Home / Rumah Tangga / PERGI UNTUK KEMBALI / Bab 7 - Sulit Menolak

Share

Bab 7 - Sulit Menolak

last update Last Updated: 2024-06-25 06:46:58

Entah bagaimana caranya untuk tetap disiplin waktu setiap berbelanja ke toko bahan kue langgananku. Mataku seperti berwisata di antara pernak-pernik dan beragam perkakas memasak yang ditawarkan sang pemilik toko. Beberapa obrolan beliau juga sangat menarik, hingga akhirnya aku lupa waktu bahwa harus menjemput Zein menjelang tengah hari.

Tinggal satu belokan lagi untuk mencapai lokasi sekolah saat aku menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan mobilku. Aku baru ingat bahwa sejak kemarin sore kondisi salah satu ban belakang memang kekurangan tekanan. Aku seharusnya tidak lupa untuk singgah ke kios pompa ban terdekat. Pasti Zein akan cemberut jika aku lagi-lagi terlambat menjemputnya.

Dan, benar dugaanku. Kondisi ban sudah benar-benar kehabisan angin. Kucoba mencari lokasi bengkel di sekitar pada aplikasi penunjuk arah. Sialnya bengkel terdekat berada sejauh tiga kilometer dari posisiku saat ini, dan kondisi ban tidak memungkinkan untuk dibawa berkendara lebih jauh. Sepertinya aku memang harus mengganti ban sendiri lagi seperti biasa.

Terik matahari pukul dua belas menyempurnakan segalanya. Dahiku sudah dibanjiri tetesan peluh saat membuka baut ban serep dari bawah mobil. Belum lagi melepaskan ban yang bocor dari besi velg, dilanjutkan mengunci ban yang baru dengan sekuat tenaga. Biasanya semua ini bisa kulakukan dengan baik bila tidak sedang terburu-buru seperti ini.

Di tengah pikiranku yang dilanda kepanikan, telepon genggamku terdengar berdering nyaring. Aku mengabaikan sejenak, yang kuprioritaskan saat ini adalah mengganti ban dan segera menjemput Zein. Namun, kuputuskan untuk menerima panggilan itu pada dering berikutnya.

Sebuah nomor tidak dikenal muncul di layar ponsel, disusul suara kecil Zein yang terdengar dari seberang. Suara kecil itu kemudian berganti dengan suara berat dengan nada sedikit cemas dari seorang lelaki dewasa. Aku terdiam sesaat. Sungguh aku tidak mengira lelaki itu masih berniat menemui Zei hari ini. Dengan sedikit putus asa, kuturuti sarannya untuk mengirim titik lokasiku ke ponselnya. Aku tidak boleh egois untuk menolak. Kasihan Zein jika harus menunggu terlalu lama.

***

Aku masih berusaha membuka baut yang terkunci pada ban mobil, saat Zein dan Radit tiba beberapa saat kemudian. Aku segera berpindah posisi ketika Radit berkata akan mengambil alih pekerjaanku. Ia menggulung dengan cekatan lengan kemeja hingga ke siku, membuka arloji dan mengantunginya di saku celana. Zein turut melempar sembarangan ranselnya ke dalam mobil, lalu berjongkok di samping lelaki itu dengan sangat antusias.

“Perlu kunci yang mana, Om?” tanya bocah kecil itu seolah ia siap bertugas sebagai asisten.

“Yang bentuknya seperti palang.” Radit menjawab sembari ikut memeriksa beberapa kunci yang berserakan di aspal.

Hanya dengan beberapa putaran kunci, ban mobil pun terlepas dengan mudah. Aku berdiri terpaku menatap dua lelaki berbeda umur itu yang terlihat sibuk. Keduanya seketika tidak memedulikanku. Radit meminta Zein memegangi ban yang bocor sebentar, sementara ia memasang ban serep agar dapat digunakan. Zein tertawa senang sekali saat Radit memperbolehkannya melompat-lompat kecil di atas kunci palang untuk memastikan semua baut sudah terkunci sempurna. Aku tak dapat menahan senyum melihat interaksi keduanya. Namun, segera kupasang raut wajah biasa saja saat pandangan Radit berantuk denganku.

