Home / Fantasi / Lian Yue dan Roh Kaisar Iblis / BAB 2 — Roh dalam Tubuhku, Darah dalam Kutukan

Share

BAB 2 — Roh dalam Tubuhku, Darah dalam Kutukan

Author: Aquila Blue
last update Last Updated: 2025-11-19 09:49:51

Ketika Lian Yue kembali sadar, hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan—kehangatan yang sangat dekat, menempel di lehernya, seolah seseorang sedang bernapas di sana.

​Terlalu dekat. Terlalu intim.

​Ia mencoba bergerak, tetapi anggota tubuhnya terasa berat, lemas, dan anehnya, bergetar halus.

​“Bangun. Aku tidak punya waktu melihatmu pingsan.”

​Mata Lian Yue terbuka dengan kejutan. Pandangannya berpusat. Ia melihat langit-langit gudang yang suram, dan kemudian, ia melihatnya.

​Seorang pria berdiri di tengah ruangan. Tinggi, posturnya sempurna, mengenakan jubah hitam dengan sulaman perak. Dialah pria yang ada di dalam lukisan itu—rambut hitam perak, mata merah gelap yang kini menatapnya dengan rasa ingin tahu yang dingin. Dia tampan; ketampanan yang membuat naluri Yue menjerit bahaya.

​Tetapi ada yang aneh. Garis-garis tubuhnya tampak transparan, tembus pandang. Dia ada di sana, namun tidak sepenuhnya nyata.

​“Siapa… kau?” Bisikan Yue terdengar parau dan takut.

​Pria itu bergerak. Gerakannya mulus, tanpa suara, seperti bayangan yang meluncur. Dalam sekejap, dia berjongkok di hadapan Lian Yue, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya. Jantung Yue melonjak liar.

​“Aku Xuan Nightblade,” katanya. Suaranya diucapkan secara langsung di udara, tetapi ia juga bisa mendengarnya bergema jauh di dalam kepalanya, seolah pria itu berbicara langsung ke inti jiwanya.

“Kaisar Iblis terakhir. Dan sekarang, kau adalah wadahku.”

​Yue membeku. Kata-kata itu berputar-putar di benaknya: Kaisar Iblis. Wadah.

​“A—apa maksudmu wadah?” Pertanyaannya tercekat di tenggorokan.

​Xuan Nightblade mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. Matanya mengunci mata Yue, tatapannya begitu intens hingga rasanya Yue telanjang di hadapannya.

​“Kau membangunkanku dengan darahmu. Kau telah memecahkan segel para dewa yang mengikatku selama seribu tahun.” Jari-jarinya, yang tampak semi-transparan, terangkat dan menyentuh dagu Yue.

​Sentuhan itu seharusnya tidak terasa. Dia adalah roh. Tapi itu terasa.

​Sensasi panas yang membakar, aneh, dan sangat memabukkan menjalar dari dagunya, menuruni lehernya, dan menyebar ke seluruh tulang belakangnya. Itu bukan rasa sakit, tetapi getaran hasrat yang tidak pernah dipahami Yue sebelumnya.

​“Maka kau harus menanggungku,” lanjut Xuan, suaranya seperti sumpah kuno yang tak terhindarkan. “Energi jiwaku kini terikat pada inti spiritualmu yang kosong. Tubuhmu… kini jadi milikku untuk sementara, ruang persinggahan bagiku untuk pulih.”

​“Aku tidak mau—” protes Yue, mencoba menarik diri dari cengkeramannya yang tak kasat mata. Otaknya menjerit untuk menjauh, tetapi tubuhnya tidak patuh.

​“Terlambat, Lian Yue,” gumam Xuan. Ia tersenyum tipis—senyum predator yang tahu mangsanya sudah tertangkap. “Kau pikir kenapa tubuhmu terasa lemas? Kau baru saja menyerap sebagian kecil energi iblis yang dilepaskan. Kita berbagi napas, emosi. Bahkan desiran halus hasrat yang baru saja kau rasakan… juga kurasakan.”

​Wajah Yue memerah parah. Kata-kata itu, pengakuan bahwa dia merasakan getaran aneh yang sama, membuatnya merasa terhina dan sekaligus sangat terguncang.

​Dia merasakan hasratku? Mustahil! Aku bahkan tidak tahu apa itu hasrat!

