หน้าหลัก / Romansa / Lembah Awan Berkabut / Bab 3.1 Kehendak Sebagai Kompas

แชร์

Bab 3.1 Kehendak Sebagai Kompas

ผู้เขียน: Shana13
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-27 12:50:23

Fajar pertama setelah sumpah itu diucapkan terasa berbeda. Udara di dalam gua tidak lagi hanya terasa hangat dan aman bagi Ling Yue; kini udara itu dipenuhi oleh antisipasi yang berat dan sedikit rasa takut. Ia bangun bahkan sebelum Ling Er, hatinya berdebar-debar karena semangat dan kegelisahan. Hari ini adalah hari pertamanya menapaki jalan untuk menjadi kuat. Hari ini, ia akan mulai belajar.

Ia menemukan Wang Yue sudah duduk di atas Lempeng Giok Es Abadi, matanya terpejam, auranya setenang dan sedalam danau beku di puncak gunung. Ling Yue mendekat dengan hormat dan menunggu dalam diam. Ia tidak menunggu lama. Tepat saat secercah cahaya matahari pertama menembus tirai air terjun, menciptakan pelangi samar di mulut gua, Wang Yue membuka matanya.

“Duduk,” kata Wang Yue, suaranya datar, memecah keheningan pagi. Ia menunjuk ke sebuah batu datar di seberang kolam. “Pejamkan matamu.”

Ling Yue segera menurut, jantungnya berpacu. Ia duduk bersila, meluruskan punggungnya, dan memejamkan mata, siap menerima instruksi pertamanya yang rumit. Ia membayangkan teknik-teknik rahasia, mantra-mantra, atau gerakan-gerakan tangan yang sulit.

“Kosongkan pikiranmu,” lanjut Wang Yue. “Rasakan energi di sekitarmu. Tarik ke dalam tubuhmu.”

Hanya itu. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Ling Yue sedikit bingung, tetapi ia berusaha keras untuk patuh. Mengosongkan pikiran. Terdengar mudah, tetapi ternyata itu adalah hal paling mustahil yang pernah ia coba lakukan. Begitu ia mencoba mengusir semua pikiran, benaknya justru menjadi badai yang lebih ganas.

Bayangan desa yang terbakar melintas. Jeritan ibunya. Wajah pucat Ling Er yang menggigil. Rasa lapar yang menggigit perutnya. Ketakutannya pada pria dingin yang kini menjadi gurunya. Semua itu berputar-putar seperti pusaran air yang keruh, membuatnya pusing dan sesak napas. Ia mencoba mendorongnya pergi, tetapi semakin ia mencoba, semakin kuat bayangan-bayangan itu mencengkeramnya.

Satu jam berlalu, lalu dua. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Kakinya terasa kram, dan punggungnya sakit. Ia tidak merasakan apa-apa selain kekacauan di dalam kepalanya dan rasa sakit di tubuhnya.

“Aku tidak merasakan apa-apa, Tuan,” akhirnya ia berkata, suaranya dipenuhi frustrasi.

“Lagi,” hanya itu jawaban Wang Yue, tanpa membuka mata.

Hari kedua sama saja. Hari ketiga, Ling Yue mulai putus asa. Wang Yue hanya memberinya semangkuk kecil nasi tanpa rasa dan air setiap hari, cukup untuk membuatnya tetap hidup tetapi tidak cukup untuk menghilangkan rasa lapar yang konstan. Gurunya berkata itu untuk mempertajam indranya, tetapi bagi Ling Yue, itu terasa seperti siksaan tambahan.

Di sore hari ketiga, ia tidak tahan lagi. “Tuan!” serunya, suaranya sedikit bergetar karena putus asa. “Saya sudah mencoba! Saya sudah mencoba mengosongkan pikiran saya selama tiga hari, tapi saya tidak bisa! Saya tidak merasakan energi apa pun! Mungkin… mungkin saya tidak punya bakat yang Anda kira.”

Wang Yue akhirnya membuka matanya. Tatapan dinginnya seolah menembus Ling Yue, membuatnya merasa kecil dan bodoh.

“Bakat tanpa kemauan hanyalah sampah yang berkilauan,” kata Wang Yue, suaranya setajam pecahan es. “Tentu saja kau tidak bisa. Pikiranmu adalah lautan badai. Mencoba mengosongkannya sama bodohnya dengan mencoba mengosongkan lautan dengan sebuah cangkir.”

Ia bangkit dan berjalan mendekati Ling Yue. “Kamu melakukan kesalahan, bocah. Kamu mencoba mencari Qi dengan indramu, dengan pikiranmu. Itu salah.”

