Beranda / Romansa / Lembah Awan Berkabut / Bab 7.1 Api Pemurnian Nirvana

Share

Bab 7.1 Api Pemurnian Nirvana

Penulis: Shana13
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-01 14:15:28

Kehidupan di Lembah Awan Berkabut menemukan ritme barunya setelah Ling Yue kembali dari jurang Illusory Yin. Keheningan yang dulu terasa kaku di antara guru dan murid kini telah sedikit mencair, digantikan oleh pemahaman diam-diam yang jauh lebih dalam. Wang Yue tidak lagi hanya melihat seorang murid berbakat; ia melihat seseorang yang telah mengintip ke dalam jiwanya yang hancur dan tidak lari ketakutan. Dan Ling Yue, dengan persepsi barunya, tidak lagi hanya melihat seorang master yang dingin; ia melihat jiwa kesepian yang memikul beban penderitaan yang tak terbayangkan di kedalanan jiwanya.

Pagi hari tidak lagi dimulai dengan perintah yang dingin, melainkan dengan ritual yang tenang. Ling Yue akan menyeduh teh dari daun spiritual yang tumbuh di dekat Mata Air Murni, membawakan secangkir untuk gurunya sebelum mereka memulai latihan. Wang Yue tidak pernah mengucapkan terima kasih, tetapi ia selalu menerima cangkir itu, dan keheningan saat mereka minum teh bersama sudah cukup menjadi sebuah percakapan.

“Nirvana Scryer telah memberimu mata untuk melihat kebenaran dunia,” kata Wang Yue pada suatu pagi, memecah keheningan. “Tapi itu tidak ada gunanya jika kau masih dibutakan oleh kekacauan di dalam dirimu sendiri. Tahap selanjutnya adalah Nirvana Cleanser-Pembersihan Nirvana.”

Ia menatap Ling Yue, matanya yang dalam seolah menelanjangi setiap keraguan di hati muridnya. “Kamu akan menggunakan penglihatan barumu untuk melihat ke dalam. Kamu akan menemukan setiap ketakutan, setiap keraguan, dan setiap jejak kebencian dari masa lalumu. Dan kamu tidak boleh lari darinya. Kamu harus menghadapinya, memahaminya, dan memurnikannya dengan Qi-mu hingga yang tersisa hanyalah apimu yang murni.”

Ini adalah tugas yang menakutkan. Selama bertahun-tahun, Ling Yue telah menggunakan traumanya sebagai bahan bakar. Sekarang, ia diminta untuk memadamkan api itu tanpa kehilangan cahayanya.

Selama berminggu-minggu, Ling Yue menghabiskan waktunya dalam meditasi yang dalam. Ia kembali ke malam desanya dihancurkan. Dengan mata batinnya, ia melihat kembali wajah-wajah monster berkulit manusia itu, mendengar kembali jeritan-jeritan putus asa orang-orang di desanya. Awalnya, kebencian dan kemarahan yang ia rasakan begitu kuat hingga hampir membuatnya kehilangan kendali. Qi di sekelilingnya bergejolak hebat, memanaskan udara di dalam gua.

Namun, ia teringat pada ajaran Wang Yue. Pahami, jangan lari. Ia memaksa dirinya untuk melihat melampaui kebencian itu. Ia melihat ketakutan di balik amarahnya. Ketakutan akan kehilangan Ling Er. Ketakutan akan menjadi lemah dan tidak berdaya lagi. Ia menyadari bahwa kebenciannya bukanlah sumber kekuatannya; itu hanyalah perisai rapuh yang menutupi ketakutannya yang paling dalam.

Dengan pemahaman itu, ia mulai memurnikan emosi itu. Ia tidak menghapusnya, melainkan mengubahnya. Kebencian yang membara ia ubah menjadi tekad yang tenang. Ketakutan yang melumpuhkan ia ubah menjadi kewaspadaan yang tajam. Perlahan-lahan, badai di dalam dirinya mulai mereda, meninggalkan danau jiwa yang jernih dan tenang.

Ling Er mengamati kakaknya dengan cemas. Selama beberapa minggu terakhir, Ling Yue menjadi sangat pendiam dan dingin. Ia jarang berbicara, dan senyum hangat yang biasanya menghiasi wajahnya telah lenyap. Terkadang, saat bermeditasi, Ling Er bisa merasakan gelombang Qi yang begitu panas dan penuh amarah memancar darinya, membuatnya takut. Ia tahu ini adalah bagian dari pelatihan kakaknya, tetapi ia merindukan kakaknya yang dulu.

