Home / Romansa / Lembah Awan Berkabut / Bab 2.2 Akar Api Murni

Share

Bab 2.2 Akar Api Murni

Author: Shana13
last update Last Updated: 2025-10-27 12:26:19

Pandangan Ling Yue beralih ke tengah gua. Wang Yue masih di sana, dalam posisi yang sama persis seperti saat mereka tertidur. Ia tampak seperti patung, menyatu dengan energi di sekitarnya. Ada aura kesepian yang mendalam di sekelilingnya, aura puncak gunung yang tak tersentuh, agung namun terisolasi. Ling Yue tahu mereka tidak bisa menyalahgunakan kebaikan pria ini lebih lama lagi.

Dengan hati-hati, ia membangunkan Ling Er. “Xiao Er, ayo bangun. Kita harus pergi.”

Setelah adiknya siap, Ling Yue membawanya mendekati Wang Yue. Ia berlutut untuk ketiga kalinya, kali ini dengan rasa hormat yang tulus.

“Tuan,” panggilnya dengan suara pelan. “Terima kasih banyak atas kebaikan dan tempat berlindung Anda. Kami sudah merasa lebih baik dan akan segera pergi agar tidak mengganggu Anda lagi.”

Perlahan, Wang Yue membuka matanya. Jika tatapannya kemarin terasa dingin, hari ini terasa lebih tajam, lebih analitis. Ia tidak hanya melihat Ling Yue; ia seolah memindai setiap inci dari jiwanya. Ling Yue merasa seperti telanjang di hadapannya, setiap ketakutan dan harapannya terpampang jelas di hadapan pria itu.

“Aku tidak melakukannya karena kebaikan,” ulang Wang Yue, suaranya datar.

Ling Yue menelan ludah, bingung dengan penekanan pria itu. “Lalu... mengapa, Tuan?”

Wang Yue bangkit dari duduknya. Gerakannya lambat dan anggun, namun setiap pergeseran tubuhnya seolah memiliki bobot yang mampu mengguncang dunia. “Aku hanya tak ingin ada aura kematian yang mengotori guaku,” jawabnya, berjalan melewati mereka. Tapi kemudian ia berhenti. “Kalian beruntung, aura kalian belum rusak sepenuhnya oleh kebencian. Masih ada harapan.”

“Harapan untuk apa, Tuan?” Ling Yue memberanikan diri bertanya.

Wang Yue menoleh, tatapannya kini terkunci pada Ling Yue dengan intensitas yang mengejutkan. “Untuk kultivasi.”

Selama ia bermeditasi semalam, kesadarannya terus mengamati dua aura kecil di sudut guanya. Aura gadis itu lemah, tetapi murni. Namun, aura pemuda itu… Aura pemuda itu adalah anomali. Di dalam Dantiannya yang belum terbentuk sempurna, sebuah inti api berdenyut dengan kekuatan yang mengejutkan. Itu adalah akar api murni, sesuatu yang hanya ia dengar dalam legenda. Bakat semacam ini, jika diasah dengan benar, bisa melahirkan seorang ahli yang mampu menantang surga. Jika dibiarkan, ia akan menjadi mercusuar yang menarik bencana.

Anak ini adalah berlian kasar yang tergeletak di lumpur, pikir Wang Yue. Sebuah pemborosan yang luar biasa. Selama ratusan tahun dalam pengasingannya, ia tidak pernah tertarik pada apa pun. Dunianya adalah keheningan abadi. Tapi sekarang, sebuah variabel tak terduga telah muncul di depan pintunya. Mengabaikannya terasa… salah. Bukan karena moral, tetapi dari sudut pandang seorang kultivator agung yang melihat bakat tertinggi disia-siakan.

Selain itu, ada percikan api di mata pemuda itu saat ia membela adiknya. Itu mengingatkannya pada seseorang… pada dirinya sendiri, berabad-abad yang lalu, sebelum hatinya membeku menjadi es. Mungkin… mungkin anak ini bisa menempuh jalan yang berbeda. Ini adalah pemikiran berbahaya, secercah emosi yang seharusnya sudah lama ia buang.