“Ra, boleh minta tisu?” Radit menunjukkan padaku jari tangannya yang kotor setelah ia dan Zein selesai membereskan semua peralatan.

“Aku masih punya sisa air minum kalau Om mau cuci tangan.” Zein menyela sebelum aku sempat merespon. Ia langsung beranjak untuk memeriksa isi ransel dan kembali dengan sebuah tumbler berwarna biru tua di genggaman.

Aku jelas salah tingkah dengan semua inisiatif Zein. Kupandangi keduanya yang tanpa canggung saling bergantian menuangkan air untuk membasuh jari masing-masing. Aku baru tersentak saat Zein meminta diambilkan tisu dari dalam mobil.

“Terima kasih, ya,” ucapku pada Radit saat ia telah selesai mengeringkan tangan. “Aku dan Zein pulang dulu.”

Radit mengangguk. Mulutnya terbuka sejenak seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia menutupinya dengan tersenyum. “Sama-sama, Ra. Kasih tahu aku kapan pun kamu butuh bantuan.”

“Wajah Om Radit ada noda oli!” pekik Zein lucu saat aku akan mengajaknya masuk ke dalam mobil. “Sini aku bersihkan.”

Bocah kecil itu meraih selembar tisu dari kotak dalam peganganku dan mendekat ke arah Radit. Ia berjinjit separuh melompat hingga Radit pun membungkuk agar Zein dapat mengusap wajahnya. Aku terpaksa membuang muka karena tak dapat menahan hatiku yang seperti teriris saat sepasang mata Radit lurus menentang tatapanku.

“Aku pulang dulu, ya, Om,” pamit Zein pada Radit saat kuberi isyarat untuk bergegas.

“Jangan lupa disimpan nomor telepon Om, ya. Supaya kapan-kapan kita bisa ngobrol seperti tadi.” Kulihat Radit membelai kepala Zein sebelum berpisah.

“Om bisa mampir ke sekolahku, nanti kita cerita-cerita lagi sambil nunggu Bunda datang,” sahut Zein dengan lugunya.

Undangan dari Zein pasti membuat Radit merasa di atas angin saat ini. Aku sengaja memasang raut wajah datar, meskipun tak kupungkiri di dalam hatiku sudah banjir air mata

“Kalau begitu, besok siang boleh, ya, Om mampir lagi ke sekolah.” Radit melirikku sekilas sambil menanti persetujuan Zein.

“Mulai besok aku libur satu minggu. Kan, kita besok puasa.” Zein mengingatkan Radit, juga mengingatkanku sebenarnya, karena aku belum sama sekali mempersiapkan menu sahur untuk malam nanti.

“Kalau begitu, ini buat Zein.” Kulihat Radit meraih dompet dari saku celananya dan menyerahkan dua lembar pecahan seratus ribu pada Zein. “Untuk beli nugget buat sahur dan beli es buat buka puasa,” ujarnya.

“Maaf, Radit. Tidak usah repot-repot,” cegahku dengan sopan.

Buru-buru kuminta Zein mengembalikan uang pemberian Radit. Aku tidak ingin terlalu banyak menerima bantuan darinya jika nantinya akan membuat aku semakin luluh dengan semua perhatiannya. Selama ini aku mampu bertahan sendiri. Aku tidak ingin kedatangan Radit kembali dalam hidupku akan merusak semua ritme yang telah kuatur selama bertahun-tahun.

“Boleh, ya, Bun.” Zein masih menggenggam erat dua lembar uang berwarna merah itu di tangannya. “Kemarin, kan, kita sudah beli celengan.“

Aku menggeleng cepat. “Tidak, Zein.” Kembali kularang dengan nada tegas kali ini.

“Aku mau nabung yang banyak, Om.” Zein menghiraukanku dan berpaling pada Radit.

“Oh, ya? Nanti tabungannya mau Zein belikan apa?” Kini Radit pun tidak mengindahkan protesku dan memilih melayani cerita Zein.

“Mau dikirim untuk Ayah, supaya Ayah punya ongkos buat pulang.” Zein menjawab lugu, persis seperti isi obrolan kami kemarin dalam perjalanan menuju ke rumah.