Suatu sore, ia melihat Ling Yue duduk sendirian di tepi kolam, tatapannya kosong. Ling Er memberanikan diri mendekat, membawa dua buah persik spiritual yang baru saja matang.

“Kakak,” panggilnya lembut.

Ling Yue menoleh, dan untuk sesaat, Ling Er melihat kekosongan di matanya. Itu membuatnya takut.

“Jangan menatapku seperti itu,” kata Ling Yue, suaranya datar. “Aku hanya sedang berkonsentrasi.”

Alih-alih pergi, Ling Er duduk di sampingnya dan menyodorkan buah persik yang ia bawa. “Ibu dulu bilang, tidak ada masalah di dunia ini yang tidak bisa sedikit lebih baik dengan makan persik manis.”

Ling Yue menatap buah di tangan adiknya. Tiba-tiba, sebuah ingatan yang tidak ia sadari telah ia murnikan mulai muncul kembali, tetapi kali ini tanpa rasa sakit. Ingatan tentang ibunya yang tersenyum di bawah pohon persik di halaman belakang rumah mereka. Kehangatan. Cinta.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Lembah Awan Berkabut   Epilog 1.2 Fajar Penjaga yang Bijaksana

    “Jia Long, mulai sekarang kamu akan menjadi Kepala Pertahanan dan Pelatihan, bertanggung jawab atas keamanan Lembah. An-Mei, kamu akan menjadi Kepala Komunitas, kamu akan bertanggung jawab atas penyembuhan seluruh Lembah.” Kedua rekan itu, yang kini memiliki rasa hormat yang mendalam satu sama lain, membungkuk. Tim Penjaga Fajar kini menjadi doktrin resmi Lembah. Lin Feng kemudian melangkah maju, memegang ukiran Kayu Hati Giok milik Wang Yue. Ia menyerahkannya kepada Ming Hua. “Ini akan menjadi sebuah pengingat, Ming Hua,” kata Lin Feng. “Ini adalah bukti bahwa kejahatan lahir dari ambisi yang salah tempat. Keseimbanganmu haruslah melindungi Lembah dari musuh di luar dan juga musuh yang tumbuh di dalam. Sekarang kamu adalah Penjaga yang Bijaksana dan pewaris yang sejati.” Ming Hua menerima ukiran itu, memegangnya dengan rasa hormat yang mendalam. Ia telah mewarisi trauma dan penebusan para pendahulu.

  • Lembah Awan Berkabut   Epilog 1.1 Fajar Penjaga yang Bijaksana

    Tiga hari setelah Feng Xiao diusir dari lembah, Lembah Awan Berkabut kini terasa lebih sunyi. Bukan lagi sunyi karena ketakutan, melainkan sunyi karena penyembuhan yang mendalam. Xiao Li menghabiskan waktu berjam-jam di alun-alun utama, menyalurkan Qi Penyembuhnya secara terus-menerus. Ia merawat bukan hanya luka Jia Long dan murid-murid lain, tetapi juga trauma mental untuk para pengungsi di lembah. Qi Penyembuhnya bertindak seperti penghangat alami, mengusir aura dari dinginnya ketakutan dan membakar residu dari Qi Racun milik Feng Xiao yang masih tersisa di lembah. Lalu ia merawat Lin Feng terakhir. Di kediaman mereka, Lin Feng bermeditasi di atas tikar meditasi, menyerap Qi ke dalam tubuhnya. Qi-nya hampir sepenuhnya terkuras saat pertarungannya dengan Feng Xiao beberapa hari yang lalu. Ia membiarkan Xiao Li membatu mengisi Qi-nya dan memurnikan Qi iblis yang tersisa di dalam dentiannya.