“Lalu… bagaimana caranya?” tanya Ling Yue, bingung sekaligus malu.

“Bodoh!” jawab Wang Yue, suaranya menggema pelan di dalam gua. “Jangan gunakan matamu. Jangan gunakan pikiranmu yang dangkal itu. Gunakan kehendakmu. Keinginanmu untuk melindungi adikmu—di mana itu sekarang? Keinginan untuk menjadi kuat—di mana itu? Qi tidak merespons pada pikiran yang kosong, ia merespons pada kehendak yang membara. Kehendakmu adalah kompas, dan Qi adalah jarumnya. Sekarang, berhenti mengeluh dan coba lagi.”

Dengan kata-kata tajam itu, Wang Yue kembali ke tempatnya, meninggalkan Ling Yue yang termenung, mencerna setiap kata yang menusuk itu.

Wang Yue kembali duduk dalam meditasinya, tetapi kesadarannya tidak pernah lepas dari pemuda itu. Ia bisa melihat semuanya dengan jelas. Ia melihat badai trauma dan ketakutan yang mengamuk di dalam pikiran Ling Yue, menciptakan penghalang yang tebal antara kesadarannya dan energi alam di sekitarnya. Ia juga melihat akar api murni di dalam Dantian pemuda itu, berdenyut-denyut dengan frustrasi, siap untuk dinyalakan tetapi tidak tahu bagaimana caranya.

Anak ini terlalu banyak berpikir, simpul Wang Yue dalam hati. Ia mencoba memahami sesuatu yang seharusnya dirasakan. Ia terjebak dalam logikanya yang fana.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Lembah Awan Berkabut   Epilog 1.2 Fajar Penjaga yang Bijaksana

    “Jia Long, mulai sekarang kamu akan menjadi Kepala Pertahanan dan Pelatihan, bertanggung jawab atas keamanan Lembah. An-Mei, kamu akan menjadi Kepala Komunitas, kamu akan bertanggung jawab atas penyembuhan seluruh Lembah.” Kedua rekan itu, yang kini memiliki rasa hormat yang mendalam satu sama lain, membungkuk. Tim Penjaga Fajar kini menjadi doktrin resmi Lembah. Lin Feng kemudian melangkah maju, memegang ukiran Kayu Hati Giok milik Wang Yue. Ia menyerahkannya kepada Ming Hua. “Ini akan menjadi sebuah pengingat, Ming Hua,” kata Lin Feng. “Ini adalah bukti bahwa kejahatan lahir dari ambisi yang salah tempat. Keseimbanganmu haruslah melindungi Lembah dari musuh di luar dan juga musuh yang tumbuh di dalam. Sekarang kamu adalah Penjaga yang Bijaksana dan pewaris yang sejati.” Ming Hua menerima ukiran itu, memegangnya dengan rasa hormat yang mendalam. Ia telah mewarisi trauma dan penebusan para pendahulu.

  • Lembah Awan Berkabut   Epilog 1.1 Fajar Penjaga yang Bijaksana

    Tiga hari setelah Feng Xiao diusir dari lembah, Lembah Awan Berkabut kini terasa lebih sunyi. Bukan lagi sunyi karena ketakutan, melainkan sunyi karena penyembuhan yang mendalam. Xiao Li menghabiskan waktu berjam-jam di alun-alun utama, menyalurkan Qi Penyembuhnya secara terus-menerus. Ia merawat bukan hanya luka Jia Long dan murid-murid lain, tetapi juga trauma mental untuk para pengungsi di lembah. Qi Penyembuhnya bertindak seperti penghangat alami, mengusir aura dari dinginnya ketakutan dan membakar residu dari Qi Racun milik Feng Xiao yang masih tersisa di lembah. Lalu ia merawat Lin Feng terakhir. Di kediaman mereka, Lin Feng bermeditasi di atas tikar meditasi, menyerap Qi ke dalam tubuhnya. Qi-nya hampir sepenuhnya terkuras saat pertarungannya dengan Feng Xiao beberapa hari yang lalu. Ia membiarkan Xiao Li membatu mengisi Qi-nya dan memurnikan Qi iblis yang tersisa di dalam dentiannya.