​Di luar gudang, lonceng klan mulai berdentang, perlahan dan khidmat. Pukul tiga pagi—waktunya pergantian penjaga, dan hanya beberapa jam lagi menuju fajar. Malam terakhirnya telah usai.

​“Malam terakhir sebelum penentuan nasib, bukan?” Suara Xuan terdengar seperti bisikan gelap yang manis dan ironis, seolah dia membaca pikirannya.

​Ia mencondongkan tubuhnya lagi, kini telinganya berada tepat di samping telinga Yue. Sensasi dingin dan panas bercampur, membuat Yue menarik napas tajam.

​“Tenang saja,” bisik Xuan. “Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu. Jika ada yang mencoba menyentuh ‘wadahku’, aku akan menjamin mereka mati dengan cara yang jauh lebih mengerikan daripada yang bisa kau bayangkan.”

​Kalimat itu, yang diucapkan dengan nada penuh ancaman mematikan, entah mengapa menimbulkan rasa aman yang baru dan berbahaya di hati Yue. Selama delapan belas tahun, tak ada satu pun yang pernah bersuara untuknya. Tetapi pria—atau roh—ini, yang lebih menakutkan dari siapa pun di dunia, baru saja berjanji untuk menjaganya.

​“Pergilah. Bersiaplah untuk upacara bodohmu itu,” perintah Xuan, kini berdiri tegak.

​Yue berusaha bangkit. Ketika ia menyentuh lukisan yang sudah kosong itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda di dalam dirinya. Di tempat yang dulu kosong, kini ada aliran energi gelap yang terasa asing, kuat, dan… adiktif.

​Lian Yue merangkak keluar dari gudang, tubuhnya terasa ringan sekaligus berat oleh kehadiran tak kasat mata itu. Ia bergegas kembali ke kamar sempitnya. Begitu pintu tertutup, ia langsung jatuh ke ranjang, menggigil.

​Xuan Nightblade.

​Saat ia menyebut nama itu dalam hati, sesosok bayangan hitam semi-transparan muncul di dekat kakinya. Xuan Nightblade berbaring di sampingnya, meski tubuhnya tak sepenuhnya nyata. Ia hanya mengamati Yue dengan mata merah gelapnya yang tenang.

​“Kau terkejut?” tanyanya.

​“Kau… kau selalu ada di sini?”

​“Tentu saja. Kita berbagi jiwa, Lian Yue. Kau adalah wadahku. Aku ada di setiap sel tubuhmu, di setiap detak jantungmu. Aku melihat apa yang kau lihat. Aku merasakan apa yang kau sentuh.”

​Yue memalingkan wajah, pipinya memanas. Memikirkan bahwa setiap detail menyakitkan dari hidupnya, setiap rasa malu yang ia rasakan, kini dilihat dan dirasakan oleh Kaisar Iblis ini sungguh memalukan. Tapi memikirkan potensi momen-momen intim, membuat jantungnya berdebar kencang.

​“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Yue, suaranya bergetar.

​“Pertama-tama? Aku ingin kau tetap hidup,” jawab Xuan, nadanya datar. “Setelah itu, aku ingin kau menguat. Semakin kuat inti spiritual terlarang yang kau bangkitkan—Shadow Moon Core—semakin cepat aku pulih dan mendapatkan kembali bentuk fisikku. Dan ketika saat itu tiba…”

​Ia berhenti sejenak, mata merahnya berkilat.

​“Aku akan menghancurkan para dewa yang menyegelku, klan rendahan ini, dan siapa pun yang berani menyebutmu tumbal.”

​Xuan tidak terlihat cemburu, ia terlihat dominan. Perlindungan yang ia tawarkan terasa seperti kandang yang terbuat dari baja, dingin, gelap, tetapi mutlak. Ini bukan kebaikan, ini adalah kepemilikan.

​Yue menatap langit-langit, membiarkan energi gelap yang baru itu merayap di bawah kulitnya. Ini adalah pertukaran yang mengerikan: kebebasannya untuk kekuatannya. Tetapi, ia sudah kehilangan kebebasan sejak ia dilahirkan sebagai "gadis tanpa bakat."

​Dengan Xuan Nightblade di dalam dirinya, setidaknya ia punya kesempatan untuk bertahan hidup.

​Fajar menyingsing. Lonceng klan berdentang lagi, menandakan dimulainya “Upacara Penentuan Nasib.”