“Kamu,” kata Wang Yue, menunjuk Ling Yue, “memiliki akar api murni. Sangat jarang. Kamu bahkan sudah memulai tahap Qi Condensation tanpa menyadarinya.”

Ling Yue tidak mengerti istilah-istilah itu, tetapi ia mengerti kata "bakat". Sebuah harapan kecil yang rapuh mulai tumbuh di hatinya. “Aku... aku tidak tahu apa itu, Tuan. Aku hanya tahu bahwa aku ingin menjadi kuat. Cukup kuat untuk melindungi adikku agar ia tidak pernah merasakan dingin atau lapar lagi.”

Jawaban yang sederhana. Naif. Namun begitu murni dalam tujuannya. Wang Yue menghela napas. Ini akan sangat merepotkan. Namun, kebosanan dari kesendiriannya yang abadi terasa lebih berat saat ini.

“Qi Condensation adalah fondasi. Memulainya sendiri tanpa seorang guru… itu bakat yang disia-siakan.” Wang Yue menatap lurus ke mata Ling Yue, sebuah keputusan final telah dibuat. “Jika kalian mau, aku akan mengajarimu. Aku akan melatih akar spiritualmu ini hingga kamu bisa melindungi dirimu dan adikmu.”

Dunia Ling Yue seolah meledak dalam cahaya. Tawaran itu begitu luar biasa hingga ia hampir tidak bisa mempercayainya. Harapan yang tadinya hanya percikan kini menjadi kobaran api. “Anda… Anda serius, Tuan?”

“Tapi,” potong Wang Yue tajam, memadamkan euforia Ling Yue dengan tatapan dinginnya. “Jangan berharap aku akan menjadi guru yang lembut. Aku tidak menoleransi kelemahan, keluhan, atau pertanyaan bodoh. Pelatihanku adalah neraka. Banyak yang lebih memilih mati daripada menyelesaikannya.”

Ling Yue menatap pria agung di hadapannya, lalu pada adiknya yang menggenggam tangannya dengan erat, matanya berbinar penuh harap. Pilihan apa lagi yang ia punya? Ini adalah satu-satunya jalan keluar dari kegelapan.

“Aku mau, Tuan!” kata Ling Yue, suaranya bergetar namun penuh dengan tekad yang tak tergoyahkan. “Aku mau belajar! Apa pun syaratnya. Ajarilah aku hingga aku bisa berdiri di depan adikku tanpa pernah merasa takut lagi!”

Wang Yue mengamati pemuda itu sejenak, lalu mengangguk tipis. “Syaratnya sederhana: Ketaatan mutlak. Kamu tidak akan pernah mempertanyakan metodaku. Kamu akan membuang semua perasaan tidak berguna selama pelatihan. Kebencianmu itu—gunakan sebagai bahan bakar, tetapi jangan biarkan itu melahapmu.”

“Saya mengerti, Tuan. Saya bersumpah.”

Senyum tipis yang nyaris tak terlihat, penuh ironi, tersungging di bibir Wang Yue. “Bagus. Kita mulai besok pagi. Tahap pertama dari Langkah Pertama adalah menyempurnakan Qi Condensation-mu. Aku akan membimbingmu.”

Ia hendak berbalik, tetapi Ling Yue memberanikan diri sekali lagi. “Tuan, jika saya boleh bertanya… Tuan sendiri berada di tahap apa? Seberapa jauh saya bisa berharap untuk melangkah?”

Wang Yue berhenti. Aura dingin di sekelilingnya menebal secara dramatis. “Itu bukan urusanmu,” jawabnya, suaranya mengandung jejak kekuatan yang membuat lutut Ling Yue lemas. “Yang perlu kamu tahu hanyalah bahwa posisiku tak akan pernah bisa kamu jangkau. Bahkan para dewa pun berpikir dua kali sebelum menantangku. Sekarang, fokuslah pada langkah pertama di kakimu, bukan puncak gunung yang tak terlihat.”