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 6.2 Api Penyembuh Melawan Racun Kuno

    Saat itulah, Xiao Li bergerak. Xiao Li tidak maju dengan pedang. Ia maju dengan Cahaya dari Qi di telapak tangannya. Xiao Li menyentuh punggung Lin Feng, mengabaikan bahaya Qi Racun Feng Xiao. Ia menutup matanya dan menyalurkan aliran Qi yang Murni, kepada Lin Feng. Ia tidak menyerang Feng Xiao. Ia menyerang Racun dari Feng Xiao. Qi Xiao Li mengalir deras ke dalam tubuh Lin Feng, mencari dan memurnikan setiap residu Qi Iblis yang ditekan Lin Feng selama bertahun-tahun. Ini adalah tindakan pemurnian spiritual yang berisiko, tetapi dengan haail yang maksimal jika berhasil.. Lin Feng tersentak, merasakan sakit yang luar biasa saat Qi lamanya dipaksa keluar. Tetapi kemudian, muncul Keseimbangan yang luar biasa. Qi-nya, yang tadinya tegang dan rapuh, menjadi stabil, murni, dan kuat. Ia tidak lagi tertekan oleh kegelapan. Ia bisa bertarung dengan seluruh kekuatannya, tanpa rasa takut a

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 6.1 Api Penyembuh Melawan Racun Kuno

    Fajar pecah. Namun, bukan cahaya yang menyambut Lembah, melainkan getaran mengerikan yang merobek langit. Getaran itu begitu kuat hingga air di kolam meditasi beriak seolah mendidih. “Dia datang,” kata Lin Feng, suaranya datar, tetapi Qi-nya memancar ke seluruh tubuh, siap untuk pertempuran yang akan datang. Ia berlari ke luar dan berdiri di tengah lapangan utama bersama Xiao Li. Di belakang mereka, Ming Hua berdiri bersama Jia Long, berdiri tegak bersama tim keamanan, sementara An-Mei memimpin tim penyembuh dan mengevakuasi para pengungsi untuk peegi ke bunker perlindungan. Tiba-tiba, perisai pertahanan Lembah bersinar merah padam. Ledakan sonik mengikutinya. Di atas Lembah, melayang sesosok pria. Dia adalah Feng Xiao. Ia tampak agung sekaligus menjijikkan. Jubahnya yang dahulu putih kini bernoda hitam dan merah, dan ia memancarkan aura Qi yang begitu padat hingga tampak seperti kabut beracun. Wajahn

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 5.2 Api di Perbatasan Jiwa

    An-Mei mengepalkan tangannya. “Guru Lin hanya melihat ancaman. Dia tidak melihat jiwa. Aku mengerti kewaspadaan, tapi dia kembali menjadi penakluk yang kejam! Apakah kita harus mengorbankan kemanusiaan kita untuk keamanan?” Ming Hua kini benar-benar terjebak di tengah dua api yang menyala: Api kewaspadaan Jia Long yang membakar jiwa, dan Api kebaikan An-Mei yang terancam padam oleh ketakutan. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh lagi menjadi "jembatan" pasif. Ia harus menjadi pengintegrasi aktif. Ia memanggil Jia Long dan An-Mei ke sebuah paviliun kecil, di luar jangkauan suara Lin Feng. “Aku tahu kalian berdua lelah dan marah,” kata Ming Hua, suaranya tenang namun kuat. “Jia Long, kamu bangga dengan kekuatanmu, dan kamu memandang rendah kebaikan An-Mei. An-Mei, kamu bangga dengan belas kasihmu, dan kamu takut dengan kekejaman Guru Lin.” “Aku katakan ini. Kalian berdua setengah ben

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 5.1 Api di Perbatasan Jiwa

    Pagi setelah pengungkapan terasa dingin dan sunyi. Sinar matahari pagi gagal menghilangkan bayangan kewaspadaan yang kini menyelimuti setiap sudut Lembah. Ming Hua menghadap Xiao Li dan Lin Feng di Aula Pertemuan utama. Kedua Grandmaster itu duduk berdampingan, namun atmosfer di sekitar mereka sesikit tegang dengan antisipasi. Ini adalah pertama kalinya Ming Hua melihat kedua gurunya ini akan melawan ancaman eksternal bersama. “Ming Hua,” Lin Feng membuka suara, nadanya tajam, tidak menyisakan ruang untuk pertanyaan. “Kami telah mengambil keputusan. Ancaman Feng Xiao ini adalah ancaman yang nyata dan mendalam. Dia pasti akan menyerang Lembah ini melalui kelemahan spiritual dan moral kita.” Lin Feng kemudian meletakkan gulungan di atas meja. “Aku akan bertanggung jawab atas pertahanan keras yang akan kita lakukan.” Ia menatap Ming Hua. “Dan kamu akan menjadi pengawasnya. Latihanku ini akan brutal dan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status