai ini. Aku sudah bersumpah, kali ini tak akan kusia-siakan kesempatan untuk membahagiakan darah dagingku serta jantung hatiku.

“Om, itu Bunda udah jemput.” Suara nyaring Zein membuyarkan lamunanku.

Mataku mengikuti arah jemarinya yang menunjuk pada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Zein hendak berlari, tetapi cepat kutahan lengannya agar ia tetap berdiri di sampingku. Bunyi klakson antrian kenderaan di belakang mobil tersebut membuat sang pengendara membuka kaca jendela. Ia separuh berteriak memanggil Zein. Sebuah raut kesal muncul saat melihatku tidak mengijinkan Zein menaiki mobilnya.

“Nanti Bunda marah, lho, Om.” Zein memandang cemas saat Amara memutuskan untuk memarkirkan mobilnya.

Aku sebenarnya juga tak kalah cemas. Jika Amara ingin meributkan hal ini, sekuriti sekolah sejak tadi memang sudah beberapa kali melirik curiga padaku. Mereka pasti memindai wajah-wajah asing yang jarang terlihat.

“Biar Bunda parkir mobil dulu. Ada yang Om ingin bilang sama Bunda,” jelasku pada Zein.

“Om kenal sama Bunda?”

Ini pertanyaan sama yang Zein ajukan pada Amara kemarin. Kemampuannya membaca situasi cukup baik. Aku tidak boleh salah bicara, khawatir bocah kecil akan semakin penasaran.

Kutunggu langkah Amara mendekat dengan jantung yang berdetak cukup kencang. Jelas raut wajahnya terlihat tidak bersahabat. Aku berusaha tersenyum, tetapi tidak sedikit pun Amara membalas tatapanku.

“Zein, ayo kita pulang,” ucapnya saat telah berdiri di depanku dan Zein. “Bunda sibuk hari ini.”

Jelas ia mengabaikanku. Aku harus cukup pintar memanfaatkan situasi ini. Tak akan berhasil jika memaksa Amara. Ide itu muncul begitu saja saat melihat wajah polos Zein.

“Sebelum pulang gimana kalo kita makan dulu?” usulku spontan saja sambil memandang Zein dan Amara bergantian.

Syukurlah trik yang kupakai lumayan jitu, karena Zein langsung tertawa girang seraya menyebutkan ia lapar dan ingin makan ayam goreng. Amara memandangku kali ini, dengan sorot mata dipenuhi emosi yang siap meluap. Namun, aku kenal baik sifat wanita ini. Sebisa mungkin ia tidak bertengkar dengan siapa pun di depan umum. Ia seperti biasa akan mengalah dan mengikuti saranku.

“Banyak yang ingin aku bicarakan denganmu, Ra,” pintaku dengan nada memohon saat pandangannya melunak.

“Nggak ada yang perlu dibicarakan,” sahutnya datar.

“Satu kali saja. Setelah ini kita tidak perlu bertemu lagi kalau kamu keberatan.”

Amara membuang muka saat kucoba terus mencari tatapannya. Aku tak boleh menyerah. Jika bukan sekarang, aku tidak yakin akan mendapat kesempatan emas ini lagi.

Mataku beralih pada Zein yang sedang memandangiku dan Amara dengan bingung. Amara hanya diam, sementara aku juga tak tahu harus mengucapkan apa.

“Kita jadi pergi makan nggak, sih, Om? Perutku udah bunyi ini, Bun,” protesnya dengan tangan terlipat di depan dada.

“Jadi, dong.” Kutunjukkan senyum pada Zein, lalu mengulurkan sebelah tangan pada Amara.

“Kuncinya, Ra,” ujarku.

Amara memandangi bergantian wajah dan telapak tanganku yang terbuka. Sedetik kemudian kepalanya menggeleng saat mengetahui apa yang kumaksud.

“Let me drive, Ra, please. Aku nggak akan sebodoh kemarin membiarkan kalian pergi begitu saja,” jelasku.

