เข้าสู่ระบบKekosongan di matanya perlahan menghilang sedikit demi sedikit, digantikan oleh kelembutan. Ia mengambil persik itu dan tersenyum tipis. “Terima kasih, Xiao Er.”
Dari kejauhan, Wang Yue mengamati interaksi mereka. Ia melihat bagaimana kehadiran gadis itu menarik kembali jiwa Ling Yue dari ambang kekosongan yang dingin. Anak itu… dia adalah hati dari apinya, pikir Wang Yue. Tanpa dia, apinya hanya akan menjadi kekuatan yang akan merusak inang. Setelah berhasil menguasai Nirvana Cleanser, Ling Yue merasa lebih ringan dan lebih kuat dari sebelumnya. Kini, hanya ada satu tahap tersisa di Langkah Kedua. “Tahap terakhir adalah yang paling berbahaya,” kata Wang Yue. “Nirvana Shatterer—Penghancur Nirvana. Jika Nirvana Cleanser adalah tentang memurnikan ilusimu sendiri, maka Nirvana Shatterer adalah tentang menghancurkan ilusi dari realitas itu sendiri.” Pelatihannya kali ini berbeda. Wang Yue menciptakan sebuah formasi ilusi yang kuat di tengah gua. Begitu Ling Yue melangkah masuk, dunia di sekelilingnya mulai berubah. Ia kembali berada di desanya yang hancur terbakar. Di hadapannya, monster-monster itu yang telah membantai keluarganya kembali muncul. Didorong oleh sisa-sisa insting, ia menyerang dengan kekuatan penuh. Namun, begitu serangannya mengenai monster-monster itu, mereka pecah menjadi kepingan cahaya. Itu adalah ilusi, bukan kenyataan. “Ilusi lahir dari hatimu!” Suara Wang Yue bergema dari segala arah. “Jika kamu membiarkan emosimu mengendalikanmu, ka. akan selamanya terperangkap di dalamnya! Jangan hanya gunakan matamu! Hancurkan ilusinya!” Selama berhari-hari, Ling Yue bertarung melawan ilusi yang tak ada habisnya. Ilusi orang tuanya yang memintanya untuk bergabung dengan mereka. Ilusi Ling Er yang menangis, menuduhnya telah berubah. Bahkan ilusi Wang Yue yang menyerangnya, mengatakan bahwa ia hanyalah alat. Setiap ilusi dirancang untuk menyerang keraguan terdalamnya. Perlahan tapi pasti, ia belajar untuk tidak bereaksi, untuk melihat dengan jiwa Nirvana Scryer-nya, dan menghancurkan setiap ilusi dengan satu kehendak yang terfokus. Ujian terakhir adalah yang paling kejam. Ia melihat Ling Er terpojok oleh sesosok monster bayangan raksasa hitam. Adiknya menjerit kesakitan, dan monster itu mengangkat cakarnya, siap untuk menghantam. Naluri Ling Yue berteriak untuk menyelamatkannya. Ia hampir saja melancarkan teknik terkuatnya. Tapi ia berhenti. Sesuatu terasa salah. Ia memejamkan mata, mengabaikan jeritan memilukan adiknya itu, dan memfokuskan penglihatan batinnya. Ia melihatnya. Aura Ling Er dalam ilusi ini, meskipun tampak nyata, tidak memiliki kehangatan yang ia kenal. Itu adalah cangkang kosong. Ini bukan dia. Dengan hati yang berat namun pikiran yang jernih, ia mengabaikan ilusi adiknya dan malah mengarahkan seluruh kekuatannya pada inti formasi ilusi itu sendiri. Saat serangannya menghantam inti formasi, seluruh dunia ilusi di sekitarnya mulai retak seperti cermin, lalu hancur berkeping-keping, meninggalkan Ling Yue berdiri sendirian di tengah gua yang sunyi. Ia telah berhasil. Ia tidak lagi hanya melihat jaring