Kata-kata itu meninggalkan Ling Yue dalam keheningan yang penuh dengan rasa kagum dan gentar. Ia telah menemukan penyelamat, seorang guru, dan sebuah misteri yang tak terduga. Takdirnya, yang seharusnya berakhir di hutan yang dingin, kini telah terjalin dengan takdir seorang pria yang bahkan ditakuti oleh para dewa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lembah Awan Berkabut   Epilog 1.2 Fajar Penjaga yang Bijaksana

    “Jia Long, mulai sekarang kamu akan menjadi Kepala Pertahanan dan Pelatihan, bertanggung jawab atas keamanan Lembah. An-Mei, kamu akan menjadi Kepala Komunitas, kamu akan bertanggung jawab atas penyembuhan seluruh Lembah.” Kedua rekan itu, yang kini memiliki rasa hormat yang mendalam satu sama lain, membungkuk. Tim Penjaga Fajar kini menjadi doktrin resmi Lembah. Lin Feng kemudian melangkah maju, memegang ukiran Kayu Hati Giok milik Wang Yue. Ia menyerahkannya kepada Ming Hua. “Ini akan menjadi sebuah pengingat, Ming Hua,” kata Lin Feng. “Ini adalah bukti bahwa kejahatan lahir dari ambisi yang salah tempat. Keseimbanganmu haruslah melindungi Lembah dari musuh di luar dan juga musuh yang tumbuh di dalam. Sekarang kamu adalah Penjaga yang Bijaksana dan pewaris yang sejati.” Ming Hua menerima ukiran itu, memegangnya dengan rasa hormat yang mendalam. Ia telah mewarisi trauma dan penebusan para pendahulu.

  • Lembah Awan Berkabut   Epilog 1.1 Fajar Penjaga yang Bijaksana

    Tiga hari setelah Feng Xiao diusir dari lembah, Lembah Awan Berkabut kini terasa lebih sunyi. Bukan lagi sunyi karena ketakutan, melainkan sunyi karena penyembuhan yang mendalam. Xiao Li menghabiskan waktu berjam-jam di alun-alun utama, menyalurkan Qi Penyembuhnya secara terus-menerus. Ia merawat bukan hanya luka Jia Long dan murid-murid lain, tetapi juga trauma mental untuk para pengungsi di lembah. Qi Penyembuhnya bertindak seperti penghangat alami, mengusir aura dari dinginnya ketakutan dan membakar residu dari Qi Racun milik Feng Xiao yang masih tersisa di lembah. Lalu ia merawat Lin Feng terakhir. Di kediaman mereka, Lin Feng bermeditasi di atas tikar meditasi, menyerap Qi ke dalam tubuhnya. Qi-nya hampir sepenuhnya terkuras saat pertarungannya dengan Feng Xiao beberapa hari yang lalu. Ia membiarkan Xiao Li membatu mengisi Qi-nya dan memurnikan Qi iblis yang tersisa di dalam dentiannya.

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 6.2 Api Penyembuh Melawan Racun Kuno

    Saat itulah, Xiao Li bergerak. Xiao Li tidak maju dengan pedang. Ia maju dengan Cahaya dari Qi di telapak tangannya. Xiao Li menyentuh punggung Lin Feng, mengabaikan bahaya Qi Racun Feng Xiao. Ia menutup matanya dan menyalurkan aliran Qi yang Murni, kepada Lin Feng. Ia tidak menyerang Feng Xiao. Ia menyerang Racun dari Feng Xiao. Qi Xiao Li mengalir deras ke dalam tubuh Lin Feng, mencari dan memurnikan setiap residu Qi Iblis yang ditekan Lin Feng selama bertahun-tahun. Ini adalah tindakan pemurnian spiritual yang berisiko, tetapi dengan haail yang maksimal jika berhasil.. Lin Feng tersentak, merasakan sakit yang luar biasa saat Qi lamanya dipaksa keluar. Tetapi kemudian, muncul Keseimbangan yang luar biasa. Qi-nya, yang tadinya tegang dan rapuh, menjadi stabil, murni, dan kuat. Ia tidak lagi tertekan oleh kegelapan. Ia bisa bertarung dengan seluruh kekuatannya, tanpa rasa takut a