​“Ayo, Wadahku,” bisik Xuan, suaranya yang hanya terdengar di dalam kepala Yue. “Saatnya melihat mata mereka terkejut.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lian Yue dan Roh Kaisar Iblis   Bab 15 — Celah Naga Tersembunyi: Kabut Dingin dan Hasrat yang Terikat

    ​Perjalanan menuju Celah Naga Tersembunyi adalah ujian sejati bagi Lian Yue. Daerah itu dikenal akan medan yang brutal: jalur pegunungan terjal, jurang dalam yang diselimuti kabut tebal, dan roh jahat yang mendiami hawa dingin. Energi Bayangan Bulan Lian Yue, yang merupakan energi gelap, menarik makhluk-makhluk itu seperti ngengat. ​Xuan Nightblade tidak membiarkan Yue sendirian sedikit pun. Ia berjalan di sampingnya, selalu sedikit di belakang, atau setengah melangkah di depan, auranya seperti perisai tak terlihat. Ia menggunakan energi Yue untuk menjaga kabut menjauh, tetapi itu berarti mereka harus tetap berdekatan. ​“Kabut ini diresapi dengan Spirit Qi yang mati,” jelas Xuan, suaranya pelan di tengah kesunyian pegunungan. “Itu melukai inti spiritual murnimu. Biarkan aku menutupi auramu dengan Bayangan Bulanku.” ​Ia mengulurkan tangan, dan kali ini, Yue tidak menolak. Tangan rohnya yang padat menyentuh punggung Yue. Seketika, rasa dingin kabut menghilang, digantikan oleh kehanga

  • Lian Yue dan Roh Kaisar Iblis   Bab 14 — Hutan Berbisik, Pencerahan Rubah, dan Rahasia Terlarang

    ​Matahari terbit, mewarnai langit timur dengan gradasi merah tua dan emas, tetapi di hutan lebat itu, hanya sedikit cahaya yang mampu menembus kanopi daun purba. Lian Yue dan Xuan Nightblade masih berada di tepi sungai. Mereka telah merencanakan langkah selanjutnya: mencari Gulungan Kunci yang disebutkan oleh Elder Wen. ​Yue menatap Xuan. Pria itu tampak tenang, seperti patung yang diukir dari es dan perak. Ketampanannya sangat tidak manusiawi, dan aura gelap yang mengitarinya terasa begitu kuat setelah ia mengambil alih tubuh Yue semalam. ​“Ke mana kita harus pergi?” tanya Yue, suaranya pelan. Ia berusaha menjaga jarak fisik, meskipun tanda segel di pinggangnya terus-menerus memancarkan kehangatan yang mendesak. ​“Gulungan Kunci itu tidak akan berada di ibu kota atau sekte. Klan Lian menyembunyikan hal terpenting mereka di tempat-tempat yang dipenuhi energi spirit kuno,” jelas Xuan, matanya yang merah gelap menatap ke kejauhan. “Tempat terdekat yang bisa menyimpan rahasia leluhur

  • Lian Yue dan Roh Kaisar Iblis   Bab 13 — Di Bawah Bayangan Malam: Pelarian dan Intimitas Gelap

    ​Keputusan sudah dibuat. Setelah ancaman Dewa Jinlong dan intrik Elder Wen, Sekte Bintang Surya terlalu berbahaya. Lian Yue harus mencari sisa gulungan kuno yang berisi detail ritual leluhur Klan Lian. Malam adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk melarikan diri tanpa terdeteksi. ​Lian Yue berdiri di depan cermin, mengenakan jubah gelap dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi, menyembunyikan tanda-tanda kebangkitan Bayangan Bulan. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan denyutan hangat di pinggangnya, tempat lunar mark Xuan bersinar redup. ​Xuan Nightblade muncul di belakangnya, auranya sedingin bayangan, tetapi matanya memancarkan kehangatan eksklusif untuk Yue. ​“Kau terlalu lama, Yue. Jika kau gagal bertindak cepat, mereka akan mengerahkan formasi pencarian spiritual,” bisik Xuan, suaranya seperti sutra dingin. ​“Aku tahu,” balas Yue, mencoba menenangkan detak jantungnya. “Tapi aku belum pernah menyelinap dari sekte elit. Aku takut.” ​Rasa takut yang jujur itu memicu reaksi insta