takdir; ia kini bisa merasakan simpul-simpulnya, dan ia tahu, dengan sedikit usaha, ia bisa mulai menyentuh benang-benangnya. Ia telah menjadi Master dari realitas dan ilusi. Ia berbalik menghadap Wang Yue, auranya kini stabil dan tak tertandingi. Wang Yue maju dan menepuk bahunya, sebuah gestur yang kini terasa sedikit lebih familiar. “Sangat bagus. Kau telah melampaui harapan terakhirku.” “Tuan, saya siap untuk melanjutkan ke Langkah Ketiga,” kata Ling Yue, penuh percaya diri. Wang Yue menatapnya, ada sorot kebanggaan yang tak salah lagi di matanya. Namun, sorot itu dengan cepat berubah menjadi kesedihan yang begitu dalam hingga membuat hati Ling Yue berdenyut. “Langkah Ketiga adalah Langkah Terakhirku bersamamu, Muridku,” kata Wang Yue pelan, suaranya dipenuhi oleh beban takdir yg tidak dimengerti Ling Yue. “Setelah itu, aku harus membayar hutangku.” Kemenangan Ling Yue terasa hampa seketika. “Hutang? Hutang apa, Tuan? Apa maksud Anda dengan ‘langkah terakhir bersamaku’?” Wang Yue berpaling, menatap ke arah mulut gua seolah sedang melihat sesuatu yang jauh, sesuatu yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri. “Badai yang jauh lebih besar daripada yang pernah kau hadapi sedang mendekat. Dan aku adalah orang yang memanggilnya kemari.”“Jia Long, mulai sekarang kamu akan menjadi Kepala Pertahanan dan Pelatihan, bertanggung jawab atas keamanan Lembah. An-Mei, kamu akan menjadi Kepala Komunitas, kamu akan bertanggung jawab atas penyembuhan seluruh Lembah.” Kedua rekan itu, yang kini memiliki rasa hormat yang mendalam satu sama lain, membungkuk. Tim Penjaga Fajar kini menjadi doktrin resmi Lembah. Lin Feng kemudian melangkah maju, memegang ukiran Kayu Hati Giok milik Wang Yue. Ia menyerahkannya kepada Ming Hua. “Ini akan menjadi sebuah pengingat, Ming Hua,” kata Lin Feng. “Ini adalah bukti bahwa kejahatan lahir dari ambisi yang salah tempat. Keseimbanganmu haruslah melindungi Lembah dari musuh di luar dan juga musuh yang tumbuh di dalam. Sekarang kamu adalah Penjaga yang Bijaksana dan pewaris yang sejati.” Ming Hua menerima ukiran itu, memegangnya dengan rasa hormat yang mendalam. Ia telah mewarisi trauma dan penebusan para pendahulu.
Tiga hari setelah Feng Xiao diusir dari lembah, Lembah Awan Berkabut kini terasa lebih sunyi. Bukan lagi sunyi karena ketakutan, melainkan sunyi karena penyembuhan yang mendalam. Xiao Li menghabiskan waktu berjam-jam di alun-alun utama, menyalurkan Qi Penyembuhnya secara terus-menerus. Ia merawat bukan hanya luka Jia Long dan murid-murid lain, tetapi juga trauma mental untuk para pengungsi di lembah. Qi Penyembuhnya bertindak seperti penghangat alami, mengusir aura dari dinginnya ketakutan dan membakar residu dari Qi Racun milik Feng Xiao yang masih tersisa di lembah. Lalu ia merawat Lin Feng terakhir. Di kediaman mereka, Lin Feng bermeditasi di atas tikar meditasi, menyerap Qi ke dalam tubuhnya. Qi-nya hampir sepenuhnya terkuras saat pertarungannya dengan Feng Xiao beberapa hari yang lalu. Ia membiarkan Xiao Li membatu mengisi Qi-nya dan memurnikan Qi iblis yang tersisa di dalam dentiannya.