Aku yakin tak hanya air mukaku, karena raut wajah Radit pun berubah kaku saat mendengar celoteh Zein. Lelaki itu menatapku dengan sorot mata memohon. Aku merasa sedang dihujani berjuta-juta permintaan maaf darinya saat kami bertatapan. Lalu, tanpa dapat kukendalikan lagi, satu per satu cairan bening yang terasa hangat mulai lolos dari sudut mataku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Nurmila Karyadi
ya Alloh sampe nangis bacanya,zein begitu polosnya blg mau kirim uang utk ongkos plg ayahnya,ayolah raa jgn egois............
goodnovel comment avatar
Juniyanti jhune
kok ngga ada lanjutannya lagi
goodnovel comment avatar
Keke Niezt
up kak,, ditunggu kelanjutan nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 45 - Pergi Untuk Kembali

    Jika ada yang bertanya kapan saatnya kamu berada di titik hidup terbaik, bisa dikatakan itulah yang aku rasakan sekarang. Bahkan saat aku mengira bahwa kemarin adalah masa terbaikku, tetapi terbantahkan saat menjalani hari ini. Apalagi yang harus kuingkari saat semua bahagia sudah aku dapat dalam genggaman. Istri yang cantik, anak yang cerdas, karir yang bagus, juga rumah tangga yang hangat yang membuatku rindu untuk selalu pulang. Duri-duri kecil pasti ada saja datang menghampiri. Namun, sekarang hanya terasa menggelitik karena aku dan Amara sudah berhasil meyintas luka tusukannya. Kecuali satu, rasa cemburuku pada lelaki yang Amara sebut sahabat. Meski sosoknya berhasil merawat Zein dengan baik pasca kecelakaan yang lalu, tetapi aku masih harus waspada akan sepak terjangnya. Aku tidak ingin lelaki itu mencari celah untuk merebut Amara. “Zein mau dibelikan rasa apa? Ayah sedang di toko es krim?” Hampir setiap hari saat pulang bekerja, kusempatkan untuk membelikan Zein makanan. A

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 44 - Ada yang Cemburu

    Benar apa yang dikatakan orang-orang. Air mata haru tidak dapat tertahan ketka tiba di Masjidil Haram dan melihat langsung Baitullah. Air mataku bercampur senyuman saat Radit menatapku dengan binaran yang sama. Kubiarkan ia membanggakan pencapaiannya, bahwa ia telah berhasil memenuhi janjinya.“Walau tidak haus, tetap harus minum.” Radit menyodorkan botol air minum yang sudah ia isi ulang dengan air zam-zam.Aku dan Radit baru saja menyelesaikan tawaf. Radit menarikku ke pinggir agar dapat duduk sejenak untuk mengumpulkan tenaga karena setelah ini kami akan melanjutkan rukun sa’i.“Kamu berkeringat.” Radit mengusap ujung hidungku yang dihinggapi bulir-bulir peluh. “Kalau lelah istirahat dulu.”Suhu udara di masjidil haram hampir mencapai 45 derajat celcius. Meski matahari terasa seperti tepat di atas kepala, tetapi kelembaban udara terukur rendah. Normalnya, berjalan kaki mengitari ka’bah tidak akan mengeluarkan keringat. Mungkin efek obat yang kuminum untuk menghilangkan rasa meriang

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 43 - Lugas Katakan Cinta

    “Kamu berangkat berdua Radit saja, Nduk. Biar Ibu nunggu tahun depan. Jangan sungkan, itu rezeki kalian. Radit sudah membiayai ongkos haji Ibu. Sudah lebih dari cukup buat Ibu. Terima kasih sudah mau menerima Radit kembali, Nduk. Maafkan kesalahan-kesalahan Radit terdahulu. Maafkan Ibu juga yang kurang mampu mendidik Radit. Ibu selalu mendoakan kalian agar rukun dan makmur sampai hari tua.”Kuputar ulang rekaman suara Ibu yang dikirimkan Mbak Arum lewat pesan. Aku masih berusaha agar Ibu ikut serta dalam perjalanan umrohku beserta Radit. Namun, sesuai yang telah disampaikan Radit sebelumnya, Ibubmemang menolak.Semua sudah dipersiapkan. Zein sudah bersedia ditinggal dalam pengasuhan Alia selama aku dan Radit tidak ada. Bude Asih akan diperbantukan untuk menyediakan keperluan Zein selama menginap di rumah Papa.Meski semua persiapan sudah lengkap, ada satu hal yang sejak kemarin menghadirkan gundah di hatiku. Cincin pernikahan yang memang sengaja aku lepas setiap akan pergi mandi, mend