  • Lian Yue dan Roh Kaisar Iblis   Bab 12 — Intrik Klan, Tawaran Sang Elder, dan Rasa Ketergantungan

    ​Setelah Dewa Jinlong menghilang, suasana di Sekte Bintang Surya bukan lagi sekadar hormat, melainkan ketakutan yang mencekam. Murid-murid memandang Lian Yue seolah dia adalah bom waktu berjalan, bukan gadis lemah yang mereka kenal sebelumnya. ​Yue kembali ke kamarnya, kakinya lemas. Ia duduk di tepi ranjang, jantungnya masih berdebar kencang. Itu adalah pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan makhluk setingkat Dewa, dan fakta bahwa Xuan mampu melindunginya hanya menegaskan betapa berbahayanya roh itu—sekaligus betapa ia membutuhkannya. ​Xuan Nightblade muncul sepenuhnya di hadapannya, auranya kini tenang, namun tatapan matanya yang merah gelap dipenuhi perhitungan. ​“Dinding di Sekte ini sudah terlalu tipis,” kata Xuan, suaranya dingin. “Kemunculan Jinlong adalah peringatan. Ia menguji seberapa cepat aku bangkit. Dan sekarang, mereka akan bergerak.” ​“Siapa yang akan bergerak?” tanya Yue, suaranya bergetar. ​“Semua orang. Dewa Jinlong akan mencari cara lain untuk menyegelm

  • Lian Yue dan Roh Kaisar Iblis   Bab 11 — Tanda Segel, Cemburu yang Meluap, dan Kehadiran Sang Dewa

    ​Lian Yue terbangun di kamarnya yang sunyi di Sekte Bintang Surya. Bayangan ungu yang membawanya dari Lembah Bayangan Bulan telah menghilang, dan jubah yang ia kenakan sudah kering. Tubuhnya terasa berat, tetapi pada saat yang sama, ia merasakan lonjakan energi Bayangan Bulan yang stabil—semua berkat Kristal Darah dan intervensi Xuan. ​Namun, yang paling mendominasi adalah sensasi di pinggangnya. Lunar mark yang kini permanen itu terasa hangat, berdenyut pelan, seperti jantung kedua yang hanya berdetak untuk dia. ​“Jangan bergerak terlalu cepat,” suara Xuan Nightblade terdengar dalam dan dingin di benaknya. Ia tidak perlu muncul untuk memancarkan dominasinya. “Energi segel sedang menyatu dengan Inti Bayangan Bulanmu. Setiap langkahmu kini memperkuat ikatan kita.” ​Yue mencoba duduk. Rasa lemas membanjiri dirinya. “Ini salahmu,” gumamnya, meskipun ia tahu protes itu sia-sia. ​Xuan muncul setengah fisik, duduk santai di ambang jendela kamar Yue, seolah ruangan itu adalah takhtanya.

  • Lian Yue dan Roh Kaisar Iblis   Bab 10 — Tanda Kutukan di Tubuh Yue dan Inti Darah

    ​Setelah Shenya menghilang dengan cekikikan terakhirnya, suasana di gua menjadi tegang. Energi gelap Xuan Nightblade terasa seperti kabut pekat yang siap meledak. Ia marah karena rahasianya—bahwa pemutusan ikatan melibatkan emosi dan hasrat—telah dibocorkan. ​“Lupakan omong kosong Rubah itu,” desis Xuan, tanpa perlu mengeluarkan suara. “Fokus. Kita harus menemukan Kristal Darah. Itu adalah sisa-sisa dari inti spiritual makhluk kuno yang kupaksa tunduk ribuan tahun lalu. Jika kau menyerapnya, inti Bayangan Bulanmu akan melompat setidaknya dua tingkat.” ​Yue mengangguk, tetapi pikirannya sibuk memproses informasi Shenya. Cinta dan hasrat. Itu adalah kelemahan Xuan, dan sekaligus kunci kebebasannya. ​Mereka keluar dari gua. Lembah Bayangan Bulan, sesuai namanya, dipenuhi bayangan yang menari. Yue mulai menggunakan energi Bayangan Bulannya untuk melihat dan bergerak lebih cepat. Ia harus mencapai jantung lembah. ​“Kau terlalu lambat. Gunakan bayangan di kakimu sebagai penopang,” instr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status