Saat itulah, Xiao Li bergerak. Xiao Li tidak maju dengan pedang. Ia maju dengan Cahaya dari Qi di telapak tangannya. Xiao Li menyentuh punggung Lin Feng, mengabaikan bahaya Qi Racun Feng Xiao. Ia menutup matanya dan menyalurkan aliran Qi yang Murni, kepada Lin Feng. Ia tidak menyerang Feng Xiao. Ia menyerang Racun dari Feng Xiao. Qi Xiao Li mengalir deras ke dalam tubuh Lin Feng, mencari dan memurnikan setiap residu Qi Iblis yang ditekan Lin Feng selama bertahun-tahun. Ini adalah tindakan pemurnian spiritual yang berisiko, tetapi dengan haail yang maksimal jika berhasil.. Lin Feng tersentak, merasakan sakit yang luar biasa saat Qi lamanya dipaksa keluar. Tetapi kemudian, muncul Keseimbangan yang luar biasa. Qi-nya, yang tadinya tegang dan rapuh, menjadi stabil, murni, dan kuat. Ia tidak lagi tertekan oleh kegelapan. Ia bisa bertarung dengan seluruh kekuatannya, tanpa rasa takut a
Fajar pecah. Namun, bukan cahaya yang menyambut Lembah, melainkan getaran mengerikan yang merobek langit. Getaran itu begitu kuat hingga air di kolam meditasi beriak seolah mendidih. “Dia datang,” kata Lin Feng, suaranya datar, tetapi Qi-nya memancar ke seluruh tubuh, siap untuk pertempuran yang akan datang. Ia berlari ke luar dan berdiri di tengah lapangan utama bersama Xiao Li. Di belakang mereka, Ming Hua berdiri bersama Jia Long, berdiri tegak bersama tim keamanan, sementara An-Mei memimpin tim penyembuh dan mengevakuasi para pengungsi untuk peegi ke bunker perlindungan. Tiba-tiba, perisai pertahanan Lembah bersinar merah padam. Ledakan sonik mengikutinya. Di atas Lembah, melayang sesosok pria. Dia adalah Feng Xiao. Ia tampak agung sekaligus menjijikkan. Jubahnya yang dahulu putih kini bernoda hitam dan merah, dan ia memancarkan aura Qi yang begitu padat hingga tampak seperti kabut beracun. Wajahn
An-Mei mengepalkan tangannya. “Guru Lin hanya melihat ancaman. Dia tidak melihat jiwa. Aku mengerti kewaspadaan, tapi dia kembali menjadi penakluk yang kejam! Apakah kita harus mengorbankan kemanusiaan kita untuk keamanan?” Ming Hua kini benar-benar terjebak di tengah dua api yang menyala: Api kewaspadaan Jia Long yang membakar jiwa, dan Api kebaikan An-Mei yang terancam padam oleh ketakutan. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh lagi menjadi "jembatan" pasif. Ia harus menjadi pengintegrasi aktif. Ia memanggil Jia Long dan An-Mei ke sebuah paviliun kecil, di luar jangkauan suara Lin Feng. “Aku tahu kalian berdua lelah dan marah,” kata Ming Hua, suaranya tenang namun kuat. “Jia Long, kamu bangga dengan kekuatanmu, dan kamu memandang rendah kebaikan An-Mei. An-Mei, kamu bangga dengan belas kasihmu, dan kamu takut dengan kekejaman Guru Lin.” “Aku katakan ini. Kalian berdua setengah ben
Pagi setelah pengungkapan terasa dingin dan sunyi. Sinar matahari pagi gagal menghilangkan bayangan kewaspadaan yang kini menyelimuti setiap sudut Lembah. Ming Hua menghadap Xiao Li dan Lin Feng di Aula Pertemuan utama. Kedua Grandmaster itu duduk berdampingan, namun atmosfer di sekitar mereka sesikit tegang dengan antisipasi. Ini adalah pertama kalinya Ming Hua melihat kedua gurunya ini akan melawan ancaman eksternal bersama. “Ming Hua,” Lin Feng membuka suara, nadanya tajam, tidak menyisakan ruang untuk pertanyaan. “Kami telah mengambil keputusan. Ancaman Feng Xiao ini adalah ancaman yang nyata dan mendalam. Dia pasti akan menyerang Lembah ini melalui kelemahan spiritual dan moral kita.” Lin Feng kemudian meletakkan gulungan di atas meja. “Aku akan bertanggung jawab atas pertahanan keras yang akan kita lakukan.” Ia menatap Ming Hua. “Dan kamu akan menjadi pengawasnya. Latihanku ini akan brutal dan