Amara terlihat bimbang. Sesaat kemudian, ketika kunci mobil dengan gantungan perak itu akhirnya berpindah ke tanganku, aku tahu telah ada sedikit ruang maaf di hatinya yang disisakan Amara untuk menebus kesalahanku.

“Thank you,” ucapku pelan.

Kuabaikan helaan napas Amara yang terdengar masih kesal, meskipun dengan menurut ia ikut masuk ke dalam mobil. Senyum simpul terbit di bibirku. Kupastikan ini tak akan berlangsung lama, karena aku masih ingat cara membujuknya. Sejelas aku mengingat tangisnya saat malam itu kami bersiteru dan dengan begitu pengecutnya kuputuskan untuk meninggalkannya.

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 25 - Penyesalan Dua Lelaki

    Papa dan Mama bertengkar lagi. Mereka saling menyalahkan satu sama lain. Suara Papa terdengar menggelegar di keheningan malam. Aku menangis, Zein juga merengek dalam gendonganku. Rumah ini sudah seperti neraka. Aku menutup mata putus asa.Lalu, entah siapa yang tiba-tiba datang menyeka air mata di pipiku. Usapannya begitu lembut, suaranya juga. Aku memberanikan diri membuka mata setelahnya. Saat itu juga aku sadar bahwa aku bukan berada di rumah neraka itu. Aku sedang berada di rumahku sendiri.“Mana Zein?” tanyaku pada lelaki yang separuh berlutut di hadapanku untuk menyesuaikan tingginya dengan sofa yang sedang aku duduki. Pasti ia tadi yang membuatku terjaga dari mimpi.“Sudah tidur,” jawabnya singkat dengan raut wajah khawatir.Aku ingat sekarang. Aku duduk di sini karena hendak menunggui lelaki ini menemani Zein pergi tidur. Sebelumnya kami memang sedikit beradu argumen mengenai apakah ia diperbolehkan kembali menginap atau tidak malam ini.“Karena Zein sudah tidur, kamu sudah bi

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 24 - Menangis Dalam Mimpi

    Delapan tahun lamanya jiwaku tersiksa oleh rasa bersalah karena meninggalkan Amara begitu saja, serta dua tahun terakhir di dalamnya kujalani dengan hampir putus asa karena nyaris tak dapat menemukan belahan jiwaku itu kembali, tetapi tak ada satu detik pun aku biarkan air mata penyesalan menetes. Lelaki harus tegar. Jangan sampai menangis. Bukan seperti itu caranya lelaki bersedih. Doktrin itu sudah aku terima bahkan sejak kecil.Semua itu seketika terbantahkan saat lengan kecil Zein memelukku sehingga aku harus menunduk agar tinggi tubuh kami sejajar. Lututku akhirnya menyentuh lantai saat pelukan Zein semakin rapat. Entah aku atau Zein yang memeluk lebih erat, tetapi untuk beberapa detik aku sungguh-sungguh merasakan sesak penyesalan karena telah menyia-nyiakan begitu saja delapan tahun yang berharga untuk memeluk bocah kecil ini.Mungkin aku akan tetap mendekap Zein jika bukan Amara yang kemudian menarik lenganku lembut agar mengendurkan pelukan. Cepat kuseka air mata sambil terse

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 23 - Sesungguhnya Ayah

    Aku duduk dengan gelisah di depan televisi yang menyala menunggui dua lelaki yang sampai saat ini belum juga kembali dari masjid. Rasa gelisah kali ini jauh lebih hebat dibandingkan rasa gelisah delapan tahun lalu saat aku duduk dalam posisi hampir serupa sambil menggendong bayi, yang bahkan belum sempat aku beri nama, menanti penuh harap akan mendengar deru motor Radit seraya berharap bahwa ia akhirnya pulang. Punggung yang tadinya menumpu pada sandaran sofa, spontan menegak ketika dua suara yang berbeda warna saling bersahutan dan semakin mendekat. Aku berdiri untuk membuka pintu rumah saat terdengar teralis pagar digeser perlahan. Dengan raut wajah yang berusaha diatur setenang mungkin, kusambut keduanya dengan bersemangat. “Bapak Abidin yang jadi imam tadi, Bun.” Zein melaporkan suasana salat tarawih. “Bapak Abidin itu imam kesukaan Bunda, Om.” Ia berkata rinci seolah hal itu adalah salah satu tentangku yang perlu Radit ketahui. “Kenapa Bunda suka Bapak Abidin?” Radit menujukan