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 42 - Kado Terindah

    Perjalanan pulang kembali ke kota didominasi celoteh Zein tentang serunya bermain bersama anak-anak desa. Seminggu berada di kampung halaman Radit rupanya memberi pengalaman baru bagi Zein. Bocah kecil itu menitikkan air mata sedikit saat berpamitan dengan sang nenek. Baru setuju untuk diajak pulang setelah ayahnya menjanjikan akan ada liburan susulan ke desa setelah kenaikan kelas.Radit sudah memindahkan barang-barang pribadinya ke rumahku minggu lalu. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya Radit mengalah. Kami akan menetap di rumahku sampai Zein menamatkan sekolah dasar. Pertemanan Zein di lingkungan tetangga menurutku pantas untuk dipertimbangkan. Jarak menuju sekolah Zein juga akan semakin jauh jika harus ditempuh dari rumah ayahnya. Sesuai kesepakatan bersama, rumah pribadi Radit selama lima tahun ke depan akan disewakan pada salah satu instansi yang sedang membutuhkan rumah dinas.Seminggu ini juga aku bingung memikirkan kado apa yang akan aku berikan sebagai hadiah ulang ta

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 41 - Mengulang Kenangan Berdua

    Tempat ternyaman selain rumah Ibu, adalah berada di samping Amara di mana pun aku berada. Dulu, semasa kuliah, duduk di dekatnya saja sudah mampu menghilangkan permasalahan hidupku hari itu. Setelah menikah, mencium dan memeluknya menjadi tempat pelampiasan gundah terindah bagiku. Menyatu dengannya ibarat mendapatkan energi terbarukan yang membuatku siap untuk melakukan apa saja setelahnya.Pasti Amara menganggapku gila atas apa yang baru saja kulakukan padanya. Aku tahu ia kewalahan, tetapi aku juga yakin ia menikmatinya setara denganku. Keadaan yang terang benderang mungkin membuat gairahku lebih menyala. Aku bisa melihat indahnya Amara tanpa terhalang apa pun.“Radit, ayo bangun.” Jemari Amara kembali mengusikku. “Sudah hampir pukul setengah lima sore.”Sejak tadi sebenarnya aku tidak tidur. Aku mengatur napas setenang mungkin agar Amara mengira demikian. Jika Amara tahu bahwa aku hanya pura-pura, pasti wajah perempuan itu akan merona merah seketika. Amara menciumi wajahku, dahiku,

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 40 - Balada Burung Dalam Sangkar

    Terhitung tiga hari berlalu sejak kami tiba di kampung halaman Radit, pagi ini Mbak Arum tetap dengan ramahnya menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga. Saat kuutarakan rasa sungkanku, perempuan itu tersenyum lebar sampai memunculkan lesung pipinya yang samar-samar.“Rumah ini sudah seperti rumahku. Setiap hari, dua atau tigakali aku kemari untuk nengokin Ibu,” ujarnya. “Apa yang dimasak di rumah, pasti setiap hari aku antar buat Ibu.”“Terima kasih, Mbak,” ucapku mewakili Radit.“Selama di sini kamu nggak usah repot-repot masak, nyuci baju, nyuci piring, biar aku yang kerjakan,” larangnya persis seperti kemarin saat aku kedapatan mencuci tumpukan gelas setelah tamu lebaran pulang.“Aku nggak enak ngelihat Mbak Arum capek beres-beres sendirian.”“Gantian,” ujarnya. “Nanti kalau ada rezeki, aku, Mas Cipto dan anak-anak bisa mampir ke rumah Radit, aku juga nggak mau kerjain apa-apa di sana.”“Oh, baik, Mbak,” sahutku seraya meringis kecil.“Guyon aku,” ucapnya sambil tertawa. “Maksudnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status