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 6.1 Api Penyembuh Melawan Racun Kuno

    Fajar pecah. Namun, bukan cahaya yang menyambut Lembah, melainkan getaran mengerikan yang merobek langit. Getaran itu begitu kuat hingga air di kolam meditasi beriak seolah mendidih. “Dia datang,” kata Lin Feng, suaranya datar, tetapi Qi-nya memancar ke seluruh tubuh, siap untuk pertempuran yang akan datang. Ia berlari ke luar dan berdiri di tengah lapangan utama bersama Xiao Li. Di belakang mereka, Ming Hua berdiri bersama Jia Long, berdiri tegak bersama tim keamanan, sementara An-Mei memimpin tim penyembuh dan mengevakuasi para pengungsi untuk peegi ke bunker perlindungan. Tiba-tiba, perisai pertahanan Lembah bersinar merah padam. Ledakan sonik mengikutinya. Di atas Lembah, melayang sesosok pria. Dia adalah Feng Xiao. Ia tampak agung sekaligus menjijikkan. Jubahnya yang dahulu putih kini bernoda hitam dan merah, dan ia memancarkan aura Qi yang begitu padat hingga tampak seperti kabut beracun. Wajahn

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 5.2 Api di Perbatasan Jiwa

    An-Mei mengepalkan tangannya. “Guru Lin hanya melihat ancaman. Dia tidak melihat jiwa. Aku mengerti kewaspadaan, tapi dia kembali menjadi penakluk yang kejam! Apakah kita harus mengorbankan kemanusiaan kita untuk keamanan?” Ming Hua kini benar-benar terjebak di tengah dua api yang menyala: Api kewaspadaan Jia Long yang membakar jiwa, dan Api kebaikan An-Mei yang terancam padam oleh ketakutan. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh lagi menjadi "jembatan" pasif. Ia harus menjadi pengintegrasi aktif. Ia memanggil Jia Long dan An-Mei ke sebuah paviliun kecil, di luar jangkauan suara Lin Feng. “Aku tahu kalian berdua lelah dan marah,” kata Ming Hua, suaranya tenang namun kuat. “Jia Long, kamu bangga dengan kekuatanmu, dan kamu memandang rendah kebaikan An-Mei. An-Mei, kamu bangga dengan belas kasihmu, dan kamu takut dengan kekejaman Guru Lin.” “Aku katakan ini. Kalian berdua setengah ben

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 5.1 Api di Perbatasan Jiwa

    Pagi setelah pengungkapan terasa dingin dan sunyi. Sinar matahari pagi gagal menghilangkan bayangan kewaspadaan yang kini menyelimuti setiap sudut Lembah. Ming Hua menghadap Xiao Li dan Lin Feng di Aula Pertemuan utama. Kedua Grandmaster itu duduk berdampingan, namun atmosfer di sekitar mereka sesikit tegang dengan antisipasi. Ini adalah pertama kalinya Ming Hua melihat kedua gurunya ini akan melawan ancaman eksternal bersama. “Ming Hua,” Lin Feng membuka suara, nadanya tajam, tidak menyisakan ruang untuk pertanyaan. “Kami telah mengambil keputusan. Ancaman Feng Xiao ini adalah ancaman yang nyata dan mendalam. Dia pasti akan menyerang Lembah ini melalui kelemahan spiritual dan moral kita.” Lin Feng kemudian meletakkan gulungan di atas meja. “Aku akan bertanggung jawab atas pertahanan keras yang akan kita lakukan.” Ia menatap Ming Hua. “Dan kamu akan menjadi pengawasnya. Latihanku ini akan brutal dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status