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 22 - Memupuk Percaya

    Bunyi denting dari oven pemanggang serta aroma cokelat matang yang menguar, secara bersamaan membuyarkan lamunanku. Bergegas kuangkat loyang persegi panjang yang memuat adonan bronis di dalamnya. Senyumku mengembang saat melihat hasilnya sesuai yang diharapkan. Senyum itu kemudian berlanjut saat membayangkan betapa Radit akan menyantap kue kesukaannya ini dengan lahap saat berbuka puasa nanti.Aku membuatkan khusus untuk Radit bronis pertama dariku saat lelaki itu berulang tahun, tepat enam bulan setelah kami berpacaran. Hanya bronis cokelat sederhana yang dihiasi krim dan buah ceri di atasnya, tetapi Radit menerimanya dengan sangat antusias. Bronis yang hanya berukuran satu loyang kecil itu sengaja ia habiskan perlahan-lahan selama satu minggu. Radit bilang ia bahkan tidak mengizinkan satu pun teman di tempat kosnya untuk ikut mencicipi.“Bunda bikin bronis coklat hari ini?”Zein yang baru pulang dari masjid selepas ashar sepertinya ikut mencium aroma khas cokelat panggang dari oven.

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 21 - Pasrah Hati

    Pertemuan dengan Pandu jelas membuat hatiku semakin sulit menentukan arah. Rasa percaya yang berusaha Radit tumbuhkan di hatiku, mendadak porak poranda setelah kuresapi apa yang Pandu katakan. Selama delapan tahun Pandu tanpa ragu berperan menggantikan Radit. Siapa yang sebenarnya lebih bertanggung jawab? Bagaimana jika pada akhirnya Radit akan kembali lari dari janji-janji yang ia ucapkan padaku?“Pandu datang untuk melamarku.” Kuulang kalimat itu saat Radit bertanya atas alasan apa Pandu mampir ke rumah pagi tadi.Meskipun sebenarnya Pandu tidak secara lugas melamar, ia hanya mengungkapkannya secara tersirat. Pandu selalu seperti itu. Lelaki itu memilih tertutup untuk urusan hati. Karena alasan itu pula aku terkadang bingung menerjemahkan sikapnya. Semuanya samar-samar sampai pagi tadi Pandu mengungkapkan isi hatinya.“Dia tidak berhak melamar kamu.” Radit baru menyahut beberapa lama setelah ia diam mendengar penuturanku. “Kamu perempuan bersuami, Ra.”“Mungkin saja sekarang sudah t

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 20 - Emosi Membuncah

    Pagi ini aku terpaksa berangkat kerja lebih awal dari biasanya. Sebelum ke kantor, aku harus terlebih dahulu singgah di rumah untuk mengganti pakaian kerja. Sebelumnya, tentu saja aku harus mengantar sekolah bocah kecil yang menggemaskan ini yang sejak tadi tak berhenti bernyanyi riang sejak mobil mulai bergerak.Berselingan dengan lamunanku yang sedang mencari alasan untuk dapat menjemput Zein dari sekolahnya nanti, sebuah mobil yang terlihat familiar dari arah berlawanan memaksaku sedikit memutar kemudi ke kiri karena posisinya yang terlalu rapat. Aku tidak mungkin salah lihat. Mobil yang baru saja berpapasan di depan jalan menuju rumah Amara adalah milik Pandu. Aku kenal bagian depannya yang tertempel stiker lambang kedokteran.Mau apa laki-laki itu bertandang sepagi ini? Apa karena tidak kuizinkan menjenguk Amara tadi malam?"Om."Apakah ia berniat memeriksa kondisi Amara seperti kemarin?"Om Radit."Atau mungkin saja ia hendak mencari tahu tentang aku dari Amara?"Om!" Sebuah tan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status