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 6.2 Api Penyembuh Melawan Racun Kuno

    Saat itulah, Xiao Li bergerak. Xiao Li tidak maju dengan pedang. Ia maju dengan Cahaya dari Qi di telapak tangannya. Xiao Li menyentuh punggung Lin Feng, mengabaikan bahaya Qi Racun Feng Xiao. Ia menutup matanya dan menyalurkan aliran Qi yang Murni, kepada Lin Feng. Ia tidak menyerang Feng Xiao. Ia menyerang Racun dari Feng Xiao. Qi Xiao Li mengalir deras ke dalam tubuh Lin Feng, mencari dan memurnikan setiap residu Qi Iblis yang ditekan Lin Feng selama bertahun-tahun. Ini adalah tindakan pemurnian spiritual yang berisiko, tetapi dengan haail yang maksimal jika berhasil.. Lin Feng tersentak, merasakan sakit yang luar biasa saat Qi lamanya dipaksa keluar. Tetapi kemudian, muncul Keseimbangan yang luar biasa. Qi-nya, yang tadinya tegang dan rapuh, menjadi stabil, murni, dan kuat. Ia tidak lagi tertekan oleh kegelapan. Ia bisa bertarung dengan seluruh kekuatannya, tanpa rasa takut a

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 6.1 Api Penyembuh Melawan Racun Kuno

    Fajar pecah. Namun, bukan cahaya yang menyambut Lembah, melainkan getaran mengerikan yang merobek langit. Getaran itu begitu kuat hingga air di kolam meditasi beriak seolah mendidih. “Dia datang,” kata Lin Feng, suaranya datar, tetapi Qi-nya memancar ke seluruh tubuh, siap untuk pertempuran yang akan datang. Ia berlari ke luar dan berdiri di tengah lapangan utama bersama Xiao Li. Di belakang mereka, Ming Hua berdiri bersama Jia Long, berdiri tegak bersama tim keamanan, sementara An-Mei memimpin tim penyembuh dan mengevakuasi para pengungsi untuk peegi ke bunker perlindungan. Tiba-tiba, perisai pertahanan Lembah bersinar merah padam. Ledakan sonik mengikutinya. Di atas Lembah, melayang sesosok pria. Dia adalah Feng Xiao. Ia tampak agung sekaligus menjijikkan. Jubahnya yang dahulu putih kini bernoda hitam dan merah, dan ia memancarkan aura Qi yang begitu padat hingga tampak seperti kabut beracun. Wajahn

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 5.2 Api di Perbatasan Jiwa

    An-Mei mengepalkan tangannya. “Guru Lin hanya melihat ancaman. Dia tidak melihat jiwa. Aku mengerti kewaspadaan, tapi dia kembali menjadi penakluk yang kejam! Apakah kita harus mengorbankan kemanusiaan kita untuk keamanan?” Ming Hua kini benar-benar terjebak di tengah dua api yang menyala: Api kewaspadaan Jia Long yang membakar jiwa, dan Api kebaikan An-Mei yang terancam padam oleh ketakutan. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh lagi menjadi "jembatan" pasif. Ia harus menjadi pengintegrasi aktif. Ia memanggil Jia Long dan An-Mei ke sebuah paviliun kecil, di luar jangkauan suara Lin Feng. “Aku tahu kalian berdua lelah dan marah,” kata Ming Hua, suaranya tenang namun kuat. “Jia Long, kamu bangga dengan kekuatanmu, dan kamu memandang rendah kebaikan An-Mei. An-Mei, kamu bangga dengan belas kasihmu, dan kamu takut dengan kekejaman Guru Lin.” “Aku katakan ini. Kalian berdua setengah ben

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 5.1 Api di Perbatasan Jiwa

    Pagi setelah pengungkapan terasa dingin dan sunyi. Sinar matahari pagi gagal menghilangkan bayangan kewaspadaan yang kini menyelimuti setiap sudut Lembah. Ming Hua menghadap Xiao Li dan Lin Feng di Aula Pertemuan utama. Kedua Grandmaster itu duduk berdampingan, namun atmosfer di sekitar mereka sesikit tegang dengan antisipasi. Ini adalah pertama kalinya Ming Hua melihat kedua gurunya ini akan melawan ancaman eksternal bersama. “Ming Hua,” Lin Feng membuka suara, nadanya tajam, tidak menyisakan ruang untuk pertanyaan. “Kami telah mengambil keputusan. Ancaman Feng Xiao ini adalah ancaman yang nyata dan mendalam. Dia pasti akan menyerang Lembah ini melalui kelemahan spiritual dan moral kita.” Lin Feng kemudian meletakkan gulungan di atas meja. “Aku akan bertanggung jawab atas pertahanan keras yang akan kita lakukan.” Ia menatap Ming Hua. “Dan kamu akan menjadi pengawasnya. Latihanku ini akan brutal dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status